Jordan: Highlights of The Country #2

Spring break akan segera berlalu soon! Sebelum kembali bergulat dengan one deadline to another, let’s flashing back to Jordan.

Satu hal yang yang ingin saya rekomendasikan bagi solo traveller adalah bergabung dalam open trip is not bad after all. Terutama kalau ini perjalanan di negara middle east yang menawarkan atraksi tentang sejarah, adanya pemandu yang menerangkan tentang asal-muasal berdirinya negeri sampai sejarah para Nabi. (errr..tapi saya gak bakal bahas sejarahnya disini 😛 baca sendiri di wiki yah! hehehhe)

My Highlights

  1. Petra:
    Pasti daya tarik turis untuk berkunjung ke Jordan adalah salah satunya Petra. Bangunan yang dipahat pada batu raksasa. Terkubur ribuan tahun silam dan ditemukan kembali sebagai bukti kejayaan dan kehidupan masa lampau. Menelusuri cara berpikir, filosofi, dan teknologi yang telah ada pada jaman yang terbayang pun tidak kecuali lewat cerita-cerita komik yang dulu kerap saya baca -ini kalo saya loh yaaa-
    Untuk masuk ke Petra, tiket masuknya cukup mahal. Untuk kunjungan 1 hari, dikenakan biaya 50 JOD atau sekitar 950K IDR. Naah maka itu dengan membeli Jordan Pass sangat mengurangi beban kantong. Dan  beruntung Indonesia termasuk negara yang bisa menggunakan Jordan Pass karena tidak perlu membuat visa sebelum berangkat. Dengan menunjukkan Jordan Pass di custom bandara, kita bisa langsung ngeluyur dan tentu saja menunjukkan alamat yang akan kita tuju di Amman.
    Ok..Petra.. 🙂 begitu memasuki wilayah ini, kita sudah disuguhi dengan banyaknya tomb, semacam gua dari batu yang digunakan untuk mengubur, biasanya berisi satu keluarga. Berdasarkan kompleksitas bagian hiasan atau ukiran menunjukkan keluarga tersebut kaya karena berarti dia membayar seniman untuk memahat ukiran pada tomb tersebut. Semakin masuk ke dalam mulai dengan batu-batu besar yang beberapa terdapat tulisan transkrip dan potongan-potongan relief, juga tampak bekas teknologi pengairan yag digunakan. Tempat-tempat yang menunjukkan tempat persembahan pada berbagai dewa. Bahkan ada tempat untuk menikahkan pasangan.
    Jalan menuju ke dalam kita harus waspada. Saat itu adalah hari bagi sekolah para anak perempuan melakukan filed trip, jadi setiap kali berpapasan dengan gerombolan anak-anak yang kira-kira 30-40an anak dengan 1 guru, kebayang dong riweuhnya! Mereka berlomba menyapa kami, well… lebih tepatnya para teman grup yang selain saya semua berkulit putih dengan rambut blonde dan good looking 😛 beberapa bahkan nekat minta foto bersama hehehe.. Selain itu juga adanya kereta-kereta kuda yang membawa turis-turis yang gak kuat jalan sangat mengganggu karena mereka jalan cukup kencang sementara ada beberapa tempat yang jalanannya menyempit. Yaaa kami harus merapat ke batu kalau mau selamat dan agak terbebas dari bau éék kuda yang ditebar ketika melewati kami! 😛
    Selama 2.5 jam kami bersama pemandu tur yang dengan sangat informatif meneerangkan seluk beluk bentuk pahatan dan artinya, kapan, mengapa, dimana, yang nempel di kepala kira-kira 5-10 menit hehehe… Saya terlalu sibuk takjub dengan benda-benda raksasa di depan saya dan membayangkan kehidupan seperti apa pada masa itu… ITU! What was it like living in that age? Sampai diperbatasan tugas pemandu selesai. Kami diberi pilihan antara melihat Monetary atau Treasury (nama istilah untuk jenis Petra). Kami berpisah dua kelompok. Saya memilih ke Monetary karena trekking berdasarkan peta itu yang lebih pendek, berhubung saya kurang tidur semalam akibat meminum kopi saat makan malam –bad choice– saya merasa kurang fit untuk menambah 2 jam trekking. Kita harus sudah menyelesaikan trekking dan keluar dari area Petra pada jam 5 sore karena area akan ditutup. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 2:30. Kami pun bergegas.
    Meskipun kami menjadi
     dua kelompok, tapi saya terpisah karena saya lebih memilih santai sambil mengambil gambar sepanjang perjalanan naik ke Monetary -sambil mengatur napas juga siiih.. jarak tempuh sekitar 9km tapi karena tanjakan dengan elevasi yang cukup curam dan udara dingin saya kewalahan juga. Hidung rasa tertusuk karena dingin, dan hasilnya mimisan dan tangan membiru -ngasooo… 😛 Oh yaa, yang agak annoying adalah mereka menyewakan keledai untuk membawa turis naik/turun tapiiiii menggunakan trek yang sama dengan kami. Alhasil kalau pas papasan, saya buru-buru merapat atau melipir cari pijakan lain. Bukan kenapa-kenapanya, selain rada takut hehehe…kesian liat mata mereka sedih gitu mukanya -beneran! 😦
    Menurut saya pemandangan menuju naik ke Monetary jauuuh lebih blow my mind than the monetary itself! 


