GOSH..!! Have I been sleeping for a year??!! ūüėúūüėú
The first 6 o’clock in 2015…
Wishing you all A HAPPY NEW YEAR!!ūüé∂
So grateful for the passed lessons that life had given me…Thanks for those who took part in making my life colorful -even black is counted!ūüėČ
Now opening wide my arms to welcome more fruitful experience! More new people! More new places to explore! More love to shareūüíÉ
Amin YRA ūüėÉūüôŹ

View on Path

Dialog Pasar Malam

Aku butuh tanganmu, ujarmu
Untuk apa?
Untuk menggenggamku, aku terlampau letih..
Lalu kuberikan keduanya
Dengan ragu…

Tanganku rapuh, ujarku
Mengapa?
Mereka pernah menggenggam terlalu erat
Lalu kau sodorkan tanganmu
Kusambut…ragu

Dan saling menggenggam

berbagi tanpa tujuan

hanya sebatas dialog pasar malam

melewati tiap episode permainan

berbagi tanpa tujuan

-hanya sebatas menikmati pasar malam

 

————————————–PoemPoet——————————-

In Memorial to My Dearest Grandma

My grandma from my mother side.. She passed away last week on Friday, 19th Sept 2014. I got the news on Saturday when I woke early in the morning getting ready for my class. Shocked but was anticipated that her time would come. She’d been sick for very long time as she got old. I didn’t have time to mourn as time wouldn’t stop for me for ¬†just letting me contemplate and ‘seeing’ my granny in my ‘head’ before it becomes blur and gone. Until late at night when time allowed me to slow down and took me back years and years back then. Mbah Uti was a kind-hearted yet strong woman. So much to tell from the short time I had with her in my childhood. We moved far away from the¬†town she lived that made it hard to visit. When I missed her I would find a radio channel that aired in Javanese. That would bring me back the memory being at my grandparents’ house. I felt like I can smell the air in the village, her voice talking to neighbor. Most of the time, I would left behind and stay longer in my grandparents’ house while my family went back home. I never got enough to be around my grandma. Until then we’re all grew up and had our own, so called, life. I am busy making my own life colors that my visits become once a year or even once in 2-3 years. However, she always waited with patience every time we told her we would visit her. She would then give her smile, hugs and kisses and started with reminding me how I always didn’t want my grandma to go back to her house every time she visited us when we were kids. Yes! that was like thousand years ago but it so sweet that she remembered me that way. -sobbing She would be ready with her special dish to welcome us, duck dishes, her specialty! I LOVE it…aaah I miss it.. I remember she would sit in her verandah waited for us and would spread her hands widely with sparkly eyes and big and sweet smile when we came… back then. She would talk to me using Javanese kromo inggil ¬†just so I could speak the language. I tried to reply her as I could even though then she laughed and waved her hand to the air telling me that I said it wrong. She would give me a hug and taught me as far as I could go, but most of the time I would give up and whining asked her to speak in Indonesian instead. It is now becoming my goal that I¬†will take seriously to learn kromo inggil that makes part of her stays with me. Rest in Peace Mbah Uti… Matur sembah nuwun sampun maringi the best of your life for us…

Mbah Uti with her smile :x

Mbah Uti with her smile, lots of love…

images

Jangan Ada Perang diantara Kita -Kegelisahan Paska Pilpres 2014

Saat ini adalah dini hari, waktunya semua mata terpejam dan mengistirahatkan pikiran dan hati, tapi saya belum bisa tidur sebelum saya menulis ini, kegelisahan saya.

