Animal Abused – What Can WE do??!

Those issues of animal trafficking and poaching, I’m sure it’s not new to anyone who read this, me neither. I know it’s wrong…and that people are doing it because of economic reasons and greediness of course. But I never researched for information about it until a month ago when I was mentoring some 5 graders for their exhibition purposes.

It was a learning journey for myself too, finding out about what PEOPLE/HUMANs have done to the animals they trafficked. And during the Exhibition Day, apart from the thrilled feeling and proud of my students how much they articulated their learnings, I also felt so sad finding more facts about how PEOPLE abuse the animals…and I still do feel sad about it as today a relative shared her son’s new pet, which in my opinion would have been better for it to be let in its own habitat in the wild.  

Theen… it came to my intention to share some facts, which again I am SURE most all of us have already known, but let just have a look as a reminder before we decide to act toward animals…

 Humans: "Oooh..it's soo cute!" image taken from inilah.com

And to be able to give such a show…the monkey had to get through this 

Also check out this page for other protected primate, named slow loris. It’s so cute yet they re now endangered for it’s being poached for its venom or simply having it as a pet.

And many other animals had suffered from HUMANs greediness, namely parrots, kakatua, etc….to be trafficked or poached. Man has power, YES! Power to destroy and power to stop!

Having known the supply and demand theory, there won’t be supplies when there’s no demand, we all can STOP this by simply NOT buying animals that are not domestic animals as a pet and NOT watching monkey show -if there are still any on the street. 

Let’s share the PLANET in harmony…

NO DEMAND – NO SUPPLY! :) 

Pulau Seram yang Ramah

DSCN0689 DSCN0753

Jurnal perjalanan ini sudah basi sebenarnya, ibarat nasi mungkin bukan lagi menjadi bubur tapi sudah berubah bentuk jadi nasi aking atau bahkan rengginang!! Tumpukan tugas kuliah dan kerjaan terlalu galak dan otoriter mengatur kiblat ketikan laptop saya :p

Howeva…I somehow can escape from them for awhile today! So here I am…

Tujuan sharing perjalanan disini bukan semata agar saya gak lupa tempat, pengalaman, kejadian-kejadian dari yang gila serunya sampai yang gila menyedihkannya bahkan gila menyebalkannya, tapi juga ingin meramaikan pilihan bacaan ketika seseorang googling tentang Indonesia. Yes! simply because I love Indonesia!! Loves all its curves and all its edges, all its perfects imperfections! ;)

Nah! tempat berikut ini adalah salah satu ikon kesempurnaan alam Indonesia! Ambon!! The city of music…tagline itu yang kami jumpai tak jauh dari Bandara Pattimura, terpampang besar pada tembok di bahu jalan dibibir pantai yang kami susuri selama kurang lebih 30 menit menuju pusat kota. Beruntung kami tidak menuruti usulan abang-abang ojek di bandara yang bilang, “Tidak jauh itu di jembatan sana, banyak kendaraan ke kota, hanya 1 km saja.” Normally, 1 km memang tidak jauh, tapi siang yang terik dan beban carrier tentu saja membuat usulan tadi jadi terdengar bagai siksaan. :p Kami pun memutuskan untuk menyewa 1 angkot dengan harga 250K (kalau tidak salah, mungkin nanti kalau dibaca sie bendahara akan dikonfirmasi heehehe). 

Anywaaaay…. Jangan nyari nyari referensi expense perjalanan, di blog ini yah..hehehe 

Ambon Manise

Formasi Trip kali ini: belakang ki-ka: TJ dan Andrew, Tengah ki-ka: Dian, Jo dan Vine Depan ki-ka: Dori, Me dan Keket

They are only TWO main points I want to share. First, Ambon adalah kota yang ramah. Friendly in term of hospitality of the people. Ketika kita mencari informasi bagaimana kita ke suatu tempat berdasarkan referensi yang kita baca, orang setempat yang kita tanyai selalu kemudian menunjukkan arah, lalu menyetop angkot yang harus kita naiki dan sekaligus berpesan pada sopir dimana harus menurunkan kami! Kali lain kami bahkan diseberangkan dengan tatapan khawatir kami mengambil arah yang salah… ini mungkin dipengaruhi pajangan tampang-tampang kucel dan tatapan penuh tanya hahahha!! Keramahan warga Ambon gak ada apa-apanya dengan suguhan kekerabatan yang ditawarkan warga Pulau Seram atau tepatnya di Kampung Sawai. Meskipupn namanya ‘seram’ tapi penduduk disana adalah yang teramah yang pernah saya temui. 