  2. The Dead Sea
    Site ini termasuk yang saya tunggu-tunggu karena saya pengen ngapung! Dan maskeran lumpur seluruh badan 😛 😀
    Nah supaya gak nyesel kayak saya… sebelum pergi inget-inget bawa sepatu yang bisa dpake di air or at least sandals. Kenapa? Karena di pantainya sudah terbentuk kristal garam yang tajam! Meskipun saya wanita berhati kuat, tetep aja telapak kaki gak sekuat hati saya 😛 hehehe… Kalau inget-inget, beruntuuuung saya gak sampe limbung and jatuh, gak kebayang kalau sampai lecet dan kena air laut sana! Sadis perihnya!!
    Air laut pada umumnya mengandung garam sekitar 3.5% sementara air laut mati mengandung garam 32%! The Dead Sea berada di titik terendah di permukaan bumi (400m di bawah permukaan bumi). Jangankan air masuk ke mata, begitu muka saya kena air, evaporasinya bikin perih mata. Dan saya panik! SAKIT! Dan malah kecipratan tambah banyak…:P dan tambah panik karena nginjak ke bawah tajam.. OH nooo! “Heeey are you sinking, Rie? Haahahahha!”  Yaaah…dia kira kita becandaaaa!! Tolongin wooy!
    Anyway… biasa masuk ke Laut Mati 15 JOD termasuk makan siang, Heaven! Saya suka menu makan siang disana! 🙂 Oh ya.. dan biaya ini sudah termasuk di Jordan Pass, so saya tinggal senyum aja.. 😉 untuk masker lumpur kita perlu tambahan 3 JOD dan kita bisa maskeran suka-suka kita! Lumpur ditempatkan di guci besar di pinggiran pantai, lalu kami rame-rame saling bantu maskerin bagian belakang. Saya…muka pun saya maskerin! Gak mau rugi hehehhe.. daripada muka putih-putih garam semua? Iyaa.. begitu kita keluar dari air, puas ngapung-ngapung dan berperih-perih.. badan dan muka kita langsung berkristal, semacam film vampire ganteng ituuh 😛 hahaha
    I had a great time here!
    Sebelum kembali ke Amman, kami singgah ke outlet yang menjual produk-produk dari laut mati dan kerajinan khas Jordan, tempat oleh-oleh lah kalau di Indonesia. Tapi yaaa gitu, very pricey! :p
  3. Wadi Rum
    Jeep Safari…!! Disini tempatnya! Melewati padang sahara dengan batu-batuan dan gunung raksasa di kanan-kiri… Semacam Grand Canyon di Amerika kata teman-teman saya. Yaa saya masih kategori rookie dibanding hasil jelajah mereka-mereka ini. Satu pasangan sudah hampir setahun traveling, satu pasangan lainnya yang sudah senior bahkan sudah hampir 3 tahun traveling, iyaaa 3 tahun! Saya…? Saya cari pasangan dulu yang mau diajak traveling and stranded… 🙂 😛
    Di Wadi Rum kami menginap di tenda-tenda yang sudah jadi. Bentuk tenda kami seperti tempat tinggal para penduduk lokal Wadi Rum.
    Guess what?! Disini kami mendapatkan jaringan internet! Kami sampai di area camping menjelang Maghrib. Bersih-bersih sepatu yang berpasir, juga muka dan rambut kami yang berpasir karena angin sangat kencang saat mendaki beberapa bukit, segera dibasuh di tenda masing-masing. Iyaaa…di dalam tenda ada kamar mandinyaaaa… 🙂 Camping ala ala memang hehehehe…
    Sebelum makan malam kami ditunjukkan cara memasak traditional suku mereka, yaitu makanan dimasukkkan dalam panci lalu dikubur di lubang yang sudah disediakan, lalu membakar bagian atasnya. Kalau di Indonesia seperti cara suku Papua memasak, hanya kalau di Papua, bukan dikubur tapi di timbun dengan batu lalu rumput dan kayu, lalu bakar. 🙂 It was beauiful dishes!! Sweet lamb and vegetables. Of course with Hummus! 🙂
    Selepas makan malam kami duduk-duduk dekat perapian. Tiba-tiba di tengah altar dua laki-laki mengambil posisi sejajar dan musik bergema… Oh My…They’re starting to dance! Folks dance!  

