Kepunahan Bahasa Kita Bukan Mustahil Jika…

Hal ini hampir selalu saya singgung sebelumnya diberbagai kesempatan ketika topik yang dibicarakan adalah tentang bahasa dan budaya.

Check this out!

Screen Shot 2015-12-12 at 11.25.45 PM

Dari laman UNESCO mengidentifikasikan ada 10 bahasa di Indonesia yang sudah punah.

Dari temuan di laman UNESCO itu, saya yakin sebenarnya lebih dari yang dinyatakan itu bahasa yang sudah hilang dari tanah air kita. Nah sekarang bayangkan… Jumlah pulau di Indonesia menurut data Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia tahun 2004 adalah sebanyak 17.504 buah. 7.870 di antaranya telah mempunyai nama, sedangkan 9.634 belum memiliki nama. Dan…Dari sekian banyaknya pulau-pulau di Indonesia, yang berpenghuni hanya sekitar 6.000 pulau. Bahasa yang secara ilmiah ditemukan oleh UNESCO sebanyak 143. I’m sure it’s more than that!!

True…that the world’s changing and there’s no way we can stop things to change. Tapi… bayangkan 30-40 tahun ke depan – mungkin saya juga belum tentu menjadi saksi hidup- dimana bahasa yang sekarang kita pakai menjadi sesuatu yang asing bagi generasi pada masa itu.

Seperti sekarang saja, berapa banyak anak usia SMA yang bisa bicara bahasa etnis mereka? Nggak usah bahasa etnis deh… Bahasa Indonesia bagaimana? Saya bicara tentang anak-anak di kota besar.

Beberapa waktu lalu, di tahun lalu, ketika Eyang Putri saya meniggal, adalah momen saya menyadari Bahasa Jawa sebagai bahasa etnis saya, tidak terwarisi dengan baik dan utuh karena saya hanya bisa berbahasa Jawa apa adanya. Padahal Bahasa Jawa itu punya strata yang sudah tidak banyak orang menggunakannya. That’s it! Yang menjadi tantangan generasi sekarang ini dengan semakin melangkanya pemakai bahasa etnis di Indonesia yaa karena semakin melangkanya pemakai bahasa itu.

Lalu dengan berharap bisa belajar dari dunia maya, saya membuat satu page di Facebook untuk belajar Bahasa Jawa Kromo Inggil dari para pendatang laman tersebut. Belum efektif memberi pelajaran, tapi cukup menyenangkan karena adanya atensi dari orang-orang yang ingin belajar Bahasa Jawa Kromo Inggil. Dan saya pun merekrut seorang teman yang piawai dalam berbahasa Kromo Inggil untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pengunjung 😉

Sekitar dua tahun lalu juga saya dengan seorang teman yang punya kegelisahan yang sama tentang bahasa dan budaya berangan-angan membuat satu laman yang memberdayakan anak-anak untuk dapat berbagi tentang budaya mereka ke dunia yang lebih luas. Bahwa dunia maya akan menyimpan -entah punya kadaluarsa sampai kapan- data tentang apapun yang kita unggah menjadi satu kesempatan untuk memakainya sebagai media ‘pewarisan’. Pemberdayaan anak-anak untuk anak-anak, menceritakan budaya dengan bahasa mereka dan dijembatani dengan Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional mengawali ide kawan saya Julie untuk menjadikan laman budaya dan bahsa untuk anak-anak kenyataan. writeourworld.org  menyediakan buku-buku elektronik yang berisi budaya-budaya yang sementara ini masih tentang Amerika bagian Utara, tempat dimana Julie bekerja dengan anak-anak sekolah di daerah sana.

Saya masih dalam proses pembuatan buku elektronik dengan kelas saya juga….Dan jika kamu…atau siapapun yang membaca tulisan ini.. Yuk kita buat paling gak 1 buku sederhana saja, ajak anak-anak disekitar kamu tentang apapun yang ingin mereka bagikan. 🙂

Oya, sementara ide yang tercetus untuk membuat buku elektroniknya memakai aplikasi book author yang sekarang sudah bisa digunakan di PC microsoft selain tablet version.

Wish me luck! 😉

 

http://www.unesco.org/languages-atlas/

http://writeourworld.org/

Advertisements

Pulau Seram yang Ramah

DSCN0689 DSCN0753

Jurnal perjalanan ini sudah basi sebenarnya, ibarat nasi mungkin bukan lagi menjadi bubur tapi sudah berubah bentuk jadi nasi aking atau bahkan rengginang!! Tumpukan tugas kuliah dan kerjaan terlalu galak dan otoriter mengatur kiblat ketikan laptop saya :p

Howeva…I somehow can escape from them for awhile today! So here I am…

Tujuan sharing perjalanan disini bukan semata agar saya gak lupa tempat, pengalaman, kejadian-kejadian dari yang gila serunya sampai yang gila menyedihkannya bahkan gila menyebalkannya, tapi juga ingin meramaikan pilihan bacaan ketika seseorang googling tentang Indonesia. Yes! simply because I love Indonesia!! Loves all its curves and all its edges, all its perfects imperfections! 😉

Nah! tempat berikut ini adalah salah satu ikon kesempurnaan alam Indonesia! Ambon!! The city of music…tagline itu yang kami jumpai tak jauh dari Bandara Pattimura, terpampang besar pada tembok di bahu jalan dibibir pantai yang kami susuri selama kurang lebih 30 menit menuju pusat kota. Beruntung kami tidak menuruti usulan abang-abang ojek di bandara yang bilang, “Tidak jauh itu di jembatan sana, banyak kendaraan ke kota, hanya 1 km saja.” Normally, 1 km memang tidak jauh, tapi siang yang terik dan beban carrier tentu saja membuat usulan tadi jadi terdengar bagai siksaan. :p Kami pun memutuskan untuk menyewa 1 angkot dengan harga 250K (kalau tidak salah, mungkin nanti kalau dibaca sie bendahara akan dikonfirmasi heehehe). 

