#DoItYourself3 Visa Saudi? Siapa Takut…

Hehehe… Sebenarnya saya sih yang takut..

Meskipun perjalanan untuk sampai pada tahap: ‘Congratulation! Please find our official offer attached’ cukup melelahkan mental…but it’s worth it the effort.

…dan setelah itu mulailah memasuki battle selanjutnya… Obtaining VISA! Jeng..jeng!

Setelah cukup lama melakukan research mengumpulkan data melalui unca google, menelusuri pengalaman-pengalaman para pendahulu yang melakukannya sendiri dan juga mereka yang menggunakan jasa agen. Kenyataan yang terlukis membuat saya maju mundur hendak menjalani permohonan visa sendiri. Kenyataan bahwa Saudi identik dengan TKI buruh dan birokrasi yang harus dilalui kurang bersahabat, membuat alternatif menggunakan jasa menjadi opsi pertama saya.

Tapiii… setelah saya mencari info biaya untuk membuat semua persyaratan yang harus dipenuhi sampai menuju ‘pintu’ kedutaan jumlahnya amazing…7.5 juta! Dengan break down: Ijasah (translated plus legalisir lengkap: kampus, dikti, humham, dan deplu) 2jt, cek medis 1.8jt, Enjaz online dan stamp kedutaan 3.7jt. Total of 7.5 mill!! Saya pikir gila! Apa ini makanya biaya naik haji mahal di Indonesia? Padahal setelah saya cari tahu, harga membuat visa single entry ‘hanya’ 1.3jt!!

Dan..saya pun membulatkan tekad to test my limit on this! :) And you guys can do it, too!

Baiklah! Untuk mengajukan visa kerja kita harus melakukan hal yang diatas tersebut, benar! Tapiii… Subhanallah.. Allah Maha Baik! Saya mendapat banyak kemudahan. SO.. be positive..🙂

#1 Medical Check Up

Pertama kamu harus daftar dulu ke kantor GAMCA (Gulf Approved Medical centers Association) yaitu asosiasi yang menangani tes kesehatan bagi ekspat yang akan masuk ke wilayah negara-negara Arab. Kamu perlu menyiapkan: fotokopi paspor dan uang pendaftaran sebesar 200rb.

Alamat GAMCA: Jl. Kalibata Raya (lampu merah jambul) Gedung Binawan jakarta. Terletak di Gedung Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan, masuk dari Lobby 2. Kantor ada di lantai 2.

Waktu itu saya berencana daftar saja karena biasanya birokrasi kan lamaaa.. dan saya membayangkan akan mengantri lama. Karena saya tidak mau bolos kerja, saya ijin setelah saya selesai mengajar. Pukul 3 saya sudah sampai di kantor GAMCA dan beruntung tidak ada antrian sama sekali. Saya langsung masuk di bagian pendaftaran. Menyerahkan fotokopi paspor, foto, ambil sidik jari, menyebutkan negara tujuan, lalu membayar uang pendaftaran 200rb, dan… surat pengantar untuk medical check up pun dikeluarkan. 10 mins, done!🙂 Dan mbak-mbaknya ramah kok… Gak seperti yang digambarkan blog-blog yang saya baca. Alhamdulillaaah….🙂

Dan ternyata mbak bagian pendaftaran itu menyarankan saya langsung medical test karena katanya hanya sebentar kok. Hmm.. saya pun meluncur mengikuti anjuran mbak bag pendaftaran ke Azzahra Medical Centredi jalan Dewi Sartika. Oya.. kantor GAMCA ini meskipun tugas yang diemban terdengar sangat penting, tapi kantornya ini, maaf, lebih mirip kayak tempat pendaftaran puskesmas. Too bad…

