Jas Merah: Rasuna Said

17 Agustus: HARI KEMERDEKAAN NKRI..!

Tema Merah Putih bertebaran dimanapun mata memandang, topik tentang perjuangan para pahlawan kemerdekaan bertubi di berbagai media. Tapi ada satu kalimat yang menghentikan gerakan saya pagi ini ketika sedang rapi-rapi di ruang tamu sambil dengerin TV. 

“Saya miris, ketika banyak orang tidak tahu kalau Siapa Rasuna Said itu… Bahkan banyak yang mengira kalau beliau itu seorang laki-laki!”

Hwadduh!! Saya termasuk kalangan yang bikin pembicara di TV itu miris berarti! Eeeek!!! :( Sepanjang hidup saya, ketika dengar nama Rasuna Said, itu juga karena nama jalan yang dipakai di bilangan Jakarta Pusat, saya mengira kalau Rasuna Said adalah seorang laki-laki. Don’t you think the name sounds more male? :( (cari konco..)

Lalu saya minta maaf dalam hati -beneran- pada Bung Karno, karena Jas Merah (Jangan sekali-kali Melupakan sejarah) tidak tersandang dengan benar. Dan….sambil menunggu flight saya kembali ke Jakarta, yuk kita cari tahu siapa gerangan Rasuna Said  ini… Yang pasti beliau seorang perempuan!! :)

RASUNA SAID

H.R. Rasuna Said dilahirkan pada 15 September 1910, di Desa Panyinggahan, Maninjau, Kabupaten AgamSumatera Barat. Ia merupakan keturunan bangsawan Minang. Ayahnya bernama Muhamad Said, seorang saudagar Minangkabau dan bekas aktivis pergerakan. Beliau juga melakukan perjuangan untuk wanita seperti halnya Kartini, tapi media yang dipilihnya bukan hanya melalui pendidikan dalam arti mendirikan sekolah seperti halnya Kartini. Selain dalam bentuk sekolah dan mengajar, Rasuna juga masuk melalui ranah politik.

Awal perjuangan politik Rasuna Said dimulai dengan beraktifitas di Sarekat Rakyat (SR) sebagai Sekretaris cabang. Rasuna Said kemudian juga bergabung dengan Soematra Thawalib dan mendirikan Persatoean Moeslimin Indonesia (PERMI) di Bukittinggi pada tahun 1930. Rasuna Said juga ikut mengajar di sekolah-sekolah yang didirikan PERMI dan kemudian mendirikan Sekolah Thawalib di Padang, dan memimpin Kursus Putri dan Normal Kursus di Bukittinggi. Rasuna Said sangat mahir dalam berpidato mengecam pemerintahan Belanda. Rasuna Said juga tercatat sebagai wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict, yaitu hukum kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda.

Rasuna Said sempat di tangkap bersama teman seperjuangannya Rasimah Ismail, dan dipenjara pada tahun 1932 di Semarang. Setelah keluar dari penjara, Rasuna Said meneruskan pendidikannya di Islamic College pimpinan KH Mochtar Jahja dan Dr Kusuma Atmaja.

Rasuna Said dikenal dengan tulisan-tulisannya yang tajam. Pada tahun 1935 Rasuna menjadi pemimpin redaksi di sebuah majalah, Raya. Majalah ini dikenal radikal, bahkan tercatat menjadi tonggak perlawanan di Sumatera Barat. 

Setelah kemerdekaan Indonesia, Rasuna Said aktif di Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonesia. Rasuna Said duduk dalam Dewan Perwakilan Sumatera mewakili daerah Sumatera Barat setelah Proklamasi Kemerdekaan. Ia diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS), kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sampai akhir hayatnya, 2 November 1965 di Jakarta. H.R. Rasuna Said meninggalkan seorang putri (Auda Zaschkya Duski) dan 6 cucu (Kurnia Tiara Agusta, Anugerah Mutia Rusda, Moh. Ibrahim, Moh. Yusuf, Rommel Abdillah dan Natasha Quratul’Ain).

Rasuna Said diangkat sebagai salah satu Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974.

Namanya sekarang diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Rasuna_Said 

JAMRUTS… !! Hmmm Apakah itu?

Agak-agak kayak nama band sih yaa.. Atau kalo ditambahin ‘khatulistiwa’ jadi familiar khan…

Jangan salah sebut yaaa… spell it correctly –> J. A. M. R. U. T. S.!