Secondly, Makanan disana enak-enak!!! bahkan makanan pinggir jalan (kan bekpekeeer….makannya juga ngemper ;p) yang cumi sebiji bisa sepiring luber and dimakan bedua tetep gak mampu ngabisin! sampe ikan bakar dimasak entah apa…yang pasti ludes dalam sekejap mate!! HAHA..

Thirdly, the view is freakin’ awesome of course!! Simak nih.. cuplikan hasil jepretan-jepretan ane dkk..

Pattimura Airport, Ambon

As we reached Pattimura Airport, Ambon :D

Perayaan Maulid Nabi Muhammad di Kampung Sawai, Ambon

Pesta Perayaan Maulid NabiMuhammad SAW. Penduduk Kampung Sawai membuat kolak durian. Kampung Sawai adalah penghasil durian bagi Ambon dan sekitarnya. Kami disambut dan diundang untuk menghadiri acara selamatan malam itu. So sweet….

Pada saat kami kesana kebetulan bertepatan dengan musim durian runtuh. Yup! You read it right! Literally! Biasanya kan cuma dengar kata-kata ini dalam kiasan yaaa… Tapi tidak kali ini, ketika kami diberitahu bahwa durian yang mereka ‘panen’ berasal dari hutan, kami tidak mengira cara me’manen’nya adalah denga menunggu buah itu runtuh! Dan bahwa pohon-pohon itu tumbuh liar di hutan dan merupakan milik bersama warga desa IS interesting. Pemilik buah adalah siapapun yang menemukan atau yang sudah terlebih dahulu ‘ngapelin’ pohon duriannya. Kami beberapa kali sempat hampir terkena runtuhan buah berduri itu (nyaris bonyok kepala kita :P) selama kami trekking di hutan.

Peaceful spot - uphill

Berada di atas bukit, menjelang Maghrib. Bercengkrama sambil mendengarkan ceramah dari kampung di bawah kami yang terdengar sayup-sayup.

DSCN0705

Menyusuri muara sungai… Hunting buaya yang lagi bejemur…

DSCN0719

Berkunjung ke pembuatan sagu di tepi sungai. Sooo goooeeey! :p

DSCN0897

Memasuki Hutan konservasi Manusela

DSCN0910 DSCN0920 DSCN0942 DSCN0982

Saat Berpisah

Paling kiri: bersama Bung Fabio, salah seorang guide yang banyak bercerita tentang kultur dan tradisi penduduk Sawai. Seorang kawan di tanah asing yang menjadikan kami saudara setanah air… I..N..D..O..N..E..S..I..A!

ngasoooo

Para Pendekar katanyaaah… ;p Setelah trekking session naik bukit, masuk gua, turun bukit, keluar hutan, lalu berjalan kurang lebih 20km… kayak gitu deh penampakannya!! HAhaha

IMG_8980

No meal time without durian!!! Ha!

IMG_8860

Durian Party timeeee!!! Nom…nom…nom…

Rie-

SAMPAI JUMPA in the next FRAME!!! Hasta La Vista!!

GOSH..!! Have I been sleeping for a year??!! 😜😜
The first 6 o’clock in 2015…
Wishing you all A HAPPY NEW YEAR!!🎶
So grateful for the passed lessons that life had given me…Thanks for those who took part in making my life colorful -even black is counted!😉
Now opening wide my arms to welcome more fruitful experience! More new people! More new places to explore! More love to share💃
Amin YRA 😃🙏

View on Path

Dialog Pasar Malam

Aku butuh tanganmu, ujarmu
Untuk apa?
Untuk menggenggamku, aku terlampau letih..
Lalu kuberikan keduanya
Dengan ragu…

Tanganku rapuh, ujarku
Mengapa?
Mereka pernah menggenggam terlalu erat
Lalu kau sodorkan tanganmu
Kusambut…ragu

Dan saling menggenggam

berbagi tanpa tujuan

hanya sebatas dialog pasar malam

melewati tiap episode permainan

berbagi tanpa tujuan

-hanya sebatas menikmati pasar malam

 

