Going Umrah as A Local

Bukan berarti udah pernah umrah pake visa umrah yaaa😜 tapi tau dari cerita orang-orang. πŸ˜‡

Keberuntungan tinggal di Saudi Arabia dan berada beberapa jam, kurang lebih 1,5 jam, dari kampus tempat saya bekerja menjadi tak terkira sebagai seorang Muslim. Kampus menyediakan transportasi menuju Mekkah setiap minggu pada haari Jumat dan Sabtu. Berangkat KAUST – Mekkah pukul 8:00 dan Mekkah – KAUST pukul 17:30, cukup padat untuk melakukan ibadah pada Hari Jumat. Saya dalam dua kesempatan selalu memilih Hari Jumat supaya masih ada satu hari istirahat pada Hari Sabtu dan tidak terlalu capek kembali bekerja pada Hari Minggu.

img_3008

On the way to Mecca

img_2999

Bus kampus mengantar kami sampai di Masjid Aisha. Disini banyak rombongan yang menggunakan bus mengantarkan jamaah disini karena memiliki area parkir yang luas dan memungkinkan untuk parkir dan menunggu. Dari sini, kita bisa menggunakan bus Saptco. Abang penjual tiketnya duduk dekat bus paling depan dari deretan bus yang berjejer. Daaan…yang buat kaget adalah harga karcis bus… 2 Sar!! Saya sampai berulang kali memastikan pada teman saya yang mengangsurkan 4 lembaran 1 riyal, “Two for one?!! So you paid four for both??!” Teman saya mengangguk-angguk sambil senyum. Ini semacam bus Trans Jakarta gitu… tapi sayangnya waktu kami naik, semua kursi sudah terisi dan kami harus berdiri. Waktu muka saya terlihat agak bingung karena banyak yang berdiri, teman saya bertanya: “Haven’t you been standing on the bus, before?” Hehehhe… “More than you can imagine, mate!” πŸ˜› Tapi kemudian ada dua orang gentlemen yang duduk di barisan paling depan mempersilahkan tempat duduknya untuk dua orangtua suami istri dibelakang kami. Si suami mempersilahkan salah satu dari kami, dan saya menyuruh teman saya untuk duduk. I’m impressed that it came from Saudian. Bukan rasis tapi berdasarkan apa yang saya ketahui so far.

Kesempatan lain kami tidak menemukan bus beroperasi, waktu itu saat selepas musim haji. Jadi kami menggunakan ‘taxi’. Kami pikir waktu itu mobil dengan logo taxi yaa seperti taxi umumnya, ternyata it was shared taxi. Maksud hati supaya langsung cuuss.. yaa sudahlah, itu bagian dari perjuangan dan cobaan.. πŸ˜› Ternyata oh ternyata…untuk mendapatkan penumpang jadi PR juga karena yang duduk bersebelahan harus sesama jenis. Analogi di otak saya yang bermain adalah ibarat main tetris..harus sesuai baru bisa fit inAnywaaay… lanjuuut.

Saptco Bus, Mecca


img_2968

In the bus

Naah kalo ada yang udah nonton film ‘A Hologram of The King‘ ini sepertinya sekitaran momen waktu Tom Hanks takut karena ada polisi yang melakukan random check.

Sekitar 15-20 menit kami sampai di Masjidil Haram. Hari Jumat, pukul 10 kami sampai disana dan pintu depan tempat Ka’bah sudah ditutup agar jamaah tidak menumpuk di lantai satu dan kami diarahkan ke lantai 3, yang artinya putaran Thawaf tentu saja menjadi bertambah untuk tiap putarannya. Dinikmati saja… πŸ™‚

img_2971

Kami hanya dapat melakukan 2 putaran Thawaf dan memutuskan untuk mencari tempat untuk menjalankan Shalat Jumat karena jalanan berthawaf mulai menyempit dan berdesakan. It was pretty warm day and people got sweaty. You don’t want to be packed in this case.. πŸ˜›

It is a place for your practice to hold your negative thougths adn reverse to positivity karena balasannya instant!

Setelah mendapat spot untuk shalat -ini lumayan sulit- Alhamdulillah kami menemukan tempat untuk kami berdua. Bukan rasis tapi tipikal etnis tertentu, mereka suka sradak sruduk dan gak sabaran. 😦

Sambil menunggu waktu shalat Jumat kami membaca doa, snacking…, membaca Qur’an, snacking… πŸ˜‰ Pukul 1 Shalat Jumat selesai dan kami meneruskan 5 putaran yang tersisa -tersisa kok 5..hehehe.. separuh lebih jamaah sudah meninggalkan Masjid jadi tiap putaran menjadi lebih cepat karena jalanan lebih lengang.

Pukul 2:30 kami memulai Sa’i, cukup padat tapi tidak berdesakan. Alhamdulillah kaki kanan saya –am crippled– dapat bekerja sama sampai perjalanan terakhir Safa – Marwa. πŸ™‚

Sebelum kembali, kami menyempatkan diri mendekati Ka’bah dan shalat Ashar sebelum mengejar waktu kembali ke Masjid Aisha tempat bus kampus menunggu kami.

img_2980

Tapiiii…kami lapar! Naah lihat gedung yang menjulang dibalik Ka’bah itu? Pukul 3:45 berarti kami punya waktu 45 menit mencapai gedung itu, dimana kami bisa menggunakan toilet –I need to goooo..- dan membeli makanan.. Yep! That building is a Mall, Al-Baraj.


Daan disini seperti juga di Al-Balad, Jeddah, para penjual langsung menyapa saya dengan Bahasa Indonesia yang lumayan fasih! Bahkan di Masjid Aisya banyak signage yang menggunakan Bahasa Indonesia. Seringkali kalau ada yang bertanya, dan tahu saya orang Indonesia, mereka akan memuji “Subhanallaah…sister!” Kalo di Al-Balad langsung saya sambut…”Diskon yak!” 😜hehehe

Anyway.. setelah membeli makanan kami bergegas mencari taxi, real one, tapi harus pakai tawar menawar. Luckily, saya berangkat dengan seorang teman yang beasal dari India, yang sangat membantu karena kebanyakan pengemudi taxi disini adalah orang India. Kali ini dengan tarif 30 Sar, dia mau mengantar kami dengan catatan sebelum pukul 17:30 kami sudah sampai di Masjid Aisha 😜

My Take Away

Life outside of the campus is so different. I can feel Saudi Arabia as what I thought I will see and find. The money value wise, it’s a huge different! Especially when I saw the bus driver collected 2-sar for each time passanger hopped in. Apart of free bus we have, taxi is expensive to go outside of  the campus. Indeed, I have two different ‘world’ to live in.

Still… I am blessed.. πŸ˜‡πŸ™πŸΌπŸ’™

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s