Hari ini saya baru berkumpul kembali dengan teman-teman setelah momen pilpres 9 Juli berlalu tapi sebagian besar waktu kami berbincang, fokusnya adalah sekitaran pemilu atau lebih tepatnya tentang reaksi 2 kandidat presiden paska hari pemilihan. Kami berbagi kegelisahan yang sama ketika membicarakan reaksi Bapak Prabowo. Gelisah akan apa yang bisa terjadi jika hasil KPU nanti tidak seperti yang beliau inginkan. Saya pribadi takut, bergidik dan ngeri seperti ketika melihat beliau berpidato mengobarkan semangat: Jangan Sampai Kalah -loosing is not an option! Saya mengerti memang itu yang harus diyakini ketika seseorang melakukan kampanye, tapi saya sebagai pemihak kandidat lain, membaca isyarat itu sebagai ‘perangi mereka’, bagaikan¬†genderang perang melawan saudara!¬†

And that broke my heart… Saya tidak mau negara saya ini nasibnya akan seperti beberapa negara-negara dibelahan bumi lain yang saling berperang melawan saudaranya sendiri.¬†

Saya memang tergerak untuk mengikuti pemilihan kali ini karena sosok seorang Joko Widodo, sosok yang sederhana dan tidak menakutkan (dalam arti sebenarnya sama ketika saya merasakan sebaliknya dengan Prabowo). Saya tidak bermaksud berkampanye, toh waktunya pun sudah lewat. Saya hanya ingin memberi dasar dari mana rasa itu datang. Saya juga mencari tahu tentang Prabowo dari referensi dunia maya dari beberapa tahun lalu. Bukan untuk ‘berpaling’ tapi untuk melihatnya dengan cara yang berbeda, untuk mengurai ketidaksimpatikan saya terhadap orang-orang yang berada di belakangnya yang memberi kesan keji dalam perkataan. Namun usaha memupuk itu runtuh tak bersisa ketika saya menyaksikan wawancara beliau dengan BBC.¬†

Again…He broke my heart… Saya ingin melihat beliau adalah¬†seorang yang besar sebagai salah satu kandidat presiden dari satu negara yang besar! Bukan seorang yang penuh kegusaran menuding Bapak Joko Widodo dengan asumsi di media internasional diperdengarkan oleh seluruh rakyat indonesia yang lebih dari separuhnya menitipkan suara padanya (do you see how he broke my..no our hearts?) dan yang¬†oleh separuh lainnya akan diamini (most likely).

Sementara Bapak Jokowi dalam wawancaranya menyebut Prabowo-Hatta adalah patriot dan negarawan. 

Mengapa Bapak Jokowi menjadi preferensi saya? Simak seorang optimist yang bicara tentang kepemimpinan Simon Sinek: Why good leaders make you feel safe. 

Moreover, Intimidation and fear…or rather concern of the spreading of those aura that I can tell when reading the following letters for Mr. Prabowo¬†http://suratuntukpakbowo.tumblr.com¬†

Pada akhirnya…..

Siapapun yang menjadi Mr. President tidak bisa berjalan sendiri… Kembalilah kita bersaudara. Marilah menjadi IKA dari ke-Bhinekaan kita.

Mari kita pelihara berpuluh juta rasa optimis yang baru saja tumbuh

Setiap satu jari yang dicelupkan itu butuh seluruh badan, pikiran dan hati untuk menggerakkannya.

Kita sudah berhasil satu langkah: menggerakkan berpuluh juta jari baru!

 

————-Semoga kegelisahan saya tak berujung jadi nyata———-¬†

Salam Damai

 

Misteri Waisai ‚Äď Raja Ampat, Papua

Kata-kata yang berseliweran di kepala saya belakangan adalah melulu tentang berita pemilu dan capres yang membuat saya gagal GOLPUT tahun ini, sampai-sampai gegap gempita euphoria kegiatan nyeret ransel ke Raja Ampat teredam begitu saja.

Hehehehe…

Buat yang cari berita ada apa di ujung Indonesia timur, negeri Papua, berikut kisah kami… Bersiaplah berimaji‚Ķ.

The Meeting Point

Reuni berperiodik dengan kawan-kawan penyeret ransel kali ini bermuara di Bandara Hasanuddin, Makassar, sebagai meeting point kami. Manggul backpack 35++ (+mijit paska trip!), nenteng fin beserta nylempang tas yang lumayan gendut (yaaa… yang ini udah di komen sbg pengungsi di media chatting..), pasrah bakal dicomelin bibir kisruh mereka, saya celingukan sambil menajamkan telinga mencari modulasi medok jowo diantara kerumunan. Dan memang gak susah nyari mereka! ;)

‚ÄúHai! Riri‚Ķ‚ÄĚ

‚ÄúHai! Syafrina‚Ķ‚ÄĚ

Saya menyalami a new addition in the group sambil takjub ngliat barang bawaannya yang spekta! (pisssss Sya!) heuheuheu. Carrier di punggung, backpack at the front dan snorkel cs ditenteng.