————————————–PoemPoet——————————-

In Memorial to My Dearest Grandma

My grandma from my mother side.. She passed away last week on Friday, 19th Sept 2014. I got the news on Saturday when I woke early in the morning getting ready for my class. Shocked but was anticipated that her time would come. She’d been sick for very long time as she got old. I didn’t have time to mourn as time wouldn’t stop for me for  just letting me contemplate and ‘seeing’ my granny in my ‘head’ before it becomes blur and gone. Until late at night when time allowed me to slow down and took me back years and years back then. Mbah Uti was a kind-hearted yet strong woman. So much to tell from the short time I had with her in my childhood. We moved far away from the town she lived that made it hard to visit. When I missed her I would find a radio channel that aired in Javanese. That would bring me back the memory being at my grandparents’ house. I felt like I can smell the air in the village, her voice talking to neighbor. Most of the time, I would left behind and stay longer in my grandparents’ house while my family went back home. I never got enough to be around my grandma. Until then we’re all grew up and had our own, so called, life. I am busy making my own life colors that my visits become once a year or even once in 2-3 years. However, she always waited with patience every time we told her we would visit her. She would then give her smile, hugs and kisses and started with reminding me how I always didn’t want my grandma to go back to her house every time she visited us when we were kids. Yes! that was like thousand years ago but it so sweet that she remembered me that way. -sobbing She would be ready with her special dish to welcome us, duck dishes, her specialty! I LOVE it…aaah I miss it.. I remember she would sit in her verandah waited for us and would spread her hands widely with sparkly eyes and big and sweet smile when we came… back then. She would talk to me using Javanese kromo inggil  just so I could speak the language. I tried to reply her as I could even though then she laughed and waved her hand to the air telling me that I said it wrong. She would give me a hug and taught me as far as I could go, but most of the time I would give up and whining asked her to speak in Indonesian instead. It is now becoming my goal that I will take seriously to learn kromo inggil that makes part of her stays with me. Rest in Peace Mbah Uti… Matur sembah nuwun sampun maringi the best of your life for us…

Mbah Uti with her smile :x

Mbah Uti with her smile, lots of love…

images

Jangan Ada Perang diantara Kita -Kegelisahan Paska Pilpres 2014

Saat ini adalah dini hari, waktunya semua mata terpejam dan mengistirahatkan pikiran dan hati, tapi saya belum bisa tidur sebelum saya menulis ini, kegelisahan saya.

Hari ini saya baru berkumpul kembali dengan teman-teman setelah momen pilpres 9 Juli berlalu tapi sebagian besar waktu kami berbincang, fokusnya adalah sekitaran pemilu atau lebih tepatnya tentang reaksi 2 kandidat presiden paska hari pemilihan. Kami berbagi kegelisahan yang sama ketika membicarakan reaksi Bapak Prabowo. Gelisah akan apa yang bisa terjadi jika hasil KPU nanti tidak seperti yang beliau inginkan. Saya pribadi takut, bergidik dan ngeri seperti ketika melihat beliau berpidato mengobarkan semangat: Jangan Sampai Kalah -loosing is not an option! Saya mengerti memang itu yang harus diyakini ketika seseorang melakukan kampanye, tapi saya sebagai pemihak kandidat lain, membaca isyarat itu sebagai ‘perangi mereka’, bagaikan genderang perang melawan saudara! 

And that broke my heart… Saya tidak mau negara saya ini nasibnya akan seperti beberapa negara-negara dibelahan bumi lain yang saling berperang melawan saudaranya sendiri. 

Saya memang tergerak untuk mengikuti pemilihan kali ini karena sosok seorang Joko Widodo, sosok yang sederhana dan tidak menakutkan (dalam arti sebenarnya sama ketika saya merasakan sebaliknya dengan Prabowo). Saya tidak bermaksud berkampanye, toh waktunya pun sudah lewat. Saya hanya ingin memberi dasar dari mana rasa itu datang. Saya juga mencari tahu tentang Prabowo dari referensi dunia maya dari beberapa tahun lalu. Bukan untuk ‘berpaling’ tapi untuk melihatnya dengan cara yang berbeda, untuk mengurai ketidaksimpatikan saya terhadap orang-orang yang berada di belakangnya yang memberi kesan keji dalam perkataan. Namun usaha memupuk itu runtuh tak bersisa ketika saya menyaksikan wawancara beliau dengan BBC. 

