Akulturasi Budaya

Hmmm…yaa topik ini tentu saja menjadi topik yang paling dominan ketika kita berbagi cerita berada di lingkungan multikultural.

Menjadi menarik bagi saya untuk bercerita saat mencoba mengambil jarak dan menganalisa -hehehe jadi inget mata kuliah filsafat 😛

Budaya courtesy saat mendapat undangan makan bersama yang diberikan melalui email, saat kegiatan makan, dan paska acara makan-makan sangat berbeda. Ketika di Indonesia saya juga mendapat undangan makan-makan dari teman expat tapi tidak menjumpai courtesy disini, yang sepertinya memang lazim. Apakah ituuu?

Awalnya saya sempat agak bingung juga setelah mengundang beberapa teman untuk makan malam housewarming waktu itu, keesokannya bertemu salah satu teman yang datang di jalan (dia naik sepeda motor dan saya sepeda), dia berhenti dan menyapa dengan segenap hati: “It was a beautiful dinner… Thank you, Rie! I’m sorry… I meant to send you guys email but I just haven’t…”

“It was a beautiful dinner… Thank you, Rie! I’m sorry… I meant to send you guys an email but I just haven’t…”

I was like… email? email apaan?? “Thank you for coming, Dianne… Not a problem.”

Dan besokannya ketemu lagi dengan teman lainnya, kurang lebihnya memberikan respon yang sama, menyesal belum mengirim pesan. Hmmm… mungkin mereka kesirep salad Indonesia aka pecel atau mango and sticky rice Thai, atau springroll buatan Lap dari Filipina. yaa sudah lah :p gagal paham sayanyah…

Lalu datanglah giliran saya menerima undangan makan pagi dari seorang teman, dan kami bertiga -teman serumah- semua menerima undangan. It was a very beautiful breakfast!! Karena teman kami ini suaminya adalah kepala sekolah di SMA, dan yang datang tentu saja bukan hanya kami bertiga. Ada sepasang suami istri teman mereka juga yang belakangan ternyata mempunyai ketertarikan riset ilmiah. Dan kebayang topik kita pagi itu… BERAT! Hahaha… Dari kita ngobrol random and light, vegetarian, animal abuse, sampai topik ilmiah tentang DNA dan data.. Menarik tapi berat untuk menemani makan pagi dan kantung mata masih bengkak! 😀

Baiklah melencengnya dah agak kejauhan…hehehe

Kembali pada courtesy… acara makan terasa formal.. hmmm.. atau karena mereka kebanyakan British yang terbiasa dengan ke-formal-annya (mungkin juga sih… baru sadar sekarang hehehe).

Courtesy setelah undangan ternyata adalah menyampaikan kembali rasa terimakasih melalui apapun medianya…email, text, dll… Nah! sadarnya kapan? Siang berikutnya teman serumah saya saling bertanya, “Has anyone sent email to say thank you?” 

Saya: Hah??! sambil tetap mendengarkan betapa mereka menyesal karena lupa belum mengirim email ucapan terimakasih.

Saya langsung angkat tangan 😀

What, Rie?” sambil ketawa… yah namanya aja anak sekolahan…hahhaha

I don’t know that I have to do that… It’s not in my culture, but doesn’t mean that I don’t appreciate being invited or I don’t like the food.”

Oh..I see. Then what do you usually do?” 

Nothing. I have said it at the house… so we usually said it at that moment and not really expected to do again after. But I’ll email her today..” nyengiiir…

Trus…langsung flashback… Oooh.. makanya dua teman itu kayak merasa bersalah gitu waktu itu.. manggut-manggut.. 😀

I’m Indonesian…so ora po po lah!! Hahahaha

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s