Syafrina dengan setengah paket barang bawaan ;p

Syafrina dengan setengah paket barang bawaan ;p

So kami ber-6: TJ, Didik SuAndrew, Septy, Ikeu, Syafrina and I dengan penuh keharuan karena kita menapaki gate menyongsong…G A R U D A   I N D O N E S I A… menjelang tanah PAPUA! eeeiits..pasti pada ngira kita bakalan naek pesawat jumbo kaaan (lebay yaa),  yaaa sukur-sukur bukan pesawat baling-baling kayak trip wakatobi. Hehehe.. Tapi pesawatnya emang kecil, dengan hanya 4 seater di tiap row, plus langit-langit yang rendah (jadi berasa tinggi gweh!)

 

Off to SORONG!!! And the Magical moments begin!!!!

Entah siapa yang bawa lucky charm, tapi sepanjang perjalanan there’s always a magical moment, dari kacamata saya at least…

Kejadian Ajaib #1

Seorang teman yang tadinya bakal gabung, tiba-tiba cancel dan luckily ada anak CS (Couch Surfing) yang mau join sehingga jumlah kita gak jadi berkurang. Jumlah anggota trip emang penting ketika kita perlu menggunakan transportasi sewa menyewa karena pengaruhnya pada budget sharing… -meskeeeeen..- hahahaha backpackeeer (mesken bangga!)

So..bergabunglah Sara, pelancong Amrik yang berniat backpacking berkelompok di Raja Ampat.

Pasti pada protes… gitu aja dibilang ajaib…

Baiklah! Abaikan kalo getoo.. :p

 

Kejadian Ajaib #1 sebenarnya ‚Äď Dapat Teman-teman Baru

Sara yang lagi nunggguin kita di stasiun eh bandara (kayak stasiun sih..) di Sorong ngejogrok sendirian, mengundang iba ¬†seorang putera daerah yang belakangan kita tahu bernama Ryan, demi melihat seorang bule cewek ngesot dengan pasti di lantai bandara yang besarnya kira-kira‚Ķmmmm 3×3 gajah dewasa dijejerin (yup math gw payah), menghampiri dan menemani. Kemudian bergabung dengan kami.

Nah! Dari sini…story trip kami pun menjadi plus plus penuh kejutan dengan adanya guide sukarela ini.

Oya, waktu kita lagi nunggu barang di conveyer, Ikeu histeris karena ternyata ada teman lama mereka, Okky, yang dengan manisnya melambai-lambai di jendela kaca. Dengan kebaikan hati Okky, kami dapat anteran menuju pelabuhan Sorong, off to WAISAI!! ¬†Nah jadi, selain Sara dan Ryan, ada juga Okky yang rela menutup awal mata pencahariannya aka toko pada hari itu demi menjemput teman-temannya. aaah…so sweet gak sih!

Sorong menuju Waisai

Sorong menuju Waisai

#2 ‚Äď Got A Nice Place to Stay

Dari Sorong kami naik kapal ferry menuju Waisai, Ibukota dari Raja Ampat. Somehow Didik tidak bisa menghubungi pihak home stay yang akan kami tinggali karena keterbatasan jaringan telepon disana. (Gunakan kartu telkomsel yang kagak ada matinya di Papua. Provider lain mati suri! Wasalam deh!)

Sampai menjelang merapat ke Waisai, kami masih belum tahu bagaimana cara menghubungi pihak penyedia homestay.

