‘Til Death Do Us Apart

….sounds like a wed vow… but not this one..

Recently… seems like life gave me a recall of the END of it. My former teacher in HS had passed away suffering from cancer. I read a book of which in it contained of something that worth to think about: What do you want to be remembered when you’re gone, dead, vanished, done with your business in this world. *sigh…

You see, when you happened to be in fortunate and you witnessed people in your opposite state and then you heard other would say… Thank God, we are okay. I know what they meant was to be grateful of what they’ve got, but to me it sounds mean to be grateful of being fortunate at the moment of seeing unfortunate things right before your eyes. Dunno…deep..deep down inside I don’t feel like such a comment is ethically said it out loud over such condition.

Anyway…I was saying… every second of our lives had passed… For what??!

As today, visiting a house for children suffering for cancer even for just 4 hours with them, seeing their conditions, talking….playing…sharing… A conscious hit me! I know…it sounds cliché, but I guess if you were at my place you would’ve being in what so called a cliché moment.

A conscious, not of being grateful of being as healthy I am now, but rather  how dare I complained of things I faced while it had nothing to do with death, with time that will be stopping you for not being able to continue what you wish for your life! How dare I complained!! I felt ashamed…

I talked to a child, a 14-year-old girl, who suffers for leukaemia for 8 years and been in the care house more than half of her lifetime. She full of smiles when I asked “do you go to school?” She said it lightly that she had some teachers there and studied together with other children. She said she also did exam like others in normal school, only her time wasn’t limited as others did because she had to go back and forth for treatment in the hospital. All I could do was just hugged her tight and asked her to hang in there…. God loves an angel like you. 

‘Til Death Do Us Apart…. until then..which we don’t know when…as

The Mystery of WHEN..

So you’ve passed many sunsets with ease

as Time had let you..

You scolded things you don’t like ‘coz you think you have tomorrow to act differently

You chose to ignore apologies

to hold apologises ‘coz you think you would wait until later

as Time allowed you..

BUT

Time has its mystery of WHEN…

to STOP you 

to SHUT you

to CLOSE your chapter

to END you

why..? simply just because!

No cancer to warn you

No heart attack to alert you

JUST BECAUSE!

….So when the Time really fetch you…and do us apart.. How do you want to be remembered? How do I want to be remembered?

#DemiMasa #Al-Asr

Kepunahan Bahasa Kita Bukan Mustahil Jika…

Hal ini hampir selalu saya singgung sebelumnya diberbagai kesempatan ketika topik yang dibicarakan adalah tentang bahasa dan budaya.

Check this out!

Screen Shot 2015-12-12 at 11.25.45 PM

Dari laman UNESCO mengidentifikasikan ada 10 bahasa di Indonesia yang sudah punah.

Dari temuan di laman UNESCO itu, saya yakin sebenarnya lebih dari yang dinyatakan itu bahasa yang sudah hilang dari tanah air kita. Nah sekarang bayangkan… Jumlah pulau di Indonesia menurut data Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia tahun 2004 adalah sebanyak 17.504 buah. 7.870 di antaranya telah mempunyai nama, sedangkan 9.634 belum memiliki nama. Dan…Dari sekian banyaknya pulau-pulau di Indonesia, yang berpenghuni hanya sekitar 6.000 pulau. Bahasa yang secara ilmiah ditemukan oleh UNESCO sebanyak 143. I’m sure it’s more than that!!

True…that the world’s changing and there’s no way we can stop things to change. Tapi… bayangkan 30-40 tahun ke depan – mungkin saya juga belum tentu menjadi saksi hidup- dimana bahasa yang sekarang kita pakai menjadi sesuatu yang asing bagi generasi pada masa itu.

Seperti sekarang saja, berapa banyak anak usia SMA yang bisa bicara bahasa etnis mereka? Nggak usah bahasa etnis deh… Bahasa Indonesia bagaimana? Saya bicara tentang anak-anak di kota besar.

Beberapa waktu lalu, di tahun lalu, ketika Eyang Putri saya meniggal, adalah momen saya menyadari Bahasa Jawa sebagai bahasa etnis saya, tidak terwarisi dengan baik dan utuh karena saya hanya bisa berbahasa Jawa apa adanya. Padahal Bahasa Jawa itu punya strata yang sudah tidak banyak orang menggunakannya. That’s it! Yang menjadi tantangan generasi sekarang ini dengan semakin melangkanya pemakai bahasa etnis di Indonesia yaa karena semakin melangkanya pemakai bahasa itu.

