Sebuah Catatan – Pelajaran dari Ms. Corona

Saya adalah ibarat bola yang dilemparkan pada dinding dan si pelempar adalah Ms. Corona aka the virus. Benturan pada dinding mengakibatkan bola terpental kuat, memantul beberapa saat, dan kemudian menggelinding, lalu diam tak bergerak. Demikian pula fase yang saya lalui. Awal Ms. Corona mulai mengetuk pintu Saudi dari himbauan untuk tidak terbang ke negara-negara yang masuk dalam daftar beresiko tinggi, lalu larangan terbang ke negara-negara tersebut yang daftarnya terus bertambah, sampai kemudian penerbangan dihentikan sama sekali.

Pemerintah Saudi sangat responsif -saya tidak ingin membandingkan dengan Indonesia karena itu akan menjadi seperti membandingkan apel dan durian- pada hari ketika beberapa kasus ditemukan, malam harinya diterbitkan pengumuman bahwa semua instansi pendidikan harus ditutup sampai jangka waktu yang tidak ditentukan. Hal ini dilakukan secepatnya karena keesokan harinya adalah hari pertama, hari Minggu. Dan tidak lama setelah itu saya menerima telepon, sekitar pukul 23ish dari atasan saya, mengabarkan bahwa murid-murid tidak akan masuk mulai esok hari dan kami guru diminta tetap datang untuk 3 hari ke depan mempersiapkan format online program. So much to digest for an emergency phone call late at night. Saya mengulang kembali hanya informasi tentang pukul berapa dan di gedung mana esok hari kami harus bertemu dan tidak selebihnya sebelum saya mengkorfirmasi “copy that!”

Dan sejak saat itu fase saya adalah terpantul keras pada dinding. Online teaching is nothing like an easy deal. 😩🥴Di luar itu pergerakan Ms. Corona semakin lincah menyebar dan berkembang di Saudi, di Indonesia dan bagian lain bumi ini, menghentakkan pantulan bola semakin kuat. Regulasi di lingkungan kampus pun semakin ketat dengan melakukan lockdown dari luar kampus dan meniadakan transportasi keluar kampus.

Saya mencoba meredam dengan menikmati episode di Netflix 😉, memasak, mempelajari beberapa strumming techniques ukelele, ber-video call dengan keluarga di Indonesia dan teman-teman di negara lain, sampai membuat video dokumenter tentang burung Manyar yang kebetulan mempertunjukkan fase mating di depan jendela saya. Saya mulai mempunyai ritme baru dan menikmatinya karena saya msaih bisa mengunjungi teman dan sebaliknya. Saya bersyukur otoritas kampus melakukan pencegahan sejak dini dan kami merasa terproteksi.

Apa daya… Manusia berusaha, Tuhan berkehendak… ‘Pesan’ Ms. Corona sepertinya adalah: “You all need to STOP and RETREAT.. Think what have you done to the Earth, to others, and what matters, who matters?” Saya menerima update harian mengenai COVID19 dari kampus bahwa hari itu telah ada kasus positif Corona. Update siang hari bertambah… berikutnya sore hari bertambah! 😭Pada hari itu kampus memberlakukan total lockdown, bahkan untuk ke supermarket diberlakukan online shopping dan petugas keamanan berpatroli mengawasi dimana-mana agar tidak ada warga kampus yang keluar rumah. Saya salut dengan respon pihak kampus dalam rangka mencari jejak pergerakan warga yang positif ini, yang untungnya mereka adalah para warga yang dalam masa karantina 14 hari. Pengecekan dilakukan kembali sebelum mereka dinyatakan ‘bebas’ dari masa karantina. Suasana diluar kampus pun, pemerintah Saudi menerapkan jam malam dengan denda yang tidak sedikit jika melanggar.

Sesekali saya keluar di balkon untuk menikmati udara segar. Kelengangan di pagi hari didominasi suara burung-burung yang tetap sibuk menjalani keseharian. Tanpa distraksi suara mobil, hanya sesekali saja dari para pekerja yang masih tetap setia harus melayani kebutuhan esensial warga seperti mengumpulkan sampah rumahtangga, mengantarkan pesanan online shopping, dan lainnya. Malam hari terus terang lebih menyenangkan dalam keheningan menikmati bintang -syukur Alhamdulillah tidak ada badai pasir- dan berkontemplasi.. Masjid akbar masih mengumandangkan adzan meski sudah ditutup untuk beribadah.