‚ÄúTeman-teman, bokap sebenernya baru buka resort di Waisai. Kalau mau gw tanyain masih ada kamar gak. Bla..bla..bla..‚ÄĚ kira-kira kalimat itu yang meluncur kemudian dari mulut Ryan yang duduk di nun ujung barisan kursi. FYI, arrangement sitting kapalnya adalah 3-5-3. Kami mengisi barisan 3-5. Jadi cara berkomunikasi kami adalah pesan berantai karena Ryan berada di ujung seater 5!

Anyway… akhirnya kami pun menyimak, berembug, menimbang dan memutuskan: Hayyuu dah! :D

Kami pun melenggang dengan elegan menaiki ‚Äėlimousine‚Äô yang menjemput membawa kami ke Pandawa Dive Resort, Waisai!!

Yahoooo!!!

Yahoooo!!!

 

Berfoto dengan the owner, Om Yoppi, At Pandawa Dive Resort

Berfoto dengan the owner, Om Yoppi, At Pandawa Dive Resort

Disana kami disambut ramah oleh pemilik resort yang tak lain adalah orangtua Ryan, teman baru kami.

Entah karena saking senangnya bertemu anak mereka yang sudah cukup lama tak bertemu atau kasihan liat tampang-tampang kucel kami, mereka dengan sukarela memberi super discount harga pada kami. Yaaay!!!

Fasilitas RESORT harga HOMESTAY!! Ajib gak tuh!!

550.000 –> 350.000

Kamar ber-AC, hot water and 3x meals –>The BEST DEAL!!

Nice spot

Nice spot

 

At the jetty

At the jetty

#3 ‚Äď We Found A Family

Teman-teman semua pasti setuju kalo kita ngerasa very much welcomed dari hari pertama tinggal di Pandawa. They are warm-hearted peeps.

Sore itu kita tanpa komando, satu-satu akhirnya berkumpul di jetty, yang memang inviting banget buat ngobrol atau sekedar menikmati horizon dan ikan-ikan yang berlompatan. Ortu Ryan, Om Yoppi dan Tante Lidya pun ikut nimbrung. We had a good time.

Sore itu juga kami dicarikan kapal untuk kami ber-hopping island keesokan harinya. Kami deal dengan harga 7jt menuju 5 spot: Painemo, Teluk Kabui, Arborek, Mansuar dan Pasir Timbul (belakangan kami tahu dari penyedia jasa kapal lain bahwa harga segitu hanya untung tipis, lucky us!)

Off for hopping island

Off for hopping island

Pasir Timbul #superJump

Pasir Timbul #superJump

#4 ‚Äď Tragedi Gagal Misool Membawa Berkah

Kami memutuskan untuk tidak ke Wayag selain jauh +/- 5-6 jam perjalanan dengan speed boat, juga karena mahal. Info yang kami dapat, cost kapal minimal adalah 18 juta! Yikes!!! Hidup kami disana masih 4 hari kedepan! Kami pun harus puas dengan Wayag kecil aka Painemo, yang memang mempunyai kemiripan¬†view¬†dengan Wayag sebenarnya. Berembug, menimbang dan berhitung….kami memutuskan berangkat keesokan paginya kembali ke Sorong untuk kemudian melanjutkan ke Misool. Kendalanya adalah minimnya info tentang keberangkatan kapal menuju Misool. Setiap orang yang kami jumpai, kalau tidak tahu atau memberikan jawaban beragam. Begitu juga info yang Syafrina (satu-satunya yang bisa tetap eksis dengan gadgetnya. -brought to you by telkomsel) cari via online.

Nekat, kami tetap berangkat ke Sorong. Tante Lidya yang sudah berada di Sorong sehari sebelumnya menjemput kami.. eh! Ryan anaknya ding hehehe.. tapi sekali lagi mendengar¬†planning kami yang belum tahu pasti jadwal kapal ke Misool. Beliau ‘mengawal’ pencarian info untuk kami (salut dengan kecekatan beliau ini! Gak salah kalau ternyata beliau mantan anggota DPRD :) ). Setelah di lempar dari satu kantor ke kantor informasi yang lain untuk membeli tiket….akhirnya kami mendapat info bahwa kapal berangkat ke Misool hanya hari SABTU! Padahal kita hanya sampai hari Jumat saja disana.