Udaaah gak usah protes, local wise spelling…. Ejaannya emang kayak gitu yang bener!! ;p

Meskipun pertama bertatap muka dengan palang nama jalan itu – eh iyaaa.. itu tuh nama jalan di pelosok daerah Jakarta Pusat- sempet kaget and ngeja keras-keras, takut keseleo aja nyebutnya…hihihi.

So, kita flashback sejenak ke beberapa jam sebelum penemuan nama kyut buat jalan di gang sekitaran Jakarta Pusat itu yaa..

Hari Senin yang cerah itu saya berencana mencari peluang untuk ‘ndusel’ (Bahasa Indonesianya apa yaa?) diantara kepadatan dan kepikukan Jakarta. Bayangin aja, penduduk Jakarta tahun 2011 aja sudah mempunyai rasio 15.381 jiwa/. Nah padahal gak semua area diperuntukkan sebagai tempat tinggal… Sekarang bakal ditambah 1 badan lagi, nyempil…’ndusel’ disana! Aaaargh!! Bayanginnya aja udah gerah saya, tapi…untuk saat ini, jalan hidup ituh yang saya pilih (diiringi soundtrack music mellow…). Mengakrabi jalanan Jakarta yang macet, kerumunan ribuan kepala yang menyeruak dari stasiun-stasiun kereta, badan-badan wanita –yang katanya mahluk yang lemah tapi kalo di gerbong kereta dengan garang merangsek tanpa kenal ampun meskipun badan sudah gepeng. Yaaa…keseharian seperti itu..! Tapi…pasti ada enaknya doong J Selain saya jadi dekat dengan kampus, bimbingan untuk tesis juga bakal gak jadi masalah, dan disana…Makanan apa aja ada! Heehheh

Diluar itu, masih belum ada lagi sih yang menjadi ketertarikan saya untuk menambahkannya di list.

Dimulai dengan menjemput dua amunisi untuk membekali pencarian saya: Agent 1 à Agnes, skill cerocosannya penting buat nanya-nanya ke pemilik kost ato nanya jalan hehehe, apalagi kalo saya udah kena migren karena beratraksi di medan perang aka jalanan macet :p

Agent 2 à Reza, skill geografi dan tata kotanya sebagai warga Jakarta perlu untuk berkelit dari jalur 3 in 1 (hmmm…padahal kita dah betiga yah? *telen gibolan)

Tapiiii…yang paling penting adalah mereka berdua dengan rela dan suka cita menemani saya menyusuri gerahnya Jakarta dan Reza puasa pula (Saya gaaaak…hehehe), berpanas-panas, bermacet-macet… (Tolong soundtrack music mellow lagi….) :p

Sebelum bertemu Reza, Agent 1 kembali membuat perhitungan yang salah… grrr… salah keluar tol berakhir dengan acara ‘piknik’ dulu di kitaran cilandak selama 45 mins –lalalalala- Hahahhaha dan Reza menanti dengan sabar dengan pohon salam ditangan, persembahan bagi nyiajeng Agnes.

Dari Pintu ke Pintu

(Kalo mo dilaguin kayak lagu oldisnya Ebiet G. Ade juga boleh looh.. :p)

Berbekal daftar alamat tempat kost yang akan kita kunjungi kami berdiskusi merunut daerah mana dulu yang harus kita datangi, eerrr lebih tepatnya Reza ngecek semua alamat dan menentukan urutan jalur kemana kita pergi, gw manggut-manggut ala boneka yang suka dipasang di mobil dan Agnes berceloteh di seat belakang tentang apa aja –you knoooow… know kan? Hehehehe karena giliran dia sebagai ‘preman’, nantiiiiii…begitu kita mendarat, dan kita didatangin preman sekaligus calo kost-an, gw langsung nyodorin Agnes, no Agnes ding yang langsung pasang jurus…balik nanya-nanya juga, diikuti oleh Reza. Gw? Kalo di darat jadi NYONYA… Meskipun di mobil berubah jadi SUPIR! :D

Gw yang langsung ill feel mendapati harus berurusan dengan so they called –‘keamanan’ dan harus membayar sejumlah uang untuk parkir mobil di depan gang, karena memang mobil gak bisa masuk, menjadi kurang bersemangat untuk lanjut melihat tempat yang lain di sekitar area itu, yang memang banyak dan bagus, bersih dan rapi. Hanyaaa…. Ya itu..