Ketika kita dipaksa Ms. Corona untuk melepaskan diri dari segala ‘huru hara’ asesoris keseharian that we take for granted… dan membuat hingar bingar dunia. BUMI sedang ingin istirahat… bintang sedang ingin kembali menjadi kejora di malam hari karena polusi secara drastis berkurang! Burung-burung ingin urun rembug membagikan suara di pagi hari begitu pun serangga malam. Lalu jika jeda ini kelak usai…. Bagaimana kita akan menjadi manusia berbeda yang baru..?

To cut it short… My take away: Embrace the message.. listen more.. and that when we act – even a tiny bit- affect all the mankind and the universe as we are all connected.. #IStay@home for you… ❤️and ☮️

Sebuah video pendek dari keindahan alam di luar jendela kamar kerja yang saya kompilasi dengan informasi yang saya kumpulkan dalam seminggu terakhir. Enjoy! 😊❤️

A Ruppell’s Weaver’s attempts to attract his female to live in his nest.

Short Visit in Belgrade-Serbia

Serbia or in this case is more of Belgrade is an option you want to consider to visit for a short trip. I went to Belgrade in October which was a good time for its weather. Temperature range was 23°c on Oct 25th and drop to 4°c gradually when I left on Oct 31st. Its living cost is way cheaper amongst other European countries, and not so much touristic, which means places were not really crowded.

Where to Stay

As I read from my google search, Belgrade alone has offered so many attractions in the city center and most of them are in a walking distance. Having said that, I decided to stay in the city center. Instead of staying in a hotel, I rented an apartment, which was very convenient for budget wise. It could cut off half expense on the stay. I also picked right at the city center. It was next to the Beograd Republic Square, republic square apartment. It’s an old – a very old – building. To get upstairs to my room I used an old elevator box -as it appeared pretty much like a box- 😋 but it operated all right.

The view from the apartment balcony

The Republic Square

Too bad I didn’t take any shots of the apartment.. 🥴the apartment surrounds.

A picture I took and sent it to the owner on my way out to let him know I dropped the key in his mailbox.

To be continued—-

Beetroot Dip #EasyCooking

I love BEETROOT! I eat it and I drink it.

One of my favorite dishes is making as this yummy dip. It’s super easy and with minimal effort. 😉

Now, let’s make this healthy and yummy snack dip.

Ingredients:

  • 3 small beetroots
  • 1 lemon -squish for the juice
  • 1 garlic -minced
  • White or black pepper
  • Salt to taste
  • 2 tbsp of tahini
  • 2 tbsp of virgin olive oil

How to make:

  • I prefer to cook the beetroots by boiling them as it makes it easy to peel off the skin. If you like, you can also bake it by putting it in in aluminium foil with olive oil and wrap each one. After cooked, cut them in small dice and use food processor or mixer to puree.
  • Add other ingredients and mix well. Have a taste if you need to add salt or lemon juice.
  • Optional, you can add lemon zest.
  • Enjoy with bell peppers, carrots, and cucumbers! 🤩

Kemudahan Visa untuk WNI di 77 Negara -as of Oct 2019

Paspor Indonesia lumayan sulit bergerak bebas untuk menjelajah negara-negara di dunia. Dalam selancar saya di dunia maya saya mendapati beberapa update untuk paspor Indonesia. Salah satunnya adalah daftar di bawah ini.

Berikut daftar 77 negara yang bisa dikunjungi tanpa harus mendapatkan visa sebelumnya (Sabtu, 9 Maret 2019):

