Misteri Waisai – Raja Ampat, Papua

Kata-kata yang berseliweran di kepala saya belakangan adalah melulu tentang berita pemilu dan capres yang membuat saya gagal GOLPUT tahun ini, sampai-sampai gegap gempita euphoria kegiatan nyeret ransel ke Raja Ampat teredam begitu saja.

Hehehehe…

Buat yang cari berita ada apa di ujung Indonesia timur, negeri Papua, berikut kisah kami… Bersiaplah berimaji….

The Meeting Point

Reuni berperiodik dengan kawan-kawan penyeret ransel kali ini bermuara di Bandara Hasanuddin, Makassar, sebagai meeting point kami. Manggul backpack 35++ (+mijit paska trip!), nenteng fin beserta nylempang tas yang lumayan gendut (yaaa… yang ini udah di komen sbg pengungsi di media chatting..), pasrah bakal dicomelin bibir kisruh mereka, saya celingukan sambil menajamkan telinga mencari modulasi medok jowo diantara kerumunan. Dan memang gak susah nyari mereka! 😉

“Hai! Riri…”

“Hai! Syafrina…”

Saya menyalami a new addition in the group sambil takjub ngliat barang bawaannya yang spekta! (pisssss Sya!) heuheuheu. Carrier di punggung, backpack at the front dan snorkel cs ditenteng.

Syafrina dengan setengah paket barang bawaan ;p

Syafrina dengan setengah paket barang bawaan ;p

So kami ber-6: TJ, Didik SuAndrew, Septy, Ikeu, Syafrina and I dengan penuh keharuan karena kita menapaki gate menyongsong…G A R U D A   I N D O N E S I A… menjelang tanah PAPUA! eeeiits..pasti pada ngira kita bakalan naek pesawat jumbo kaaan (lebay yaa),  yaaa sukur-sukur bukan pesawat baling-baling kayak trip wakatobi. Hehehe.. Tapi pesawatnya emang kecil, dengan hanya 4 seater di tiap row, plus langit-langit yang rendah (jadi berasa tinggi gweh!)

 

Off to SORONG!!! And the Magical moments begin!!!!

Entah siapa yang bawa lucky charm, tapi sepanjang perjalanan there’s always a magical moment, dari kacamata saya at least…

Kejadian Ajaib #1

Seorang teman yang tadinya bakal gabung, tiba-tiba cancel dan luckily ada anak CS (Couch Surfing) yang mau join sehingga jumlah kita gak jadi berkurang. Jumlah anggota trip emang penting ketika kita perlu menggunakan transportasi sewa menyewa karena pengaruhnya pada budget sharing… -meskeeeeen..- hahahaha backpackeeer (mesken bangga!)

So..bergabunglah Sara, pelancong Amrik yang berniat backpacking berkelompok di Raja Ampat.

Pasti pada protes… gitu aja dibilang ajaib…

Baiklah! Abaikan kalo getoo.. :p

 

Kejadian Ajaib #1 sebenarnya – Dapat Teman-teman Baru

Sara yang lagi nunggguin kita di stasiun eh bandara (kayak stasiun sih..) di Sorong ngejogrok sendirian, mengundang iba  seorang putera daerah yang belakangan kita tahu bernama Ryan, demi melihat seorang bule cewek ngesot dengan pasti di lantai bandara yang besarnya kira-kira…mmmm 3×3 gajah dewasa dijejerin (yup math gw payah), menghampiri dan menemani. Kemudian bergabung dengan kami.

Nah! Dari sini…story trip kami pun menjadi plus plus penuh kejutan dengan adanya guide sukarela ini.

Oya, waktu kita lagi nunggu barang di conveyer, Ikeu histeris karena ternyata ada teman lama mereka, Okky, yang dengan manisnya melambai-lambai di jendela kaca. Dengan kebaikan hati Okky, kami dapat anteran menuju pelabuhan Sorong, off to WAISAI!!  Nah jadi, selain Sara dan Ryan, ada juga Okky yang rela menutup awal mata pencahariannya aka toko pada hari itu demi menjemput teman-temannya. aaah…so sweet gak sih!

