A Little Taste of Georgia

Awalnya saya galau menentukan bagaimana menghabiskan liburan musim gugur tahun ini. Hanya seminggu dan for my sanity sake saya harus keluar dari dunia gurun in sesaat. 🙂 Daaaan… seperti yang sudah-sudah tempat saya kunjungi harus bebas visa atau paling nggak visa on arrival. Meskipun sahabat saya mencoba membujuk dengan I’ll do all the booking and search for the itinerary and we’ll go together to the embassy.. tetap saya ogah 😛 Kalo pengennya sih pengen ke Spanyol, tapiiiii… I hate complication ato lebih tepatnya malas hahahhah…

Setelah itung kancing antara Safari ke Kenya atau Georgia, pilihan jatuh pada Georgia!! Dan saya SUKA!!!! Hasil online research menghasilkan bahwa saya tidak memerlukan visa sebagai residen GCC countries. Alhamdullillaaaah 🙂 Dan meskipun ketika orang-orang tau saya memilih trip ke Georgia, mereka agak heran… “Oh..why Georgia?” Alasan utama tentu saja visa issue :p dan alasan berikutnya karena Georgia bukan negara gurun hehehe jadi saya paling tidak berasa ada di dunia luar. Dan.. menikmati Eropa tanpa visa…tentu saja!

Solo traveler tapi rada malas ber-adventure extreme, saya pake jasa private tour guide untuk mengunjungi tempat-tempat di luar kota. Dan lagi cuaca cukup dingin jadi menggunakan private car lebih nyaman. Sedangkan untuk menjelajah di kota Tbilisi, saya mencari tempat menginapp di pusat kota, jadi saya cukup jalan kaki kemana-mana. Sangat menyenangkan!

Dan saya rekomendasikan sekali untuk datang ke Georgia. Ini beberapa alasan mengapa Georgia bisa menjadi alternatif terutama bagi kalian yang gak suka ribet dengan visa seperti saya menjadi alasan untuk berkunjung ke Georgia:

  1. Paspor ijo aka paspor Indonesia bisa mendapatkan visa on arrival (VOA). Dan kalo kalian residen di negara GCC malah bisa bebas visa 😉
  2. Banyak turis selain Georgia mereka akan pergi juga Armenia. Tapi saya tidak, soalnya libur cuma seminggu dan itu aja di Georgia masih banyak tempat yang bisa dikunjungi atau sekedar menikmati kota Tbilisi.
Pemandangan pusat kota dari atas bukit – Narikala
Cukup dengan 2.5 GEL (georgian Lari) one way naik cable car. 5GEL pp dan 2 GEL untuk kartu transport-nya bisa di top up untuk moda transport lain.
Monument St. George di Freedom Square menandai sebagai pusat kota
Saya tengah duduk ngaso sambil foto sidewalk 🙂 di freedom square
Salah satu musisi jalanan yang unik. Banyak sekali musisi dan artist yang banyak ditemui di sepanjang jalan. 
Holy trinity Cathedral, megah!
Menikmati boat ride di sepanjang sungai di pusat kota
Jembatan perdamaian tampak dari kejauhan
Gedung pemerintahan pelayanan satu atap, semacam itulah istilahnya kalo kata org kita sih. Dan menurut mereka, pelayanannya sangat cepat. Semua layanan publik dipusatkan disini. Hebat yah! Mereka baru mulai 10 tahun yang lalu membangun negara setelah lepas dari Uni Soviet. 
Ada yang berbaik hati menawarkan jasa motoin sayah 😉

3. Georgia sarat cerita sejarah. Karena kisah perjuangan mereka masih fresh, saya jadi takjub mendengarkan. Cerita tentang negara komunis yang ada di buku waktu sekolah yang rasanya jauuuuuh hanya sekedar teori, terasa hidup ketika pelaku sejarah bercerita bagaimana negara memegang penuh kendali penuh semua aspek kehidupan. 

Rumah Stalin di kota Gori
Cave house di Uplitshike
Peaceful Wall di Kazbeghi

4. Peninggalan gereja-gereja orthodoks, sebagai salah satu agama nasrani tertua.

5. Penduduknya ramah-ramah tapi sayang agak sulit untuk berkomunikasi kalo ingin berkomunikasi di daerah. Di Tbilisi sendiri cukup banyak yang bisa berbahasa Inggris, kecuali toko-toko kecil, kecil kemungkinan juga mereka bisa berbahasa Inggris.