Ditemani aplikasi Waze yang setia mengantar saya kemanapun di seantero Jakarta Raya dan 99% tepat, saya sampai di Azzahra pukul 4 pm. Tempatnya dari luar tampak seperti rumah dengan palang Azzahra Medical Centre yang agak menjorok ke dalam sehingga saya harus bertanya pada toko fotokopi yang berada 2 rumah sebelumnya karena Om Waze sudah berkode: You’ve reached your destination tapi tak ada tanda-tanda ada klinik😛

Sampai di dalam saya langsung menyerahkan surat rujukan dari kantor pendaftaran, menyerahkan fotokopi paspor, foto 4×6  berwarna, dan membayar 800rb. Setekah menunggu selama 5 menit, saya dipanggil untuk foto dan sidik jari. Lalu saya diminta ke lantai dua untuk mulai menjalani tes kesehatan.

Nah yang bagian ini rada kacau nih! Saya akan diambil darah dari lipatan lengan seperti biasa kalau kita diambil darah. Normal…. Tapi setelah saya meletakkan lengan saya di meja penyangga, eeh..si Mbak pengambil darah (hehehe pemberian nama sesuai tugas ya..) dengan jarum terhunus udah langsung mau jleb aja..! Saya langsung tutup bagian yang akan ditusuk. “Mbak, kok lengan saya gak di strap dulu?” saya langsung tegang. Dengan enteng si Mbak pengambil darah menimpali, “Gak usah, Mbak…Bisa kok biasanya. Tar kalo gak bisa, baru pake strap..”

“Ini serius, Mbak? Saya gak dipakein itu dulu?” tanya saya sambil menunjuk strap biru disamping saya. Si Mbak mengangguk dengan muka datar.

Hari itu saya bertekad untuk menjadi orang paling sabar… Bismillaah…Ammitabha… Saya pun pasrah. Dalam hati berdoa semoga manusia berjilbab di depan saya yang sedang ngulik-ngulik jarum nyedot darah saya ini diberi hidayah, tambahan hati… karena hatinya udah mati separo!😦 Alhamdulillah gak sakit sih…🙂 “Gak pernah cek darah ya, Mbak?” “Sering..” more than you can imagine dalam hati saya. I hate needle!

Selanjutnya menampung urin alias pipis. Lancar ini mah…🙂

Berikutya, tes fisik! “Masuk, Mbak. Tasnya di taro. Telanjang di sana.”

I was like… Hah??!! Ternyata saya bertemu orang lain yang perlu mendapat hidayah karenan yang ini hatinya udah hambar, mati. Saya kembali membulatkan tekad…Create my own weather…I’m not influenced by her. Don’t be reactive. “Selamat sore..Baik dok.. Di sini?” (Yes she’s a doctor, judged by her jacket.) Saya tersenyum, dengan pesan: anda tidak bisa mengintimidasi saya!

Dan tes fisik ini pun seperti dagelan formalitas saja. Di mulai dari bagian dada, perut, kaki, mulut, telinga yang cuma dilongok-longok. Lalu menimbang badan, tinggi, dan selesai! Pakai baju. Sambil berlalu ke wastafel untuk cuci tangan, si dokter bertanya, “Tinggi badannya berapa? kacamatanya minus berapa?”

Again…What the..??!! Jadi tadi ngapain aja Bu Dokteeer….? (Whatever lah…)

Yang terakhir ke ruang X-Ray. Di sini petugasnya bukan Mbak-Mbak tapi Mas-Mas.. very simple and easy. Ganti baju khusus untuk X-Ray, berdiri di alat X-Ray. 1 min, done! Just as you normally do..🙂

4:30 pm selesai! Fee: 1 mill total

Keesokan harinya sudah selesai dan hasilnya FIT. Hanya karena saya pakai kacamata, saya harus menyertakan offer letter alias kontrak kerja saya bahwa perusahaan yang hire saya sudah mengetahui ‘impairement‘ saya and that they are fine with it.

#2 Enjaz Online

Next step, hasil fitness dari medical dikirim ke Saudi untuk mengeluarkan surat permohonan aplikasi visa (dalam bahasa Arab).

