Full-moon Hike

5:30 pm I was ready with my stuffs: abaya – it’s a must outer outfit in Saudi, water, jacket, and light snacks. The driver we hired picked me up on time. After picking up all of us, four of us, we head to Jeddah.

The sky was beautiful and the traffic was fine. We reached at the restaurant at 7:15 for dinner, which meant we had half an hour to eat. I did not eat as I couldn’t wait to eat later and also I already predicted that it would be not much time for eating. I didn’t want to rush my eating, especially in a fine restaurant.. it should be be enjoyed. So, I ate at home.

At 8 pm we reached at the meeting point and headed to the trekking spot.

We thought it will be about 10 or 20 the most. Oh my..! There were about 50 people!

So we got our headlamps and started the trek at 9:30ish. Options was 5K, 8K, and 10K. I did walking and trekking several times for 10K but this type of trekking was my first so we decided to do the middle one.

The path was challenging!! Sandy, which means it also dusty, rocky trek. Even though the moon lit the way but it was hard to walk so I sometimes needed my white light to get the sight of my path.

I was about to give up and took the 5K route when I met the 5K group but Iffat kept me going, so I pushed myself. It was also the trek was flatter so I felt better. The challenge was also from the chill hard wind. My hands and face were sooo cold 🥶!

on the way back down the Jabbal was a real test for my feet. I wore just a running shoes that didn’t help for such a rocky pathway. Not to mention sand got in to my socks. But seeing some runners passed me by lit my spirit to keep going and not thinking about my feet. One of my friends, Jenny, accompanied my pace and the talks worked the distraction 😜

Just before the downhill we managed to meet our other two friends who waited for us. We just lost our way after that, tried to find red lights from others but nothing. So we just follow our guts..thaaat led us to different waaay😅 we walked on a mushy dried swamp!

When we finally saw a crowd from distance we relieved. Yeah, they were shouting to get us going! We’re trying!!😜

It was a night to remember!! 😃😋

Advertisements

My Valentine 💕

I’m so grateful that I still feel the loves from people surround me and am able to give love. ❤️

Love has taught me life in a hard way yet blissful.

Love as a romance

Love as a relationship with family and friends

Love in humanity

Love as a God’s creation

The journey has brought me from ignorance to awareness.

Happy Valentine’s Day!

 

-updated Fri, Feb 15

And my Val decided to be romantic 😋💕

He came for a breakfast together on the weekend (yes, we have Friday and Saturday as our weekend in MiddleEast) and gave me a gift when dropped me off. Glad that I brought out his romantic side in a way while he keeps claiming that he’s not a romantic person. 😜 with the flower and those gifts? Yeah, right.. I’m not complaining.. just saying 💕😋

shukran habibi 🤗

Too Much is Toxic

As the song says Too much love will kill you! It’s an old song, in case you never heard that. 😜

I believe nothing is good if you have too much portion.

No, I will not talk about something heavy. It’s been a tough week as I had quite lacked of sleep due to crickets.

The best record was 2 days ago, I had 2 females and 3 males in my bedroom. Not to mention some in the living room and kitchen. Believe me… the house was like living crickets orchestra.

The insects have been in a road tour for about a month now in the compound but have been longer time outside the town.

I used to loooove how crickets break the stilly nights, brings me to peaceful rest sending me to a tight sleep. But now??! 😭 I found the sound became intimidating! I hope I can have that love of the nature background sound back… Not this moment *sigh 😓

Dialog Pasar Malam

Aku butuh tanganmu, ujarmu
Untuk apa?
Untuk menggenggamku, aku terlampau letih..
Lalu kuberikan keduanya
Dengan ragu…

Tanganku rapuh, ujarku
Mengapa?
Mereka pernah menggenggam terlalu erat
Lalu kau sodorkan tanganmu
Kusambut…ragu

Dan saling menggenggam

berbagi tanpa tujuan

hanya sebatas dialog pasar malam

melewati tiap episode permainan

berbagi tanpa tujuan

-hanya sebatas menikmati pasar malam

 

————————————–PoemPoet——————————-

Misteri Waisai – Raja Ampat, Papua

Kata-kata yang berseliweran di kepala saya belakangan adalah melulu tentang berita pemilu dan capres yang membuat saya gagal GOLPUT tahun ini, sampai-sampai gegap gempita euphoria kegiatan nyeret ransel ke Raja Ampat teredam begitu saja.