Well…. Siap berangkat?? Yuuk!! 🙂

Advertisements

Najran – Jangan Ada Misil Diantara Kita

Perjalanan ke kota Najran sudah berselang cukup lama yaitu pada bulan April 2018. Kebetulan hari ini saya lagi ada mood untuk berbagi cerita salah satu perjalanan yang saya lakukan. Ada beberapa PR sebenarnya.

Sekarang kita tengok pengalaman di kota Najran. Ketika memutuskan ikut serta tour dengan highlight:Empty Quarter, saya hanya mengikuti ajakan sahabat saya saja. Meskipun pada hari H ternyata dia membatalkan kepergian karena ternyata mantan pacarnya juga mendaftar dalam tour kami. 😛 Anyway…saya tetap memutuskan pergi karena gak rela uang yang udah dibayar full hangus! hhhh And.. it turned up not that bad at all 🙂

Najran adalah kota yang berbatasan dengan Yemen, yang kalo kalian tahu sedang ada dalam masa peperangan. Saya juga baru ngeh setelah ‘teken kontrak’ hhhhh…. Beruntung bukan kontrak mati! 😛 Kotanya berudara sangat sejuk dan hijau, tapi tentu saja masih ada bagian-bagian berupa padang pasir.

Kami hanya berada disana selama akhir pekan saja. Kamis sore sepulang kerja langsung berangkat ke bandara untuk penerbangan pukul 8 malam dengan menggunakan FLYNAS airlines. mmmHmm… FLYNAS ini ada adalah budget airlines yang pamornya semacam LION AIR kalau di Indonesia. Doyan banget delay!! Tiada flight tanpa delay! Daaan seperti juga alur cerita Lion air… penerbangan domestik dijajah Flynas, jadiiii… dzikir aja di bandara banyak-banyak sambil nunggu flight. 😉

Kami mengunjungi tempat yang cukup Ok buat kabur dari ‘my bubble 🙂

Najran escape

Door or gate to the Mud house
Mud house
Salah satu pemandangan di SOUK atau pasar ;p tau kan itu apaan? Kulit mbek yang dijadiin tempat minum. Airnya bisa awet adem katanya.
Mohammed, tour guide kami 😉 He’s hillarious! Dia maen nyosor aja sama onta hhhhh. Bahkan dia dengan entengnya minum air dari penampungan air di gurun yang airnya ijo banyak lumutnya. Katanya: onta aja idup minum ini! Hahahaha katanya lagi di perutnya udah ada antidote buat minum disitu, tapi kami jangan coba2!!!
Menikmati pasir berbisik sambil nunggu makan malam yang lagi dimasak para lelaki 🙂
senjata badik yang masih dipakai para lelaki di Najran. Selain alat untuk memotong dan semacamnya, ini juga sebagai tanda ke’keren’an 🙂
not me! 🙂
Berusaha bikin api untuk masak makan malam… hmmm yumm! PS: saya juragan! hahaha

Gaya makan ala Saudi

Salah satu makan malam kami, yaitu yang di gurun pasir, karena ada badai pasir akhirnya kami berpindah tempat… di padang pasir tetangga hehehe tetep padang pasir. Namanya empty quarter, yaa sepanjang mata memandang gak ada apa-apa selain tenda kami. Mohammed dengan dua orang lainnya melanjutkan memasak dan kami bercengkrama dengan api unggun karena memang udara dingin. Tiba-tiba ada sekelebat sinar merah di langit: Hah?! Apa tadi itu? karena ada suara -dziiiiing- 