Anywaaaay…. Jangan nyari nyari referensi expense perjalanan, di blog ini yah..hehehe 

Ambon Manise

Formasi Trip kali ini: belakang ki-ka: TJ dan Andrew, Tengah ki-ka: Dian, Jo dan Vine Depan ki-ka: Dori, Me dan Keket

They are only TWO main points I want to share. First, Ambon adalah kota yang ramah. Friendly in term of hospitality of the people. Ketika kita mencari informasi bagaimana kita ke suatu tempat berdasarkan referensi yang kita baca, orang setempat yang kita tanyai selalu kemudian menunjukkan arah, lalu menyetop angkot yang harus kita naiki dan sekaligus berpesan pada sopir dimana harus menurunkan kami! Kali lain kami bahkan diseberangkan dengan tatapan khawatir kami mengambil arah yang salah… ini mungkin dipengaruhi pajangan tampang-tampang kucel dan tatapan penuh tanya hahahha!! Keramahan warga Ambon gak ada apa-apanya dengan suguhan kekerabatan yang ditawarkan warga Pulau Seram atau tepatnya di Kampung Sawai. Meskipupn namanya ‘seram’ tapi penduduk disana adalah yang teramah yang pernah saya temui. 

Secondly, Makanan disana enak-enak!!! bahkan makanan pinggir jalan (kan bekpekeeer….makannya juga ngemper ;p) yang cumi sebiji bisa sepiring luber and dimakan bedua tetep gak mampu ngabisin! sampe ikan bakar dimasak entah apa…yang pasti ludes dalam sekejap mate!! HAHA..

Thirdly, the view is freakin’ awesome of course!! Simak nih.. cuplikan hasil jepretan-jepretan ane dkk..

Pattimura Airport, Ambon

As we reached Pattimura Airport, Ambon 😀

Perayaan Maulid Nabi Muhammad di Kampung Sawai, Ambon

Pesta Perayaan Maulid NabiMuhammad SAW. Penduduk Kampung Sawai membuat kolak durian. Kampung Sawai adalah penghasil durian bagi Ambon dan sekitarnya. Kami disambut dan diundang untuk menghadiri acara selamatan malam itu. So sweet….

Pada saat kami kesana kebetulan bertepatan dengan musim durian runtuh. Yup! You read it right! Literally! Biasanya kan cuma dengar kata-kata ini dalam kiasan yaaa… Tapi tidak kali ini, ketika kami diberitahu bahwa durian yang mereka ‘panen’ berasal dari hutan, kami tidak mengira cara me’manen’nya adalah denga menunggu buah itu runtuh! Dan bahwa pohon-pohon itu tumbuh liar di hutan dan merupakan milik bersama warga desa IS interesting. Pemilik buah adalah siapapun yang menemukan atau yang sudah terlebih dahulu ‘ngapelin’ pohon duriannya. Kami beberapa kali sempat hampir terkena runtuhan buah berduri itu (nyaris bonyok kepala kita :P) selama kami trekking di hutan.

Peaceful spot - uphill

Berada di atas bukit, menjelang Maghrib. Bercengkrama sambil mendengarkan ceramah dari kampung di bawah kami yang terdengar sayup-sayup.

DSCN0705

Menyusuri muara sungai… Hunting buaya yang lagi bejemur…

DSCN0719

Berkunjung ke pembuatan sagu di tepi sungai. Sooo goooeeey! :p

DSCN0897

Memasuki Hutan konservasi Manusela

DSCN0910 DSCN0920 DSCN0942 DSCN0982

Saat Berpisah

Paling kiri: bersama Bung Fabio, salah seorang guide yang banyak bercerita tentang kultur dan tradisi penduduk Sawai. Seorang kawan di tanah asing yang menjadikan kami saudara setanah air… I..N..D..O..N..E..S..I..A!

ngasoooo

Para Pendekar katanyaaah… ;p Setelah trekking session naik bukit, masuk gua, turun bukit, keluar hutan, lalu berjalan kurang lebih 20km… kayak gitu deh penampakannya!! HAhaha

IMG_8980

No meal time without durian!!! Ha!

IMG_8860

Durian Party timeeee!!! Nom…nom…nom…

Rie-

SAMPAI JUMPA in the next FRAME!!! Hasta La Vista!!

Misteri Waisai – Raja Ampat, Papua

Kata-kata yang berseliweran di kepala saya belakangan adalah melulu tentang berita pemilu dan capres yang membuat saya gagal GOLPUT tahun ini, sampai-sampai gegap gempita euphoria kegiatan nyeret ransel ke Raja Ampat teredam begitu saja.

Hehehehe…

Buat yang cari berita ada apa di ujung Indonesia timur, negeri Papua, berikut kisah kami… Bersiaplah berimaji….

The Meeting Point

Reuni berperiodik dengan kawan-kawan penyeret ransel kali ini bermuara di Bandara Hasanuddin, Makassar, sebagai meeting point kami. Manggul backpack 35++ (+mijit paska trip!), nenteng fin beserta nylempang tas yang lumayan gendut (yaaa… yang ini udah di komen sbg pengungsi di media chatting..), pasrah bakal dicomelin bibir kisruh mereka, saya celingukan sambil menajamkan telinga mencari modulasi medok jowo diantara kerumunan. Dan memang gak susah nyari mereka! 😉

“Hai! Riri…”

“Hai! Syafrina…”

Saya menyalami a new addition in the group sambil takjub ngliat barang bawaannya yang spekta! (pisssss Sya!) heuheuheu. Carrier di punggung, backpack at the front dan snorkel cs ditenteng.

Syafrina dengan setengah paket barang bawaan ;p

Syafrina dengan setengah paket barang bawaan ;p

So kami ber-6: TJ, Didik SuAndrew, Septy, Ikeu, Syafrina and I dengan penuh keharuan karena kita menapaki gate menyongsong…G A R U D A   I N D O N E S I A… menjelang tanah PAPUA! eeeiits..pasti pada ngira kita bakalan naek pesawat jumbo kaaan (lebay yaa),  yaaa sukur-sukur bukan pesawat baling-baling kayak trip wakatobi. Hehehe.. Tapi pesawatnya emang kecil, dengan hanya 4 seater di tiap row, plus langit-langit yang rendah (jadi berasa tinggi gweh!)

 

Off to SORONG!!! And the Magical moments begin!!!!