    Dan kami, kelompok kami semua ikut berdansa mengikuti gerak kaki, tangan..berputar, berteriak… Laughing!!! Down Jacket yang saya kenakan pun saya buka karena malam dingin menjadi hangat. 🙂
    O
    n the Jeep Safari


    Taking out our dinner from the hole under the ground

    Penampakan di dalam tenda

    P
    enampakan luar tenda

  4. The Food
    Makluba: Perkenalan dengan menu ini adalah ketika saya memilih untuk mengkuti acara makan malam dengan keluarga lokal di Petra. Costed me 15 JOD to have this attraction. Cara memasak yang unik dengan bumbu rempah, disajikan dalam nampan besar kami duduk di lantai bersama menikmati. Hmmph… Yumm!! Semacam nasi kuning dengan terong, kentang dan ayam dimasak bersamaan.
    Mansaff: Menu ini kami santap di restoran Jerusalem tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Nasi kuning gurih disajikan dengan pilihan lamb or chicken, saya memilih dengan lamb, dan dimakan dengan yoghurt lebih cair dari yoghurt kebanyakan. Agak aneh yaa…tapi..ENAK! 🙂 Saya suka!
    Falafel dan Hummus: dua nama ini sejoli. Biasanya kami makan untuk sarapan dengan roti. Saya sudah mengenal makanan ini di Saudi karena cukup terkenal dan lazim. But still… I like it! 🙂

  5. The History of Humankind
    Menyusur peradaban masa lampau sejarah perkembangan manusia sangat menarik! Jangan tanya saya tentang detail tahun dan nama-nama :p It’s iin the air and hard to catch hahahha… my brain can’t cope with overwhelming information. Tapi..ketika koneksi terkait dengan latarbelakang prior knowledge kita, menjadi make sense. Semisal ketika pemandu bercerita tentang sejarah Suni dan Syi’ah. Saya pernah baca tentang ini, jadi pada saat mengikuuti ‘pelajaran’ pemandu saya rajin mendengarkan. Dan ketika sejarah Ottoman dan masa-masa lainnya tiba-tiba mata rasanya beraaaat banget hahaha… Lesson learnt, find bit of the background history before you go visit a historical place. hehehe… Still interesting to know but it was overwhelming.. 😛

Jordan – The Old City #1


Kesempatan keluar dari KSA kali ini saya membulatkan tekad untuk tidak mengenakan abaya. 😜 Pertimbangannya adalah selain saya melihat beberapa orang tidak mengenakan abaya di airport, juga dengan pertimbangan saya harus membawa carrier yang bakalannya ribet kalau saya mengenakan abaya. So, wearing pants and jacket instead…and it was all good. 😊

Expect The Unexpected 

Dalam perjalanan menuju airport saya baru sadar kalau saya belum melakukan online cek in. Ini sangat mmpersingkat waktu, apalagi dengan antrian bersama jamaah yang ibadah bakalannya lama. But it Solved-Done!

Berikutnya Exchanged currency… Nah ini yang bikin kaget! Udah ngintip siih nilai tukar mata uang JOD, tapiiii tetep nyesek juga 😅😜 Ya sudahlah… Menukar 300 JOD plus ‘membuang’ sisa Dirham dari perjalanan sebelumnya ke UAE. 120 dirham = 22 JOD itu sekitar 400rb-an IDR. I knooow… ksian ya rupiah kita. 