Hehehehe…

Buat yang cari berita ada apa di ujung Indonesia timur, negeri Papua, berikut kisah kami… Bersiaplah berimaji….

The Meeting Point

Reuni berperiodik dengan kawan-kawan penyeret ransel kali ini bermuara di Bandara Hasanuddin, Makassar, sebagai meeting point kami. Manggul backpack 35++ (+mijit paska trip!), nenteng fin beserta nylempang tas yang lumayan gendut (yaaa… yang ini udah di komen sbg pengungsi di media chatting..), pasrah bakal dicomelin bibir kisruh mereka, saya celingukan sambil menajamkan telinga mencari modulasi medok jowo diantara kerumunan. Dan memang gak susah nyari mereka! 😉

“Hai! Riri…”

“Hai! Syafrina…”

Saya menyalami a new addition in the group sambil takjub ngliat barang bawaannya yang spekta! (pisssss Sya!) heuheuheu. Carrier di punggung, backpack at the front dan snorkel cs ditenteng.

Syafrina dengan setengah paket barang bawaan ;p

Syafrina dengan setengah paket barang bawaan ;p

So kami ber-6: TJ, Didik SuAndrew, Septy, Ikeu, Syafrina and I dengan penuh keharuan karena kita menapaki gate menyongsong…G A R U D A   I N D O N E S I A… menjelang tanah PAPUA! eeeiits..pasti pada ngira kita bakalan naek pesawat jumbo kaaan (lebay yaa),  yaaa sukur-sukur bukan pesawat baling-baling kayak trip wakatobi. Hehehe.. Tapi pesawatnya emang kecil, dengan hanya 4 seater di tiap row, plus langit-langit yang rendah (jadi berasa tinggi gweh!)

 

Off to SORONG!!! And the Magical moments begin!!!!

Entah siapa yang bawa lucky charm, tapi sepanjang perjalanan there’s always a magical moment, dari kacamata saya at least…

Kejadian Ajaib #1

Seorang teman yang tadinya bakal gabung, tiba-tiba cancel dan luckily ada anak CS (Couch Surfing) yang mau join sehingga jumlah kita gak jadi berkurang. Jumlah anggota trip emang penting ketika kita perlu menggunakan transportasi sewa menyewa karena pengaruhnya pada budget sharing… -meskeeeeen..- hahahaha backpackeeer (mesken bangga!)

So..bergabunglah Sara, pelancong Amrik yang berniat backpacking berkelompok di Raja Ampat.

Pasti pada protes… gitu aja dibilang ajaib…

Baiklah! Abaikan kalo getoo.. :p

 

Kejadian Ajaib #1 sebenarnya – Dapat Teman-teman Baru

Sara yang lagi nunggguin kita di stasiun eh bandara (kayak stasiun sih..) di Sorong ngejogrok sendirian, mengundang iba  seorang putera daerah yang belakangan kita tahu bernama Ryan, demi melihat seorang bule cewek ngesot dengan pasti di lantai bandara yang besarnya kira-kira…mmmm 3×3 gajah dewasa dijejerin (yup math gw payah), menghampiri dan menemani. Kemudian bergabung dengan kami.

Nah! Dari sini…story trip kami pun menjadi plus plus penuh kejutan dengan adanya guide sukarela ini.

Oya, waktu kita lagi nunggu barang di conveyer, Ikeu histeris karena ternyata ada teman lama mereka, Okky, yang dengan manisnya melambai-lambai di jendela kaca. Dengan kebaikan hati Okky, kami dapat anteran menuju pelabuhan Sorong, off to WAISAI!!  Nah jadi, selain Sara dan Ryan, ada juga Okky yang rela menutup awal mata pencahariannya aka toko pada hari itu demi menjemput teman-temannya. aaah…so sweet gak sih!