Lalu dengan berharap bisa belajar dari dunia maya, saya membuat satu page di Facebook untuk belajar Bahasa Jawa Kromo Inggil dari para pendatang laman tersebut. Belum efektif memberi pelajaran, tapi cukup menyenangkan karena adanya atensi dari orang-orang yang ingin belajar Bahasa Jawa Kromo Inggil. Dan saya pun merekrut seorang teman yang piawai dalam berbahasa Kromo Inggil untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pengunjung ;)

Sekitar dua tahun lalu juga saya dengan seorang teman yang punya kegelisahan yang sama tentang bahasa dan budaya berangan-angan membuat satu laman yang memberdayakan anak-anak untuk dapat berbagi tentang budaya mereka ke dunia yang lebih luas. Bahwa dunia maya akan menyimpan -entah punya kadaluarsa sampai kapan- data tentang apapun yang kita unggah menjadi satu kesempatan untuk memakainya sebagai media ‘pewarisan’. Pemberdayaan anak-anak untuk anak-anak, menceritakan budaya dengan bahasa mereka dan dijembatani dengan Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional mengawali ide kawan saya Julie untuk menjadikan laman budaya dan bahsa untuk anak-anak kenyataan. writeourworld.org  menyediakan buku-buku elektronik yang berisi budaya-budaya yang sementara ini masih tentang Amerika bagian Utara, tempat dimana Julie bekerja dengan anak-anak sekolah di daerah sana.

Saya masih dalam proses pembuatan buku elektronik dengan kelas saya juga….Dan jika kamu…atau siapapun yang membaca tulisan ini.. Yuk kita buat paling gak 1 buku sederhana saja, ajak anak-anak disekitar kamu tentang apapun yang ingin mereka bagikan. :)

Oya, sementara ide yang tercetus untuk membuat buku elektroniknya memakai aplikasi book author yang sekarang sudah bisa digunakan di PC microsoft selain tablet version.

Wish me luck! ;)

 

http://www.unesco.org/languages-atlas/

http://writeourworld.org/

Jas Merah: Rasuna Said

17 Agustus: HARI KEMERDEKAAN NKRI..!

Tema Merah Putih bertebaran dimanapun mata memandang, topik tentang perjuangan para pahlawan kemerdekaan bertubi di berbagai media. Tapi ada satu kalimat yang menghentikan gerakan saya pagi ini ketika sedang rapi-rapi di ruang tamu sambil dengerin TV. 

“Saya miris, ketika banyak orang tidak tahu kalau Siapa Rasuna Said itu… Bahkan banyak yang mengira kalau beliau itu seorang laki-laki!”

Hwadduh!! Saya termasuk kalangan yang bikin pembicara di TV itu miris berarti! Eeeek!!! :( Sepanjang hidup saya, ketika dengar nama Rasuna Said, itu juga karena nama jalan yang dipakai di bilangan Jakarta Pusat, saya mengira kalau Rasuna Said adalah seorang laki-laki. Don’t you think the name sounds more male? :( (cari konco..)

Lalu saya minta maaf dalam hati -beneran- pada Bung Karno, karena Jas Merah (Jangan sekali-kali Melupakan sejarah) tidak tersandang dengan benar. Dan….sambil menunggu flight saya kembali ke Jakarta, yuk kita cari tahu siapa gerangan Rasuna Said  ini… Yang pasti beliau seorang perempuan!! :)

RASUNA SAID

H.R. Rasuna Said dilahirkan pada 15 September 1910, di Desa Panyinggahan, Maninjau, Kabupaten AgamSumatera Barat. Ia merupakan keturunan bangsawan Minang. Ayahnya bernama Muhamad Said, seorang saudagar Minangkabau dan bekas aktivis pergerakan. Beliau juga melakukan perjuangan untuk wanita seperti halnya Kartini, tapi media yang dipilihnya bukan hanya melalui pendidikan dalam arti mendirikan sekolah seperti halnya Kartini. Selain dalam bentuk sekolah dan mengajar, Rasuna juga masuk melalui ranah politik.

