Kemapanan Tanpa Senyuman atau Senyuman Tanpa Kemapanan??!

Pertanyaan tersebut tak memakan waktu lama menghampiri setibanya saya dan 2 kawan saya di Singapura. Bukan sesuatu yang mengejutkan sebenarnya bahwa kenyataan itulah yang akan menyapa kita di Singapura: Kemapanan tanpa senyuman tapi tetap saja membuat kami ketika itu sangat bersyukur dalam ke-tidakmapan-an negara kita, kita masih menerima banyak senyuman. Dan percaya atau tidak, pilihan kedua lebih menyenangkan (paling tidak buat saya).

It’s been a long time since my last visit to Singapore, 2 years ago. I forgot why it is not become my favorite place to go eventhough it is very near, apart from its high living cost. The only reason I went there was because I wanted to meet my best friends who moved there. We had a great time catching up.

Meeting Shawn, Jummy and Frans at Little India and enjoying some yummy chinese food recommended by Shawn.

Meeting Shawn, Jummy and Frans at Little India and enjoying some yummy chinese food recommended by Shawn.

We met Shruti, one of our very best friends. She is a very sweet friend, rare to find. I hardly (or never) seen her mad at people (well…once…as I remember 😛 ) She always has somehow found a way to speak her mind in a wise way even when she disagrees (yes..loves sharing with her about lot of things). We were glad that finally we made it to meet.

Anwar-Agnes-Shruti-meShared the giggle in our last day at Singapore

Anwar-Agnes-Shruti-me
Shared the giggle in our last day at Singapore

I really glad that I also had spent some time with my other very best friend, Jummy. She and her husband, Frans had been took a lot of time to accompany us. We had a great time. From having wet day, soaking by the the hard windy rain until the tramping around the city. I miss her…… hwaaaaa 😦

What a hairdryer for? Not only to dry hair :P

What a hairdryer for? Not only to dry hair 😛

Mustafa, Little India

Mustafa, Little India

Little India

walk around the city

walk around the city

temple tour

temple tour

Bahkan saking serunya menikmati kultur ornamen dan budaya India yang terpampang nyata…ada yang sampe kebingungan nyari temennya..! 😛

Liat nih muka kebingungan yang sampe gak sadar dipoto di depan mata! Hahahahaha! 😛

Lost in the crowd...! :P

Lost in the crowd…! 😛

We also went to see the man-made garden, The Garden by the bay in Marina Bay. Felt like I was in the set of Avatar movie! Futuristic!

Garden by the bay

Garden by the bay

DSC_0464 DSC_0463

Kemapanan yang indah bukan?! Everyone would agree. Tapi sangat disayangkan….keindahan itu sulit ditemui pada wajah-wajah penduduknya.

Dalam beberapa hal bahkan saya bisa katakan itu sudah mencapai pada lever ‘rude‘ alias kasar! Tadinya kami pikir itu terjadi karena kami berada di wilayah chinatown dan tempat backpacker pula. Tapi ternyata di beberapa tempat lain pun yang seharusnya pelayanannya lebih manusiawi (ala Indonesia yang penuh senyuman) tidak kami dapati.

Sebagai referensi para pembaca yang ingin ber-backpack, kami tidak sarankan tinggal di FERNLOFT yang berada di Chinatown. Entah dengan alasan apa, orang bego pun tau kalo siempunya losmen, Aunty Aini ( seorang perempuan paruh baya), sangat diskriminatif secara rasial. Seperti apa contohnya? Berikut dialog reka adegannya:

Talking to us: Ini breakfastnya yaa (menunjuk meja yang terdapat kopi dan teh sachet berikut roti dan perangkat sederhana lainnya). Kalau sudah selesai jangan lupa dicuci. (semua dengan nada datar)

At the same time, someone turned up from the room. mengucek-ucek mata masih setengah bangun.

TAlking to him: Haaaiiii John… How’s your sleep? (dengan suara mendayu-dayu dan nada penuh cinta)

Okay…lebay a little bit…but you get the picture kaaan!

Reka adegan lain adalah ketika saya makan di salah satu hawker di kitaran Chinatown, saya gak sanggup menghabiskan porsi makan saya yang bejibun.

Cleaner: (ambil piring saya kemudian melihat ke arah saya dengan terang-terangan, kemudian menunjuk sisa makanan saya) !@$$#%$#%$#%%&%&^##@%$^ (in chinese, I don’t understand)

Saya: melongooooo… Am sorry, I don’t speak chinese.

Cleaner: !@$#%$#%$^&%&*%*&^ (sambil nunjuk2 makanan sisa saya)

Anywaaaaay…. begitu menginjakkan kaki di SOETTA, saya merasa kangeeen banget melihat orang disekitar saya saling melempar senyum. Senyum pertama yang saya temui adalah dari Bapak petugas custom, berikutnya dari mbak-mbak penjaga toilet yang menunjukkan arah bagian perempuan.

I’m so glad to be H.O.M.E.

I LOVE  Indonesia..!!

Advertisements

4 thoughts on “Kemapanan Tanpa Senyuman atau Senyuman Tanpa Kemapanan??!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s