Again…He broke my heart… Saya ingin melihat beliau adalah seorang yang besar sebagai salah satu kandidat presiden dari satu negara yang besar! Bukan seorang yang penuh kegusaran menuding Bapak Joko Widodo dengan asumsi di media internasional diperdengarkan oleh seluruh rakyat indonesia yang lebih dari separuhnya menitipkan suara padanya (do you see how he broke my..no our hearts?) dan yang oleh separuh lainnya akan diamini (most likely).

Sementara Bapak Jokowi dalam wawancaranya menyebut Prabowo-Hatta adalah patriot dan negarawan. 

Mengapa Bapak Jokowi menjadi preferensi saya? Simak seorang optimist yang bicara tentang kepemimpinan Simon Sinek: Why good leaders make you feel safe. 

Moreover, Intimidation and fear…or rather concern of the spreading of those aura that I can tell when reading the following letters for Mr. Prabowo http://suratuntukpakbowo.tumblr.com 

Pada akhirnya…..

Siapapun yang menjadi Mr. President tidak bisa berjalan sendiri… Kembalilah kita bersaudara. Marilah menjadi IKA dari ke-Bhinekaan kita.

Mari kita pelihara berpuluh juta rasa optimis yang baru saja tumbuh

Setiap satu jari yang dicelupkan itu butuh seluruh badan, pikiran dan hati untuk menggerakkannya.

Kita sudah berhasil satu langkah: menggerakkan berpuluh juta jari baru!

 

————-Semoga kegelisahan saya tak berujung jadi nyata———- 

Salam Damai

 

Misteri Waisai – Raja Ampat, Papua

Kata-kata yang berseliweran di kepala saya belakangan adalah melulu tentang berita pemilu dan capres yang membuat saya gagal GOLPUT tahun ini, sampai-sampai gegap gempita euphoria kegiatan nyeret ransel ke Raja Ampat teredam begitu saja.

Hehehehe…

Buat yang cari berita ada apa di ujung Indonesia timur, negeri Papua, berikut kisah kami… Bersiaplah berimaji….

The Meeting Point

Reuni berperiodik dengan kawan-kawan penyeret ransel kali ini bermuara di Bandara Hasanuddin, Makassar, sebagai meeting point kami. Manggul backpack 35++ (+mijit paska trip!), nenteng fin beserta nylempang tas yang lumayan gendut (yaaa… yang ini udah di komen sbg pengungsi di media chatting..), pasrah bakal dicomelin bibir kisruh mereka, saya celingukan sambil menajamkan telinga mencari modulasi medok jowo diantara kerumunan. Dan memang gak susah nyari mereka! ;)

“Hai! Riri…”

“Hai! Syafrina…”

Saya menyalami a new addition in the group sambil takjub ngliat barang bawaannya yang spekta! (pisssss Sya!) heuheuheu. Carrier di punggung, backpack at the front dan snorkel cs ditenteng.

Syafrina dengan setengah paket barang bawaan ;p

Syafrina dengan setengah paket barang bawaan ;p

So kami ber-6: TJ, Didik SuAndrew, Septy, Ikeu, Syafrina and I dengan penuh keharuan karena kita menapaki gate menyongsong…G A R U D A   I N D O N E S I A… menjelang tanah PAPUA! eeeiits..pasti pada ngira kita bakalan naek pesawat jumbo kaaan (lebay yaa),  yaaa sukur-sukur bukan pesawat baling-baling kayak trip wakatobi. Hehehe.. Tapi pesawatnya emang kecil, dengan hanya 4 seater di tiap row, plus langit-langit yang rendah (jadi berasa tinggi gweh!)

 

Off to SORONG!!! And the Magical moments begin!!!!

Entah siapa yang bawa lucky charm, tapi sepanjang perjalanan there’s always a magical moment, dari kacamata saya at least…

Kejadian Ajaib #1

Seorang teman yang tadinya bakal gabung, tiba-tiba cancel dan luckily ada anak CS (Couch Surfing) yang mau join sehingga jumlah kita gak jadi berkurang. Jumlah anggota trip emang penting ketika kita perlu menggunakan transportasi sewa menyewa karena pengaruhnya pada budget sharing… -meskeeeeen..- hahahaha backpackeeer (mesken bangga!)