Awal perjuangan politik Rasuna Said dimulai dengan beraktifitas di Sarekat Rakyat (SR) sebagai Sekretaris cabang. Rasuna Said kemudian juga bergabung dengan Soematra Thawalib dan mendirikan Persatoean Moeslimin Indonesia (PERMI) di Bukittinggi pada tahun 1930. Rasuna Said juga ikut mengajar di sekolah-sekolah yang didirikan PERMI dan kemudian mendirikan Sekolah Thawalib di Padang, dan memimpin Kursus Putri dan Normal Kursus di Bukittinggi. Rasuna Said sangat mahir dalam berpidato mengecam pemerintahan Belanda. Rasuna Said juga tercatat sebagai wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict, yaitu hukum kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda.

Rasuna Said sempat di tangkap bersama teman seperjuangannya Rasimah Ismail, dan dipenjara pada tahun 1932 di Semarang. Setelah keluar dari penjara, Rasuna Said meneruskan pendidikannya di Islamic College pimpinan KH Mochtar Jahja dan Dr Kusuma Atmaja.

Rasuna Said dikenal dengan tulisan-tulisannya yang tajam. Pada tahun 1935 Rasuna menjadi pemimpin redaksi di sebuah majalah, Raya. Majalah ini dikenal radikal, bahkan tercatat menjadi tonggak perlawanan di Sumatera Barat. 

Setelah kemerdekaan Indonesia, Rasuna Said aktif di Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonesia. Rasuna Said duduk dalam Dewan Perwakilan Sumatera mewakili daerah Sumatera Barat setelah Proklamasi Kemerdekaan. Ia diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS), kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sampai akhir hayatnya, 2 November 1965 di Jakarta. H.R. Rasuna Said meninggalkan seorang putri (Auda Zaschkya Duski) dan 6 cucu (Kurnia Tiara Agusta, Anugerah Mutia Rusda, Moh. Ibrahim, Moh. Yusuf, Rommel Abdillah dan Natasha Quratul’Ain).

Rasuna Said diangkat sebagai salah satu Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974.

Namanya sekarang diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Rasuna_Said 

JAMRUTS… !! Hmmm Apakah itu?

Agak-agak kayak nama band sih yaa.. Atau kalo ditambahin ‘khatulistiwa’ jadi familiar khan…

Jangan salah sebut yaaa… spell it correctly –> J. A. M. R. U. T. S.!

Udaaah gak usah protes, local wise spelling…. Ejaannya emang kayak gitu yang bener!! ;p

Meskipun pertama bertatap muka dengan palang nama jalan itu – eh iyaaa.. itu tuh nama jalan di pelosok daerah Jakarta Pusat- sempet kaget and ngeja keras-keras, takut keseleo aja nyebutnya…hihihi.

So, kita flashback sejenak ke beberapa jam sebelum penemuan nama kyut buat jalan di gang sekitaran Jakarta Pusat itu yaa..

Hari Senin yang cerah itu saya berencana mencari peluang untuk ‘ndusel’ (Bahasa Indonesianya apa yaa?) diantara kepadatan dan kepikukan Jakarta. Bayangin aja, penduduk Jakarta tahun 2011 aja sudah mempunyai rasio 15.381 jiwa/. Nah padahal gak semua area diperuntukkan sebagai tempat tinggal… Sekarang bakal ditambah 1 badan lagi, nyempil…’ndusel’ disana! Aaaargh!! Bayanginnya aja udah gerah saya, tapi…untuk saat ini, jalan hidup ituh yang saya pilih (diiringi soundtrack music mellow…). Mengakrabi jalanan Jakarta yang macet, kerumunan ribuan kepala yang menyeruak dari stasiun-stasiun kereta, badan-badan wanita –yang katanya mahluk yang lemah tapi kalo di gerbong kereta dengan garang merangsek tanpa kenal ampun meskipun badan sudah gepeng. Yaaa…keseharian seperti itu..! Tapi…pasti ada enaknya doong J Selain saya jadi dekat dengan kampus, bimbingan untuk tesis juga bakal gak jadi masalah, dan disana…Makanan apa aja ada! Heehheh

Diluar itu, masih belum ada lagi sih yang menjadi ketertarikan saya untuk menambahkannya di list.

