#DoItYourself3 Visa Saudi? Siapa Takut…

Hehehe… Sebenarnya saya sih yang takut..

Meskipun perjalanan untuk sampai pada tahap: ‘Congratulation! Please find our official offer attached’ cukup melelahkan mental…but it’s worth it the effort.

…dan setelah itu mulailah memasuki battle selanjutnya… Obtaining VISA! Jeng..jeng!

Setelah cukup lama melakukan research mengumpulkan data melalui unca google, menelusuri pengalaman-pengalaman para pendahulu yang melakukannya sendiri dan juga mereka yang menggunakan jasa agen. Kenyataan yang terlukis membuat saya maju mundur hendak menjalani permohonan visa sendiri. Kenyataan bahwa Saudi identik dengan TKI buruh dan birokrasi yang harus dilalui kurang bersahabat, membuat alternatif menggunakan jasa menjadi opsi pertama saya.

Tapiii… setelah saya mencari info biaya untuk membuat semua persyaratan yang harus dipenuhi sampai menuju ‘pintu’ kedutaan jumlahnya amazing…7.5 juta! Dengan break down: Ijasah (translated plus legalisir lengkap: kampus, dikti, humham, dan deplu) 2jt, cek medis 1.8jt, Enjaz online dan stamp kedutaan 3.7jt. Total of 7.5 mill!! Saya pikir gila! Apa ini makanya biaya naik haji mahal di Indonesia? Padahal setelah saya cari tahu, harga membuat visa single entry ‘hanya’ 1.3jt!!

Dan..saya pun membulatkan tekad to test my limit on this! 🙂 And you guys can do it, too!

Baiklah! Untuk mengajukan visa kerja kita harus melakukan hal yang diatas tersebut, benar! Tapiii… Subhanallah.. Allah Maha Baik! Saya mendapat banyak kemudahan. SO.. be positive.. 🙂

#1 Medical Check Up

Pertama kamu harus daftar dulu ke kantor GAMCA (Gulf Approved Medical centers Association) yaitu asosiasi yang menangani tes kesehatan bagi ekspat yang akan masuk ke wilayah negara-negara Arab. Kamu perlu menyiapkan: fotokopi paspor dan uang pendaftaran sebesar 200rb.

Alamat GAMCA: Jl. Kalibata Raya (lampu merah jambul) Gedung Binawan jakarta. Terletak di Gedung Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan, masuk dari Lobby 2. Kantor ada di lantai 2.

Waktu itu saya berencana daftar saja karena biasanya birokrasi kan lamaaa.. dan saya membayangkan akan mengantri lama. Karena saya tidak mau bolos kerja, saya ijin setelah saya selesai mengajar. Pukul 3 saya sudah sampai di kantor GAMCA dan beruntung tidak ada antrian sama sekali. Saya langsung masuk di bagian pendaftaran. Menyerahkan fotokopi paspor, foto, ambil sidik jari, menyebutkan negara tujuan, lalu membayar uang pendaftaran 200rb, dan… surat pengantar untuk medical check up pun dikeluarkan. 10 mins, done! 🙂 Dan mbak-mbaknya ramah kok… Gak seperti yang digambarkan blog-blog yang saya baca. Alhamdulillaaah…. 🙂

Dan ternyata mbak bagian pendaftaran itu menyarankan saya langsung medical test karena katanya hanya sebentar kok. Hmm.. saya pun meluncur mengikuti anjuran mbak bag pendaftaran ke Azzahra Medical Centredi jalan Dewi Sartika. Oya.. kantor GAMCA ini meskipun tugas yang diemban terdengar sangat penting, tapi kantornya ini, maaf, lebih mirip kayak tempat pendaftaran puskesmas. Too bad…

Ditemani aplikasi Waze yang setia mengantar saya kemanapun di seantero Jakarta Raya dan 99% tepat, saya sampai di Azzahra pukul 4 pm. Tempatnya dari luar tampak seperti rumah dengan palang Azzahra Medical Centre yang agak menjorok ke dalam sehingga saya harus bertanya pada toko fotokopi yang berada 2 rumah sebelumnya karena Om Waze sudah berkode: You’ve reached your destination tapi tak ada tanda-tanda ada klinik 😛

Sampai di dalam saya langsung menyerahkan surat rujukan dari kantor pendaftaran, menyerahkan fotokopi paspor, foto 4×6  berwarna, dan membayar 800rb. Setekah menunggu selama 5 menit, saya dipanggil untuk foto dan sidik jari. Lalu saya diminta ke lantai dua untuk mulai menjalani tes kesehatan.