Sorong menuju Waisai

Sorong menuju Waisai

#2 – Got A Nice Place to Stay

Dari Sorong kami naik kapal ferry menuju Waisai, Ibukota dari Raja Ampat. Somehow Didik tidak bisa menghubungi pihak home stay yang akan kami tinggali karena keterbatasan jaringan telepon disana. (Gunakan kartu telkomsel yang kagak ada matinya di Papua. Provider lain mati suri! Wasalam deh!)

Sampai menjelang merapat ke Waisai, kami masih belum tahu bagaimana cara menghubungi pihak penyedia homestay.

“Teman-teman, bokap sebenernya baru buka resort di Waisai. Kalau mau gw tanyain masih ada kamar gak. Bla..bla..bla..” kira-kira kalimat itu yang meluncur kemudian dari mulut Ryan yang duduk di nun ujung barisan kursi. FYI, arrangement sitting kapalnya adalah 3-5-3. Kami mengisi barisan 3-5. Jadi cara berkomunikasi kami adalah pesan berantai karena Ryan berada di ujung seater 5!

Anyway… akhirnya kami pun menyimak, berembug, menimbang dan memutuskan: Hayyuu dah! 😀

Kami pun melenggang dengan elegan menaiki ‘limousine’ yang menjemput membawa kami ke Pandawa Dive Resort, Waisai!!

Yahoooo!!!

Yahoooo!!!

 

Berfoto dengan the owner, Om Yoppi, At Pandawa Dive Resort

Berfoto dengan the owner, Om Yoppi, At Pandawa Dive Resort

Disana kami disambut ramah oleh pemilik resort yang tak lain adalah orangtua Ryan, teman baru kami.

Entah karena saking senangnya bertemu anak mereka yang sudah cukup lama tak bertemu atau kasihan liat tampang-tampang kucel kami, mereka dengan sukarela memberi super discount harga pada kami. Yaaay!!!

Fasilitas RESORT harga HOMESTAY!! Ajib gak tuh!!

550.000 –> 350.000

Kamar ber-AC, hot water and 3x meals –>The BEST DEAL!!

Nice spot

Nice spot

 

At the jetty

At the jetty

#3 – We Found A Family

Teman-teman semua pasti setuju kalo kita ngerasa very much welcomed dari hari pertama tinggal di Pandawa. They are warm-hearted peeps.

Sore itu kita tanpa komando, satu-satu akhirnya berkumpul di jetty, yang memang inviting banget buat ngobrol atau sekedar menikmati horizon dan ikan-ikan yang berlompatan. Ortu Ryan, Om Yoppi dan Tante Lidya pun ikut nimbrung. We had a good time.

Sore itu juga kami dicarikan kapal untuk kami ber-hopping island keesokan harinya. Kami deal dengan harga 7jt menuju 5 spot: Painemo, Teluk Kabui, Arborek, Mansuar dan Pasir Timbul (belakangan kami tahu dari penyedia jasa kapal lain bahwa harga segitu hanya untung tipis, lucky us!)

Off for hopping island

Off for hopping island

Pasir Timbul #superJump

Pasir Timbul #superJump

#4 – Tragedi Gagal Misool Membawa Berkah

Kami memutuskan untuk tidak ke Wayag selain jauh +/- 5-6 jam perjalanan dengan speed boat, juga karena mahal. Info yang kami dapat, cost kapal minimal adalah 18 juta! Yikes!!! Hidup kami disana masih 4 hari kedepan! Kami pun harus puas dengan Wayag kecil aka Painemo, yang memang mempunyai kemiripan view dengan Wayag sebenarnya. Berembug, menimbang dan berhitung….kami memutuskan berangkat keesokan paginya kembali ke Sorong untuk kemudian melanjutkan ke Misool. Kendalanya adalah minimnya info tentang keberangkatan kapal menuju Misool. Setiap orang yang kami jumpai, kalau tidak tahu atau memberikan jawaban beragam. Begitu juga info yang Syafrina (satu-satunya yang bisa tetap eksis dengan gadgetnya. –brought to you by telkomsel) cari via online.