Setelah mendapat surat permohonan aplikasi visa atau istilah agent enjaz adalah calling visaNah istilah ini bisa bikin bingung kalau kita tidak familiar dengan istilah-istilah yang mereka pakai. Anyway, setelah itu print dan bawa calling visa dan hasil medical dari klinik ke kantor agent yang melakukan enjaz online, bernama BIJAC (benar, pakai ‘C’ bukan K).

Kantor Bijac terletak di Wisma Kodel di Rasuna Said No.4, di Lt.1.

No. telp 021-215222291  email: bijac_bijac@yahoo.com

Enjaz online adalah peng-input-an secara online hasil tes medis yang kita lakukan. This one took about 15 minutes. Peng-input-an ini berarti kita melakukan aplikaksi visa, yang berarti waktunya kita membayar. Fee: 1.3 jt untuk single entry.

Setelah keluar hasil input, saya harus menyerahkan kembali ke klinik tempat saya tes medis, yang berarti saya harus ke Dewi Sartika lagi untuk meminta hasil medis lengkap  yang sebenarnya (yang sebelumnya hanya sementara).

Petugas bagian pembuatan surat di klinik Azzahra sangat baik dan membantu dengan sabar menjawab semua pertanyaan saya kenapa birokrasi pembuatan yang sudah berjudul online tapi segitu ribetnya, apalagi dengan jarak dan macetnya Jakarta yang tiada tara. Ya sudahlah… Saya bersyukur para petugas yang saya jumpai ramah, jadi efek kemacetan Jakarta menjadi mereda karena urusan semuanya lancar dan cepat. Hanya sekitar 15 menit buat mas petugas mempersiapkan surat kesehatan saya.

Meluncuuuur kembali ke daerah Kuningan….! Whoooot….

#3 Aplikasi Visa 

Menyerahkan:

  • paspor asli
  • hasil cek medis asli
  • aplikasi visa
  • kontrak kerja (printed)
  • fotokopi Ijazah + yang asli

persyaratan yang terakhir, yaitu ijazah, tadinya tidak diminta oleh si Mbak agent-nya tapi saya bilang menurut agent yang tidak jadi saya pakai jasanya, saya harus melampirkan ijazah yang diterjemahkan dan dilegalisasi di beberapa departemen pemerintahan dan kampus saya. Saya sudah melakukan prosedur itu sementara menungggu calling visa saya, dan sudah selesai half way. Saat itu masih ada di Deplu.

Dan ternyata benar, aplikasi saya dikembalikan karena kurang lengkap. Saya diminta melampirkan ijazah. Tapi karena ijazah translated belum ada, si Mbak agent menyarankan pakai ijazah asli saja karena disitu tidak mencantumkan harus translated. Saya pun menyerahkan ijazah asli. Harap-harap cemas keesokan harinya…

Daan.. Sore hari setelah menunggu mas agent yang lagi ngambil visa dari kedutaan sekitar 1 jam, Tadaaaa…!!! Got STAMPED!! Done!

Sum Up of Cost and Time

  1. Medical Check-Up: pendaftaran 200rb + med test 800rb = 1 juta. Lebih baik sore hari jadi tidak perlu antri. Kantor pendaftaran dan klinik tutup sampai jam 5. Ini ada beberapa no telp. kantor Gamca, saya lupa no. mana yang bisa. So, coba aja yah: 021-8295397, 80879463, 28820073, 28820081, 80879458.
  2. Enjaz online: 1.3 juta untuk single entry, 2.4 juta untuk multiple entry. Waktu 1 hari: 15 menit untuk daftar online lalu harus balik ke klinik, kemudian sebisa mungkin kembali lagi ke tempat enjaz online dan menyerahkan semua kelengkapan syarat mengajukan visa agar bisa dimasukkan ke kedutaan esok harinya.
  3. Proses stamping visa hanya 1 hari. Pagi dimasukkan, sore hasilnya sudah bisa diketahui, di approve atau ada kekurangan.