Entah siapa yang bawa lucky charm, tapi sepanjang perjalanan there’s always a magical moment, dari kacamata saya at least…

Kejadian Ajaib #1

Seorang teman yang tadinya bakal gabung, tiba-tiba cancel dan luckily ada anak CS (Couch Surfing) yang mau join sehingga jumlah kita gak jadi berkurang. Jumlah anggota trip emang penting ketika kita perlu menggunakan transportasi sewa menyewa karena pengaruhnya pada budget sharing… -meskeeeeen..- hahahaha backpackeeer (mesken bangga!)

So..bergabunglah Sara, pelancong Amrik yang berniat backpacking berkelompok di Raja Ampat.

Pasti pada protes… gitu aja dibilang ajaib…

Baiklah! Abaikan kalo getoo.. :p

 

Kejadian Ajaib #1 sebenarnya – Dapat Teman-teman Baru

Sara yang lagi nunggguin kita di stasiun eh bandara (kayak stasiun sih..) di Sorong ngejogrok sendirian, mengundang iba  seorang putera daerah yang belakangan kita tahu bernama Ryan, demi melihat seorang bule cewek ngesot dengan pasti di lantai bandara yang besarnya kira-kira…mmmm 3×3 gajah dewasa dijejerin (yup math gw payah), menghampiri dan menemani. Kemudian bergabung dengan kami.

Nah! Dari sini…story trip kami pun menjadi plus plus penuh kejutan dengan adanya guide sukarela ini.

Oya, waktu kita lagi nunggu barang di conveyer, Ikeu histeris karena ternyata ada teman lama mereka, Okky, yang dengan manisnya melambai-lambai di jendela kaca. Dengan kebaikan hati Okky, kami dapat anteran menuju pelabuhan Sorong, off to WAISAI!!  Nah jadi, selain Sara dan Ryan, ada juga Okky yang rela menutup awal mata pencahariannya aka toko pada hari itu demi menjemput teman-temannya. aaah…so sweet gak sih!

Sorong menuju Waisai

Sorong menuju Waisai

#2 – Got A Nice Place to Stay

Dari Sorong kami naik kapal ferry menuju Waisai, Ibukota dari Raja Ampat. Somehow Didik tidak bisa menghubungi pihak home stay yang akan kami tinggali karena keterbatasan jaringan telepon disana. (Gunakan kartu telkomsel yang kagak ada matinya di Papua. Provider lain mati suri! Wasalam deh!)

Sampai menjelang merapat ke Waisai, kami masih belum tahu bagaimana cara menghubungi pihak penyedia homestay.

“Teman-teman, bokap sebenernya baru buka resort di Waisai. Kalau mau gw tanyain masih ada kamar gak. Bla..bla..bla..” kira-kira kalimat itu yang meluncur kemudian dari mulut Ryan yang duduk di nun ujung barisan kursi. FYI, arrangement sitting kapalnya adalah 3-5-3. Kami mengisi barisan 3-5. Jadi cara berkomunikasi kami adalah pesan berantai karena Ryan berada di ujung seater 5!

Anyway… akhirnya kami pun menyimak, berembug, menimbang dan memutuskan: Hayyuu dah! 😀

Kami pun melenggang dengan elegan menaiki ‘limousine’ yang menjemput membawa kami ke Pandawa Dive Resort, Waisai!!

Yahoooo!!!

Yahoooo!!!

 

Berfoto dengan the owner, Om Yoppi, At Pandawa Dive Resort

Berfoto dengan the owner, Om Yoppi, At Pandawa Dive Resort

Disana kami disambut ramah oleh pemilik resort yang tak lain adalah orangtua Ryan, teman baru kami.

Entah karena saking senangnya bertemu anak mereka yang sudah cukup lama tak bertemu atau kasihan liat tampang-tampang kucel kami, mereka dengan sukarela memberi super discount harga pada kami. Yaaay!!!

Fasilitas RESORT harga HOMESTAY!! Ajib gak tuh!!

550.000 –> 350.000

Kamar ber-AC, hot water and 3x meals –>The BEST DEAL!!

Nice spot

Nice spot

 

At the jetty

At the jetty

#3 – We Found A Family

Teman-teman semua pasti setuju kalo kita ngerasa very much welcomed dari hari pertama tinggal di Pandawa. They are warm-hearted peeps.

Sore itu kita tanpa komando, satu-satu akhirnya berkumpul di jetty, yang memang inviting banget buat ngobrol atau sekedar menikmati horizon dan ikan-ikan yang berlompatan. Ortu Ryan, Om Yoppi dan Tante Lidya pun ikut nimbrung. We had a good time.

Sore itu juga kami dicarikan kapal untuk kami ber-hopping island keesokan harinya. Kami deal dengan harga 7jt menuju 5 spot: Painemo, Teluk Kabui, Arborek, Mansuar dan Pasir Timbul (belakangan kami tahu dari penyedia jasa kapal lain bahwa harga segitu hanya untung tipis, lucky us!)

Off for hopping island

Off for hopping island

Pasir Timbul #superJump

Pasir Timbul #superJump

#4 – Tragedi Gagal Misool Membawa Berkah

Kami memutuskan untuk tidak ke Wayag selain jauh +/- 5-6 jam perjalanan dengan speed boat, juga karena mahal. Info yang kami dapat, cost kapal minimal adalah 18 juta! Yikes!!! Hidup kami disana masih 4 hari kedepan! Kami pun harus puas dengan Wayag kecil aka Painemo, yang memang mempunyai kemiripan view dengan Wayag sebenarnya. Berembug, menimbang dan berhitung….kami memutuskan berangkat keesokan paginya kembali ke Sorong untuk kemudian melanjutkan ke Misool. Kendalanya adalah minimnya info tentang keberangkatan kapal menuju Misool. Setiap orang yang kami jumpai, kalau tidak tahu atau memberikan jawaban beragam. Begitu juga info yang Syafrina (satu-satunya yang bisa tetap eksis dengan gadgetnya. –brought to you by telkomsel) cari via online.