Dimulai dengan menjemput dua amunisi untuk membekali pencarian saya: Agent 1 à Agnes, skill cerocosannya penting buat nanya-nanya ke pemilik kost ato nanya jalan hehehe, apalagi kalo saya udah kena migren karena beratraksi di medan perang aka jalanan macet :p

Agent 2 à Reza, skill geografi dan tata kotanya sebagai warga Jakarta perlu untuk berkelit dari jalur 3 in 1 (hmmm…padahal kita dah betiga yah? *telen gibolan)

Tapiiii…yang paling penting adalah mereka berdua dengan rela dan suka cita menemani saya menyusuri gerahnya Jakarta dan Reza puasa pula (Saya gaaaak…hehehe), berpanas-panas, bermacet-macet… (Tolong soundtrack music mellow lagi….) :p

Sebelum bertemu Reza, Agent 1 kembali membuat perhitungan yang salah… grrr… salah keluar tol berakhir dengan acara ‘piknik’ dulu di kitaran cilandak selama 45 mins –lalalalala- Hahahhaha dan Reza menanti dengan sabar dengan pohon salam ditangan, persembahan bagi nyiajeng Agnes.

Dari Pintu ke Pintu

(Kalo mo dilaguin kayak lagu oldisnya Ebiet G. Ade juga boleh looh.. :p)

Berbekal daftar alamat tempat kost yang akan kita kunjungi kami berdiskusi merunut daerah mana dulu yang harus kita datangi, eerrr lebih tepatnya Reza ngecek semua alamat dan menentukan urutan jalur kemana kita pergi, gw manggut-manggut ala boneka yang suka dipasang di mobil dan Agnes berceloteh di seat belakang tentang apa aja –you knoooow… know kan? Hehehehe karena giliran dia sebagai ‘preman’, nantiiiiii…begitu kita mendarat, dan kita didatangin preman sekaligus calo kost-an, gw langsung nyodorin Agnes, no Agnes ding yang langsung pasang jurus…balik nanya-nanya juga, diikuti oleh Reza. Gw? Kalo di darat jadi NYONYA… Meskipun di mobil berubah jadi SUPIR! :D

Gw yang langsung ill feel mendapati harus berurusan dengan so they called –‘keamanan’ dan harus membayar sejumlah uang untuk parkir mobil di depan gang, karena memang mobil gak bisa masuk, menjadi kurang bersemangat untuk lanjut melihat tempat yang lain di sekitar area itu, yang memang banyak dan bagus, bersih dan rapi. Hanyaaa…. Ya itu..

Harapan bergantung pada satu alamat yang sangat dekat dengan tempat kerja baru gw. Rumah tua… (pasang soundtrack buat pelem serem doong)… pekarangan cukup luas tapi tampak tak terurus. Saya coba telpon sekali lagi pemilik rumah supaya yakin memang itu alamat yang kita maksud, “tunggu sebentar ya Mbak…” jawaban diujung sana. Tapi…pekarangan itu terlihat adem ayem tetep serem (rhyming!), gak ada tanda-tanda bakal ada yang muncul, trus senyum mempersilahkan masuk ataupun seringai dengan suara serak bak nenek lampir “he he he he….kalian sudah kami tunggu….” dengan pisau berikut asahannya! (Aih!!)

Kira-kira seperti itu obrolan gak penting kita bertiga gegara nunggu 5…10…15 mins… DAN! Seorang kakek dengan susah payah berjalan bungkuk tanpa senyum, menyeruak dari balik gerbang dalam melihat ke arah kita yang berjejer rapi di depan pagar. Beliau pun tertatih-tatih menghampiri dan mempersilahkan kami masuk. Perasaan saya udah kurang enak. Kami masuk melewati gerbang yang memisahkan halaman depan dengan pekarangan bagian dalam. Bentuk bangunannya mengingatkan saya pada rumah-rumah jaman Belanda seperti rumah dinas ayah saya dulu, dengan beberapa kamar bagian luar, biasanya untuk supir atau penjaga.

Kakek itu menunjuk arah kemana kami harus naik tangga menuju lantai 2 untuk menemui Ibu pemilik rumah. Baru beberapa langkah, kami dikejutkan dengan gonggongan anjing tua, yang juga tampak kurang terurus. Saya merapatkan langkah kea rah kedua teman saya, selain takut liat anjingnya juga miris…kasian liat perjuangan anjing itu yang sepertinya –dulunya gagah- berusaha keras untuk tampak garang layaknya anjing penjaga, tapii.. sudahlah..kita naik saja yaa

Di lantai 2 kami bertemu seorang Ibu tua, sederhana, lembut, dengan ramah menyambut kami dan menunjukkan kamar yang disewakan. Seperti biasa, Agnes dan Reza menunaikan tugasnya melancarkan pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan ketersediaan kamar dan lain-lainnya. Sementara saya, si Puteri Moody, interest saya langsung drop tak terhingga, dan dua teman saya itu udah pasti taunya… hehehehe.