Soo.. sebenarnya mudah kalau kita mau berusaha yaa..🙂

I have saved 5.2 mill!! :D Eeeh…tapi karena keburu bikin ijazah yang diterjemahkan dan gak kepake hehehe, yaa lumayan.. It costed me 700IDR dengan jasa stamping ke DepHumHam dan Deplu plus Embassy. Ya, waktu itu sekalian oleh penerjemahnya ketika dia menawarkan jasa stamp lengkap (minus Dikti). Saya serahkan pengurusan ijazah ke jasa agent karena saya perlu bagi tugas supaya cepat selesai, meskipun ternyata tidak diperlukan. Tapiiii…There’s no such a waste experienceI’ve learnt my lesson🙂

Tapi bagi yang akan melanjutkan studi, sepertinya HARUS dilakukan. Berikut link untuk cara legalisir dikti, atau baca link ini juga. Sedangkan untuk legalisir ke DepHumHam dan Deplu, bisa baca di sini dan di sini.

Kesimpulannya, tergantung petugas kedutaannya sepertinya😛 karena dari yang saya baca di blog, mereka diminta. Bahkan pihak HRD Saudi menyarankan saya mengurus terjemahan itu dahulu sambil menunggu surat keterangan lainnya dalam proses, atau.. pertolongan Allah tiba disaat yang tak disangka-sangka🙂

Alhamdulillaaaah…:)

Visa

 

 

 

#DoItYourself2 Pembuatan SKCK (Police Clearance)

Mencari keterangan secara online adalah sudah menjadi salah satu cara yang kita gunakan sekarang ini untuk mencari informasi tentang hampir segala sesuatu, termasuk membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Dulu ini namanya Surat Keterangan Kelakuaan Baik (SKKB). Karena cukup mengalami kesulitan mengumpulkan data valid untuk membuat SKCK yang sesuai dengan yang saya butuhkan, saya share buat teman-teman yang mempunyai kebutuhan sama dengan saya.

Saya membuat SKCK untuk keperluan bekerja di luar negeri, jadi surat tersebut harus diterbitkan oleh POLRES sesuai area KTP. Karena saya bertempat tinggal di daerah Tangerang Selatan maka, saya harus mengajukan SKCK di POLRES Tangerang Selatan.

Alamat POLRES Tangsel adalah: Boulevard Bintaro Jaya, Pondok Aren

Secara umum, persyaratan sama seperti yang ada di website polri.go.id ini, hanya untuk pas photo ukuran 4×6, harus berlatar belakang merah. Siapkan semua persyaratan dan masukkan pada map (warna apa saja), beri nama. Kalau kamu sudah punya pas foto tapi tidak berlatar belakang merah dan time not allow to make another one. Jangan khawatir…! Cukup merapat ke gerai jasa printing, misalnya snappy, dan voila background diganti jadi merah. Tapi..kalau kamu sigap dengan photoshop, dirubah sendiri juga bisa.🙂 Ini tips dari Pak Polisi yang menolak pas photo saya yang berlatar belakang putih. Waktu saya keukeuh bilang di website polri.go.id tidak menyebutkan warna merah, si Pak Pol lalu memberi solusi itu dan menambahkan kalau info tentang foto itu sudah lama dan belum di update.. (Jiaaaaah!!) Supported by Waze (aplikasi andalan saya berkeliling Jakarta dan sekitarnya) saya mencari snappy terdekat setelah tempat printing yang direkomendasikan Pak Pol masih tutup dan baru buka jam 10:00. Snappy terdekat sekita 3.6 km dan sudah beroperasi, sooo…case solved!🙂

Nah..Urutannya akan seperti ini yaa:

  1. Buat surat pengantar dari RT tempat kamu tinggal, lalu bawa ke kelurahan.
  2. Kelurahan akan menerbitkan surat pengantar ke POLSEK atau POLRES (sesuai kebutuhan SKCK). Disini akan ditanya untuk apa SKCK dibuat sehingga pihak kelurahan sesuai dalam memberi rujukan.
  3. Selanjutnya bawa ke Polres. Petugas SKCK Tangsel mulai bertugas melayani pemohon pukul 9:00 (Senin – Jumat).
  4. Lalu petugas akan memeriksa kelengkapan dokumen persyaratan. Setelah lengkap, kita akan diberi formulir Riwayat Hidup dan juga ada isian tentang ciri-ciri fisik. Untuk ciri-ciri fisik, misalnya jenis bentuk kepala, bentuk bibir, telinga, dst.😛 sudah ada panduan gambar untuk kemudian dicocokkan dengan fisik kamu. Menurut saya ini hanya formalitas karena tidak ada pengecekan dari pihak kepolisian untuk kebenaran jenis bentuk yang kita isi😛
  5. Serahkan isian lengkap formulir tadi, lalu kita akan diambil sidik jari. Ada biaya ‘sukarela’ aka pungli di bilik sidik jari ini. Petugas sidik jari sih bilang ‘terserah mbaknya..’ dengan sangat sopan. Saya suka sekali dengan pelayanan yang sopan dan tidak membedakan dari petugas sidik jari ini, jadi sebagai gantinya saya tidak berkeberatan memberi kompensasi.🙂
  6. Kembali ke bagian pendaftaran kita membayar biaya pembuatan SKCK sebesar: Rp. 10.000 saja. Selanjutnya, menunggu nama kita dipanggil yang berarti surat sudah siap. Tapi waktu itu saya tinggal dan kembali keesokan harinya karena saya harus kembali memenuhi panggilan tugas negara: mengajar para kurcaci🙂

Waktu yang saya butuhkan hanya sekitar 1 jam, pada waktu itu sedang ada antrian pendaftaran polisi jadi cukup banyak yang mengantri. Kalau keadaan normal mungkin bisa lebih cepat.

Semoga artikel ini bisa memberi panduan buat teman-teman yang ingin membuat SKCK.

AGAIN.. IT’S EASY..!! DO IT YOURSELF!

ac4efb82-9aba-4edc-b85d-39f01d21783d_169

#DoItYoursef1 One-Day Service Passport Making? Read This!

Baiklah..

Beberapa (mungkin) posting berikutnya akan berupa sharing tentang pengurusan dokumen-dokumen.

Nah sekarang kita mulai dengan yang paling umum dulu yaa: PASPOR!

Hal pertama yang ingin saya bagikan adalah: There’s no more such a one-day service of making passport! Camkan ya! Honeymoon is OVER!😛 Bulan lalu (Maret) waktu saya mencari info tentang membuat paspor 1 hari jadi secara online, saya mendapatkan info dari laman resmi imigrasi, yang didalamnya memuat artikel tentang adanya layanan tersebut. Maka saya pun mengikuti semua syarat yang disebutkan berikut langkah yang harus dilakukan. Tapi ternyata ketika saya ada pada tahap photo dan sidik jari dan bertanya apakah sore nanti paspor saya sudah dapat saya ambil, petugas disana malah berbalik bertanya: “Kata siapa Mbak bisa diambil hari ini?” Saya malah jadi bingung… “Kata website imigrasi, Pak. Masa saya kira-kira sendiri…” kata saya sambil senyum.

“Mbak liat sendiri nih… buat masuk ke data Mbak-nya aja kita nunggu lama karena koneksi internetnya lama… Mana bisa 1 hari Mbak.. Itu artikel lama, 2tahun lalu iya, kita sempat 1 hari jadi, tapi jadinya kita lembur sampe jam 7 malam.” Kata si Bapak petugas curcol, yang katanya gak dapat uang lembur pula..😦

“Yaaah kok masih ditaro di web-nya sih Pak… Saya juga kesini (JakPus) karena kata teman-teman saya kalau di Pusat bisa 1 hari jadi.. hmm..”