Nekat, kami tetap berangkat ke Sorong. Tante Lidya yang sudah berada di Sorong sehari sebelumnya menjemput kami.. eh! Ryan anaknya ding hehehe.. tapi sekali lagi mendengar planning kami yang belum tahu pasti jadwal kapal ke Misool. Beliau ‘mengawal’ pencarian info untuk kami (salut dengan kecekatan beliau ini! Gak salah kalau ternyata beliau mantan anggota DPRD 🙂 ). Setelah di lempar dari satu kantor ke kantor informasi yang lain untuk membeli tiket….akhirnya kami mendapat info bahwa kapal berangkat ke Misool hanya hari SABTU! Padahal kita hanya sampai hari Jumat saja disana.

Kami galau…nanar saling berpandangan… Where to go?!!

Ke pulau sekitar sini aja. Balik ke Makassar aja. Ke Taka Bonerate aja. Ide-ide berseliweran.

Di tengah panas terik kota Sorong yang menemani kegalauan kami, Tante Lidya menawarkan kesejukan untuk beristirahat di rumah mereka. Disana bisa dibicarakan lagi bagaimana selanjutnya. So blessed! Alhamdulillaaah….

Kelompok kami nyaris semburat. Sara memutuskan berangkat ke Makassar lebih awal dan Syafrina sudah tak kuasa mengikuti dinamika backpacking surprises sehingga memutuskan kembali ke Jakarta, sedangkan kami berencana kembali ke Waisai untuk kemudian menuju pulau lain. Tapi kemudian Papua masih menahan mereka, harga penerbangan melambung tinggi yang membuat Sara mengurungkan niatnya, Syafrina mendapat suntikan dana dari ‘oknum’ di Jakarta dan dia memutuskan untuk stay! 😉

Cerita pun berlanjut dengan perkenalan  kami dengan Pak Heyn, penyedia jasa one day trip ‘jurusan’ Wayag. Kami mendapat penawaran 12 juta dengan bergabung dengan 3 tamunya yang lain. It’s still over our budget.

Setiap orang mempunyai goal tersendiri dalam kegiatan traveling yang dijalani selain tempat yang di tuju. Saya pribadi, I’m open to any possibilities. Banyak hal yang bisa dipelajari, terutama dari yang namanya diawali mis- : misinformation, miscalculation, misunderstanding, misTAKE. Mungkin bukan buat kita secara langsung tapi sebagai bahan pelajaran bagi orang lain. (Ok TUA gw kumat! heehe)

Anyway… kami kembali ke Pandawa Resort! hehehehe padahal udah dadah dadah salam perpisahan 😛

Hikmah hari itu, kami mendapat deal dengan Kak Heyn 7 jt untuk trip ke Wayag keesokan harinya! Dan 650 rb/orang untuk diving di Waiwo! Super!

#5 – Berburu Toilet di Teluk Kabui

 Kami bersiap dari pukul 5 WITA (yang berarti pukul 3 WIB!) karena pukul 6 kami akan dijemput menuju Wayag. Setelah sarapan super dini kami berangkat sekitar 6.30 WITA. Setelah menjemput 3 tamu lain perjalanan masih berjalan lancar. Sampai kemudian adalah suara mendesah tertahan sambil memegangi perut, “Ikeu…gw muleeesss!” Syafrina meringis merengek pada Ikeu (sebagai pemeran Ibu pengganti buat Syafrina selama trip heheehe..). Nah Lo! Ditengah laut pengen poop…Apa kabar????! Lucu..tapi kami tak tega ketawa melihat Syafrina terus meringis dan panik! hehehehe..

Kak Heyn menyuruh sabar, kita merapat ke pulau terdekat di Teluk Kabui.

Toilet traditional: nongkrong langsung PLUNG! :D

Toilet traditional: nongkrong langsung PLUNG! 😀

Karena saya juga kebelet pipis, kami bertiga men’darat’ mencari toilet. Kami pun harus berjuang menaiki tangga rapuh tak beraturan. Ikeu hampir jatuh ketika pijakan anak tangga patah. It was so close! Thank God she was saved.