Salah seorang warga lokal teman dari Mohammed yang ikut bergabung tertawa: itulah salah satu hiburan disini… misil di Yemen, katanya. Mulut kami nganga sambil liat-liatan. Seperti baru tersadar tentang apa yang sekarang ada di tempat kita berada. “Waah kalo nyasar gimana?” tanya saya. Dia kembali tertawa…”Kawan saya baru saja meninggal minggu lalu kena misil nyasar di rumah sakit.” Kami terheran-heran dengan nadanya yang ringan. jawab dia lagi: “Yaah kita mau gimana lagi… memang seperti itu adanya hidup disini. Dibikin sedih juga gak akan merubah keadaan. Hidup-mati sudah ada yag atur. Kalau mau semua penduduk Najran bisa pindah, tapi kami cinta Najran dan buktinya kalian pun atas kuasa-Nya bisa datang kesini untuk menikmati kota kami.” So true…but still 

Dalam perjalanan pulang, di area checkpoint (di Saudi banyak daerah checkpoint, dimana orang yang lewat akan diminta kelengkapan surat-surat identitas dan kendaraan secara random) mobil kami di hentikan. Pastinyaaa karena kulit warna-warni. Kami dimintai semua ID card… cukup lama Mohammed menjelaskan, akhirnya kami mendapat pengawalan dengan dua mobil polisi depan dan belakang sampai perbatasan meninggalkan Najran menuju airport. Menurut Mohammed, mereka ingin memastikan bahwa kami aman sampai meninggalkan kota. Serem-serem sedap.. 🙂

Miracle Moments Come When You Seek

Labbayka Allaahumma labbayk, labbayka laa shareeka laka labbayk. Inna alhamd wa’lnimata laka wa’lmulk, laa shareeka lak (Here I am, O Allaah, here I am. Here I am, You have no partner, here I am. Verily all praise and blessings are Yours, and all sovereignty, You have no partner).” 
This is the Talbiyah recited by the pilgrim doing Hajj and ‘Umrah.

Going to perform to His calling – Unplanned

It was a day after returning back ‘home’ at KAUST. ‘Reading’ signs that I had on the plane on the way back -it was unbelievable and wish that I could see this person again someday. I decided to check the online registration for Hajj.  I hesitated if I could do it alone, so I asked a friend to see if there are females I know also going this season. Luckily, there were two! The rest of Indonesian community already did their Hajj. 

So I tried to register. They say it will take time to get in and get a response. Alhamdulillah, less than 30 minutes I got all response needed and paid the fee. The next day, I got my Hajj permit. Alhamdulillah!

Preparation

Before going, I need to have meningitis and flu shots. It was easy. I just need to register on KAUST Medical Clinic and got my schedule and done, received the result the day. Uploaded the file to Hajj file and got my group number within 3 days.

Come to mental preparation… I was soo nervous. We don’t have what we call ‘Manasik Haji’ back home, practice the ritual and recite. Luckily, the university performed an annual briefing held voluntarily by someone work in the university -I’m not quite sure whether she is a prof. or staff- to give us information about performing Hajj, what the Do-s and Don’t-s.   She showed us video and pictures what does it look like the place and area we will face, what should we do or recite at certain places. 

Reading about performing Hajj is my somehow manasik..

Just like other Ied, stating when is Dzulhijjah, we need to wait for the King to announce when it was. So, apparently, 4 days before then, it was announced and I found out it will take my working days to be able to go. So, I need to ask permission for leaving. Had a bit of drama, but this moment revealed sincere and friends in need. To be short, I had my permission a day before I went. Alhamdulillaah

Another tricky bit of preparation was also looking for unscented toiletries as you need them for several days. 

Performing Hajj as a Local #Saudi

  • Time
  • Facilities 
  • Support

Are the highlight of going to Hajj as a local. I don’t need to wait for a long time to have my space like if I had to do it from back home in Indonesia. People need to wait for 15-20 years or pay a big fortune to go immediately.

It was a great experience. It’s been 2 years since I performed. I have nothing but abundant gratitude to Allah SWT for the blessing I abundantly received. Facilities were great! We stayed in the closest area to the train station in Mina, just 5 minutes walk as well as in Arafah. Food was super and delicious. Only for the toilet that we have to struggle quite a bit but who didn’t.

The support from people everywhere was amazing. People were helpful and made sure that we got everything we need.

Who am I really? to get all this?