So..bergabunglah Sara, pelancong Amrik yang berniat backpacking berkelompok di Raja Ampat.

Pasti pada protes… gitu aja dibilang ajaib…

Baiklah! Abaikan kalo getoo.. :p

 

Kejadian Ajaib #1 sebenarnya – Dapat Teman-teman Baru

Sara yang lagi nunggguin kita di stasiun eh bandara (kayak stasiun sih..) di Sorong ngejogrok sendirian, mengundang iba  seorang putera daerah yang belakangan kita tahu bernama Ryan, demi melihat seorang bule cewek ngesot dengan pasti di lantai bandara yang besarnya kira-kira…mmmm 3×3 gajah dewasa dijejerin (yup math gw payah), menghampiri dan menemani. Kemudian bergabung dengan kami.

Nah! Dari sini…story trip kami pun menjadi plus plus penuh kejutan dengan adanya guide sukarela ini.

Oya, waktu kita lagi nunggu barang di conveyer, Ikeu histeris karena ternyata ada teman lama mereka, Okky, yang dengan manisnya melambai-lambai di jendela kaca. Dengan kebaikan hati Okky, kami dapat anteran menuju pelabuhan Sorong, off to WAISAI!!  Nah jadi, selain Sara dan Ryan, ada juga Okky yang rela menutup awal mata pencahariannya aka toko pada hari itu demi menjemput teman-temannya. aaah…so sweet gak sih!

Sorong menuju Waisai

Sorong menuju Waisai

#2 – Got A Nice Place to Stay

Dari Sorong kami naik kapal ferry menuju Waisai, Ibukota dari Raja Ampat. Somehow Didik tidak bisa menghubungi pihak home stay yang akan kami tinggali karena keterbatasan jaringan telepon disana. (Gunakan kartu telkomsel yang kagak ada matinya di Papua. Provider lain mati suri! Wasalam deh!)

Sampai menjelang merapat ke Waisai, kami masih belum tahu bagaimana cara menghubungi pihak penyedia homestay.

“Teman-teman, bokap sebenernya baru buka resort di Waisai. Kalau mau gw tanyain masih ada kamar gak. Bla..bla..bla..” kira-kira kalimat itu yang meluncur kemudian dari mulut Ryan yang duduk di nun ujung barisan kursi. FYI, arrangement sitting kapalnya adalah 3-5-3. Kami mengisi barisan 3-5. Jadi cara berkomunikasi kami adalah pesan berantai karena Ryan berada di ujung seater 5!

Anyway… akhirnya kami pun menyimak, berembug, menimbang dan memutuskan: Hayyuu dah! :D

Kami pun melenggang dengan elegan menaiki ‘limousine’ yang menjemput membawa kami ke Pandawa Dive Resort, Waisai!!

Yahoooo!!!

Yahoooo!!!

 

Berfoto dengan the owner, Om Yoppi, At Pandawa Dive Resort

Berfoto dengan the owner, Om Yoppi, At Pandawa Dive Resort

Disana kami disambut ramah oleh pemilik resort yang tak lain adalah orangtua Ryan, teman baru kami.

Entah karena saking senangnya bertemu anak mereka yang sudah cukup lama tak bertemu atau kasihan liat tampang-tampang kucel kami, mereka dengan sukarela memberi super discount harga pada kami. Yaaay!!!

Fasilitas RESORT harga HOMESTAY!! Ajib gak tuh!!

550.000 –> 350.000

Kamar ber-AC, hot water and 3x meals –>The BEST DEAL!!

Nice spot

Nice spot

 

At the jetty

At the jetty

#3 – We Found A Family

Teman-teman semua pasti setuju kalo kita ngerasa very much welcomed dari hari pertama tinggal di Pandawa. They are warm-hearted peeps.

Sore itu kita tanpa komando, satu-satu akhirnya berkumpul di jetty, yang memang inviting banget buat ngobrol atau sekedar menikmati horizon dan ikan-ikan yang berlompatan. Ortu Ryan, Om Yoppi dan Tante Lidya pun ikut nimbrung. We had a good time.