Ketika TUHAN menunjukkan jalan terang…

…..Bagi perut kami yang tidak berpuasa!!! Hehehehe

Midday, waktunya berkabar pada Sang Pencipta langit dan Bumi menyampaikan betapa bersyukurnya kami dapat menikmati hidup yang diberikan-Nya… Iya waktunya doa dipanjatkan. Reza berdoa, shalat Dhuhur di Masjid Cut Meutiah sedangkan Agnes dan saya berdoa makan di sebrang jalan di Resto Pelangi, penyaji masakan Makassar, my favorite!!!, heaven banget gak sih! Alhamdulillah…semua orang senang! J

Selepas perut kenyang, spirit recharged, perburuan kami lanjutkan di bilangan cikini. Memasuki gang-gang sempit yang bikin stress kalo papasan dengan mobil lain dari arah yang berlawanan. Yaa dimana-mana banyak orang dan kendaraan… muyak kaliiii.. karena sempitnya jalan interest saya untuk berburu beberapa alamat di gang cikini pun melorot dan memutuskan untuk menghentikan pencarian di area itu. Guess what??!! Duo temen saya itu justru yang menyemangati… Jangan nyerah dulu Rie… (*pasang soundtrack lagu ‘Jangan Menyerah’) coba ke bagian sebelah sana. Saya nurut aja menyusuri gang lain yang lebih lebar dan agak sepi.

Terpampang ….JAMRUTS…….!!! Bwahahaahaha!!!! Kami ngakak “apaan tuuuh?!” (eeits…yang ngakak cuma Agnes dan saya loh yaa.. Reza? Adem ayem ajah! :D)

Naah!! Disana di satu gang itu kami menginspeksi beragam bentuk kamar. Dari yang masih baru dan ada di lantai 3 dan mahal pula (menurut ukuran saya yah! 2,8 jt di gang, minus listrik dan garasi? No Way!), yang agak mendingan dengan harga 1,8 jt dengan Ibu kost yang terlihat saklek (KM luar, tanpa listrik dan garasi? Hmmm dipertimbangkan kalo kepepet gak ada pilihan.) sampai yang…. Bikin Agnes bersin-bersin alergi karena debu.

Dan Agnes tumbang…! Dia mengibarkan bendera putih…minta dicariin apotek buat beli aspirin… :p

Dan saya cuma pengen mencari satu alamat lagi yang feeling saya mengatakan “this is it” . Kita pun ke Jalan Kramat, bangunan baru, jalanan yang cukup lebar dan dekat dengan jalan raya, cukup pricey, dan penunggu yang ramah.

Kepala yang rada cenat-cenut rada enteng karena akhirnya ada pilihan. Legaaaa… J

Tapi duo itu masih semangat nyari alternative lain (kagak ada matinye! )

Dari Surabaya ke Semarang!

Iyaaa berkeliling di bilangan Menteng emang berasa keliling pulau Jawa. :D nama-nama jalanan disana kan nama kota-kota di Jawa. Untuk kesekian kalinya alamat yang saya dapat dari Simbok Google ternyata rumah kosong atau bahkan rumah yang sudah mau rubuh!! Bahkan di Jalan Surabaya, alamat dengan no. yang kita cari gak ada.

Sementara Nyonya nunggu di belakang stir, duo agents melakukan wawancara singkat dengan para satpam yang ada di sekitar situ. Dari jauh saya mengikuti, kadang Agnes menunjuk ke satu arah seperti yang dilakukan satpam, lalu Reza melakukan hal yang sama. (Hmmm mungkin Pak satpam memberi instruksi: ikuti saya! 1..2..3.. :D) Tapi ajib loh…dari hasil gerilya mereka, kita dapat 2 tempat di Jalan Semarang. Salah satunya homey dan jadi pilihan dua gerilyawan saya itu. :p yang menurut sayaaa…Ok laah karena lingkungan rumah sepi, aman, rapi dan ramah, meskipun kamar yang ada agak tua dan harga cukup pricey.

2 Vs 1 à 2 Jalan Semarang : 1 Jalan Kramat! :p

Sudah pukul 17:00, kami harus cari posisi untuk Reza berbuka.

Reza ke Masjid dan saya tumbang….craving for panadol for my migraine! Macetnya Jakarta bikin pala saya mumet!!