Nekat, kami tetap berangkat ke Sorong. Tante Lidya yang sudah berada di Sorong sehari sebelumnya menjemput kami.. eh! Ryan anaknya ding hehehe.. tapi sekali lagi mendengar planning kami yang belum tahu pasti jadwal kapal ke Misool. Beliau ‘mengawal’ pencarian info untuk kami (salut dengan kecekatan beliau ini! Gak salah kalau ternyata beliau mantan anggota DPRD 🙂 ). Setelah di lempar dari satu kantor ke kantor informasi yang lain untuk membeli tiket….akhirnya kami mendapat info bahwa kapal berangkat ke Misool hanya hari SABTU! Padahal kita hanya sampai hari Jumat saja disana.

Kami galau…nanar saling berpandangan… Where to go?!!

Ke pulau sekitar sini aja. Balik ke Makassar aja. Ke Taka Bonerate aja. Ide-ide berseliweran.

Di tengah panas terik kota Sorong yang menemani kegalauan kami, Tante Lidya menawarkan kesejukan untuk beristirahat di rumah mereka. Disana bisa dibicarakan lagi bagaimana selanjutnya. So blessed! Alhamdulillaaah….

Kelompok kami nyaris semburat. Sara memutuskan berangkat ke Makassar lebih awal dan Syafrina sudah tak kuasa mengikuti dinamika backpacking surprises sehingga memutuskan kembali ke Jakarta, sedangkan kami berencana kembali ke Waisai untuk kemudian menuju pulau lain. Tapi kemudian Papua masih menahan mereka, harga penerbangan melambung tinggi yang membuat Sara mengurungkan niatnya, Syafrina mendapat suntikan dana dari ‘oknum’ di Jakarta dan dia memutuskan untuk stay! 😉

Cerita pun berlanjut dengan perkenalan  kami dengan Pak Heyn, penyedia jasa one day trip ‘jurusan’ Wayag. Kami mendapat penawaran 12 juta dengan bergabung dengan 3 tamunya yang lain. It’s still over our budget.

Setiap orang mempunyai goal tersendiri dalam kegiatan traveling yang dijalani selain tempat yang di tuju. Saya pribadi, I’m open to any possibilities. Banyak hal yang bisa dipelajari, terutama dari yang namanya diawali mis- : misinformation, miscalculation, misunderstanding, misTAKE. Mungkin bukan buat kita secara langsung tapi sebagai bahan pelajaran bagi orang lain. (Ok TUA gw kumat! heehe)

Anyway… kami kembali ke Pandawa Resort! hehehehe padahal udah dadah dadah salam perpisahan 😛

Hikmah hari itu, kami mendapat deal dengan Kak Heyn 7 jt untuk trip ke Wayag keesokan harinya! Dan 650 rb/orang untuk diving di Waiwo! Super!

#5 – Berburu Toilet di Teluk Kabui

 Kami bersiap dari pukul 5 WITA (yang berarti pukul 3 WIB!) karena pukul 6 kami akan dijemput menuju Wayag. Setelah sarapan super dini kami berangkat sekitar 6.30 WITA. Setelah menjemput 3 tamu lain perjalanan masih berjalan lancar. Sampai kemudian adalah suara mendesah tertahan sambil memegangi perut, “Ikeu…gw muleeesss!” Syafrina meringis merengek pada Ikeu (sebagai pemeran Ibu pengganti buat Syafrina selama trip heheehe..). Nah Lo! Ditengah laut pengen poop…Apa kabar????! Lucu..tapi kami tak tega ketawa melihat Syafrina terus meringis dan panik! hehehehe..

Kak Heyn menyuruh sabar, kita merapat ke pulau terdekat di Teluk Kabui.

Toilet traditional: nongkrong langsung PLUNG! :D

Toilet traditional: nongkrong langsung PLUNG! 😀

Karena saya juga kebelet pipis, kami bertiga men’darat’ mencari toilet. Kami pun harus berjuang menaiki tangga rapuh tak beraturan. Ikeu hampir jatuh ketika pijakan anak tangga patah. It was so close! Thank God she was saved.

#6 – Celanamu, Celanaku dan Bikini di Wayag

Angin cukup kencang yang menjadikan gelombang pun tinggi, tapi kami dapat dengan selamat mencapai tujuan: WAYAG! Kami harus mencapai puncak untuk dapat menikmati pemandangan Wayag yang fenomenal. Medan pendakian terjal dengan bebatuan tajam. Dan ditambah kami harus bergegas berlomba dengan waktu agar kami tidak kemalaman di jalan karena ombak yang tinggi akan memperlambat. Syafrina yang merasa tidak yakin mampu dapat sampai ke atas, urung ikut dan memilih berenang sambil menunggu kami. Ikeu berkeyakinan lain bahwa Syafrina pasti bisa! Entah bagaimana… pemandangan selanjutnya adalah urutan ke 2 dari belakang ada sosok Sally Marcellina (hihihi tau kan movie star sexy di pilem Warkop! Pissss Sya!) lengkap dengan bikini berusaha menapaki bebatuan dengan booties-nya!

Climbing Wayag

Climbing Wayag

Ngomongin outfit, 2 teman lain mengalami robek celana yang gak tanggung-tanggung! Breeettttt sesobek-sobeknya: Septy dan

Mas Bayu!

Celana saya?? Amaaaan hehehe

 

Puncak Wayag, kami siibuk berpose mengabadikan perjuangan menuju puncak Wayag!

Puncak Wayag, kami siibuk berpose mengabadikan perjuangan menuju puncak Wayag!

Sally Marcellina oops Syafrina made it!

Sally Marcellina oops Syafrina made it! Bikini booster? 😛

Puncak Wayag! Yay!!

Puncak Wayag! We Made it! Yay!!

#7 – Wayag – Waisai, Ketika Hati Merapat Pada-Nya yang Kuasa

Perjalanan kembali lebih menguras mental dan kepercayaan kami pada yang Kuasa. Kalau Percy Jackson jadi ikut mungkin bisa bantu kami bicara pada Poseidon untuk membiarkan kami lewat dengan damai 😛

Meskipun saya pernah mengalami badai yang lebih buruk tapi kali ini lebih lama, berjam-jam kami dihempas gelombang tinggi dan terhentak dari tempat duduk kami. Angin kencang yang membawa air membuat kami menggigil kedinginan. Septy mengenakan jas hujan, Didik merapat mencari kehangatan. Di sisi lain Ikeu modus merapat pada Mas Bayu (beuuuu), saya bersembunyi dibalik life jacket mengikuti cara TJ dan tak lupa merapat juga, sedangkan Syafrina entah sudah pil antimo yang keberapa dia minum, memilih mojok duduk dibawah…TIDUR! Hahaha (Anak langka inih!!)