#6 – Celanamu, Celanaku dan Bikini di Wayag

Angin cukup kencang yang menjadikan gelombang pun tinggi, tapi kami dapat dengan selamat mencapai tujuan: WAYAG! Kami harus mencapai puncak untuk dapat menikmati pemandangan Wayag yang fenomenal. Medan pendakian terjal dengan bebatuan tajam. Dan ditambah kami harus bergegas berlomba dengan waktu agar kami tidak kemalaman di jalan karena ombak yang tinggi akan memperlambat. Syafrina yang merasa tidak yakin mampu dapat sampai ke atas, urung ikut dan memilih berenang sambil menunggu kami. Ikeu berkeyakinan lain bahwa Syafrina pasti bisa! Entah bagaimana… pemandangan selanjutnya adalah urutan ke 2 dari belakang ada sosok Sally Marcellina (hihihi tau kan movie star sexy di pilem Warkop! Pissss Sya!) lengkap dengan bikini berusaha menapaki bebatuan dengan booties-nya!

Climbing Wayag

Climbing Wayag

Ngomongin outfit, 2 teman lain mengalami robek celana yang gak tanggung-tanggung! Breeettttt sesobek-sobeknya: Septy dan

Mas Bayu!

Celana saya?? Amaaaan hehehe

 

Puncak Wayag, kami siibuk berpose mengabadikan perjuangan menuju puncak Wayag!

Puncak Wayag, kami siibuk berpose mengabadikan perjuangan menuju puncak Wayag!

Sally Marcellina oops Syafrina made it!

Sally Marcellina oops Syafrina made it! Bikini booster? 😛

Puncak Wayag! Yay!!

Puncak Wayag! We Made it! Yay!!

#7 – Wayag – Waisai, Ketika Hati Merapat Pada-Nya yang Kuasa

Perjalanan kembali lebih menguras mental dan kepercayaan kami pada yang Kuasa. Kalau Percy Jackson jadi ikut mungkin bisa bantu kami bicara pada Poseidon untuk membiarkan kami lewat dengan damai 😛

Meskipun saya pernah mengalami badai yang lebih buruk tapi kali ini lebih lama, berjam-jam kami dihempas gelombang tinggi dan terhentak dari tempat duduk kami. Angin kencang yang membawa air membuat kami menggigil kedinginan. Septy mengenakan jas hujan, Didik merapat mencari kehangatan. Di sisi lain Ikeu modus merapat pada Mas Bayu (beuuuu), saya bersembunyi dibalik life jacket mengikuti cara TJ dan tak lupa merapat juga, sedangkan Syafrina entah sudah pil antimo yang keberapa dia minum, memilih mojok duduk dibawah…TIDUR! Hahaha (Anak langka inih!!)

 

Para Koboy berani tepos duduk 13 jam pp waisai-wayag, cengar cengir blom kena badai gelombang! :D

Para Koboy berani tepos duduk 13 jam pp waisai-wayag, cengar cengir blom kena badai gelombang! 😀

Terlalu banyak yang terlewatkan untuk saya bagikan disini. My point is it wasn’t a perfect trip as so called failure of situation and things were every where during the trip. Embrace it and we are just fine. 

Quote of The Blog

Quote of The Blog

 

Pesona Raja Ampat di Ujung Timur Nusantara

Alam Papua terutama Raja Ampat sudah mendunia karena keberadaannya yang masih asli dan menakjubkan. Menuju Raja Ampat, pintu masuknya adalah Waisai sebagai ibukota kepulauan Raja Ampat. Dari Sorong dapat ditempuh dengan kapal ferry sekitar 1,5 – 2 jam dengan tarif 130.000 IDR. Dibandingkan dengan ferry yang pernah saya gunakan, ini cukup bersih, semua penumpang duduk berdasarkan no. kursi dan –yang penting- ON TIME! Pukul 14.00 kapal biasanya sudah berangkat, tapi pada hari-hari tertentu ada tambahan keberangkatan pagi pukul 9.00.