Subhanallah.. walhamdulillah.. I didn’t even dare to dream..and somehow my path turned me to this 🙂

Here I am… still surviving in my 3rd year in my life adventure in the desert! Ready for my 4th! 🙂

Sebagai Seorang Perempuan di ‘Wahana’ Padang Pasir #SaudiLive

Judul post ini sebenarnya sudah lama, dari setahun lalu ketika saya menghadapi berbagai keterbatasan bahkan perampasan hak karena saya wanita. Iya you read it right, saya merasakan banyak hal yang membelenggu ‘gerak’ saya karena saya PEREMPUAN! 

Dan setelah berada dua tahun tinggal di Saudi keinginan untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana hidup seorang wanita disini kembali menarik saya terutama karena kejadian yang saya alami belakangan ini.

Dan sampai sekarang saya gagal paham ‘kebaikan’ yang ditawarkan dengan adanya batasan-batasan bagi perempuan itu. Level toleransi saya sebagai pendatang yang mencoba mengerti budaya dan peraturan pemerintah lokal adalah ‘Ya sudahlah… saya hanya pendatang.” Itu adalah budaya yang harus saya hormati sebagai tamu di negara orang. Seperti inilah mungkin rasa frustasi kawan-kawan expat saya dahulu saat mereka berada di Indonesia ketika berbenturan dengan budaya lokal. Lesson learned! 😉

Apa aja sih benturan budaya yang terkadang bikin saya frustasi… Iya kadang, apalagi kalau hormon sedang mengambil alih cara kerja otak saya.. hehehehe

  1. Arti membalas tatapan mata seorang laki-laki etnis tertentu. Ini bukan ‘main mata’ loh ya.. hanya melihat mata saja, dan umumnya sudah diangap flirting.
  2. Tidak melayani reservasi fishing trip on a private boat jika hanya perempuan saja. Disitu saya dan teman saya sedih… hiks!
  3. Naik taksi yang bisa dicegat di jalanan..sendirian? A big No No! Hanya berani pakai taksi tertentu yang harganya berkali-kali lipat. But for safety reason..you don’t really have a choice.
  4. Membeli mobil dan atas nama sendiri untuk – perempuan – single- itu…semacam punguk merindukan bulan! :p Tapi sejak pertengahan Juli tahun ini, pemerintah sudah membolehkan wanita memiliki SIM dan berkendara. Saya menyerah beberapa bulan lalu setelah sebelumnya seama satu tahun menggunakan nama salah satu teman laki-laki saya. Ya, cara para single untuk bisa membeli mobil adalah ‘meminjam’ nama teman laki-laki. So I did. Setelah setahun waktunya mengurus semua surat-surat lagi… BOOM! terkena birokrasi yang tidak bisa masuk akal saya.. so I gave up!
  5. Berikutya adalah: Tidak boleh berkendara atau pun jalan dengan laki-laki bukan muhrim hanya berdua di tempat umum selain mal-mal besar atau di dalam perumahan tertutup, kalau tidak mau diperiksa oleh muttawa, polisi agama; atau ketika kita melewati check pointCheck point adalah gerbang pemeriksaan di setiap titik jalanan. Petugas akan memeriksa secara acak mobil-mobil yang melewati gerbang, dimana mobil wajib melaju pelan ketika melewati gerbang ini. Pernah tiga kali diberhentikan dan diperiksa: dua kali waktu kami bertiga wanita semua dengan supir, dan satu kali waktu kami melintasi check point di Najran, kota perbatasan dengan Yemen.
  6. Jika naik taksi, TIDAK boleh duduk di depan di samping supir, kecuali kamu adalah muhrimnya. Waktu itu kami berempat -wanita semua- bingung mau naik apa karena Uber tidak bisa masuk ke tempat kita berada. Akhirnya nekat naik taksi yang mangkal, toh cuma 10 menit jaraknya, tapi kalau harus ditempuh dengan jalan kaki kita terkena jam shalat yang artinya semua toko akan tutup, dan kita akan menunggu lama. Dengan modal bahasa Arab menyebut angka yang kita tawarkan, kita naik. Tiga di belakang dan satu di depan samping supir. Si supir ngomong sesuatu yang kita tidak paham sambil tangannya mengarah pada teman kami di depan, dengan ada kata-kata ‘haram’. Nah lo!! Apaan siiih??! Lalu salah satu dari kami tiba-tiba ingat: “Wadduh! kalo ketauan polisi gak boleh nih cewek duduk didepan!” Kita pun panik minta turun di pinggir jalan. Eeeh, si supir bilang: “mafi..mafi..” sambil kasih kode suruh nundukin kepala sembunyi pas kita ada di jalanan besar! Kita semua bebacaan sambil ngomel pake bahasa kita hahaha ke si supir kenapa diem aja pas temen kita naik di depan dari awal. Alhamdulillaaah… selamat sampai tujuan.. Abis itu? KAPOK! Hahahaha