Kami galau…nanar saling berpandangan… Where to go?!!

Ke pulau sekitar sini aja. Balik ke Makassar aja. Ke Taka Bonerate aja. Ide-ide berseliweran.

Di tengah panas terik kota Sorong yang menemani kegalauan kami, Tante Lidya menawarkan kesejukan untuk beristirahat di rumah mereka. Disana bisa dibicarakan lagi bagaimana selanjutnya. So blessed! Alhamdulillaaah….

Kelompok kami nyaris semburat. Sara memutuskan berangkat ke Makassar lebih awal dan Syafrina sudah tak kuasa mengikuti dinamika backpacking surprises sehingga memutuskan kembali ke Jakarta, sedangkan kami berencana kembali ke Waisai untuk kemudian menuju pulau lain. Tapi kemudian Papua masih menahan mereka, harga penerbangan melambung tinggi yang membuat Sara mengurungkan niatnya, Syafrina mendapat suntikan dana dari ‘oknum’ di Jakarta dan dia memutuskan untuk stay! ;)

Cerita pun berlanjut dengan perkenalan ¬†kami dengan Pak Heyn, penyedia jasa one day trip ‘jurusan’ Wayag. Kami mendapat penawaran 12 juta dengan bergabung dengan 3 tamunya yang lain.¬†It’s still over our budget.

Setiap orang mempunyai¬†goal tersendiri dalam kegiatan traveling yang dijalani selain tempat yang di tuju. Saya pribadi,¬†I’m open to any possibilities. Banyak hal yang bisa dipelajari, terutama dari yang namanya diawali mis- : misinformation, miscalculation, misunderstanding, misTAKE. Mungkin bukan buat kita secara langsung tapi sebagai bahan pelajaran bagi orang lain. (Ok TUA gw kumat! heehe)

Anyway… kami kembali ke Pandawa Resort! hehehehe padahal udah dadah dadah salam perpisahan :P

Hikmah hari itu, kami mendapat deal dengan Kak Heyn 7 jt untuk trip ke Wayag keesokan harinya! Dan 650 rb/orang untuk diving di Waiwo! Super!

#5 ‚Äď Berburu Toilet di Teluk Kabui

¬†Kami bersiap dari pukul 5 WITA (yang berarti pukul 3 WIB!) karena¬†pukul 6 kami akan dijemput menuju Wayag. Setelah sarapan super dini kami berangkat sekitar 6.30 WITA. Setelah menjemput 3 tamu lain perjalanan masih berjalan lancar. Sampai kemudian adalah suara mendesah tertahan sambil memegangi perut, “Ikeu…gw muleeesss!” Syafrina meringis merengek pada Ikeu (sebagai pemeran Ibu pengganti buat Syafrina selama trip heheehe..). Nah Lo! Ditengah laut pengen poop…Apa kabar????! Lucu..tapi kami tak tega ketawa melihat Syafrina terus meringis dan panik! hehehehe..

Kak Heyn menyuruh sabar, kita merapat ke pulau terdekat di Teluk Kabui.

Toilet traditional: nongkrong langsung PLUNG! :D

Toilet traditional: nongkrong langsung PLUNG! :D

Karena saya juga kebelet pipis, kami bertiga men’darat’ mencari toilet. Kami pun harus berjuang menaiki tangga rapuh tak beraturan. Ikeu hampir jatuh ketika pijakan anak tangga patah.¬†It was so close! Thank God she was saved.

#6 ‚Äď Celanamu, Celanaku dan Bikini di Wayag

Angin¬†cukup kencang yang menjadikan gelombang pun tinggi, tapi kami dapat dengan selamat mencapai tujuan: WAYAG! Kami harus mencapai puncak untuk dapat menikmati pemandangan Wayag yang fenomenal. Medan pendakian terjal dengan bebatuan tajam. Dan ditambah kami harus bergegas berlomba dengan waktu agar kami tidak kemalaman di jalan karena ombak yang tinggi akan memperlambat. Syafrina yang merasa tidak yakin mampu dapat sampai ke atas, urung ikut dan memilih berenang sambil menunggu kami. Ikeu berkeyakinan lain bahwa Syafrina pasti bisa! Entah bagaimana… pemandangan selanjutnya adalah urutan ke 2 dari belakang ada sosok Sally Marcellina (hihihi tau kan movie star sexy di pilem Warkop! Pissss Sya!) lengkap dengan bikini berusaha menapaki bebatuan dengan booties-nya!