Dari Waisai kita bisa langsung menuju home stay yang ada di pulau-pulau disekitarnya atau cukup tinggal di Waisai untuk kemudian menyewa kapal untuk hopping island. Sedangkan kami memutuskan untuk tinggal di salah satu resort di Waisai. Terletak tidak jauh dari pelabuhan Waisai, sekitar 15 menit, Pandawa Dive Resort menawarkan kenyamanan kamar, pelayanan dan tentu saja pemandangan.

 

Pemiliknya, Bapak dan Ibu Yoppi yang kebetulan juga tinggal di area resort sangat ramah dan banyak membantu kami memberi rekomendasi tentang lokasi-lokasi yang harus kami kunjungi dan jasa kapal yang dapat kami sewa.

Painemo – The Little Wayag

Disebut demikian karena memang mengunjungi Painemo kita akan disuguhi pemandangan ‘seperti’ Wayag. Bahkan semacam simulasi sebelum kita benar-benar menempuh Wayag sesungguhnya. Diperlukan sekitar 3-4 jam menembus lautan dari Waisai menuju Painemo. Dilanjutkan dengan menapaki tangga menuju puncak bukit sekitar 15-20 menit. Puncak Painemo sudah dibangun pagar pembatas sehingga aman bagi pengunjung untuk berfoto dengan latar belakang gugusan pulau-pulau hijau yang bertebaran dengan warna gradasi laut nan indah.

Arborek

Waktunya pasang snorkeling gear! Sebagai kepulauan yang berdasarkan penelitian mempunyai 75% dari seluruh spesies karang di dunia. Tidak ada tempat lain di dunia yang mempunyai jumlah spesies karang sebanyak itu dalam 1 lokasi yang terbilang kecil. Dengan banyaknya spesies karang di Kepulauan Raja Ampat, secara otomatis juga terdapat banyak spesies ikan karang. Arborek merupakan salah satu tempatnya.

Pulau Mansuar

Pulau yang berpenduduk kurang lebih 100an kepala keluarga ini tertata rapi. Selepas ber-snorkeling kami yang beruntung ditemani oleh anak pemilik resort yang juga adalah seorang dokter, mengajak kami berkeliling desa tempat ia dulu pernah mengabdikan diri selama 1 tahun sebagai dokter PTT. Menapaki tanah pantai putih, penduduk yang kami lalui tampak ramah ketika kami sapa. Terdapat 2 sekolah, SD dan SMP dan puskesmas sebagai sarana publik. Sayang tak ada satupun dari kami bertiga yang membawa kamera, karena memang kami tidak merencanakan berjalan jauh masuk ke perkampungan warga. Menyenangkan sekali mendengarkan sapaan dan melihat senyum ramah mereka.

Pasir Timbul

Dinamakan Pasir Timbul karena memang seperti itulah penampakannya, bukan berupa pulau tapi berupa hamparan pasir yang muncul di permukaan air. Kami semburat turun dari kapal menikmati hamparan pasir putih dan halus dikelilingi laut lepas biru dan hijau turquoise yang memantulkan refleksi langit cerah dengan gumpalan-gumpalan awan putihnya. Heaven!

Teluk Kabui

Saya menyebutnya labirin laut! Laju kapal diperlambat ketika menelusuri Teluk Kabui karena harus berkelok diantara pulau-pulau kecil namun menjulang tinggi. Ibarat di jalan daratan, kami sedang menggunakan jalan tikus. Lambatnya laju speed boat memberi kami waktu untuk menikmati pemandangan ‘dunia’ lain kami. Seru dan menegangkan terutama ketika kami harus melewatinya lagi saat malam hari tanpa penerangan kecuali sebuah lampu senter kecil yang diarahkan secara manual diujung depan oleh salah satu awak kapal.