Nah yang bagian ini rada kacau nih! Saya akan diambil darah dari lipatan lengan seperti biasa kalau kita diambil darah. Normal…. Tapi setelah saya meletakkan lengan saya di meja penyangga, eeh..si Mbak pengambil darah (hehehe pemberian nama sesuai tugas ya..) dengan jarum terhunus udah langsung mau jleb aja..! Saya langsung tutup bagian yang akan ditusuk. “Mbak, kok lengan saya gak di strap dulu?” saya langsung tegang. Dengan enteng si Mbak pengambil darah menimpali, “Gak usah, Mbak…Bisa kok biasanya. Tar kalo gak bisa, baru pake strap..”

“Ini serius, Mbak? Saya gak dipakein itu dulu?” tanya saya sambil menunjuk strap biru disamping saya. Si Mbak mengangguk dengan muka datar.

Hari itu saya bertekad untuk menjadi orang paling sabar… Bismillaah…Ammitabha… Saya pun pasrah. Dalam hati berdoa semoga manusia berjilbab di depan saya yang sedang ngulik-ngulik jarum nyedot darah saya ini diberi hidayah, tambahan hati… karena hatinya udah mati separo! 😦 Alhamdulillah gak sakit sih… 🙂 “Gak pernah cek darah ya, Mbak?” “Sering..” more than you can imagine dalam hati saya. I hate needle!

Selanjutnya menampung urin alias pipis. Lancar ini mah… 🙂

Berikutya, tes fisik! “Masuk, Mbak. Tasnya di taro. Telanjang di sana.”

I was like… Hah??!! Ternyata saya bertemu orang lain yang perlu mendapat hidayah karenan yang ini hatinya udah hambar, mati. Saya kembali membulatkan tekad…Create my own weather…I’m not influenced by her. Don’t be reactive. “Selamat sore..Baik dok.. Di sini?” (Yes she’s a doctor, judged by her jacket.) Saya tersenyum, dengan pesan: anda tidak bisa mengintimidasi saya!

Dan tes fisik ini pun seperti dagelan formalitas saja. Di mulai dari bagian dada, perut, kaki, mulut, telinga yang cuma dilongok-longok. Lalu menimbang badan, tinggi, dan selesai! Pakai baju. Sambil berlalu ke wastafel untuk cuci tangan, si dokter bertanya, “Tinggi badannya berapa? kacamatanya minus berapa?”

Again…What the..??!! Jadi tadi ngapain aja Bu Dokteeer….? (Whatever lah…)

Yang terakhir ke ruang X-Ray. Di sini petugasnya bukan Mbak-Mbak tapi Mas-Mas.. very simple and easy. Ganti baju khusus untuk X-Ray, berdiri di alat X-Ray. 1 min, done! Just as you normally do.. 🙂

4:30 pm selesai! Fee: 1 mill total

Keesokan harinya sudah selesai dan hasilnya FIT. Hanya karena saya pakai kacamata, saya harus menyertakan offer letter alias kontrak kerja saya bahwa perusahaan yang hire saya sudah mengetahui ‘impairement‘ saya and that they are fine with it.

#2 Enjaz Online

Next step, hasil fitness dari medical dikirim ke Saudi untuk mengeluarkan surat permohonan aplikasi visa (dalam bahasa Arab).

Setelah mendapat surat permohonan aplikasi visa atau istilah agent enjaz adalah calling visaNah istilah ini bisa bikin bingung kalau kita tidak familiar dengan istilah-istilah yang mereka pakai. Anyway, setelah itu print dan bawa calling visa dan hasil medical dari klinik ke kantor agent yang melakukan enjaz online, bernama BIJAC (benar, pakai ‘C’ bukan K).

Kantor Bijac terletak di Wisma Kodel di Rasuna Said No.4, di Lt.1.

No. telp 021-215222291  email: bijac_bijac@yahoo.com

Enjaz online adalah peng-input-an secara online hasil tes medis yang kita lakukan. This one took about 15 minutes. Peng-input-an ini berarti kita melakukan aplikaksi visa, yang berarti waktunya kita membayar. Fee: 1.3 jt untuk single entry.

Setelah keluar hasil input, saya harus menyerahkan kembali ke klinik tempat saya tes medis, yang berarti saya harus ke Dewi Sartika lagi untuk meminta hasil medis lengkap  yang sebenarnya (yang sebelumnya hanya sementara).