Harapan bergantung pada satu alamat yang sangat dekat dengan tempat kerja baru gw. Rumah tua… (pasang soundtrack buat pelem serem doong)… pekarangan cukup luas tapi tampak tak terurus. Saya coba telpon sekali lagi pemilik rumah supaya yakin memang itu alamat yang kita maksud, “tunggu sebentar ya Mbak…” jawaban diujung sana. Tapi…pekarangan itu terlihat adem ayem tetep serem (rhyming!), gak ada tanda-tanda bakal ada yang muncul, trus senyum mempersilahkan masuk ataupun seringai dengan suara serak bak nenek lampir “he he he he….kalian sudah kami tunggu….” dengan pisau berikut asahannya! (Aih!!)

Kira-kira seperti itu obrolan gak penting kita bertiga gegara nunggu 5…10…15 mins… DAN! Seorang kakek dengan susah payah berjalan bungkuk tanpa senyum, menyeruak dari balik gerbang dalam melihat ke arah kita yang berjejer rapi di depan pagar. Beliau pun tertatih-tatih menghampiri dan mempersilahkan kami masuk. Perasaan saya udah kurang enak. Kami masuk melewati gerbang yang memisahkan halaman depan dengan pekarangan bagian dalam. Bentuk bangunannya mengingatkan saya pada rumah-rumah jaman Belanda seperti rumah dinas ayah saya dulu, dengan beberapa kamar bagian luar, biasanya untuk supir atau penjaga.

Kakek itu menunjuk arah kemana kami harus naik tangga menuju lantai 2 untuk menemui Ibu pemilik rumah. Baru beberapa langkah, kami dikejutkan dengan gonggongan anjing tua, yang juga tampak kurang terurus. Saya merapatkan langkah kea rah kedua teman saya, selain takut liat anjingnya juga miris…kasian liat perjuangan anjing itu yang sepertinya –dulunya gagah- berusaha keras untuk tampak garang layaknya anjing penjaga, tapii.. sudahlah..kita naik saja yaa

Di lantai 2 kami bertemu seorang Ibu tua, sederhana, lembut, dengan ramah menyambut kami dan menunjukkan kamar yang disewakan. Seperti biasa, Agnes dan Reza menunaikan tugasnya melancarkan pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan ketersediaan kamar dan lain-lainnya. Sementara saya, si Puteri Moody, interest saya langsung drop tak terhingga, dan dua teman saya itu udah pasti taunya… hehehehe.

Ketika TUHAN menunjukkan jalan terang…

…..Bagi perut kami yang tidak berpuasa!!! Hehehehe

Midday, waktunya berkabar pada Sang Pencipta langit dan Bumi menyampaikan betapa bersyukurnya kami dapat menikmati hidup yang diberikan-Nya… Iya waktunya doa dipanjatkan. Reza berdoa, shalat Dhuhur di Masjid Cut Meutiah sedangkan Agnes dan saya berdoa makan di sebrang jalan di Resto Pelangi, penyaji masakan Makassar, my favorite!!!, heaven banget gak sih! Alhamdulillah…semua orang senang! J

Selepas perut kenyang, spirit recharged, perburuan kami lanjutkan di bilangan cikini. Memasuki gang-gang sempit yang bikin stress kalo papasan dengan mobil lain dari arah yang berlawanan. Yaa dimana-mana banyak orang dan kendaraan… muyak kaliiii.. karena sempitnya jalan interest saya untuk berburu beberapa alamat di gang cikini pun melorot dan memutuskan untuk menghentikan pencarian di area itu. Guess what??!! Duo temen saya itu justru yang menyemangati… Jangan nyerah dulu Rie… (*pasang soundtrack lagu ‘Jangan Menyerah’) coba ke bagian sebelah sana. Saya nurut aja menyusuri gang lain yang lebih lebar dan agak sepi.

Terpampang ….JAMRUTS…….!!! Bwahahaahaha!!!! Kami ngakak “apaan tuuuh?!” (eeits…yang ngakak cuma Agnes dan saya loh yaa.. Reza? Adem ayem ajah! :D)

Naah!! Disana di satu gang itu kami menginspeksi beragam bentuk kamar. Dari yang masih baru dan ada di lantai 3 dan mahal pula (menurut ukuran saya yah! 2,8 jt di gang, minus listrik dan garasi? No Way!), yang agak mendingan dengan harga 1,8 jt dengan Ibu kost yang terlihat saklek (KM luar, tanpa listrik dan garasi? Hmmm dipertimbangkan kalo kepepet gak ada pilihan.) sampai yang…. Bikin Agnes bersin-bersin alergi karena debu.