Wayag

Wayag ditempuh +/- 5 jam perjalanan speed boat dari Waisai tergantung keadaan ombak. Seperti ketka menuju wayag kecil, disinipun kita harus diuji untuk mencapai puncak bukit sebelum dapat menikmati pemandangan fenomenal hamparan laut biru kehijauan berhias gugusan pulau. Bedanya adalah, kali ini tanpa tangga dengan bukit berbatu kapur yang tajam dan kemiringan bervariasi sampai hampir 90 derajat! Tapi akan sebanding dengan reward yang akan kita jumpai di atas sana! Jika berencana mendaki Wayag, sandal gunung is a must! Saya bahkan lebih memilih memakai sneakers karena dengan begitu lebih aman dari ancaman batu-batu tajam. Hanya memakan waktu 20-30 menit tergantung kesiapan fisik, kita sudah bisa mencapai puncak. Lebih baik lagi kalau dilanjutkan mendaki puncak tambahan, sedikit lebih berbahaya tapi pemandangan yang ditawarkan pun jauh lebih menakjubkan!!

Kendala dan Tantangan

Alam indah permukaan dan bawah laut Raja Ampat, atau dalam hal ini wilayah Pulau Waisai dan sekitarnya, memang tak terbantahkan, dunia mengakuinya. Namun demikian tantangan yang harus dihadapi bagi wisatawan yang hendak berkunjung adalah jauhnya letak antar pulau tujuan wisata. Raja Ampat merupakan empat pulau besar: Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool. Dan untuk mencapai pulau-pulau tersebut ditempuh dari Sorong dengan berbagai jenis kapal; private dan publik. Kendala lain adalah minimnya jadwal kapal keberangkatan menuju Pulau Misool yang saat ini masih hanya 1x seminggu, dan itupun kapal barang, kecuali anda dapat mengupayakan budget minimal 28 juta dengan menggunakan private boat. Harga yang (sangat) mahal di Papua ini dikarenakan bahan bakar minyak disana 3x lipat harga normal yang pada akhirnya semua biaya hidup disana relatif lebih mahal dibanding pulau-pulau lain di Indonesia. Jadi, untuk dapat menjelajahi ke-ampat pulau Raja akan membutuhkan waktu berminggu-minggu dan finance support yang tidak sedikit.

Cuaca, keadaan yang tidak bisa ada dalam kendali kita, menjadi sangat penting ketika kita berada di lautan. Angin besar, gelombang besar tak lagi kenal musim, alhasil kita tidak bisa melakukan kegiatan dalam laut, snorkeling ataupun diving. 

Maka tips dari perjalanan ini adalah: Prepare for the worst, Ready for the BEST!

ENJOY INDONESIA!!

PS: berhubung kendala teknis, gambar belum bisa disertakan.

 

Still I Rise

In Memoriam of Maya Angelou. She passed away today in her 86. RIP…

One of my fav poems of hers:
Still I Rise

You may write me down in history

With your bitter, twisted lies,

You may trod me in the very dirt

But still, like dust, I’ll rise.

Does my sassiness upset you?

Why are you beset with gloom?

‘Cause I walk like I’ve got oil wells

Pumping in my living room.

Just like moons and like suns,

With the certainty of tides,

Just like hopes springing high,

Still I’ll rise.

Did you want to see me broken?

Bowed head and lowered eyes?

Shoulders falling down like teardrops,

Weakened by my soulful cries?

Does my haughtiness offend you?

Don’t you take it awful hard

‘Cause I laugh like I’ve got gold mines

Diggin’ in my own backyard.

You may shoot me with your words,

You may cut me with your eyes,

You may kill me with your hatefulness,

But still, like air,

I’ll rise.

Does my sexiness upset you?

Does it come as a surprise

That I dance like I’ve got diamonds

At the meeting of my thighs?

Out of the huts of history’s shame

I rise

Up from a past that’s rooted in pain

I rise I’m a black ocean, leaping and wide,

Welling and swelling I bear in the tide.

Leaving behind nights of terror and fear

I rise

Into a daybreak that’s wondrously clear

I rise

Bringing the gifts that my ancestors gave,

I am the dream and the hope of the slave.

I rise

I rise

I rise.

View on Path