Petugas bagian pembuatan surat di klinik Azzahra sangat baik dan membantu dengan sabar menjawab semua pertanyaan saya kenapa birokrasi pembuatan yang sudah berjudul online tapi segitu ribetnya, apalagi dengan jarak dan macetnya Jakarta yang tiada tara. Ya sudahlah… Saya bersyukur para petugas yang saya jumpai ramah, jadi efek kemacetan Jakarta menjadi mereda karena urusan semuanya lancar dan cepat. Hanya sekitar 15 menit buat mas petugas mempersiapkan surat kesehatan saya.

Meluncuuuur kembali ke daerah Kuningan….! Whoooot….

#3 Aplikasi Visa 

Menyerahkan:

  • paspor asli
  • hasil cek medis asli
  • aplikasi visa
  • kontrak kerja (printed)
  • fotokopi Ijazah + yang asli

persyaratan yang terakhir, yaitu ijazah, tadinya tidak diminta oleh si Mbak agent-nya tapi saya bilang menurut agent yang tidak jadi saya pakai jasanya, saya harus melampirkan ijazah yang diterjemahkan dan dilegalisasi di beberapa departemen pemerintahan dan kampus saya. Saya sudah melakukan prosedur itu sementara menungggu calling visa saya, dan sudah selesai half way. Saat itu masih ada di Deplu.

Dan ternyata benar, aplikasi saya dikembalikan karena kurang lengkap. Saya diminta melampirkan ijazah. Tapi karena ijazah translated belum ada, si Mbak agent menyarankan pakai ijazah asli saja karena disitu tidak mencantumkan harus translated. Saya pun menyerahkan ijazah asli. Harap-harap cemas keesokan harinya…

Daan.. Sore hari setelah menunggu mas agent yang lagi ngambil visa dari kedutaan sekitar 1 jam, Tadaaaa…!!! Got STAMPED!! Done!

Sum Up of Cost and Time

  1. Medical Check-Up: pendaftaran 200rb + med test 800rb = 1 juta. Lebih baik sore hari jadi tidak perlu antri. Kantor pendaftaran dan klinik tutup sampai jam 5. Ini ada beberapa no telp. kantor Gamca, saya lupa no. mana yang bisa. So, coba aja yah: 021-8295397, 80879463, 28820073, 28820081, 80879458.
  2. Enjaz online: 1.3 juta untuk single entry, 2.4 juta untuk multiple entry. Waktu 1 hari: 15 menit untuk daftar online lalu harus balik ke klinik, kemudian sebisa mungkin kembali lagi ke tempat enjaz online dan menyerahkan semua kelengkapan syarat mengajukan visa agar bisa dimasukkan ke kedutaan esok harinya.
  3. Proses stamping visa hanya 1 hari. Pagi dimasukkan, sore hasilnya sudah bisa diketahui, di approve atau ada kekurangan.

Soo.. sebenarnya mudah kalau kita mau berusaha yaa.. 🙂

I have saved 5.2 mill!! 😀 Eeeh…tapi karena keburu bikin ijazah yang diterjemahkan dan gak kepake hehehe, yaa lumayan.. It costed me 700IDR dengan jasa stamping ke DepHumHam dan Deplu plus Embassy. Ya, waktu itu sekalian oleh penerjemahnya ketika dia menawarkan jasa stamp lengkap (minus Dikti). Saya serahkan pengurusan ijazah ke jasa agent karena saya perlu bagi tugas supaya cepat selesai, meskipun ternyata tidak diperlukan. Tapiiii…There’s no such a waste experienceI’ve learnt my lesson 🙂

Tapi bagi yang akan melanjutkan studi, sepertinya HARUS dilakukan. Berikut link untuk cara legalisir dikti, atau baca link ini juga. Sedangkan untuk legalisir ke DepHumHam dan Deplu, bisa baca di sini dan di sini.

Kesimpulannya, tergantung petugas kedutaannya sepertinya 😛 karena dari yang saya baca di blog, mereka diminta. Bahkan pihak HRD Saudi menyarankan saya mengurus terjemahan itu dahulu sambil menunggu surat keterangan lainnya dalam proses, atau.. pertolongan Allah tiba disaat yang tak disangka-sangka 🙂

Alhamdulillaaaah…:)

Visa

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “#DoItYourself3 Visa Saudi? Siapa Takut…

  1. Robby says:

    Mba, salam kenal. Apakah SKCK tidak diperlukan? karena beberapa pengalaman, katanya SKCK dari kepolisian diperlukan.

    Terima kasih.

    PS : Btw, boleh saya minta email nya Mba?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s