Climbing Wayag

Climbing Wayag

Ngomongin outfit, 2 teman lain mengalami robek celana yang gak tanggung-tanggung! Breeettttt sesobek-sobeknya: Septy dan

Mas Bayu!

Celana saya?? Amaaaan hehehe

 

Puncak Wayag, kami siibuk berpose mengabadikan perjuangan menuju puncak Wayag!

Puncak Wayag, kami siibuk berpose mengabadikan perjuangan menuju puncak Wayag!

Sally Marcellina oops Syafrina made it!

Sally Marcellina oops Syafrina made it! Bikini booster? :P

Puncak Wayag! Yay!!

Puncak Wayag! We Made it! Yay!!

#7 ‚Äď Wayag – Waisai,¬†Ketika Hati Merapat Pada-Nya yang Kuasa

Perjalanan kembali lebih menguras mental dan kepercayaan kami pada yang Kuasa. Kalau Percy Jackson jadi ikut mungkin bisa bantu kami bicara pada Poseidon untuk membiarkan kami lewat dengan damai :P

Meskipun saya pernah mengalami badai yang lebih buruk tapi kali ini lebih lama, berjam-jam kami dihempas gelombang tinggi dan terhentak dari tempat duduk kami. Angin kencang yang membawa air membuat kami menggigil kedinginan. Septy mengenakan jas hujan, Didik merapat mencari kehangatan. Di sisi lain Ikeu modus merapat pada Mas Bayu (beuuuu), saya bersembunyi dibalik life jacket mengikuti cara TJ dan tak lupa merapat juga, sedangkan Syafrina entah sudah pil antimo yang keberapa dia minum, memilih mojok duduk dibawah…TIDUR! Hahaha (Anak langka inih!!)

 

Para Koboy berani tepos duduk 13 jam pp waisai-wayag, cengar cengir blom kena badai gelombang! :D

Para Koboy berani tepos duduk 13 jam pp waisai-wayag, cengar cengir blom kena badai gelombang! :D

Terlalu banyak yang terlewatkan untuk saya bagikan disini. My point is it wasn’t a perfect trip as so called failure of situation and things were every where during the trip. Embrace it and we are just fine.¬†

Quote of The Blog

Quote of The Blog

 

Wayag

Pesona Raja Ampat di Ujung Timur Nusantara

Alam Papua terutama Raja Ampat sudah mendunia karena keberadaannya yang masih asli dan menakjubkan. Menuju Raja Ampat, pintu masuknya¬†adalah Waisai sebagai ibukota kepulauan Raja Ampat. Dari Sorong dapat ditempuh dengan kapal ferry sekitar 1,5 ‚Äď 2 jam dengan tarif 130.000 IDR. Dibandingkan dengan ferry yang pernah saya gunakan, ini cukup bersih, semua penumpang duduk berdasarkan no. kursi dan ‚Äďyang penting- ON TIME! Pukul 14.00 kapal biasanya sudah berangkat, tapi pada hari-hari tertentu ada tambahan keberangkatan pagi pukul 9.00.

Dari Waisai kita bisa langsung menuju home stay yang ada di pulau-pulau disekitarnya atau cukup tinggal di Waisai untuk kemudian menyewa kapal untuk hopping island. Sedangkan kami memutuskan untuk tinggal di salah satu resort di Waisai. Terletak tidak jauh dari pelabuhan Waisai, sekitar 15 menit, Pandawa Dive Resort menawarkan kenyamanan kamar, pelayanan dan tentu saja pemandangan.

 

Pemiliknya, Bapak dan Ibu Yoppi yang kebetulan juga tinggal di area resort sangat ramah dan banyak membantu kami memberi rekomendasi tentang lokasi-lokasi yang harus kami kunjungi dan jasa kapal yang dapat kami sewa.