“Iya sih Mbak… tapi itu duluuu… sekarang mah nggak. Kita stop terima berkas jam 2, jadi ngabisin yang antri aja.”

Jadiiii… Gak da tuh sekarang proses pembuatan paspor 1 hari jadi folks.. Kecuali kalau koneksi internet di Indonesia bisa lebih cepat dari yang ada sekarang😛

Anyway, saya tetap merekomendasikan untuk melakukan aplikasi via online karena lebih hemat waktu banyak dibanding harus manual datang ke kantor imigrasi. It’s not even worth it to use ‘calo’ for this. Do it yourself!! It’s easy!

Nih…

1. Buat aplikasi online disini kalau lama responnya (biasanya karena busy connection), coba lagi agak malam diatas jam 22:00. Panduan pengisian cukup jelas kok. Setelah aplikasi berhasil kamu akan dapat notifikasi lewat email untuk membayar berdasarkan paspor yang kamu apply. Print form pengantar untuk dibawa ke bank BNI dan bayar deh. Ini harus bayar langsung ke bank yaa gak bisa via atm or yang lain

2. Setelah membayar uang melalui bank BNI dan mendapat bukti pembayarannya, maka kamu kembali lagi ke layar monitor aplikasi, memasukkan data dari Bank dan selanjutnya bisa memilih tanggal berapa dari pilihan yang tersedia untuk kamu melakukan foto dan wawancara. Setelah itu akan ada konfirmasi tentang hari dan waktu untuk kita datang via email. Print dan bawa surat ini ketika datang pada hari H.

3. Pada saat datang ke kantor imigrasi untuk foto dan sidik jari (plus wawancara formalitas) jangan lupa membawa berkas persyaratannya, baca disini. Asli dan fotokopi. Berdasarkan pengalaman saya di Kantor Imigrasi Jakarta Pusat, antrian pengajuan online dan manual dibedakan. Ada antrian dengan tanda tulisan online dan manual di pintu masuk. Disana ada petugas yang akan mengecek kelengkapan dokumen. Tanda paling gampang, kalo yang antriannya mengular adalah manual, yg gak ada antrian itu yang online :) Usahakan datang pagi ya jadi bisa foto dan sidik jari sebelum break makan siang. Gak usah datang jam 6 pagi jugaaa😛 hehehe saya waktu itu datang jam 7 dan nongkrong dulu sarapan di mobil, karena pagar baru buka jam 8.

Alamat kantor Imigrasi Jakarta Pusat: Jl. Merpati Blok B12 No. 3, Kemayoran, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Phone:(021) 6541213

Di dalam kantor akan antri lagi, juga dibedakan antara yang manual dan online, untuk menyerahkan dokumen dan dapat no antri untuk foto dan sidik jari (di lantai 2).

Oya, jangan lupa print surat pengantar foto dan wawancara yang dikirim via email. Saya waktu itu lupa mencetak halaman ini dan harus menunggu tempat foto kopi yang ada di ujung jalan Merpati buka😦 jam 8:00.

4. Setelah foto dan sidik jari paspor akan selesai setelah 4 hari kerja, atau tanyakan pada petugas sidik jari kapan paspor akan selesai. Status dapat dicek kembali di site awal pendaftaran secara online.

5. Pada saat mengambil paspor (4 hari kemudian) bawa bukti pembayaran dari Bank untuk ditunjukkan pada petugas.

Waktu yang saya butuhkan untuk proses dari antri awal sampai foto dan sidik jari dari jam 8:30 sampai 10:30. Kalau yang proses manual bisa lebih lama  lagi karena antrian online dibedakan disetiap proses. Sooo..the choice is yours!