 

Para Koboy berani tepos duduk 13 jam pp waisai-wayag, cengar cengir blom kena badai gelombang! :D

Para Koboy berani tepos duduk 13 jam pp waisai-wayag, cengar cengir blom kena badai gelombang! 😀

Terlalu banyak yang terlewatkan untuk saya bagikan disini. My point is it wasn’t a perfect trip as so called failure of situation and things were every where during the trip. Embrace it and we are just fine. 

Quote of The Blog

Quote of The Blog

 

Pesona Raja Ampat di Ujung Timur Nusantara

Alam Papua terutama Raja Ampat sudah mendunia karena keberadaannya yang masih asli dan menakjubkan. Menuju Raja Ampat, pintu masuknya adalah Waisai sebagai ibukota kepulauan Raja Ampat. Dari Sorong dapat ditempuh dengan kapal ferry sekitar 1,5 – 2 jam dengan tarif 130.000 IDR. Dibandingkan dengan ferry yang pernah saya gunakan, ini cukup bersih, semua penumpang duduk berdasarkan no. kursi dan –yang penting- ON TIME! Pukul 14.00 kapal biasanya sudah berangkat, tapi pada hari-hari tertentu ada tambahan keberangkatan pagi pukul 9.00.

Dari Waisai kita bisa langsung menuju home stay yang ada di pulau-pulau disekitarnya atau cukup tinggal di Waisai untuk kemudian menyewa kapal untuk hopping island. Sedangkan kami memutuskan untuk tinggal di salah satu resort di Waisai. Terletak tidak jauh dari pelabuhan Waisai, sekitar 15 menit, Pandawa Dive Resort menawarkan kenyamanan kamar, pelayanan dan tentu saja pemandangan.

 

Pemiliknya, Bapak dan Ibu Yoppi yang kebetulan juga tinggal di area resort sangat ramah dan banyak membantu kami memberi rekomendasi tentang lokasi-lokasi yang harus kami kunjungi dan jasa kapal yang dapat kami sewa.

Painemo – The Little Wayag

Disebut demikian karena memang mengunjungi Painemo kita akan disuguhi pemandangan ‘seperti’ Wayag. Bahkan semacam simulasi sebelum kita benar-benar menempuh Wayag sesungguhnya. Diperlukan sekitar 3-4 jam menembus lautan dari Waisai menuju Painemo. Dilanjutkan dengan menapaki tangga menuju puncak bukit sekitar 15-20 menit. Puncak Painemo sudah dibangun pagar pembatas sehingga aman bagi pengunjung untuk berfoto dengan latar belakang gugusan pulau-pulau hijau yang bertebaran dengan warna gradasi laut nan indah.

Arborek

Waktunya pasang snorkeling gear! Sebagai kepulauan yang berdasarkan penelitian mempunyai 75% dari seluruh spesies karang di dunia. Tidak ada tempat lain di dunia yang mempunyai jumlah spesies karang sebanyak itu dalam 1 lokasi yang terbilang kecil. Dengan banyaknya spesies karang di Kepulauan Raja Ampat, secara otomatis juga terdapat banyak spesies ikan karang. Arborek merupakan salah satu tempatnya.

Pulau Mansuar

Pulau yang berpenduduk kurang lebih 100an kepala keluarga ini tertata rapi. Selepas ber-snorkeling kami yang beruntung ditemani oleh anak pemilik resort yang juga adalah seorang dokter, mengajak kami berkeliling desa tempat ia dulu pernah mengabdikan diri selama 1 tahun sebagai dokter PTT. Menapaki tanah pantai putih, penduduk yang kami lalui tampak ramah ketika kami sapa. Terdapat 2 sekolah, SD dan SMP dan puskesmas sebagai sarana publik. Sayang tak ada satupun dari kami bertiga yang membawa kamera, karena memang kami tidak merencanakan berjalan jauh masuk ke perkampungan warga. Menyenangkan sekali mendengarkan sapaan dan melihat senyum ramah mereka.

Pasir Timbul

Dinamakan Pasir Timbul karena memang seperti itulah penampakannya, bukan berupa pulau tapi berupa hamparan pasir yang muncul di permukaan air. Kami semburat turun dari kapal menikmati hamparan pasir putih dan halus dikelilingi laut lepas biru dan hijau turquoise yang memantulkan refleksi langit cerah dengan gumpalan-gumpalan awan putihnya. Heaven!

Teluk Kabui

Saya menyebutnya labirin laut! Laju kapal diperlambat ketika menelusuri Teluk Kabui karena harus berkelok diantara pulau-pulau kecil namun menjulang tinggi. Ibarat di jalan daratan, kami sedang menggunakan jalan tikus. Lambatnya laju speed boat memberi kami waktu untuk menikmati pemandangan ‘dunia’ lain kami. Seru dan menegangkan terutama ketika kami harus melewatinya lagi saat malam hari tanpa penerangan kecuali sebuah lampu senter kecil yang diarahkan secara manual diujung depan oleh salah satu awak kapal.

Wayag

Wayag ditempuh +/- 5 jam perjalanan speed boat dari Waisai tergantung keadaan ombak. Seperti ketka menuju wayag kecil, disinipun kita harus diuji untuk mencapai puncak bukit sebelum dapat menikmati pemandangan fenomenal hamparan laut biru kehijauan berhias gugusan pulau. Bedanya adalah, kali ini tanpa tangga dengan bukit berbatu kapur yang tajam dan kemiringan bervariasi sampai hampir 90 derajat! Tapi akan sebanding dengan reward yang akan kita jumpai di atas sana! Jika berencana mendaki Wayag, sandal gunung is a must! Saya bahkan lebih memilih memakai sneakers karena dengan begitu lebih aman dari ancaman batu-batu tajam. Hanya memakan waktu 20-30 menit tergantung kesiapan fisik, kita sudah bisa mencapai puncak. Lebih baik lagi kalau dilanjutkan mendaki puncak tambahan, sedikit lebih berbahaya tapi pemandangan yang ditawarkan pun jauh lebih menakjubkan!!