Painemo – The Little Wayag

Disebut demikian karena memang mengunjungi Painemo kita akan disuguhi pemandangan ‘seperti’ Wayag. Bahkan semacam simulasi sebelum kita benar-benar menempuh Wayag sesungguhnya. Diperlukan sekitar 3-4 jam menembus lautan dari Waisai menuju Painemo. Dilanjutkan dengan menapaki tangga menuju puncak bukit sekitar 15-20 menit. Puncak Painemo sudah dibangun pagar pembatas sehingga aman bagi pengunjung untuk berfoto dengan latar belakang gugusan pulau-pulau hijau yang bertebaran dengan warna gradasi laut nan indah.

Arborek

Waktunya pasang snorkeling gear! Sebagai kepulauan yang berdasarkan penelitian mempunyai 75% dari seluruh spesies karang di dunia. Tidak ada tempat lain di dunia yang mempunyai jumlah spesies karang sebanyak itu dalam 1 lokasi yang terbilang kecil. Dengan banyaknya spesies karang di Kepulauan Raja Ampat, secara otomatis juga terdapat banyak spesies ikan karang. Arborek merupakan salah satu tempatnya.

Pulau Mansuar

Pulau yang berpenduduk kurang lebih 100an kepala keluarga ini tertata rapi. Selepas ber-snorkeling kami yang beruntung ditemani oleh anak pemilik resort yang juga adalah seorang dokter, mengajak kami berkeliling desa tempat ia dulu pernah mengabdikan diri selama 1 tahun sebagai dokter PTT. Menapaki tanah pantai putih, penduduk yang kami lalui tampak ramah ketika kami sapa. Terdapat 2 sekolah, SD dan SMP dan puskesmas sebagai sarana publik. Sayang tak ada satupun dari kami bertiga yang membawa kamera, karena memang kami tidak merencanakan berjalan jauh masuk ke perkampungan warga. Menyenangkan sekali mendengarkan sapaan dan melihat senyum ramah mereka.

Pasir Timbul

Dinamakan Pasir Timbul karena memang seperti itulah penampakannya, bukan berupa pulau tapi berupa hamparan pasir yang muncul di permukaan air. Kami semburat turun dari kapal menikmati hamparan pasir putih dan halus dikelilingi laut lepas biru dan hijau turquoise yang memantulkan refleksi langit cerah dengan gumpalan-gumpalan awan putihnya. Heaven!

Teluk Kabui

Saya menyebutnya labirin laut! Laju kapal diperlambat ketika menelusuri Teluk Kabui karena harus berkelok diantara pulau-pulau kecil namun menjulang tinggi. Ibarat di jalan daratan, kami sedang menggunakan jalan tikus. Lambatnya laju speed boat memberi kami waktu untuk menikmati pemandangan ‘dunia’ lain kami. Seru dan menegangkan terutama ketika kami harus melewatinya lagi saat malam hari tanpa penerangan kecuali sebuah lampu senter kecil yang diarahkan secara manual diujung depan oleh salah satu awak kapal.

Wayag

Wayag ditempuh +/- 5 jam perjalanan speed boat dari Waisai tergantung keadaan ombak. Seperti ketka menuju wayag kecil, disinipun kita harus diuji untuk mencapai puncak bukit sebelum dapat menikmati pemandangan fenomenal hamparan laut biru kehijauan berhias gugusan pulau. Bedanya adalah, kali ini tanpa tangga dengan bukit berbatu kapur yang tajam dan kemiringan bervariasi sampai hampir 90 derajat! Tapi akan sebanding dengan reward yang akan kita jumpai di atas sana! Jika berencana mendaki Wayag, sandal gunung is a must! Saya bahkan lebih memilih memakai sneakers karena dengan begitu lebih aman dari ancaman batu-batu tajam. Hanya memakan waktu 20-30 menit tergantung kesiapan fisik, kita sudah bisa mencapai puncak. Lebih baik lagi kalau dilanjutkan mendaki puncak tambahan, sedikit lebih berbahaya tapi pemandangan yang ditawarkan pun jauh lebih menakjubkan!!