Kehidupan di luar tembok kampus tempat saya tinggal benar-benar menguji nyali. If only I lived out there…I could not even imagine.

Alhamdulillaaaah.. hikmah kuasa Allah SWT 🙂

 

Pembuatan SIM Internasional #DoItYourself

Buatlah SENDIRI! 

Itu pesan yang ingin saya sampaikan di tulisan saya kali ini. Kenapa? Karena it’s not worth it at all kalo pakai biro jasa pembuatan SIM.

Awalnya karena saya malas harus berkendara ke ‘hutan’ jalanan Jakarta, saya berniat menggunakan biri jasa dan hunting lah saya mencari informasi tentang kemungkinan memakai biro jasa untuk pembuatan SIM internasional ini. Kepulangan saya ke tanah air kali ini, saya membulatkan tekad meminimalis praktek ilegal di jalan ‘raya’ tempat saya tinggal. 😛 Jadiii paling tidak saya punya SIM yang bisa diakui dipakai di lingkungan tempat tinggal saya (tidak untuk keluar di jalanan umum Saudi *sigh).

Anyway, saya menemukan beberapa biro yang menawarkan pembuatan SIM internasional. Saya menghubungi dua biro tapi tak kunjung ada balasan yang memuaskan untuk melanjutkan proses. Saya pun memaksakan diri membaca lebih detail proses pembuatan yang memang sangat mudah tapi tetap membutuhkan pemohon untuk hadir di tempat untuk melakukan pengambilan foto dan sidik jari elektronik. Hmmm… Bahkan dari sebuah akun youtube disebutkan hanya membutuhkan 15 menit saja. Galau! Lihat Waze.. OH Noo! jalanan banyak yang merah!! yang artinya tau kan: macet!

Alhamdulillaah…Praise to God! Abang saya bersedia mengantar ke TKP: Korlantas Polri  di MT Haryono 37-38

Kami sampai di tujuan pukul 8:30 am disambut bapak polisi lengkap dengan senjata di pos depan. Kami diminta melanjutkan ke pos berikutnya, dan bertemu bapak polisi dengan senjata panjang juga yang dengan ramah menunjukkan gedung pembuatan SIM dan dimana kami bisa parkir.

Yang dibutuhkan:

  1. 1 lembar Fotokopi paspor dan yang asli
  2. 1 lembar fotokopi KTP dan asli
  3. 1 lembar fotokopi SIM yang masih berlaku dan yang asli
  4. 4 lembar foto ukuran 4×6 dengan background berwarna biru
  5. 1 lembar materai 6000

Kalau belum sempat melakukan semuanya, seperti saya yang modal foto 4×6 saja :P, ada toko fotokopi lengkap dengan tempat foto dan juga penyewaan sepatu ;P Iyaa perhatikan kesopanan penampilan ketika datang yaa, pakailah sepatu! Di tempat dalam kantor pembuatan SIM, tepatnya mbak kasir-nya hany menyediakan materai harganya 10.000 (boleh eardropping dari bapak-bapak yang nanya bisa beli materai dimana?)

Prosesnya:

  1. Ke toilet dulu… abis perjalanan jauuh kebeles pipis hhhh
  2. Ambil tiket antrian yang berada di depan pintu kantor.
  3. Lalu masuk ke dalam, akan diarahkan untuk mengambil dan mengisi formulir permohonan.
  4. Tunggu nomor antrian dipanggil untuk cek kelengkapan berkas dan mendapatkan form pembayaran.
  5. langsung ke meja kasir membayar Rp. 250.000 untuk membuat SIM baru dan Rp. 225.000 untuk memperpanjang. Lalu tunggu untuk sidik jari
  6. Dipanggil untuk sidik jari. Sebelumnya diminta untuk mengecek nama dan detail lain apakah sudah benar. Difoto dan sidik jari untuk berkas kepolisian. CETAK. DONE!