Kelalaian berikutnya adalah lupa arrange pick-up transfer dari airport ke hotel di Amman.😑 Buru-buru ngemail TravelTalk dan berharap it will be solved. It was Sunday, so my chance was tiny along with my situation. 😜 Anyway.. I just gave a go with it.

First time flew with Royal Jordania hmm… on board dengan penumpang orang Jordan. Punteen…mo minjem istilah Tukul.. Katro dan keras kepala para ibu-ibu dan nenek-nenek ini bener-bener.. Dari pas saya naik bus menuju pesawat tiba-tiba passport saya diambil gitu aja dari tangan saya oleh nenek yang duduk depan saya -saya berdiri di depan nenek ini- I was like.. What the…! Saya langsung ambil lagi sambil pasang muka gak suka., dan nenek itu nyengir-nyengir sambil ngomong bahasa alien. Teman di sebelahnya nyodok marahin tuh nenek. 

Ke-katro-an berikutnya di pesawat, seat saya ditempati ibu-ibu. Dan waktu saya tunjukkan tiket saya kalau dia duduk di tempat saya, dia bilang ke stewardess nya kalo dia pengen duduk dekat jendela dan saya suruh di tengah aja -dari gesture tangannya kira2 seperti itu maksud dia- Etdah! Situ baeek…! 😝 Tapi sebelum saya komentar, mbak stewardess dengan nada tegas meminta tuh ibu pindah. Dan dia pindah. Selesai…? Nooot quite yet!😜 Begitu saya mau duduk..eeeh doi megang kaki saya or kaos kaki saya! 🙄🙄 Excuse me, what are you doing?! Si ibu nyengir sambil dadah2, kira2 bilang ‘gak papa2’ 

Guess what.. gak lama dia ke belakang,entah kemana dan penumpang depan tenyata seharusnya duduk disamping saya.. so, she’s not supposed to be there at all. 😝

Dapatlah saya ibu-ibu yang lain disamping saya. Kejutan berikutnya… karena saya kurang suka makanan yang disajikan, saya cuma nyomot sedikit dessert nya, too sweet. Haddeh… tuh ibu poking bahu saya sambil nunjuk cake dessert saya. Saya ngangguk dan dia langsung abisin, saya tawarkan makanan lainnya…ya kali dia lapeer.. ternyata yang dilirik dessert doang 😜 yalla!

Dua jam 40 menit, tiba di Amman Jordan! Sepiii… bersih mirip terminal khusus Garuda yang di cengkareng. Entrance nya mirip tapi masih kerenan yang di Jakarta. 😉 Anywaygood that I bought Jordan Pass. I really recommend this pass coz it saves a lot as your visa will be waived if you stayed more than 3 days, which you would most likely stay more than 3 days in Jordan. All was good until I have to look for anyone who picked me up. Dan ternyata memang gak ada yang jemput! 🙄 Setelah coba hubungi hotel dan mereka gak terima arrangement karena last minute, dengan mengucap bismillah…meluncurlah dengan taxi bandara  costed 20 JOD.. 

Meet and greet dengan grup dan intruksi perjalanan dari tour leader, dinner together… and we called it a day 😊


-Sambil nunggu flight- Amman 1:47 April 1st, 2017

Called By Name

Sebagai orang asia, kita mempunyai budaya memanggil orang yang lebih tua atau yang kita hormati dengan menggunakan titel: Pak, Bu, Tante, atau Om. Naah… ketika di Indonesia saya memanggil teman-teman yang usianya jauh lebih tua pun langsung menggunakan nama mereka, karena itu memang membuat kami merasa lebih dekat. Meskipun atasan masih tetap saya panggil dengan sebutan ‘Pak’ atau ‘Mr.”dan ‘Ms.”

Berada disini saya pun menjadi terbiasa memnggil mereka dengan hanya nama, bahkan pada direktur sekolah saya. Yang membedakan adalah cara saya berinteraksi tapi sapaan tetap menggunakan ‘hanya’ nama saja. I can cope with it.

Agak canggung adalah ketika teman serumah saya dikunjungi kedua orangtuanya. Ya! Ketika dikenalkan,, “Rie, this is my Mum,…. and this is my dad, …..” Biasanya kita akan langsung menggunakan kata ‘Tante A dan Om A” :p Lidah saya masih belum bisa diajak berkompromi dan yang keluar adalah: “Nice meeting you….” Setelah beberapa hari barulah saya terbiasa memanggil mereka dengan nama.