Dan Agnes tumbang…! Dia mengibarkan bendera putih…minta dicariin apotek buat beli aspirin… :p

Dan saya cuma pengen mencari satu alamat lagi yang feeling saya mengatakan “this is it” . Kita pun ke Jalan Kramat, bangunan baru, jalanan yang cukup lebar dan dekat dengan jalan raya, cukup pricey, dan penunggu yang ramah.

Kepala yang rada cenat-cenut rada enteng karena akhirnya ada pilihan. Legaaaa… J

Tapi duo itu masih semangat nyari alternative lain (kagak ada matinye! )

Dari Surabaya ke Semarang!

Iyaaa berkeliling di bilangan Menteng emang berasa keliling pulau Jawa. :D nama-nama jalanan disana kan nama kota-kota di Jawa. Untuk kesekian kalinya alamat yang saya dapat dari Simbok Google ternyata rumah kosong atau bahkan rumah yang sudah mau rubuh!! Bahkan di Jalan Surabaya, alamat dengan no. yang kita cari gak ada.

Sementara Nyonya nunggu di belakang stir, duo agents melakukan wawancara singkat dengan para satpam yang ada di sekitar situ. Dari jauh saya mengikuti, kadang Agnes menunjuk ke satu arah seperti yang dilakukan satpam, lalu Reza melakukan hal yang sama. (Hmmm mungkin Pak satpam memberi instruksi: ikuti saya! 1..2..3.. :D) Tapi ajib loh…dari hasil gerilya mereka, kita dapat 2 tempat di Jalan Semarang. Salah satunya homey dan jadi pilihan dua gerilyawan saya itu. :p yang menurut sayaaa…Ok laah karena lingkungan rumah sepi, aman, rapi dan ramah, meskipun kamar yang ada agak tua dan harga cukup pricey.

2 Vs 1 à 2 Jalan Semarang : 1 Jalan Kramat! :p

Sudah pukul 17:00, kami harus cari posisi untuk Reza berbuka.

Reza ke Masjid dan saya tumbang….craving for panadol for my migraine! Macetnya Jakarta bikin pala saya mumet!!

Selain panadol, Agnes mengibarkan bendera perdamaian bagi semesta kami bertiga dengan mengajak wisata kuliner untuk cooling down hari melelahkan itu di Sabang….and TREAT on HER!!! Yaaaay!!!

HolyCow jadi tujuan kami…meski hanya ‘5 langkah’ tapi karena macetnya Sabang yaa kita kudu sabar aja deeeh…

Dengan tampang-tampang kucel tapi legaaa… kami mentertawakan kembali kejadian-kejadian aneh, lucu dan ajaib yang kami lewati hari itu.

Diakhiri dengan…tempat kost yang mana yang akan saya pilih???!!

Mereka siih suka yang jalan Semarang, tapi mereka nebak saya bakal pilih yang Jalan Kramat! Kalo kamu? Menurutmu saya pilih yang mana?

– Late post from last month! Miss my crowd :(

Menjemput Traffic di Puncak

Dan akhirnya rencana kami untuk berakhir pekan bersama terlaksana!! Being a risk-taker by deciding to drive to a well-known traffic road to Puncak Bogor was the thing I couldn’t even believe I did. Hahahahah I knoooow..!! But the thing is…It’s just a matter of the state of mind -so they say- and it’s true! I do believe that. I just prepared by telling myself that I would face a very bad traffic and that’s OK.

It was my longest standstill driving EVER!!! But, surprise…surprise… We just laughed and laughed…and sang. I couldn’t believe that I didn’t even swear for once!! Hahahaha Yep! It’s a BIG achievement that I didn’t swear and got angry in a bad traffic :p

My prime goal to go to Puncak was to do paragliding and let my friends also experience the excitement. And we made it!! They liked it!!

Paragliding - Puncak, Bogor

Paragliding – Puncak, Bogor

We didn’t do much, really…

We did paragliding for about only 15 mins max in the air. It was great to have it with different companions as it turned up having different story and silly things going on. The three of us was kinda a good fit together! Agnes with her loud and super energy by all means, myself with my emotional management, and Reza with his alert and calmness had brought our mixture personality become sort of balanced.