Saya hanya membutuhkan waktu 30 menit disana. Itu sudah termasuk jalan membuat fotokopi dan pipis 2x. hehehhe….

Nah mau anda tinggal di ujung Papua, tetap saja gak perlu pakai biro jasa karna anda perlu datang secara fisik di tempat melakukan sidik jari dan foto…and it takes just minutes!

Drive safe and be a responsible citizen! 😉

Jordan: Highlights of The Country #2

Spring break akan segera berlalu soon! Sebelum kembali bergulat dengan one deadline to another, let’s flashing back to Jordan.

Satu hal yang yang ingin saya rekomendasikan bagi solo traveller adalah bergabung dalam open trip is not bad after all. Terutama kalau ini perjalanan di negara middle east yang menawarkan atraksi tentang sejarah, adanya pemandu yang menerangkan tentang asal-muasal berdirinya negeri sampai sejarah para Nabi. (errr..tapi saya gak bakal bahas sejarahnya disini 😛 baca sendiri di wiki yah! hehehhe)

My Highlights

  1. Petra:
    Pasti daya tarik turis untuk berkunjung ke Jordan adalah salah satunya Petra. Bangunan yang dipahat pada batu raksasa. Terkubur ribuan tahun silam dan ditemukan kembali sebagai bukti kejayaan dan kehidupan masa lampau. Menelusuri cara berpikir, filosofi, dan teknologi yang telah ada pada jaman yang terbayang pun tidak kecuali lewat cerita-cerita komik yang dulu kerap saya baca -ini kalo saya loh yaaa-
    Untuk masuk ke Petra, tiket masuknya cukup mahal. Untuk kunjungan 1 hari, dikenakan biaya 50 JOD atau sekitar 950K IDR. Naah maka itu dengan membeli Jordan Pass sangat mengurangi beban kantong. Dan  beruntung Indonesia termasuk negara yang bisa menggunakan Jordan Pass karena tidak perlu membuat visa sebelum berangkat. Dengan menunjukkan Jordan Pass di custom bandara, kita bisa langsung ngeluyur dan tentu saja menunjukkan alamat yang akan kita tuju di Amman.
    Ok..Petra.. 🙂 begitu memasuki wilayah ini, kita sudah disuguhi dengan banyaknya tomb, semacam gua dari batu yang digunakan untuk mengubur, biasanya berisi satu keluarga. Berdasarkan kompleksitas bagian hiasan atau ukiran menunjukkan keluarga tersebut kaya karena berarti dia membayar seniman untuk memahat ukiran pada tomb tersebut. Semakin masuk ke dalam mulai dengan batu-batu besar yang beberapa terdapat tulisan transkrip dan potongan-potongan relief, juga tampak bekas teknologi pengairan yag digunakan. Tempat-tempat yang menunjukkan tempat persembahan pada berbagai dewa. Bahkan ada tempat untuk menikahkan pasangan.
    Jalan menuju ke dalam kita harus waspada. Saat itu adalah hari bagi sekolah para anak perempuan melakukan filed trip, jadi setiap kali berpapasan dengan gerombolan anak-anak yang kira-kira 30-40an anak dengan 1 guru, kebayang dong riweuhnya! Mereka berlomba menyapa kami, well… lebih tepatnya para teman grup yang selain saya semua berkulit putih dengan rambut blonde dan good looking 😛 beberapa bahkan nekat minta foto bersama hehehe.. Selain itu juga adanya kereta-kereta kuda yang membawa turis-turis yang gak kuat jalan sangat mengganggu karena mereka jalan cukup kencang sementara ada beberapa tempat yang jalanannya menyempit. Yaaa kami harus merapat ke batu kalau mau selamat dan agak terbebas dari bau éék kuda yang ditebar ketika melewati kami! 😛
    Selama 2.5 jam kami bersama pemandu tur yang dengan sangat informatif meneerangkan seluk beluk bentuk pahatan dan artinya, kapan, mengapa, dimana, yang nempel di kepala kira-kira 5-10 menit hehehe… Saya terlalu sibuk takjub dengan benda-benda raksasa di depan saya dan membayangkan kehidupan seperti apa pada masa itu… ITU! What was it like living in that age? Sampai diperbatasan tugas pemandu selesai. Kami diberi pilihan antara melihat Monetary atau Treasury (nama istilah untuk jenis Petra). Kami berpisah dua kelompok. Saya memilih ke Monetary karena trekking berdasarkan peta itu yang lebih pendek, berhubung saya kurang tidur semalam akibat meminum kopi saat makan malam –bad choice– saya merasa kurang fit untuk menambah 2 jam trekking. Kita harus sudah menyelesaikan trekking dan keluar dari area Petra pada jam 5 sore karena area akan ditutup. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 2:30. Kami pun bergegas.
    Meskipun kami menjadi
     dua kelompok, tapi saya terpisah karena saya lebih memilih santai sambil mengambil gambar sepanjang perjalanan naik ke Monetary -sambil mengatur napas juga siiih.. jarak tempuh sekitar 9km tapi karena tanjakan dengan elevasi yang cukup curam dan udara dingin saya kewalahan juga. Hidung rasa tertusuk karena dingin, dan hasilnya mimisan dan tangan membiru -ngasooo… 😛 Oh yaa, yang agak annoying adalah mereka menyewakan keledai untuk membawa turis naik/turun tapiiiii menggunakan trek yang sama dengan kami. Alhasil kalau pas papasan, saya buru-buru merapat atau melipir cari pijakan lain. Bukan kenapa-kenapanya, selain rada takut hehehe…kesian liat mata mereka sedih gitu mukanya -beneran! 😦
    Menurut saya pemandangan menuju naik ke Monetary jauuuh lebih blow my mind than the monetary itself! 