DONE! Mudah bukan?! Happy Traveling!🙂

 

Who You Are Now is Who People Surrounded You

It’s not that people don’t know this idea already it just always become an interesting topic to bring up. Whether you realise or not, it’s our environment that shapes whoever we are right now, the good and the bad times. 

You should not only thank to people who love you but also people who put you in your down fall, because they had made you a stronger person you are now. 

And this video really brings up my conscious back on this idea. I’m sure you will agree…🙂

Hardly write status on socmed.. But tonight I’ve been ridiculously spent unproductive night.
And..Negativity needs to be stopped..
So, Hati2 modus penipuan dari online shop dg sistem pembayaran COD. Kurir dtg waktu jam kerja, nominal less or around 100k jadi kemungkinan besar org rumah akan bayarin dulu dengan asumsi pada saat jam kerja, kita (Nama sbg pembeli) sdg sibuk bekerja, sulit dihubungi, etc. Dan tadaaaa…! Silahkan bingung deh Ada barang not so you tersaji. Well, belom liat sih.. Baru liat photonya krn blom balik rumah.
As an active online shopper, this really got me.
Not stopping me but will be blacklisting this shop for sure!! Rrrgh
Dan baru Aja beli kado via online😋
#CyberFraud #victimTesti

Nah buat Yg #kepo ikuti post selanjutnya 😊

View on Path

‘Til Death Do Us Apart

….sounds like a wed vow… but not this one..

Recently… seems like life gave me a recall of the END of it. My former teacher in HS had passed away suffering from cancer. I read a book of which in it contained of something that worth to think about: What do you want to be remembered when you’re gone, dead, vanished, done with your business in this world. *sigh…

You see, when you happened to be in fortunate and you witnessed people in your opposite state and then you heard other would say… Thank God, we are okay. I know what they meant was to be grateful of what they’ve got, but to me it sounds mean to be grateful of being fortunate at the moment of seeing unfortunate things right before your eyes. Dunno…deep..deep down inside I don’t feel like such a comment is ethically said it out loud over such condition.

Anyway…I was saying… every second of our lives had passed… For what??!

As today, visiting a house for children suffering for cancer even for just 4 hours with them, seeing their conditions, talking….playing…sharing… A conscious hit me! I know…it sounds cliché, but I guess if you were at my place you would’ve being in what so called a cliché moment.

A conscious, not of being grateful of being as healthy I am now, but rather  how dare I complained of things I faced while it had nothing to do with death, with time that will be stopping you for not being able to continue what you wish for your life! How dare I complained!! I felt ashamed…

I talked to a child, a 14-year-old girl, who suffers for leukaemia for 8 years and been in the care house more than half of her lifetime. She full of smiles when I asked “do you go to school?” She said it lightly that she had some teachers there and studied together with other children. She said she also did exam like others in normal school, only her time wasn’t limited as others did because she had to go back and forth for treatment in the hospital. All I could do was just hugged her tight and asked her to hang in there…. God loves an angel like you. 

‘Til Death Do Us Apart…. until then..which we don’t know when…as

The Mystery of WHEN..

So you’ve passed many sunsets with ease

as Time had let you..

You scolded things you don’t like ‘coz you think you have tomorrow to act differently

You chose to ignore apologies

to hold apologises ‘coz you think you would wait until later

as Time allowed you..

BUT

Time has its mystery of WHEN…

to STOP you 

to SHUT you

to CLOSE your chapter

to END you

why..? simply just because!

No cancer to warn you

No heart attack to alert you

JUST BECAUSE!

….So when the Time really fetch you…and do us apart.. How do you want to be remembered? How do I want to be remembered?

#DemiMasa #Al-Asr

Kepunahan Bahasa Kita Bukan Mustahil Jika…

Hal ini hampir selalu saya singgung sebelumnya diberbagai kesempatan ketika topik yang dibicarakan adalah tentang bahasa dan budaya.

Check this out!