Seperti juga di tempat saya membantu pelatihan salah satu olah raga di tempat saya bekerja. Karena mereka bukan siswa saya langsung, tapi anak-anak tingkat atas, koordinator pelatihh memperkenalkan saya dengan ‘hanya’ menyebut nama saya… hmm baiklah.. terasa agak janggal, apalagi ketika salah satu siswa ternyata bisa berbahasa Malaysia dan mulai menyapa saya dengan sebutan ‘Kak’ hehehe

Dari perspektif saya yang lebih muda dan juga ketika saya yang lebih tua dalam kesempatan lain, yang terasa adalah perasaan lebih akrab.. Interesting huh..how the way you are called give the feeling..

 

Going Umrah as A Local

Bukan berarti udah pernah umrah pake visa umrah yaaa😜 tapi tau dari cerita orang-orang. 😇

Keberuntungan tinggal di Saudi Arabia dan berada beberapa jam, kurang lebih 1,5 jam, dari kampus tempat saya bekerja menjadi tak terkira sebagai seorang Muslim. Kampus menyediakan transportasi menuju Mekkah setiap minggu pada haari Jumat dan Sabtu. Berangkat KAUST – Mekkah pukul 8:00 dan Mekkah – KAUST pukul 17:30, cukup padat untuk melakukan ibadah pada Hari Jumat. Saya dalam dua kesempatan selalu memilih Hari Jumat supaya masih ada satu hari istirahat pada Hari Sabtu dan tidak terlalu capek kembali bekerja pada Hari Minggu.

img_3008

On the way to Mecca

img_2999

Bus kampus mengantar kami sampai di Masjid Aisha. Disini banyak rombongan yang menggunakan bus mengantarkan jamaah disini karena memiliki area parkir yang luas dan memungkinkan untuk parkir dan menunggu. Dari sini, kita bisa menggunakan bus Saptco. Abang penjual tiketnya duduk dekat bus paling depan dari deretan bus yang berjejer. Daaan…yang buat kaget adalah harga karcis bus… 2 Sar!! Saya sampai berulang kali memastikan pada teman saya yang mengangsurkan 4 lembaran 1 riyal, “Two for one?!! So you paid four for both??!” Teman saya mengangguk-angguk sambil senyum. Ini semacam bus Trans Jakarta gitu… tapi sayangnya waktu kami naik, semua kursi sudah terisi dan kami harus berdiri. Waktu muka saya terlihat agak bingung karena banyak yang berdiri, teman saya bertanya: “Haven’t you been standing on the bus, before?” Hehehhe… “More than you can imagine, mate!” 😛 Tapi kemudian ada dua orang gentlemen yang duduk di barisan paling depan mempersilahkan tempat duduknya untuk dua orangtua suami istri dibelakang kami. Si suami mempersilahkan salah satu dari kami, dan saya menyuruh teman saya untuk duduk. I’m impressed that it came from Saudian. Bukan rasis tapi berdasarkan apa yang saya ketahui so far.

Kesempatan lain kami tidak menemukan bus beroperasi, waktu itu saat selepas musim haji. Jadi kami menggunakan ‘taxi’. Kami pikir waktu itu mobil dengan logo taxi yaa seperti taxi umumnya, ternyata it was shared taxi. Maksud hati supaya langsung cuuss.. yaa sudahlah, itu bagian dari perjuangan dan cobaan.. 😛 Ternyata oh ternyata…untuk mendapatkan penumpang jadi PR juga karena yang duduk bersebelahan harus sesama jenis. Analogi di otak saya yang bermain adalah ibarat main tetris..harus sesuai baru bisa fit inAnywaaay… lanjuuut.

Saptco Bus, Mecca


img_2968

In the bus

Naah kalo ada yang udah nonton film ‘A Hologram of The King‘ ini sepertinya sekitaran momen waktu Tom Hanks takut karena ada polisi yang melakukan random check.