Kendala dan Tantangan

Alam indah permukaan dan bawah laut Raja Ampat, atau dalam hal ini wilayah Pulau Waisai dan sekitarnya, memang tak terbantahkan, dunia mengakuinya. Namun demikian tantangan yang harus dihadapi bagi wisatawan yang hendak berkunjung adalah jauhnya letak antar pulau tujuan wisata. Raja Ampat merupakan empat pulau besar: Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool. Dan untuk mencapai pulau-pulau tersebut ditempuh dari Sorong dengan berbagai jenis kapal; private dan publik. Kendala lain adalah minimnya jadwal kapal keberangkatan menuju Pulau Misool yang saat ini masih hanya 1x seminggu, dan itupun kapal barang, kecuali anda dapat mengupayakan budget minimal 28 juta dengan menggunakan private boat. Harga yang (sangat) mahal di Papua ini dikarenakan bahan bakar minyak disana 3x lipat harga normal yang pada akhirnya semua biaya hidup disana relatif lebih mahal dibanding pulau-pulau lain di Indonesia. Jadi, untuk dapat menjelajahi ke-ampat pulau Raja akan membutuhkan waktu berminggu-minggu dan finance support yang tidak sedikit.

Cuaca, keadaan yang tidak bisa ada dalam kendali kita, menjadi sangat penting ketika kita berada di lautan. Angin besar, gelombang besar tak lagi kenal musim, alhasil kita tidak bisa melakukan kegiatan dalam laut, snorkeling ataupun diving. 

Maka tips dari perjalanan ini adalah: Prepare for the worst, Ready for the BEST!

ENJOY INDONESIA!!

PS: berhubung kendala teknis, gambar belum bisa disertakan.

 

Sex Education; When it’s more than just MALE and FEMALE

We all know that of course… But I thought that was most likely what the students would curious about in their age of grade 1-5.
Apparently NOT!
So..today we watched an Indonesian folk tale in which the story told about a goddess who got pregnant after drank a prince left over water. Just like that! And she delivered a baby.
Two boys whispered discussing something. So I stopped and asked whether they wanted to ask questions.
“I hope it’s ok if I asked this…” One of them said in doubt.
“Go ahead.. I’ll try to answer.”
“Where does a baby come from? That one in the story, how come a woman drinks and then there’s a baby. A baby is there when man and woman married, right?”
Before I said anything, other boy responded, “It’s a folk tale. It said it’s magic!”
The only two girls in my class didn’t seem interesting with the topic. The boy in puzzle seemed hesitate to ask some more explanation.
“Is that answering your question?”
“I meant I know what happened in the story but in the real life… How come a baby is there?”
I got this kind of question from my 5-year-old niece when she wondered about the differences between a girl and a woman, a pregnant woman and how come the baby can be inside the womb. I kinda know her level of language and serve her inquiries. Whereas this one is 4 grader.
Upper grader is my new challenge to get to know in term of emotional/psychological and social development.
Am so not ready for this but there’s no choice.
So I answered “A baby comes from a private process between a man n a woman.”
“A private process? What is it?”
He smiled.. Like waiting for the name for the thing he probably already know.
“It’s called intercourse.”
“Intercourse?!” It didn’t sound like he thought he will hear probably…
“Yes, intercourse.”
The two boys nodded repeatedly.
“Ok? Can we continue? For further questions you can clarify with your parents.”
“C’mon Ibu Ririe! Let’s watch again!” The girls still didn’t give any attention to the issue.
So they continued watching while my mind wondered -I hope I said it properly- and every here and then stopping the video to check their understanding of the Indonesian.

Today… I felt so not ready for sex education for the age level I encountered today. I suppose no matter what subject you are teaching, you have to be ready for sex education; when it comes, it comes.ūüėú

The thing is…. I FEEL SO WRONG DOING THE RIGHT THING -one republic ūüėúūüėú

-The lesson I’ve learned ūüėä