Agnes would not have herself stop talking about…well…EVERYTHING! She would come up with anything at all we passed or….ANYTHING, really! Man! What’s in her head???! Hahahaha

Reza would just smiled and responded with short replies but sometimes could really shut Agnes up! Hahahaha!!! :D And of course… She would find herself back with something…else.

It was a short trip and quite exhausted one, but was worth it to make an escape from the week!!

Dan menyebabkan opini yang menghembuskan gossip kembali..hahahhaha!!

IMG_0886

Cisarua-Bogor, 13th June 2015

Niat baik HARUS diperjuangkan!!
Sayang ktp ane dah mutasi tangerang, tapiii… Bukan berarti gak bisa spread the words kan…!
Sekali lagi People’s Power is needed! 💪🏼💪🏼😃
#temanAhok – with Willy and Revana

View on Path

Animal Abused – What Can WE do??!

Those issues of animal trafficking and poaching, I’m sure it’s not new to anyone who read this, me neither. I know it’s wrong…and that people are doing it because of economic reasons and greediness of course. But I never researched for information about it until a month ago when I was mentoring some 5 graders for their exhibition purposes.

It was a learning journey for myself too, finding out about what PEOPLE/HUMANs have done to the animals they trafficked. And during the Exhibition Day, apart from the thrilled feeling and proud of my students how much they articulated their learnings, I also felt so sad finding more facts about how PEOPLE abuse the animals…and I still do feel sad about it as today a relative shared her son’s new pet, which in my opinion would have been better for it to be let in its own habitat in the wild.  

Theen… it came to my intention to share some facts, which again I am SURE most all of us have already known, but let just have a look as a reminder before we decide to act toward animals…

 Humans: "Oooh..it's soo cute!" image taken from inilah.com

And to be able to give such a show…the monkey had to get through this 

Also check out this page for other protected primate, named slow loris. It’s so cute yet they re now endangered for it’s being poached for its venom or simply having it as a pet.

And many other animals had suffered from HUMANs greediness, namely parrots, kakatua, etc….to be trafficked or poached. Man has power, YES! Power to destroy and power to stop!

Having known the supply and demand theory, there won’t be supplies when there’s no demand, we all can STOP this by simply NOT buying animals that are not domestic animals as a pet and NOT watching monkey show -if there are still any on the street. 

Let’s share the PLANET in harmony…

NO DEMAND – NO SUPPLY! :) 

Pulau Seram yang Ramah

DSCN0689 DSCN0753

Jurnal perjalanan ini sudah basi sebenarnya, ibarat nasi mungkin bukan lagi menjadi bubur tapi sudah berubah bentuk jadi nasi aking atau bahkan rengginang!! Tumpukan tugas kuliah dan kerjaan terlalu galak dan otoriter mengatur kiblat ketikan laptop saya :p

Howeva…I somehow can escape from them for awhile today! So here I am…

Tujuan sharing perjalanan disini bukan semata agar saya gak lupa tempat, pengalaman, kejadian-kejadian dari yang gila serunya sampai yang gila menyedihkannya bahkan gila menyebalkannya, tapi juga ingin meramaikan pilihan bacaan ketika seseorang googling tentang Indonesia. Yes! simply because I love Indonesia!! Loves all its curves and all its edges, all its perfects imperfections! ;)

Nah! tempat berikut ini adalah salah satu ikon kesempurnaan alam Indonesia! Ambon!! The city of music…tagline itu yang kami jumpai tak jauh dari Bandara Pattimura, terpampang besar pada tembok di bahu jalan dibibir pantai yang kami susuri selama kurang lebih 30 menit menuju pusat kota. Beruntung kami tidak menuruti usulan abang-abang ojek di bandara yang bilang, “Tidak jauh itu di jembatan sana, banyak kendaraan ke kota, hanya 1 km saja.” Normally, 1 km memang tidak jauh, tapi siang yang terik dan beban carrier tentu saja membuat usulan tadi jadi terdengar bagai siksaan. :p Kami pun memutuskan untuk menyewa 1 angkot dengan harga 250K (kalau tidak salah, mungkin nanti kalau dibaca sie bendahara akan dikonfirmasi heehehe). 