Sorong menuju Waisai

Sorong menuju Waisai

#2 – Got A Nice Place to Stay

Dari Sorong kami naik kapal ferry menuju Waisai, Ibukota dari Raja Ampat. Somehow Didik tidak bisa menghubungi pihak home stay yang akan kami tinggali karena keterbatasan jaringan telepon disana. (Gunakan kartu telkomsel yang kagak ada matinya di Papua. Provider lain mati suri! Wasalam deh!)

Sampai menjelang merapat ke Waisai, kami masih belum tahu bagaimana cara menghubungi pihak penyedia homestay.

“Teman-teman, bokap sebenernya baru buka resort di Waisai. Kalau mau gw tanyain masih ada kamar gak. Bla..bla..bla..” kira-kira kalimat itu yang meluncur kemudian dari mulut Ryan yang duduk di nun ujung barisan kursi. FYI, arrangement sitting kapalnya adalah 3-5-3. Kami mengisi barisan 3-5. Jadi cara berkomunikasi kami adalah pesan berantai karena Ryan berada di ujung seater 5!

Anyway… akhirnya kami pun menyimak, berembug, menimbang dan memutuskan: Hayyuu dah! 😀

Kami pun melenggang dengan elegan menaiki ‘limousine’ yang menjemput membawa kami ke Pandawa Dive Resort, Waisai!!

Yahoooo!!!

Yahoooo!!!

 

Berfoto dengan the owner, Om Yoppi, At Pandawa Dive Resort

Berfoto dengan the owner, Om Yoppi, At Pandawa Dive Resort

Disana kami disambut ramah oleh pemilik resort yang tak lain adalah orangtua Ryan, teman baru kami.

Entah karena saking senangnya bertemu anak mereka yang sudah cukup lama tak bertemu atau kasihan liat tampang-tampang kucel kami, mereka dengan sukarela memberi super discount harga pada kami. Yaaay!!!

Fasilitas RESORT harga HOMESTAY!! Ajib gak tuh!!

550.000 –> 350.000

Kamar ber-AC, hot water and 3x meals –>The BEST DEAL!!

Nice spot

Nice spot

 

At the jetty

At the jetty

#3 – We Found A Family

Teman-teman semua pasti setuju kalo kita ngerasa very much welcomed dari hari pertama tinggal di Pandawa. They are warm-hearted peeps.

Sore itu kita tanpa komando, satu-satu akhirnya berkumpul di jetty, yang memang inviting banget buat ngobrol atau sekedar menikmati horizon dan ikan-ikan yang berlompatan. Ortu Ryan, Om Yoppi dan Tante Lidya pun ikut nimbrung. We had a good time.

Sore itu juga kami dicarikan kapal untuk kami ber-hopping island keesokan harinya. Kami deal dengan harga 7jt menuju 5 spot: Painemo, Teluk Kabui, Arborek, Mansuar dan Pasir Timbul (belakangan kami tahu dari penyedia jasa kapal lain bahwa harga segitu hanya untung tipis, lucky us!)

Off for hopping island

Off for hopping island

Pasir Timbul #superJump

Pasir Timbul #superJump

#4 – Tragedi Gagal Misool Membawa Berkah

Kami memutuskan untuk tidak ke Wayag selain jauh +/- 5-6 jam perjalanan dengan speed boat, juga karena mahal. Info yang kami dapat, cost kapal minimal adalah 18 juta! Yikes!!! Hidup kami disana masih 4 hari kedepan! Kami pun harus puas dengan Wayag kecil aka Painemo, yang memang mempunyai kemiripan view dengan Wayag sebenarnya. Berembug, menimbang dan berhitung….kami memutuskan berangkat keesokan paginya kembali ke Sorong untuk kemudian melanjutkan ke Misool. Kendalanya adalah minimnya info tentang keberangkatan kapal menuju Misool. Setiap orang yang kami jumpai, kalau tidak tahu atau memberikan jawaban beragam. Begitu juga info yang Syafrina (satu-satunya yang bisa tetap eksis dengan gadgetnya. –brought to you by telkomsel) cari via online.