Sore itu juga kami dicarikan kapal untuk kami ber-hopping island keesokan harinya. Kami deal dengan harga 7jt menuju 5 spot: Painemo, Teluk Kabui, Arborek, Mansuar dan Pasir Timbul (belakangan kami tahu dari penyedia jasa kapal lain bahwa harga segitu hanya untung tipis, lucky us!)

Off for hopping island

Off for hopping island

Pasir Timbul #superJump

Pasir Timbul #superJump

#4 – Tragedi Gagal Misool Membawa Berkah

Kami memutuskan untuk tidak ke Wayag selain jauh +/- 5-6 jam perjalanan dengan speed boat, juga karena mahal. Info yang kami dapat, cost kapal minimal adalah 18 juta! Yikes!!! Hidup kami disana masih 4 hari kedepan! Kami pun harus puas dengan Wayag kecil aka Painemo, yang memang mempunyai kemiripan view dengan Wayag sebenarnya. Berembug, menimbang dan berhitung….kami memutuskan berangkat keesokan paginya kembali ke Sorong untuk kemudian melanjutkan ke Misool. Kendalanya adalah minimnya info tentang keberangkatan kapal menuju Misool. Setiap orang yang kami jumpai, kalau tidak tahu atau memberikan jawaban beragam. Begitu juga info yang Syafrina (satu-satunya yang bisa tetap eksis dengan gadgetnya. –brought to you by telkomsel) cari via online.

Nekat, kami tetap berangkat ke Sorong. Tante Lidya yang sudah berada di Sorong sehari sebelumnya menjemput kami.. eh! Ryan anaknya ding hehehe.. tapi sekali lagi mendengar planning kami yang belum tahu pasti jadwal kapal ke Misool. Beliau ‘mengawal’ pencarian info untuk kami (salut dengan kecekatan beliau ini! Gak salah kalau ternyata beliau mantan anggota DPRD :) ). Setelah di lempar dari satu kantor ke kantor informasi yang lain untuk membeli tiket….akhirnya kami mendapat info bahwa kapal berangkat ke Misool hanya hari SABTU! Padahal kita hanya sampai hari Jumat saja disana.

Kami galau…nanar saling berpandangan… Where to go?!!

Ke pulau sekitar sini aja. Balik ke Makassar aja. Ke Taka Bonerate aja. Ide-ide berseliweran.

Di tengah panas terik kota Sorong yang menemani kegalauan kami, Tante Lidya menawarkan kesejukan untuk beristirahat di rumah mereka. Disana bisa dibicarakan lagi bagaimana selanjutnya. So blessed! Alhamdulillaaah….

Kelompok kami nyaris semburat. Sara memutuskan berangkat ke Makassar lebih awal dan Syafrina sudah tak kuasa mengikuti dinamika backpacking surprises sehingga memutuskan kembali ke Jakarta, sedangkan kami berencana kembali ke Waisai untuk kemudian menuju pulau lain. Tapi kemudian Papua masih menahan mereka, harga penerbangan melambung tinggi yang membuat Sara mengurungkan niatnya, Syafrina mendapat suntikan dana dari ‘oknum’ di Jakarta dan dia memutuskan untuk stay! ;)

Cerita pun berlanjut dengan perkenalan  kami dengan Pak Heyn, penyedia jasa one day trip ‘jurusan’ Wayag. Kami mendapat penawaran 12 juta dengan bergabung dengan 3 tamunya yang lain. It’s still over our budget.

Setiap orang mempunyai goal tersendiri dalam kegiatan traveling yang dijalani selain tempat yang di tuju. Saya pribadi, I’m open to any possibilities. Banyak hal yang bisa dipelajari, terutama dari yang namanya diawali mis- : misinformation, miscalculation, misunderstanding, misTAKE. Mungkin bukan buat kita secara langsung tapi sebagai bahan pelajaran bagi orang lain. (Ok TUA gw kumat! heehe)

Anyway… kami kembali ke Pandawa Resort! hehehehe padahal udah dadah dadah salam perpisahan :P

Hikmah hari itu, kami mendapat deal dengan Kak Heyn 7 jt untuk trip ke Wayag keesokan harinya! Dan 650 rb/orang untuk diving di Waiwo! Super!

