Pesona Raja Ampat di Ujung Timur Nusantara

Alam Papua terutama Raja Ampat sudah mendunia karena keberadaannya yang masih asli dan menakjubkan. Menuju Raja Ampat, pintu masuknya adalah Waisai sebagai ibukota kepulauan Raja Ampat. Dari Sorong dapat ditempuh dengan kapal ferry sekitar 1,5 – 2 jam dengan tarif 130.000 IDR. Dibandingkan dengan ferry yang pernah saya gunakan, ini cukup bersih, semua penumpang duduk berdasarkan no. kursi dan –yang penting- ON TIME! Pukul 14.00 kapal biasanya sudah berangkat, tapi pada hari-hari tertentu ada tambahan keberangkatan pagi pukul 9.00.

Dari Waisai kita bisa langsung menuju home stay yang ada di pulau-pulau disekitarnya atau cukup tinggal di Waisai untuk kemudian menyewa kapal untuk hopping island. Sedangkan kami memutuskan untuk tinggal di salah satu resort di Waisai. Terletak tidak jauh dari pelabuhan Waisai, sekitar 15 menit, Pandawa Dive Resort menawarkan kenyamanan kamar, pelayanan dan tentu saja pemandangan.

 

Pemiliknya, Bapak dan Ibu Yoppi yang kebetulan juga tinggal di area resort sangat ramah dan banyak membantu kami memberi rekomendasi tentang lokasi-lokasi yang harus kami kunjungi dan jasa kapal yang dapat kami sewa.

Painemo – The Little Wayag

Disebut demikian karena memang mengunjungi Painemo kita akan disuguhi pemandangan ‘seperti’ Wayag. Bahkan semacam simulasi sebelum kita benar-benar menempuh Wayag sesungguhnya. Diperlukan sekitar 3-4 jam menembus lautan dari Waisai menuju Painemo. Dilanjutkan dengan menapaki tangga menuju puncak bukit sekitar 15-20 menit. Puncak Painemo sudah dibangun pagar pembatas sehingga aman bagi pengunjung untuk berfoto dengan latar belakang gugusan pulau-pulau hijau yang bertebaran dengan warna gradasi laut nan indah.

Arborek

Waktunya pasang snorkeling gear! Sebagai kepulauan yang berdasarkan penelitian mempunyai 75% dari seluruh spesies karang di dunia. Tidak ada tempat lain di dunia yang mempunyai jumlah spesies karang sebanyak itu dalam 1 lokasi yang terbilang kecil. Dengan banyaknya spesies karang di Kepulauan Raja Ampat, secara otomatis juga terdapat banyak spesies ikan karang. Arborek merupakan salah satu tempatnya.

Pulau Mansuar

Pulau yang berpenduduk kurang lebih 100an kepala keluarga ini tertata rapi. Selepas ber-snorkeling kami yang beruntung ditemani oleh anak pemilik resort yang juga adalah seorang dokter, mengajak kami berkeliling desa tempat ia dulu pernah mengabdikan diri selama 1 tahun sebagai dokter PTT. Menapaki tanah pantai putih, penduduk yang kami lalui tampak ramah ketika kami sapa. Terdapat 2 sekolah, SD dan SMP dan puskesmas sebagai sarana publik. Sayang tak ada satupun dari kami bertiga yang membawa kamera, karena memang kami tidak merencanakan berjalan jauh masuk ke perkampungan warga. Menyenangkan sekali mendengarkan sapaan dan melihat senyum ramah mereka.

Pasir Timbul

Dinamakan Pasir Timbul karena memang seperti itulah penampakannya, bukan berupa pulau tapi berupa hamparan pasir yang muncul di permukaan air. Kami semburat turun dari kapal menikmati hamparan pasir putih dan halus dikelilingi laut lepas biru dan hijau turquoise yang memantulkan refleksi langit cerah dengan gumpalan-gumpalan awan putihnya. Heaven!

Teluk Kabui

Saya menyebutnya labirin laut! Laju kapal diperlambat ketika menelusuri Teluk Kabui karena harus berkelok diantara pulau-pulau kecil namun menjulang tinggi. Ibarat di jalan daratan, kami sedang menggunakan jalan tikus. Lambatnya laju speed boat memberi kami waktu untuk menikmati pemandangan ‘dunia’ lain kami. Seru dan menegangkan terutama ketika kami harus melewatinya lagi saat malam hari tanpa penerangan kecuali sebuah lampu senter kecil yang diarahkan secara manual diujung depan oleh salah satu awak kapal.

Wayag

Wayag ditempuh +/- 5 jam perjalanan speed boat dari Waisai tergantung keadaan ombak. Seperti ketka menuju wayag kecil, disinipun kita harus diuji untuk mencapai puncak bukit sebelum dapat menikmati pemandangan fenomenal hamparan laut biru kehijauan berhias gugusan pulau. Bedanya adalah, kali ini tanpa tangga dengan bukit berbatu kapur yang tajam dan kemiringan bervariasi sampai hampir 90 derajat! Tapi akan sebanding dengan reward yang akan kita jumpai di atas sana! Jika berencana mendaki Wayag, sandal gunung is a must! Saya bahkan lebih memilih memakai sneakers karena dengan begitu lebih aman dari ancaman batu-batu tajam. Hanya memakan waktu 20-30 menit tergantung kesiapan fisik, kita sudah bisa mencapai puncak. Lebih baik lagi kalau dilanjutkan mendaki puncak tambahan, sedikit lebih berbahaya tapi pemandangan yang ditawarkan pun jauh lebih menakjubkan!!

Kendala dan Tantangan

Alam indah permukaan dan bawah laut Raja Ampat, atau dalam hal ini wilayah Pulau Waisai dan sekitarnya, memang tak terbantahkan, dunia mengakuinya. Namun demikian tantangan yang harus dihadapi bagi wisatawan yang hendak berkunjung adalah jauhnya letak antar pulau tujuan wisata. Raja Ampat merupakan empat pulau besar: Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool. Dan untuk mencapai pulau-pulau tersebut ditempuh dari Sorong dengan berbagai jenis kapal; private dan publik. Kendala lain adalah minimnya jadwal kapal keberangkatan menuju Pulau Misool yang saat ini masih hanya 1x seminggu, dan itupun kapal barang, kecuali anda dapat mengupayakan budget minimal 28 juta dengan menggunakan private boat. Harga yang (sangat) mahal di Papua ini dikarenakan bahan bakar minyak disana 3x lipat harga normal yang pada akhirnya semua biaya hidup disana relatif lebih mahal dibanding pulau-pulau lain di Indonesia. Jadi, untuk dapat menjelajahi ke-ampat pulau Raja akan membutuhkan waktu berminggu-minggu dan finance support yang tidak sedikit.

Cuaca, keadaan yang tidak bisa ada dalam kendali kita, menjadi sangat penting ketika kita berada di lautan. Angin besar, gelombang besar tak lagi kenal musim, alhasil kita tidak bisa melakukan kegiatan dalam laut, snorkeling ataupun diving. 

Maka tips dari perjalanan ini adalah: Prepare for the worst, Ready for the BEST!

ENJOY INDONESIA!!

PS: berhubung kendala teknis, gambar belum bisa disertakan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s