Nekat, kami tetap berangkat ke Sorong. Tante Lidya yang sudah berada di Sorong sehari sebelumnya menjemput kami.. eh! Ryan anaknya ding hehehe.. tapi sekali lagi mendengar planning kami yang belum tahu pasti jadwal kapal ke Misool. Beliau ‘mengawal’ pencarian info untuk kami (salut dengan kecekatan beliau ini! Gak salah kalau ternyata beliau mantan anggota DPRD 🙂 ). Setelah di lempar dari satu kantor ke kantor informasi yang lain untuk membeli tiket….akhirnya kami mendapat info bahwa kapal berangkat ke Misool hanya hari SABTU! Padahal kita hanya sampai hari Jumat saja disana.

Kami galau…nanar saling berpandangan… Where to go?!!

Ke pulau sekitar sini aja. Balik ke Makassar aja. Ke Taka Bonerate aja. Ide-ide berseliweran.

Di tengah panas terik kota Sorong yang menemani kegalauan kami, Tante Lidya menawarkan kesejukan untuk beristirahat di rumah mereka. Disana bisa dibicarakan lagi bagaimana selanjutnya. So blessed! Alhamdulillaaah….

Kelompok kami nyaris semburat. Sara memutuskan berangkat ke Makassar lebih awal dan Syafrina sudah tak kuasa mengikuti dinamika backpacking surprises sehingga memutuskan kembali ke Jakarta, sedangkan kami berencana kembali ke Waisai untuk kemudian menuju pulau lain. Tapi kemudian Papua masih menahan mereka, harga penerbangan melambung tinggi yang membuat Sara mengurungkan niatnya, Syafrina mendapat suntikan dana dari ‘oknum’ di Jakarta dan dia memutuskan untuk stay! 😉

Cerita pun berlanjut dengan perkenalan  kami dengan Pak Heyn, penyedia jasa one day trip ‘jurusan’ Wayag. Kami mendapat penawaran 12 juta dengan bergabung dengan 3 tamunya yang lain. It’s still over our budget.

Setiap orang mempunyai goal tersendiri dalam kegiatan traveling yang dijalani selain tempat yang di tuju. Saya pribadi, I’m open to any possibilities. Banyak hal yang bisa dipelajari, terutama dari yang namanya diawali mis- : misinformation, miscalculation, misunderstanding, misTAKE. Mungkin bukan buat kita secara langsung tapi sebagai bahan pelajaran bagi orang lain. (Ok TUA gw kumat! heehe)

Anyway… kami kembali ke Pandawa Resort! hehehehe padahal udah dadah dadah salam perpisahan 😛

Hikmah hari itu, kami mendapat deal dengan Kak Heyn 7 jt untuk trip ke Wayag keesokan harinya! Dan 650 rb/orang untuk diving di Waiwo! Super!

#5 – Berburu Toilet di Teluk Kabui

 Kami bersiap dari pukul 5 WITA (yang berarti pukul 3 WIB!) karena pukul 6 kami akan dijemput menuju Wayag. Setelah sarapan super dini kami berangkat sekitar 6.30 WITA. Setelah menjemput 3 tamu lain perjalanan masih berjalan lancar. Sampai kemudian adalah suara mendesah tertahan sambil memegangi perut, “Ikeu…gw muleeesss!” Syafrina meringis merengek pada Ikeu (sebagai pemeran Ibu pengganti buat Syafrina selama trip heheehe..). Nah Lo! Ditengah laut pengen poop…Apa kabar????! Lucu..tapi kami tak tega ketawa melihat Syafrina terus meringis dan panik! hehehehe..