Kendala dan Tantangan

Alam indah permukaan dan bawah laut Raja Ampat, atau dalam hal ini wilayah Pulau Waisai dan sekitarnya, memang tak terbantahkan, dunia mengakuinya. Namun demikian tantangan yang harus dihadapi bagi wisatawan yang hendak berkunjung adalah jauhnya letak antar pulau tujuan wisata. Raja Ampat merupakan empat pulau besar: Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool. Dan untuk mencapai pulau-pulau tersebut ditempuh dari Sorong dengan berbagai jenis kapal; private dan publik. Kendala lain adalah minimnya jadwal kapal keberangkatan menuju Pulau Misool yang saat ini masih hanya 1x seminggu, dan itupun kapal barang, kecuali anda dapat mengupayakan budget minimal 28 juta dengan menggunakan private boat. Harga yang (sangat) mahal di Papua ini dikarenakan bahan bakar minyak disana 3x lipat harga normal yang pada akhirnya semua biaya hidup disana relatif lebih mahal dibanding pulau-pulau lain di Indonesia. Jadi, untuk dapat menjelajahi ke-ampat pulau Raja akan membutuhkan waktu berminggu-minggu dan finance support yang tidak sedikit.

Cuaca, keadaan yang tidak bisa ada dalam kendali kita, menjadi sangat penting ketika kita berada di lautan. Angin besar, gelombang besar tak lagi kenal musim, alhasil kita tidak bisa melakukan kegiatan dalam laut, snorkeling ataupun diving. 

Maka tips dari perjalanan ini adalah: Prepare for the worst, Ready for the BEST!

ENJOY INDONESIA!!

PS: berhubung kendala teknis, gambar belum bisa disertakan.

 

Tracking The History and Culture

As an Indonesian, how many times have you been to Jogjakarta? 1, 2, 3, 4…the count still going on I presume? And how much do you know about the story behind its legacy?

Having a friend who came to know about the culture where I am from and the fact that I have limited knowledge about it, was quite ashamed. 😦 Especially as a Javanese -yes, I am- people might grant me that I would know at least a lot -if not most of- about Javanese culture or in this case Borobudur Temple, one of the world wonders!

However, in other hand, I felt lucky that my visit this time had given me a lot of new experiences, as if it was my first time visiting Jogjakarta. It was a blind who led the blind trip. Hahahaha 😛 After all….Had the trip all succeed, meaning we made what we came for, was very content!

And…Positive mind is contagious! I had a great trip-mate who made things pretty easy when it didn’t turn up as it planned, except of looking for places to eat (poke Angel!). Haahahaha..

bu bu bu but the book said….–> was the gimmick he made about his guidance book from his health minister department every time we about to eat or drink. 😛 He has sort of a guidance book telling the DOs and DON’Ts when visiting Indonesia.

…Back to the trip…

Prambanan Temple

About our victory to conquer the days: We made ourselves to go to Prambanan Temple using public transport. (I know…I know… What’s the big deal?!!) Well.. It was my first time using Trans City (Trans Jogja) 😛 I never had it in Jakarta.

In the stuffy Trans City ;)

In the stuffy Trans City 😉

We made it to Prambanan Temple

YAY!! We made it to Prambanan Temple!

There are 2 prices of the entry costs: IDR 30.000 for local and IDR 171.000 for foreigner. Yaa quite gap! We had 2 students of tourism in training or something who guide us to the temples. I didn’t quite understand what the philosophy or the story of each temple…I left it to my friend, Angel to listen to them 😛

Moi? I tried to take pictures..hehehe.

Good ones?!! Not exactly!! Hhahahaha.. Am so far away of being a photographer! (Damn!)

One of Prambanan Temples

One of Prambanan Temples

Prambanan -Rie Prambanan -Rie DSC_0016

The Goddess, Devi Durga

The Goddess, Devi Durga

Candi Sewu -Rie

Restoration of Sewu Temple. Not far from Prambanan area.

Restoration of Sewu Temple. Not far from Prambanan area.

Borobudur Temple

The next day, we were lucky that we could borrow my cousin’s car to go to Borobudur Temple. It takes about 1,5 hour….NORMALLY… 😛 from where we stayed. And again…for being a risk-taker 😉 we went on our own finding the way to get there. As my mobile signal couldn’t be relied on to go for GPS, we had the traditional way finding the way to Borobudur, Asking the locals 😉

There’s a saying in Indonesian: “Malu bertanya, sesat di jalan” means ‘Shy or hesitate to ask, you’ll be lost’ 😛

With only the words: ‘permisi’ (excuse me) and ‘terima kasih’ (thank you), Angel had made himself as a good navigator asking the directions. Hahahaha… weeelll…with a lil help from me. 😛

The luck was still in our side… We got a very…I mean VERY GOOD guide who told us about Borobudur inside out, literally, philosophically, and historically in somehow 3 languages: Indonesian, Spanish and English, here and there. Stunnning!!

Ow ow ow! bu bu bu butttt… the entry fees not gave us any luck as predicted…it goes in 2 prices: IDR 30.000 for locals and IDR 190.000 for foreigners. Hahahahaa… Got free mineral water (or coffe/tea), air con-ed room, and sarong to skirted on us.

Relief in Borobudur

Relief in Borobudur

The Relief tells story

The Relief tells story

DSC_0101

Borobudur

Borobudur

DSC_0127 DSC_0115

Vietnam Selatan – Ho Chi Minh City

Berbekal panduan dari buku Backpacker, kami berdua (Lenny dan saya) mencoba menelusuri negeri asal prajurit Viet Cong.

Reference Book

Reference Book

Selama 5 hari disana banyak pengalaman menarik yang saya dapatkan. Pengalaman kali ini lebih membawa saya pada dimensi waktu berbeda untuk mengais cerita sejarah dari negeri yang ‘belum’ lama terbebas dari negara lain -Amerika Serikat- Tapi saya tidak akan melakukan pemihakan disini. Selain karena versi yang saya terima adalah hanya dari pihak Vietnam, saya juga tidah cukup pengetahuan untuk melakukan itu. Anyway, inti dari sejarah perang dimana pun itu adalah hanya satu: kedua belah pihak menderita!

