Leaving Your Comfort Zone

Berada lebih dari satu bulan di luar zona nyaman saya di negeri orang, Arab, memberi saya sarat pengalaman. Meskipun beberapa hal telah saya prediksi akan memberi tantangan, tetapi tetap saja mengejutkan bagi emosi dan fisik seorang Indonesia dengan spesies seperti saya ini… 😛

Keluar dari kenyamanan kultur yang telah membesarkan sepanjang hidup itu memberi nilai lain dalam memberi persepsi tentang hidup dan bersosial. Meskipun hidup di Indonesia dengan budaya yang sangat beragam dan beberapa kali berpindah tempat beradaptasi dengan budaya dan lingkungan baru menjadi semacam ‘pemanasan’ untuk beradaptasi dengan perbedaan multikultural yang lebih besar dari berbagai negara.

Semua indera saya harus beradaptasi untuk hal itu:

  • Mata dan Telinga harus terbiasa dengan berbagai macam warna kulit dan bahasa. Meskipun bahasa pengantar dimana-mana adalah Bahasa Inggris tapi penghuni yang ada di tempat saya ini (KAUST) berasal dari berbagai penjuru dunia sehingga aksen yang terdengarpun sangat beragam (yaaa..seperti itu pula ketika mereka mendengar aksen saya hahha) Pemandangan di jalanan yang sepanjang hari sepi sangat kontras dengan pemandangan Jakarta yang teramat padat dan riuh.
  • Mulut, hidung dan perasa harus membiasakan diri dengan makanan barat, India, dan Arab yang merupakan mayoritas makanan yang disajikan di restoran-restoran di wilayah kampus. Sedangkan bahan makanan di supermarket, selain yang berasal dari negara yang saya sebutkan diatas, China dan Korea termasuk yang cukup beruntung beberapa bahan olahan makanan dapat dijumpai di supermarket kampus. Indonesia bagaimana? Kami (ada 2 orang termasuk saya staff pengajar disini, lainnya ada sekitar 10 mahasiswa PhD beserta keluarga yang ada disini) harus ke Al-Balad (saya sendiri belum pernah kesini), semacam Mangga Dua kalau di Jakarta, untuk membeli keperluan bumbu Indonesia. Dan untuk menuju kesana kami harus menggunakan bis kampus yang disediakan beberapa hari dalam seminggu, dengan jarak tempuh 1.5 jam. Selain mulut sebagai perasa, mulut sebagai pengucap kata menyampaikan informasi pun harus beradaptasi dengan menggunakan Bahasa Inggris setiap hari dan setiap saat. Minggu 1-2 saya selalu menonton streaming beberapa TV Indonesia. Otak saya kram rasanya… 😛
  • Kulit harus sering-sering diolesi mentega…alias pelembab agar supaya tidak kering karena sepanjang hari di ruangan berAC dengan temperature 20-23 deg. Sementara diluar ruangan, temperature berada di 37-39 deg.

 

  • Emosional, harus sangat menata apa yang harus kita ungkapkan karena budaya yang sangat beragam. Normatif yang global menjadi pilihan banyak orang meskipun itupun terkadang ada benturan antara barat dan timur. Dan saat itulah kompromi emosi dalam menetralkan benturan menjadi syarat mutlak dengan memberi dosis lebih dari biasanya.
  • Fisik menjadi terbiasakan dengan keaktifan dan adanya fasilitas menjaga stamina fisik.
  • Brain…harus selalu dipacu baik untuk kreatifitas maupun peningkatan pengetahuan dan kemampuan.

Sounds very exhausted and tiring… It does! But somehow I don’t mind.. karena saya menemukan banyak pengalaman. And one most important thing is I feel more of acknowledgement for me as a person and professional…

 

Menyaksikan dan merasakan tenggang rasa, saling tolong menolong, compassion yang menjadi sajian dalam keseharian…small conditioned world yet amazing I must say…

Saya berpikir jika dunia dapat direprentasikan, maka harmonisasi seperti inilah yang seharusnya terjadi…

#SalamRansel(yangmasihteronggokdipojokkamar)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s