  1. Angola – Visa on arrival 30 hari.
  2. Armenia – eVisa atau Visa on arrival 120 hari.
  3. Azerbaijan – Visa on arrival atau eVisa 30 hari.
  4. Belarus – Bebas visa 30 hari, mendarat harus di Bandara Internasional Minsk.
  5. Bolivia – Visa on arrival atau eVisa 90 hari.
  6. Brazil – Bebas visa 30 hari.
  7. Brunei – Bebas visa 14 hari.
  8. Kamboja – Bebas visa 30 hari.
  9. Cape Verde – Visa on arrival.
  10. Chile – Bebas visa 90 hari.
  11. Kolombia – Bebas visa 90 hari, bisa diperpanjang jadi 180 hari.
  12. Comoros – Visa on arrival 45 hari.
  13. Pantai Gading – eVisa, harus mendarat di Bandara Port Bouet.
  14. Cuba – Tourist card 30 hari.
  15. Djibouti – eVisa atau Visa on arrival.
  16. Dominica – Bebas visa 21 hari.
  17. Ekuador – Bebas visa 90 hari.
  18. Ethiopia – eVisa atau Visa on arrival.
  19. Fiji – Bebas visa 120 hari.
  20. Gabon – eVisa atau Visa on arrival, harus mendarat di Bandara Internasional Libreville.
  21. Gambia – Bebas visa 90 hari ditambah izin dari Imigrasi Gambia.
  22. Guinea-Bissau – eVisa atau Visa on arrival 90 hari.
  23. Guyana – Bebas visa 30 hari.
  24. Haiti – Bebas visa 90 hari.
  25. Hong Kong – Bebas visa 30 hari.
  26. India – eVisa 30 hari di 24 bandara dan 3 pelabuhan (e-visa gratis)
  27. Iran – Visa on arrival 30 hari.
  28. Jepang – Bebas visa untuk pemegang e-paspor.
  29. Yordania – Visa on arrival 90 hari.
  30. Kenya – eVisa atau Visa on arrival 90 hari.
  31. Kyrgystan – eVisa atau Visa on arrival 30 hari mendarat di Bandara Internasional Manas.
  32. Laos – Bebas visa 30 hari.
  33. Lesotho – eVisa atau Visa on arrival.
  34. Macau – Bebas visa 30 hari.
  35. Madagaskar – Visa on arrival gratis 90 hari.
  36. Malawi – Visa on arrival 30 hari, bisa diperpanjang jadi 90 hari.
  37. Malaysia – Bebas visa 90 hari.
  38. Maldives – Visa on arrival gratis 30 hari.
  39. Mali – Bebas visa 30 hari.
  40. Marshall Island – Visa on arrival 90 hari.
  41. Mauritania – Visa on arrival di Bandara Internasional Nouakchott-Oumtounsy.
  42. Mauritius – Visa on arrival 60 hari.
  43. Micronesia – Bebas visa 30 hari.
  44. Maroko – Bebas visa 90 hari.
  45. Mozambique – Visa on arrival 30 hari.
  46. Myanmar – Bebas visa 14 hari.
  47. Namibia – Bebas visa 90 hari.
  48. Nepal – Visa on arrival 90 hari.
  49. Nikaragua – Visa on arrival 90 hari.
  50. Oman – eVisa atau Visa on arrival 30 hari.
  51. Palau – Visa on arrival 30 hari.
  52. Palestina – Bebas visa tanpa keterangan durasi.
  53. Papua Nugini – Visa on arrival gratis 60 hari, perpanjang dengan biaya tambahan.
  54. Peru – Bebas visa 180 hari.
  55. Filipina – Bebas visa 30 hari.
  56. Qatar – Bebas visa 30 hari, dari Bandara Internasional Hamad.
  57. Rwanda – Bebas visa 90 hari.
  58. Saint Kitts and Nevis – Bebas visa 90 hari.
  59. Samoa – Entry permit 60 hari.
  60. Serbia – Bebas visa 30 hari dalam 1 tahun berjalan.
  61. Seychelles – Visitor’s Permit gratis 30 hari.
  62. Singapura – Bebas visa 30 hari.
  63. Somalia – Visa on arrival 30 hari di Bandara Bosaso, Galcaio dan Mogadishu.
  64. Srilanka – eVisa atau Visa on arrival 30 hari.
  65. St. Vincent and the Grenadines – Bebas visa 30 hari.
  66. Suriname – Tourist Card 90 hari.
  67. Tajikistan – Visa on arrival 45 hari.
  68. Tanzania – Visa on arrival.
  69. Thailand – Bebas visa 30 hari.
  70. Timor Leste – Visa on arrival 30 hari.
  71. Togo – Visa on arrival 7 hari.
  72. Turki – eVisa atau Visa on arrival 30 hari.
  73. Tuvalu – Visa on arrival 30 hari.
  74. Uganda – eVisa atau Visa on arrival.
  75. Uzbekistan – Bebas visa 30 hari.
  76. Vietnam – Bebas visa 30 hari.
  77. Zimbabwe – eVisa atau Visa on arrival 90 hari.