Kalau sejarah dan budaya adalah satu dari tujuan perjalanan kamu, Ho Chi Minh City merupakan tempat  yang bisa memberikan banyak cerita tentang masa lalu dengan kultur budaya yang masih dengan mudah kita jumpai disana: baju tradisional, alat transportasi, karya seni, bangunan tua, dll.

TOURS

Hari pertama sesampainya kami di Vietnam, kami hunting tur untuk berkunjung ke tempat-tempat yang direferensikan dalam buku.

Kami pun membeli beberapa tur yang kami sesuaikan dengan berapa lama kami disana.

1. Mekong Delta – My Tho

Tur 1 hari dimulai dari pukul 8.10 sampai pukul 6 sore kembali di Ho Chi Minh City. Kegiatannya dimulai dengan mengunjungi Temple The Laughing Buddha dan dilanjutkan dengan menyusuri sungai Mekong yang meerupakan salah satu sungai terpanjang di dunia. Urutan terpanjangnya yang keberapa jangan ditanya yaaa… Udah lupa! Hehehe… Itu juga tau dari guide kita yang tak henti-hentinya nyeroscos sepanjang perjalanan. 😛 Kita tiba di My Tho mencicipi berbagai jajanan yang semuanya terbuat dari kelapa. Ow dan juga wine coconut… Yup! Dari coconut! Sempat mencicipi dan rasanya seperti esen virgin oil beralkohol! Saya siih kurang suka, pahitnya berasa eeek! Kemudian kita makan siang dan ngaso sebentar dengan pilihan: leyeh-leyeh di hammock atau bersepeda di pesisir pulau. Saya: leyeh-leyeh di hammock ajah! hehehe… Selanjutnya menyusuri pinggiran perkampungan melewati sungai sempit dengan perahu kecil. Sesampainya di ujung pulau kita disuguhi beberapa iris buah tropis: nenas, buah naga, sawo, mangga, dll. Kita juga mengunjungi peternakan lebah. Disana kita mencicipi (karena memang cuma sedikit :P) madu dan bee pollen, berikut berfoto dengan si pembuat madu! 😉

Don't drop it!! Or else...

Don’t drop it!! Or else…

Nah, kalau kamu ingin menikmati pasar terapung dan mencoba bertransaksi, ikutlah paket tur untuk 2 hari. Paket tur yang saya jalani tidak termasuk menikmati sensasi berbelanja sambil doyong-doyong 😛

2. Cu Chi Tunnel

Tur yang ini menyajikan, seperti judulnya, terowongan peninggalan masa perang Vietnam dan berbagai macam senjata dan jebakan yang digunakan ketika masa itu. Sebelum ke Cu Chi Tunnel, kami mengunjungi pabrik pembuatan lukisan dari kulit telur. Yang istimewa adalah para pengrajin atau pembuat lukisan itu adalah penyandang cacat, entah itu korban perang atau cacat bawaan, saya kurang jelas. Dalam tur ini, guide-nya kurang informatif dan pecicilan kemana-mana jadi sulit untuk bertanya lebih lanjut. Waktu yang dibutuhkan setengah hari saja. Pukul 2.30 kami sudah kembali ke kota Ho Chi Minh.

A very narrow tunnel, fit only a man-sized.

A very narrow tunnel, fit only a man-sized.

DSC_0427

3. Monkey Island

CANCELLED –> Due To low water level so we couldn’t cross the river by boat which is the only way (I assumed).

The City

It was very humid. I think the humidity was more than in Jakarta or Tangerang where I live. We visited  some museum in the city:

Some USA aeroplane in Remnants War Museum

Some USA aeroplane in Remnants War Museum

Alat Pancung bagi tahanan perang!

Alat Pancung bagi tahanan perang!

'kandang' untuk menyekap tahanan perang

‘kandang’ untuk menyekap tahanan perang

Ho Chi Minh City Museum

Ho Chi Minh City Museum

Reunification Palace

Reunification Palace

Ben Tanh Market

Untuk destinasi yang terakhir ini, saya pribadi tidak merekomendasikan untuk berbelanja disini kecuali kamu adalah penawar yang handal (I’m NOT :P). Jika tidak, kamu bersiap kecewa aja mendapati kenyataan setelah berbangga karena berhasil membeli barang di Ben Tanh dengan 1/2 harga yang ditawarkan (dengan melancarkan segala trik menawar dari cara sok cuek sampai memelas mengaku tak punya uang) tapi ternyata harga di toko-toko daerah Pham Ngu Lao lebih murah dari harga yang kita beli bahkan sampai 1/2 harga dari yang kita beli. Kebanggaan sebagai pemenang dalam pertempuran harga langsung terjun bebas…TERHINA.. ;(

Hahahaha merasa terbodohi!

The Food

Pho alias mie berkuah dengan asesoris berbagai macam daging sesuai pilihan sebagai pelengkap (beef/chicken/pork) dan beberapa macam dedaunan yang memberi aroma khas. Saya suka sensasi rasa baru yang ditawarkan dari Pho ini. Beda dan segar! Wajib dicoba yaa! Di jalanan banyak dijual sandwich ala Perancis….tapiiii jangan tanya yaaa.. karena saya belum punya nyali mencoba berbagai macam daging yang jadi opsi hehehehe…

Bagi kalian yang tidak boleh makan daging babi -seperti saya- harus rajin-rajin memastikan apakah menu yang kita akan pesan terdapat daging babi atau tidak. Kalau mau gak ribet yaaa tinggal pilih menu vegetarian atau Indian atau Malay. Harga makanan relatif murah dibanding Jakarta.

The People

Penduduk Vietnam umumnya ramah-ramah tapi yang lebih menyenangkan lagi adalah mereka tidak diskrimanatif. Saya SUKA! 😉

Sebagian besar dari mereka tidak dapat berbahasa Inggris tapiii….kalau untuk sekedar memberi informasi arah jalan, jangan khawatir…bahasa tubuh masih mumpuni sampai ke tempat yang kita tuju.

At the end… Saya ada beberapa TIPS kalian ingin berkunjung ke Ho Chi Minh. Ini hanya sekedar berdasarkan pengalaman saja.