  2. The Dead Sea
    Site ini termasuk yang saya tunggu-tunggu karena saya pengen ngapung! Dan maskeran lumpur seluruh badan 😛 😀
    Nah supaya gak nyesel kayak saya… sebelum pergi inget-inget bawa sepatu yang bisa dpake di air or at least sandals. Kenapa? Karena di pantainya sudah terbentuk kristal garam yang tajam! Meskipun saya wanita berhati kuat, tetep aja telapak kaki gak sekuat hati saya 😛 hehehe… Kalau inget-inget, beruntuuuung saya gak sampe limbung and jatuh, gak kebayang kalau sampai lecet dan kena air laut sana! Sadis perihnya!!
    Air laut pada umumnya mengandung garam sekitar 3.5% sementara air laut mati mengandung garam 32%! The Dead Sea berada di titik terendah di permukaan bumi (400m di bawah permukaan bumi). Jangankan air masuk ke mata, begitu muka saya kena air, evaporasinya bikin perih mata. Dan saya panik! SAKIT! Dan malah kecipratan tambah banyak…:P dan tambah panik karena nginjak ke bawah tajam.. OH nooo! “Heeey are you sinking, Rie? Haahahahha!”  Yaaah…dia kira kita becandaaaa!! Tolongin wooy!
    Anyway… biasa masuk ke Laut Mati 15 JOD termasuk makan siang, Heaven! Saya suka menu makan siang disana! 🙂 Oh ya.. dan biaya ini sudah termasuk di Jordan Pass, so saya tinggal senyum aja.. 😉 untuk masker lumpur kita perlu tambahan 3 JOD dan kita bisa maskeran suka-suka kita! Lumpur ditempatkan di guci besar di pinggiran pantai, lalu kami rame-rame saling bantu maskerin bagian belakang. Saya…muka pun saya maskerin! Gak mau rugi hehehhe.. daripada muka putih-putih garam semua? Iyaa.. begitu kita keluar dari air, puas ngapung-ngapung dan berperih-perih.. badan dan muka kita langsung berkristal, semacam film vampire ganteng ituuh 😛 hahaha
    I had a great time here!
    Sebelum kembali ke Amman, kami singgah ke outlet yang menjual produk-produk dari laut mati dan kerajinan khas Jordan, tempat oleh-oleh lah kalau di Indonesia. Tapi yaaa gitu, very pricey! :p
  3. Wadi Rum
    Jeep Safari…!! Disini tempatnya! Melewati padang sahara dengan batu-batuan dan gunung raksasa di kanan-kiri… Semacam Grand Canyon di Amerika kata teman-teman saya. Yaa saya masih kategori rookie dibanding hasil jelajah mereka-mereka ini. Satu pasangan sudah hampir setahun traveling, satu pasangan lainnya yang sudah senior bahkan sudah hampir 3 tahun traveling, iyaaa 3 tahun! Saya…? Saya cari pasangan dulu yang mau diajak traveling and stranded… 🙂 😛
    Di Wadi Rum kami menginap di tenda-tenda yang sudah jadi. Bentuk tenda kami seperti tempat tinggal para penduduk lokal Wadi Rum.
    Guess what?! Disini kami mendapatkan jaringan internet! Kami sampai di area camping menjelang Maghrib. Bersih-bersih sepatu yang berpasir, juga muka dan rambut kami yang berpasir karena angin sangat kencang saat mendaki beberapa bukit, segera dibasuh di tenda masing-masing. Iyaaa…di dalam tenda ada kamar mandinyaaaa… 🙂 Camping ala ala memang hehehehe…
    Sebelum makan malam kami ditunjukkan cara memasak traditional suku mereka, yaitu makanan dimasukkkan dalam panci lalu dikubur di lubang yang sudah disediakan, lalu membakar bagian atasnya. Kalau di Indonesia seperti cara suku Papua memasak, hanya kalau di Papua, bukan dikubur tapi di timbun dengan batu lalu rumput dan kayu, lalu bakar. 🙂 It was beauiful dishes!! Sweet lamb and vegetables. Of course with Hummus! 🙂
    Selepas makan malam kami duduk-duduk dekat perapian. Tiba-tiba di tengah altar dua laki-laki mengambil posisi sejajar dan musik bergema… Oh My…They’re starting to dance! Folks dance!  

