Jangan Ada Perang diantara Kita -Kegelisahan Paska Pilpres 2014

Saat ini adalah dini hari, waktunya semua mata terpejam dan mengistirahatkan pikiran dan hati, tapi saya belum bisa tidur sebelum saya menulis ini, kegelisahan saya.

Hari ini saya baru berkumpul kembali dengan teman-teman setelah momen pilpres 9 Juli berlalu tapi sebagian besar waktu kami berbincang, fokusnya adalah sekitaran pemilu atau lebih tepatnya tentang reaksi 2 kandidat presiden paska hari pemilihan. Kami berbagi kegelisahan yang sama ketika membicarakan reaksi Bapak Prabowo. Gelisah akan apa yang bisa terjadi jika hasil KPU nanti tidak seperti yang beliau inginkan. Saya pribadi takut, bergidik dan ngeri seperti ketika melihat beliau berpidato mengobarkan semangat: Jangan Sampai Kalah -loosing is not an option! Saya mengerti memang itu yang harus diyakini ketika seseorang melakukan kampanye, tapi saya sebagai pemihak kandidat lain, membaca isyarat itu sebagai ‘perangi mereka’, bagaikan genderang perang melawan saudara! 

And that broke my heart… Saya tidak mau negara saya ini nasibnya akan seperti beberapa negara-negara dibelahan bumi lain yang saling berperang melawan saudaranya sendiri. 

Saya memang tergerak untuk mengikuti pemilihan kali ini karena sosok seorang Joko Widodo, sosok yang sederhana dan tidak menakutkan (dalam arti sebenarnya sama ketika saya merasakan sebaliknya dengan Prabowo). Saya tidak bermaksud berkampanye, toh waktunya pun sudah lewat. Saya hanya ingin memberi dasar dari mana rasa itu datang. Saya juga mencari tahu tentang Prabowo dari referensi dunia maya dari beberapa tahun lalu. Bukan untuk ‘berpaling’ tapi untuk melihatnya dengan cara yang berbeda, untuk mengurai ketidaksimpatikan saya terhadap orang-orang yang berada di belakangnya yang memberi kesan keji dalam perkataan. Namun usaha memupuk itu runtuh tak bersisa ketika saya menyaksikan wawancara beliau dengan BBC. 

Again…He broke my heart… Saya ingin melihat beliau adalah seorang yang besar sebagai salah satu kandidat presiden dari satu negara yang besar! Bukan seorang yang penuh kegusaran menuding Bapak Joko Widodo dengan asumsi di media internasional diperdengarkan oleh seluruh rakyat indonesia yang lebih dari separuhnya menitipkan suara padanya (do you see how he broke my..no our hearts?) dan yang oleh separuh lainnya akan diamini (most likely).

Sementara Bapak Jokowi dalam wawancaranya menyebut Prabowo-Hatta adalah patriot dan negarawan. 

Mengapa Bapak Jokowi menjadi preferensi saya? Simak seorang optimist yang bicara tentang kepemimpinan Simon Sinek: Why good leaders make you feel safe. 

Moreover, Intimidation and fear…or rather concern of the spreading of those aura that I can tell when reading the following letters for Mr. Prabowo http://suratuntukpakbowo.tumblr.com 

Pada akhirnya…..

Siapapun yang menjadi Mr. President tidak bisa berjalan sendiri… Kembalilah kita bersaudara. Marilah menjadi IKA dari ke-Bhinekaan kita.

Mari kita pelihara berpuluh juta rasa optimis yang baru saja tumbuh

Setiap satu jari yang dicelupkan itu butuh seluruh badan, pikiran dan hati untuk menggerakkannya.

Kita sudah berhasil satu langkah: menggerakkan berpuluh juta jari baru!

 

————-Semoga kegelisahan saya tak berujung jadi nyata———- 

Salam Damai

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s