Kak Heyn menyuruh sabar, kita merapat ke pulau terdekat di Teluk Kabui.

Toilet traditional: nongkrong langsung PLUNG! :D

Toilet traditional: nongkrong langsung PLUNG! 😀

Karena saya juga kebelet pipis, kami bertiga men’darat’ mencari toilet. Kami pun harus berjuang menaiki tangga rapuh tak beraturan. Ikeu hampir jatuh ketika pijakan anak tangga patah. It was so close! Thank God she was saved.

#6 – Celanamu, Celanaku dan Bikini di Wayag

Angin cukup kencang yang menjadikan gelombang pun tinggi, tapi kami dapat dengan selamat mencapai tujuan: WAYAG! Kami harus mencapai puncak untuk dapat menikmati pemandangan Wayag yang fenomenal. Medan pendakian terjal dengan bebatuan tajam. Dan ditambah kami harus bergegas berlomba dengan waktu agar kami tidak kemalaman di jalan karena ombak yang tinggi akan memperlambat. Syafrina yang merasa tidak yakin mampu dapat sampai ke atas, urung ikut dan memilih berenang sambil menunggu kami. Ikeu berkeyakinan lain bahwa Syafrina pasti bisa! Entah bagaimana… pemandangan selanjutnya adalah urutan ke 2 dari belakang ada sosok Sally Marcellina (hihihi tau kan movie star sexy di pilem Warkop! Pissss Sya!) lengkap dengan bikini berusaha menapaki bebatuan dengan booties-nya!

Climbing Wayag

Climbing Wayag

Ngomongin outfit, 2 teman lain mengalami robek celana yang gak tanggung-tanggung! Breeettttt sesobek-sobeknya: Septy dan

Mas Bayu!

Celana saya?? Amaaaan hehehe

 

Puncak Wayag, kami siibuk berpose mengabadikan perjuangan menuju puncak Wayag!

Puncak Wayag, kami siibuk berpose mengabadikan perjuangan menuju puncak Wayag!

Sally Marcellina oops Syafrina made it!

Sally Marcellina oops Syafrina made it! Bikini booster? 😛

Puncak Wayag! Yay!!

Puncak Wayag! We Made it! Yay!!

#7 – Wayag – Waisai, Ketika Hati Merapat Pada-Nya yang Kuasa

Perjalanan kembali lebih menguras mental dan kepercayaan kami pada yang Kuasa. Kalau Percy Jackson jadi ikut mungkin bisa bantu kami bicara pada Poseidon untuk membiarkan kami lewat dengan damai 😛

Meskipun saya pernah mengalami badai yang lebih buruk tapi kali ini lebih lama, berjam-jam kami dihempas gelombang tinggi dan terhentak dari tempat duduk kami. Angin kencang yang membawa air membuat kami menggigil kedinginan. Septy mengenakan jas hujan, Didik merapat mencari kehangatan. Di sisi lain Ikeu modus merapat pada Mas Bayu (beuuuu), saya bersembunyi dibalik life jacket mengikuti cara TJ dan tak lupa merapat juga, sedangkan Syafrina entah sudah pil antimo yang keberapa dia minum, memilih mojok duduk dibawah…TIDUR! Hahaha (Anak langka inih!!)

 

Para Koboy berani tepos duduk 13 jam pp waisai-wayag, cengar cengir blom kena badai gelombang! :D

Para Koboy berani tepos duduk 13 jam pp waisai-wayag, cengar cengir blom kena badai gelombang! 😀

Terlalu banyak yang terlewatkan untuk saya bagikan disini. My point is it wasn’t a perfect trip as so called failure of situation and things were every where during the trip. Embrace it and we are just fine. 

Quote of The Blog

Quote of The Blog

 

Advertisements

One thought on “Misteri Waisai – Raja Ampat, Papua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s