– Distric 1 adalah tempat central bagi para turis jadi banyak hotel dan hostel ‘berserakan’ disana dengan harga yang sangat terjangkau. Pun banyak tempat tujuan turis (museum dll) yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki

– Menyeberang jalan: menyebrang jalan disini memerlukan nyali lebih karena kendaraan datang dari segala arah. Meskipun aturannya kendaraan berjalan di sisi kanan, tapi ketika menyeberang, harus tetap awas kanan-kiri DAN keep walking! JAngan membuat gerakan maju mundur karena mereka -pengendara motor- yang akan meliuk-liuk mencari jalan 😛

– Gunakan taksi Vina Sun. Taksi ini menggunakan argo meter (dari yang saya baca ada beberapa taksi yang tidak mau pakai meter) dan mau menerima penumpang meskipun jarak dekat. DAN sudah pasti pasti jauh lebih murah dari pada taksi di negara saya -Indonesia- 😦

– Membandingkan beberapa tour agent untuk tour yang akan kalian pakai akan bijaksana sekali. Beda-beda sedikit kan lumayaaaan (prinsip backpackers:MURAH!) heehehehe

Hmmmmm apalagi yaahh?

Ini yang penting: OPEN MINDED and BE POSITIVE and HAVE FUN!!!!!

SELAMAT ANGKAT RANSEL…!

Kemapanan Tanpa Senyuman atau Senyuman Tanpa Kemapanan??!

Pertanyaan tersebut tak memakan waktu lama menghampiri setibanya saya dan 2 kawan saya di Singapura. Bukan sesuatu yang mengejutkan sebenarnya bahwa kenyataan itulah yang akan menyapa kita di Singapura: Kemapanan tanpa senyuman tapi tetap saja membuat kami ketika itu sangat bersyukur dalam ke-tidakmapan-an negara kita, kita masih menerima banyak senyuman. Dan percaya atau tidak, pilihan kedua lebih menyenangkan (paling tidak buat saya).

It’s been a long time since my last visit to Singapore, 2 years ago. I forgot why it is not become my favorite place to go eventhough it is very near, apart from its high living cost. The only reason I went there was because I wanted to meet my best friends who moved there. We had a great time catching up.

Meeting Shawn, Jummy and Frans at Little India and enjoying some yummy chinese food recommended by Shawn.

Meeting Shawn, Jummy and Frans at Little India and enjoying some yummy chinese food recommended by Shawn.

We met Shruti, one of our very best friends. She is a very sweet friend, rare to find. I hardly (or never) seen her mad at people (well…once…as I remember 😛 ) She always has somehow found a way to speak her mind in a wise way even when she disagrees (yes..loves sharing with her about lot of things). We were glad that finally we made it to meet.

Anwar-Agnes-Shruti-meShared the giggle in our last day at Singapore

Anwar-Agnes-Shruti-me
Shared the giggle in our last day at Singapore

I really glad that I also had spent some time with my other very best friend, Jummy. She and her husband, Frans had been took a lot of time to accompany us. We had a great time. From having wet day, soaking by the the hard windy rain until the tramping around the city. I miss her…… hwaaaaa 😦

What a hairdryer for? Not only to dry hair :P

What a hairdryer for? Not only to dry hair 😛

Mustafa, Little India

Mustafa, Little India

Little India

walk around the city

walk around the city

temple tour

temple tour

Bahkan saking serunya menikmati kultur ornamen dan budaya India yang terpampang nyata…ada yang sampe kebingungan nyari temennya..! 😛

Liat nih muka kebingungan yang sampe gak sadar dipoto di depan mata! Hahahahaha! 😛

Lost in the crowd...! :P

Lost in the crowd…! 😛

We also went to see the man-made garden, The Garden by the bay in Marina Bay. Felt like I was in the set of Avatar movie! Futuristic!

Garden by the bay

Garden by the bay

DSC_0464 DSC_0463

Kemapanan yang indah bukan?! Everyone would agree. Tapi sangat disayangkan….keindahan itu sulit ditemui pada wajah-wajah penduduknya.

Dalam beberapa hal bahkan saya bisa katakan itu sudah mencapai pada lever ‘rude‘ alias kasar! Tadinya kami pikir itu terjadi karena kami berada di wilayah chinatown dan tempat backpacker pula. Tapi ternyata di beberapa tempat lain pun yang seharusnya pelayanannya lebih manusiawi (ala Indonesia yang penuh senyuman) tidak kami dapati.

Sebagai referensi para pembaca yang ingin ber-backpack, kami tidak sarankan tinggal di FERNLOFT yang berada di Chinatown. Entah dengan alasan apa, orang bego pun tau kalo siempunya losmen, Aunty Aini ( seorang perempuan paruh baya), sangat diskriminatif secara rasial. Seperti apa contohnya? Berikut dialog reka adegannya:

Talking to us: Ini breakfastnya yaa (menunjuk meja yang terdapat kopi dan teh sachet berikut roti dan perangkat sederhana lainnya). Kalau sudah selesai jangan lupa dicuci. (semua dengan nada datar)

At the same time, someone turned up from the room. mengucek-ucek mata masih setengah bangun.

TAlking to him: Haaaiiii John… How’s your sleep? (dengan suara mendayu-dayu dan nada penuh cinta)

Okay…lebay a little bit…but you get the picture kaaan!

Reka adegan lain adalah ketika saya makan di salah satu hawker di kitaran Chinatown, saya gak sanggup menghabiskan porsi makan saya yang bejibun.

Cleaner: (ambil piring saya kemudian melihat ke arah saya dengan terang-terangan, kemudian menunjuk sisa makanan saya) !@$$#%$#%$#%%&%&^##@%$^ (in chinese, I don’t understand)

Saya: melongooooo… Am sorry, I don’t speak chinese.

Cleaner: !@$#%$#%$^&%&*%*&^ (sambil nunjuk2 makanan sisa saya)

Anywaaaaay…. begitu menginjakkan kaki di SOETTA, saya merasa kangeeen banget melihat orang disekitar saya saling melempar senyum. Senyum pertama yang saya temui adalah dari Bapak petugas custom, berikutnya dari mbak-mbak penjaga toilet yang menunjukkan arah bagian perempuan.

I’m so glad to be H.O.M.E.

I LOVE  Indonesia..!!