    Dan kami, kelompok kami semua ikut berdansa mengikuti gerak kaki, tangan..berputar, berteriak… Laughing!!! Down Jacket yang saya kenakan pun saya buka karena malam dingin menjadi hangat. 🙂
    O
    n the Jeep Safari


    Taking out our dinner from the hole under the ground

    Penampakan di dalam tenda

    P
    enampakan luar tenda

  4. The Food
    Makluba: Perkenalan dengan menu ini adalah ketika saya memilih untuk mengkuti acara makan malam dengan keluarga lokal di Petra. Costed me 15 JOD to have this attraction. Cara memasak yang unik dengan bumbu rempah, disajikan dalam nampan besar kami duduk di lantai bersama menikmati. Hmmph… Yumm!! Semacam nasi kuning dengan terong, kentang dan ayam dimasak bersamaan.
    Mansaff: Menu ini kami santap di restoran Jerusalem tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Nasi kuning gurih disajikan dengan pilihan lamb or chicken, saya memilih dengan lamb, dan dimakan dengan yoghurt lebih cair dari yoghurt kebanyakan. Agak aneh yaa…tapi..ENAK! 🙂 Saya suka!
    Falafel dan Hummus: dua nama ini sejoli. Biasanya kami makan untuk sarapan dengan roti. Saya sudah mengenal makanan ini di Saudi karena cukup terkenal dan lazim. But still… I like it! 🙂

  5. The History of Humankind
    Menyusur peradaban masa lampau sejarah perkembangan manusia sangat menarik! Jangan tanya saya tentang detail tahun dan nama-nama :p It’s iin the air and hard to catch hahahha… my brain can’t cope with overwhelming information. Tapi..ketika koneksi terkait dengan latarbelakang prior knowledge kita, menjadi make sense. Semisal ketika pemandu bercerita tentang sejarah Suni dan Syi’ah. Saya pernah baca tentang ini, jadi pada saat mengikuuti ‘pelajaran’ pemandu saya rajin mendengarkan. Dan ketika sejarah Ottoman dan masa-masa lainnya tiba-tiba mata rasanya beraaaat banget hahaha… Lesson learnt, find bit of the background history before you go visit a historical place. hehehe… Still interesting to know but it was overwhelming.. 😛