#5 – Berburu Toilet di Teluk Kabui

 Kami bersiap dari pukul 5 WITA (yang berarti pukul 3 WIB!) karena pukul 6 kami akan dijemput menuju Wayag. Setelah sarapan super dini kami berangkat sekitar 6.30 WITA. Setelah menjemput 3 tamu lain perjalanan masih berjalan lancar. Sampai kemudian adalah suara mendesah tertahan sambil memegangi perut, “Ikeu…gw muleeesss!” Syafrina meringis merengek pada Ikeu (sebagai pemeran Ibu pengganti buat Syafrina selama trip heheehe..). Nah Lo! Ditengah laut pengen poop…Apa kabar????! Lucu..tapi kami tak tega ketawa melihat Syafrina terus meringis dan panik! hehehehe..

Kak Heyn menyuruh sabar, kita merapat ke pulau terdekat di Teluk Kabui.

Toilet traditional: nongkrong langsung PLUNG! :D

Toilet traditional: nongkrong langsung PLUNG! :D

Karena saya juga kebelet pipis, kami bertiga men’darat’ mencari toilet. Kami pun harus berjuang menaiki tangga rapuh tak beraturan. Ikeu hampir jatuh ketika pijakan anak tangga patah. It was so close! Thank God she was saved.

#6 – Celanamu, Celanaku dan Bikini di Wayag

Angin cukup kencang yang menjadikan gelombang pun tinggi, tapi kami dapat dengan selamat mencapai tujuan: WAYAG! Kami harus mencapai puncak untuk dapat menikmati pemandangan Wayag yang fenomenal. Medan pendakian terjal dengan bebatuan tajam. Dan ditambah kami harus bergegas berlomba dengan waktu agar kami tidak kemalaman di jalan karena ombak yang tinggi akan memperlambat. Syafrina yang merasa tidak yakin mampu dapat sampai ke atas, urung ikut dan memilih berenang sambil menunggu kami. Ikeu berkeyakinan lain bahwa Syafrina pasti bisa! Entah bagaimana… pemandangan selanjutnya adalah urutan ke 2 dari belakang ada sosok Sally Marcellina (hihihi tau kan movie star sexy di pilem Warkop! Pissss Sya!) lengkap dengan bikini berusaha menapaki bebatuan dengan booties-nya!

Climbing Wayag

Climbing Wayag

Ngomongin outfit, 2 teman lain mengalami robek celana yang gak tanggung-tanggung! Breeettttt sesobek-sobeknya: Septy dan

Mas Bayu!

Celana saya?? Amaaaan hehehe

 

Puncak Wayag, kami siibuk berpose mengabadikan perjuangan menuju puncak Wayag!

Puncak Wayag, kami siibuk berpose mengabadikan perjuangan menuju puncak Wayag!

Sally Marcellina oops Syafrina made it!

Sally Marcellina oops Syafrina made it! Bikini booster? :P

Puncak Wayag! Yay!!

Puncak Wayag! We Made it! Yay!!

#7 – Wayag – Waisai, Ketika Hati Merapat Pada-Nya yang Kuasa

Perjalanan kembali lebih menguras mental dan kepercayaan kami pada yang Kuasa. Kalau Percy Jackson jadi ikut mungkin bisa bantu kami bicara pada Poseidon untuk membiarkan kami lewat dengan damai :P

Meskipun saya pernah mengalami badai yang lebih buruk tapi kali ini lebih lama, berjam-jam kami dihempas gelombang tinggi dan terhentak dari tempat duduk kami. Angin kencang yang membawa air membuat kami menggigil kedinginan. Septy mengenakan jas hujan, Didik merapat mencari kehangatan. Di sisi lain Ikeu modus merapat pada Mas Bayu (beuuuu), saya bersembunyi dibalik life jacket mengikuti cara TJ dan tak lupa merapat juga, sedangkan Syafrina entah sudah pil antimo yang keberapa dia minum, memilih mojok duduk dibawah…TIDUR! Hahaha (Anak langka inih!!)

 

Para Koboy berani tepos duduk 13 jam pp waisai-wayag, cengar cengir blom kena badai gelombang! :D

Para Koboy berani tepos duduk 13 jam pp waisai-wayag, cengar cengir blom kena badai gelombang! :D

Terlalu banyak yang terlewatkan untuk saya bagikan disini. My point is it wasn’t a perfect trip as so called failure of situation and things were every where during the trip. Embrace it and we are just fine. 

Quote of The Blog

Quote of The Blog