Anywaaaay…. Jangan nyari nyari referensi expense perjalanan, di blog ini yah..hehehe 

Ambon Manise

Formasi Trip kali ini: belakang ki-ka: TJ dan Andrew, Tengah ki-ka: Dian, Jo dan Vine Depan ki-ka: Dori, Me dan Keket

They are only TWO main points I want to share. First, Ambon adalah kota yang ramah. Friendly in term of hospitality of the people. Ketika kita mencari informasi bagaimana kita ke suatu tempat berdasarkan referensi yang kita baca, orang setempat yang kita tanyai selalu kemudian menunjukkan arah, lalu menyetop angkot yang harus kita naiki dan sekaligus berpesan pada sopir dimana harus menurunkan kami! Kali lain kami bahkan diseberangkan dengan tatapan khawatir kami mengambil arah yang salah… ini mungkin dipengaruhi pajangan tampang-tampang kucel dan tatapan penuh tanya hahahha!! Keramahan warga Ambon gak ada apa-apanya dengan suguhan kekerabatan yang ditawarkan warga Pulau Seram atau tepatnya di Kampung Sawai. Meskipupn namanya ‘seram’ tapi penduduk disana adalah yang teramah yang pernah saya temui. 

Secondly, Makanan disana enak-enak!!! bahkan makanan pinggir jalan (kan bekpekeeer….makannya juga ngemper ;p) yang cumi sebiji bisa sepiring luber and dimakan bedua tetep gak mampu ngabisin! sampe ikan bakar dimasak entah apa…yang pasti ludes dalam sekejap mate!! HAHA..

Thirdly, the view is freakin’ awesome of course!! Simak nih.. cuplikan hasil jepretan-jepretan ane dkk..

Pattimura Airport, Ambon

As we reached Pattimura Airport, Ambon :D

Perayaan Maulid Nabi Muhammad di Kampung Sawai, Ambon

Pesta Perayaan Maulid NabiMuhammad SAW. Penduduk Kampung Sawai membuat kolak durian. Kampung Sawai adalah penghasil durian bagi Ambon dan sekitarnya. Kami disambut dan diundang untuk menghadiri acara selamatan malam itu. So sweet….

Pada saat kami kesana kebetulan bertepatan dengan musim durian runtuh. Yup! You read it right! Literally! Biasanya kan cuma dengar kata-kata ini dalam kiasan yaaa… Tapi tidak kali ini, ketika kami diberitahu bahwa durian yang mereka ‘panen’ berasal dari hutan, kami tidak mengira cara me’manen’nya adalah denga menunggu buah itu runtuh! Dan bahwa pohon-pohon itu tumbuh liar di hutan dan merupakan milik bersama warga desa IS interesting. Pemilik buah adalah siapapun yang menemukan atau yang sudah terlebih dahulu ‘ngapelin’ pohon duriannya. Kami beberapa kali sempat hampir terkena runtuhan buah berduri itu (nyaris bonyok kepala kita :P) selama kami trekking di hutan.

Peaceful spot - uphill

Berada di atas bukit, menjelang Maghrib. Bercengkrama sambil mendengarkan ceramah dari kampung di bawah kami yang terdengar sayup-sayup.

DSCN0705

Menyusuri muara sungai… Hunting buaya yang lagi bejemur…

DSCN0719

Berkunjung ke pembuatan sagu di tepi sungai. Sooo goooeeey! :p

DSCN0897

Memasuki Hutan konservasi Manusela

DSCN0910 DSCN0920 DSCN0942 DSCN0982

Saat Berpisah

Paling kiri: bersama Bung Fabio, salah seorang guide yang banyak bercerita tentang kultur dan tradisi penduduk Sawai. Seorang kawan di tanah asing yang menjadikan kami saudara setanah air… I..N..D..O..N..E..S..I..A!

ngasoooo

Para Pendekar katanyaaah… ;p Setelah trekking session naik bukit, masuk gua, turun bukit, keluar hutan, lalu berjalan kurang lebih 20km… kayak gitu deh penampakannya!! HAhaha

IMG_8980

No meal time without durian!!! Ha!

IMG_8860

Durian Party timeeee!!! Nom…nom…nom…

Rie-

SAMPAI JUMPA in the next FRAME!!! Hasta La Vista!!

GOSH..!! Have I been sleeping for a year??!! 😜😜
The first 6 o’clock in 2015…
Wishing you all A HAPPY NEW YEAR!!🎶
So grateful for the passed lessons that life had given me…Thanks for those who took part in making my life colorful -even black is counted!😉
Now opening wide my arms to welcome more fruitful experience! More new people! More new places to explore! More love to share💃
Amin YRA 😃🙏

View on Path