Sekitar 15-20 menit kami sampai di Masjidil Haram. Hari Jumat, pukul 10 kami sampai disana dan pintu depan tempat Ka’bah sudah ditutup agar jamaah tidak menumpuk di lantai satu dan kami diarahkan ke lantai 3, yang artinya putaran Thawaf tentu saja menjadi bertambah untuk tiap putarannya. Dinikmati saja… 🙂

img_2971

Kami hanya dapat melakukan 2 putaran Thawaf dan memutuskan untuk mencari tempat untuk menjalankan Shalat Jumat karena jalanan berthawaf mulai menyempit dan berdesakan. It was pretty warm day and people got sweaty. You don’t want to be packed in this case.. 😛

It is a place for your practice to hold your negative thougths adn reverse to positivity karena balasannya instant!

Setelah mendapat spot untuk shalat -ini lumayan sulit- Alhamdulillah kami menemukan tempat untuk kami berdua. Bukan rasis tapi tipikal etnis tertentu, mereka suka sradak sruduk dan gak sabaran. 😦

Sambil menunggu waktu shalat Jumat kami membaca doa, snacking…, membaca Qur’an, snacking… 😉 Pukul 1 Shalat Jumat selesai dan kami meneruskan 5 putaran yang tersisa -tersisa kok 5..hehehe.. separuh lebih jamaah sudah meninggalkan Masjid jadi tiap putaran menjadi lebih cepat karena jalanan lebih lengang.

Pukul 2:30 kami memulai Sa’i, cukup padat tapi tidak berdesakan. Alhamdulillah kaki kanan saya –am crippled– dapat bekerja sama sampai perjalanan terakhir Safa – Marwa. 🙂

Sebelum kembali, kami menyempatkan diri mendekati Ka’bah dan shalat Ashar sebelum mengejar waktu kembali ke Masjid Aisha tempat bus kampus menunggu kami.

img_2980

Tapiiii…kami lapar! Naah lihat gedung yang menjulang dibalik Ka’bah itu? Pukul 3:45 berarti kami punya waktu 45 menit mencapai gedung itu, dimana kami bisa menggunakan toilet –I need to goooo..- dan membeli makanan.. Yep! That building is a Mall, Al-Baraj.


Daan disini seperti juga di Al-Balad, Jeddah, para penjual langsung menyapa saya dengan Bahasa Indonesia yang lumayan fasih! Bahkan di Masjid Aisya banyak signage yang menggunakan Bahasa Indonesia. Seringkali kalau ada yang bertanya, dan tahu saya orang Indonesia, mereka akan memuji “Subhanallaah…sister!” Kalo di Al-Balad langsung saya sambut…”Diskon yak!” 😜hehehe

Anyway.. setelah membeli makanan kami bergegas mencari taxi, real one, tapi harus pakai tawar menawar. Luckily, saya berangkat dengan seorang teman yang beasal dari India, yang sangat membantu karena kebanyakan pengemudi taxi disini adalah orang India. Kali ini dengan tarif 30 Sar, dia mau mengantar kami dengan catatan sebelum pukul 17:30 kami sudah sampai di Masjid Aisha 😜

My Take Away

Life outside of the campus is so different. I can feel Saudi Arabia as what I thought I will see and find. The money value wise, it’s a huge different! Especially when I saw the bus driver collected 2-sar for each time passanger hopped in. Apart of free bus we have, taxi is expensive to go outside of  the campus. Indeed, I have two different ‘world’ to live in.

Still… I am blessed.. 😇🙏🏼💙

Akulturasi Budaya

Hmmm…yaa topik ini tentu saja menjadi topik yang paling dominan ketika kita berbagi cerita berada di lingkungan multikultural.

Menjadi menarik bagi saya untuk bercerita saat mencoba mengambil jarak dan menganalisa -hehehe jadi inget mata kuliah filsafat 😛

Budaya courtesy saat mendapat undangan makan bersama yang diberikan melalui email, saat kegiatan makan, dan paska acara makan-makan sangat berbeda. Ketika di Indonesia saya juga mendapat undangan makan-makan dari teman expat tapi tidak menjumpai courtesy disini, yang sepertinya memang lazim. Apakah ituuu?

Awalnya saya sempat agak bingung juga setelah mengundang beberapa teman untuk makan malam housewarming waktu itu, keesokannya bertemu salah satu teman yang datang di jalan (dia naik sepeda motor dan saya sepeda), dia berhenti dan menyapa dengan segenap hati: “It was a beautiful dinner… Thank you, Rie! I’m sorry… I meant to send you guys email but I just haven’t…”

“It was a beautiful dinner… Thank you, Rie! I’m sorry… I meant to send you guys an email but I just haven’t…”

I was like… email? email apaan?? “Thank you for coming, Dianne… Not a problem.”