Screen Shot 2015-12-12 at 11.25.45 PM

Dari laman UNESCO mengidentifikasikan ada 10 bahasa di Indonesia yang sudah punah.

Dari temuan di laman UNESCO itu, saya yakin sebenarnya lebih dari yang dinyatakan itu bahasa yang sudah hilang dari tanah air kita. Nah sekarang bayangkan… Jumlah pulau di Indonesia menurut data Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia tahun 2004 adalah sebanyak 17.504 buah. 7.870 di antaranya telah mempunyai nama, sedangkan 9.634 belum memiliki nama. Dan…Dari sekian banyaknya pulau-pulau di Indonesia, yang berpenghuni hanya sekitar 6.000 pulau. Bahasa yang secara ilmiah ditemukan oleh UNESCO sebanyak 143. I’m sure it’s more than that!!

True…that the world’s changing and there’s no way we can stop things to change. Tapi… bayangkan 30-40 tahun ke depan – mungkin saya juga belum tentu menjadi saksi hidup- dimana bahasa yang sekarang kita pakai menjadi sesuatu yang asing bagi generasi pada masa itu.

Seperti sekarang saja, berapa banyak anak usia SMA yang bisa bicara bahasa etnis mereka? Nggak usah bahasa etnis deh… Bahasa Indonesia bagaimana? Saya bicara tentang anak-anak di kota besar.

Beberapa waktu lalu, di tahun lalu, ketika Eyang Putri saya meniggal, adalah momen saya menyadari Bahasa Jawa sebagai bahasa etnis saya, tidak terwarisi dengan baik dan utuh karena saya hanya bisa berbahasa Jawa apa adanya. Padahal Bahasa Jawa itu punya strata yang sudah tidak banyak orang menggunakannya. That’s it! Yang menjadi tantangan generasi sekarang ini dengan semakin melangkanya pemakai bahasa etnis di Indonesia yaa karena semakin melangkanya pemakai bahasa itu.

Lalu dengan berharap bisa belajar dari dunia maya, saya membuat satu page di Facebook untuk belajar Bahasa Jawa Kromo Inggil dari para pendatang laman tersebut. Belum efektif memberi pelajaran, tapi cukup menyenangkan karena adanya atensi dari orang-orang yang ingin belajar Bahasa Jawa Kromo Inggil. Dan saya pun merekrut seorang teman yang piawai dalam berbahasa Kromo Inggil untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pengunjung😉

Sekitar dua tahun lalu juga saya dengan seorang teman yang punya kegelisahan yang sama tentang bahasa dan budaya berangan-angan membuat satu laman yang memberdayakan anak-anak untuk dapat berbagi tentang budaya mereka ke dunia yang lebih luas. Bahwa dunia maya akan menyimpan -entah punya kadaluarsa sampai kapan- data tentang apapun yang kita unggah menjadi satu kesempatan untuk memakainya sebagai media ‘pewarisan’. Pemberdayaan anak-anak untuk anak-anak, menceritakan budaya dengan bahasa mereka dan dijembatani dengan Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional mengawali ide kawan saya Julie untuk menjadikan laman budaya dan bahsa untuk anak-anak kenyataan. writeourworld.org  menyediakan buku-buku elektronik yang berisi budaya-budaya yang sementara ini masih tentang Amerika bagian Utara, tempat dimana Julie bekerja dengan anak-anak sekolah di daerah sana.

Saya masih dalam proses pembuatan buku elektronik dengan kelas saya juga….Dan jika kamu…atau siapapun yang membaca tulisan ini.. Yuk kita buat paling gak 1 buku sederhana saja, ajak anak-anak disekitar kamu tentang apapun yang ingin mereka bagikan.🙂

Oya, sementara ide yang tercetus untuk membuat buku elektroniknya memakai aplikasi book author yang sekarang sudah bisa digunakan di PC microsoft selain tablet version.

Wish me luck!😉

 

http://www.unesco.org/languages-atlas/

http://writeourworld.org/