Catatan tambahan adalah sejak 1 oktober 2019, paspor Indonesia sudah dapat mengajukan e-visa untuk berkunjung di St. Petersburg dan the Leningrad region dan Kaliningrad di wilayah negara Rusia. https://www.evisasrussia.com/requirements/indonesia/ https://www.evisasrussia.com/

Ya, tidak untuk semua wilayah Rusia, hanya di beberapa wilayah saja.

Evolusi Hati

EVOLUSI HATI. Akhirnya saya memilih dua kata itu. Ide ini terberai dan menjadi semakin jelas ketika semakin banyak orang yang berpendapat dan merasakan hal sama. Mengapa evolusi pada hati? That’s life… iya kan? Hanya perasaan pada hal apa, itu yang beragam. Dan evolusi hati versi saya ada pada ‘home’. Kalau saya menggunakan kata rumah dalam bahasa Indonesia konotasinya ada pada fisik ‘house’ dalam bahasa Inggris. Sedangkan ‘home’ berbeda dengan ‘house’. ‘Home’ mempunyai makna lebih dalam dimana disana dirasakan kenyamanan dan keamanan.

Berada jauh dari keluarga dan tinggal sendiri, awalnya sulit. Ketika masih di Indonesia saya masih sering pulang ke rumah orangtua saya paling tidak 2-3 kali dalam setahun ketika liburan sekolah. Keinginan berkumpul masih sangat tinggi, begitu banyak koneksi yang terjadi yang memberikan dorongan untuk bertemu keluarga dan teman-teman, entah dari teman sewaktu remaja ataupun tempat bekerja sebelumnya. Tapi sejak merantau semakin jauh, keterikatan itu semakin memudar dari waktu ke waktu.

Pada tahun pertama saya pulang ke Indonesia tiga kali dalam setahun. setiap kali ada kesempatan libur saya memilih pulang, meskipun akibatnya saya mengalami jetlag pada saat masuk bekerja. Tahun ke-2 saya pulang dua kali, karena tidak ingin mengalami jetlag jika waktu libur hanya satu minggu saja, tapi keinginan untuk pulang tetap besar. Tahun ke-3, berbekal pengalaman terakhir, saya merasa koneksi dengan orang dilingkaran teman semakin berkurang begitu juga koneksi yang saya rasakan dengan lingkaran dekat alias keluarga semakin pudar. Teori saya sementara ini adalah, kami semakin terbiasa dengan ketiadaan sosok satu sama lain selama ini. Dan kehadiran sementara ketika saya datang, sejenak memberi euphoria melepas saling kehilangan, lalu kembali pada situasi keterbiasaan atas ketiadaan kami masing-masing. Dua minggu waktu paling lama. Selebihnya semua akan kembali pada situasi masing-masing. Maka tahun ke-3 saya memutuskan hanya pulang satu kali. Teori yang saya bangun menunjukkan kebenaran. Setelah dua minggu di satu kota, selanjutnya dua minggu di kota lainnya. Selebihnya saya mencoba mencari kesibukan dan berpikir untuk lebih bisa membaca realita dalam membuat rencana perjalanan di kesempatan berikutnya. Dan disanalah saya merasa hati saya berevolusi karena saya tidak menemukan ‘home’ lagi ketika saya disana. Bukan berarti saya tidak mencintai keluarga dan Indonesia..bukan! Saya hanya tidak lagi merasakan kenyamanan, karena saya merindukan ‘home-feeling’ saya yang sekarang ada di Saudi. Saya menikmati keheningan dan kebisingan versi saya, waktu bangun dan tidur versi saya, makanan dan minuman versi saya, dan segala ruang gerak versi saya.

Saya sudah memutuskan masih disini di tahun ke-5, satu tahun ke depan. My gut’s feeling will be my last year. What next? or rather… WHERE next? Hmm… A Gap year?