Dan besokannya ketemu lagi dengan teman lainnya, kurang lebihnya memberikan respon yang sama, menyesal belum mengirim pesan. Hmmm… mungkin mereka kesirep salad Indonesia aka pecel atau mango and sticky rice Thai, atau springroll buatan Lap dari Filipina. yaa sudah lah :p gagal paham sayanyah…

Lalu datanglah giliran saya menerima undangan makan pagi dari seorang teman, dan kami bertiga -teman serumah- semua menerima undangan. It was a very beautiful breakfast!! Karena teman kami ini suaminya adalah kepala sekolah di SMA, dan yang datang tentu saja bukan hanya kami bertiga. Ada sepasang suami istri teman mereka juga yang belakangan ternyata mempunyai ketertarikan riset ilmiah. Dan kebayang topik kita pagi itu… BERAT! Hahaha… Dari kita ngobrol random and light, vegetarian, animal abuse, sampai topik ilmiah tentang DNA dan data.. Menarik tapi berat untuk menemani makan pagi dan kantung mata masih bengkak! 😀

Baiklah melencengnya dah agak kejauhan…hehehe

Kembali pada courtesy… acara makan terasa formal.. hmmm.. atau karena mereka kebanyakan British yang terbiasa dengan ke-formal-annya (mungkin juga sih… baru sadar sekarang hehehe).

Courtesy setelah undangan ternyata adalah menyampaikan kembali rasa terimakasih melalui apapun medianya…email, text, dll… Nah! sadarnya kapan? Siang berikutnya teman serumah saya saling bertanya, “Has anyone sent email to say thank you?” 

Saya: Hah??! sambil tetap mendengarkan betapa mereka menyesal karena lupa belum mengirim email ucapan terimakasih.

Saya langsung angkat tangan 😀

What, Rie?” sambil ketawa… yah namanya aja anak sekolahan…hahhaha

I don’t know that I have to do that… It’s not in my culture, but doesn’t mean that I don’t appreciate being invited or I don’t like the food.”

Oh..I see. Then what do you usually do?” 

Nothing. I have said it at the house… so we usually said it at that moment and not really expected to do again after. But I’ll email her today..” nyengiiir…

Trus…langsung flashback… Oooh.. makanya dua teman itu kayak merasa bersalah gitu waktu itu.. manggut-manggut.. 😀

I’m Indonesian…so ora po po lah!! Hahahaha

 

What are the key traits of mentally strong people?

What are the key traits of mentally strong people? by William Beteet

Answer by William Beteet:

  1. Rather be Single Than be in a Relationship With Someone They Don’t Want – Mentally strong people don’t need to be in a relationship, and they especially won’t waste time being in a relationship for the sole reason not to be alone.
  2. They Establish Themselves as Their Own Moral Authority – Mentally strong people are able to withstand public humiliation to live up to their own values. They have engineered their own values, and those are the values they try and live up to.
  3. Willing to Walk Away From Someone They Love – Walking away from someone you love is one of the hardest things. In many ways it feels like a contradiction. Someone who is mentally strong can accept that they need to cut someone out of their life, even if they still, and may always, love them.
  4. Willing to Walk Away From an Opportunity They Want – Mentally strong can walk away from an opportunity on principle. They are willing to say no to good deal because they trust that they will be able to get a better one in the future.
  5. They Trust Themselves – This is a video I made on how to acquire baseless confidence by trusting yourself

https://www.youtube.com/watch?v=…

6. Willing to Move if Necessary – They are willing to leave everything they know to achieve their goal.

7. Willing to do What is Necessary – Most people want a lot of things in life but they won’t do what is necessary to achieve those goals. Mentally strong people are able to do the things necessary in order to bring their dreams into fruition.

8. They Give Things 100% of Their Intent but are Free From the Outcome – If you master this you will have mastered the key to being happy. Giving everything you do in life your all, but be unafraid of failure. When you get good at this you enjoy the work, not the reward, which makes it a lot easier to be happy.

9. They can laugh at their Suffering – It takes a strong person to laugh at their misery, but sometimes that’s the only thing you can do to put a smile on your face.

What are the key traits of mentally strong people?