Selain panadol, Agnes mengibarkan bendera perdamaian bagi semesta kami bertiga dengan mengajak wisata kuliner untuk cooling down hari melelahkan itu di Sabang….and TREAT on HER!!! Yaaaay!!!

HolyCow jadi tujuan kami…meski hanya ‘5 langkah’ tapi karena macetnya Sabang yaa kita kudu sabar aja deeeh…

Dengan tampang-tampang kucel tapi legaaa… kami mentertawakan kembali kejadian-kejadian aneh, lucu dan ajaib yang kami lewati hari itu.

Diakhiri dengan…tempat kost yang mana yang akan saya pilih???!!

Mereka siih suka yang jalan Semarang, tapi mereka nebak saya bakal pilih yang Jalan Kramat! Kalo kamu? Menurutmu saya pilih yang mana?

– Late post from last month! Miss my crowd :(

Menjemput Traffic di Puncak

Dan akhirnya rencana kami untuk berakhir pekan bersama terlaksana!! Being a risk-taker by deciding to drive to a well-known traffic road to Puncak Bogor was the thing I couldn’t even believe I did. Hahahahah I knoooow..!! But the thing is…It’s just a matter of the state of mind -so they say- and it’s true! I do believe that. I just prepared by telling myself that I would face a very bad traffic and that’s OK.

It was my longest standstill driving EVER!!! But, surprise…surprise… We just laughed and laughed…and sang. I couldn’t believe that I didn’t even swear for once!! Hahahaha Yep! It’s a BIG achievement that I didn’t swear and got angry in a bad traffic :p

My prime goal to go to Puncak was to do paragliding and let my friends also experience the excitement. And we made it!! They liked it!!

Paragliding - Puncak, Bogor

Paragliding – Puncak, Bogor

We didn’t do much, really…

We did paragliding for about only 15 mins max in the air. It was great to have it with different companions as it turned up having different story and silly things going on. The three of us was kinda a good fit together! Agnes with her loud and super energy by all means, myself with my emotional management, and Reza with his alert and calmness had brought our mixture personality become sort of balanced.

Agnes would not have herself stop talking about…well…EVERYTHING! She would come up with anything at all we passed or….ANYTHING, really! Man! What’s in her head???! Hahahaha

Reza would just smiled and responded with short replies but sometimes could really shut Agnes up! Hahahaha!!! :D And of course… She would find herself back with something…else.

It was a short trip and quite exhausted one, but was worth it to make an escape from the week!!

Dan menyebabkan opini yang menghembuskan gossip kembali..hahahhaha!!

IMG_0886

Cisarua-Bogor, 13th June 2015

Niat baik HARUS diperjuangkan!!
Sayang ktp ane dah mutasi tangerang, tapiii… Bukan berarti gak bisa spread the words kan…!
Sekali lagi People’s Power is needed! 💪🏼💪🏼😃
#temanAhok – with Willy and Revana

View on Path

Animal Abused – What Can WE do??!

Those issues of animal trafficking and poaching, I’m sure it’s not new to anyone who read this, me neither. I know it’s wrong…and that people are doing it because of economic reasons and greediness of course. But I never researched for information about it until a month ago when I was mentoring some 5 graders for their exhibition purposes.

It was a learning journey for myself too, finding out about what PEOPLE/HUMANs have done to the animals they trafficked. And during the Exhibition Day, apart from the thrilled feeling and proud of my students how much they articulated their learnings, I also felt so sad finding more facts about how PEOPLE abuse the animals…and I still do feel sad about it as today a relative shared her son’s new pet, which in my opinion would have been better for it to be let in its own habitat in the wild.  

Theen… it came to my intention to share some facts, which again I am SURE most all of us have already known, but let just have a look as a reminder before we decide to act toward animals…

 Humans: "Oooh..it's soo cute!" image taken from inilah.com

And to be able to give such a show…the monkey had to get through this 

Also check out this page for other protected primate, named slow loris. It’s so cute yet they re now endangered for it’s being poached for its venom or simply having it as a pet.

And many other animals had suffered from HUMANs greediness, namely parrots, kakatua, etc….to be trafficked or poached. Man has power, YES! Power to destroy and power to stop!

Having known the supply and demand theory, there won’t be supplies when there’s no demand, we all can STOP this by simply NOT buying animals that are not domestic animals as a pet and NOT watching monkey show -if there are still any on the street. 

Let’s share the PLANET in harmony…

NO DEMAND – NO SUPPLY! :)