Jordan: Highlights of The Country #2

Spring break akan segera berlalu soon! Sebelum kembali bergulat dengan one deadline to another, let’s flashing back to Jordan.

Satu hal yang yang ingin saya rekomendasikan bagi solo traveller adalah bergabung dalam open trip is not bad after all. Terutama kalau ini perjalanan di negara middle east yang menawarkan atraksi tentang sejarah, adanya pemandu yang menerangkan tentang asal-muasal berdirinya negeri sampai sejarah para Nabi. (errr..tapi saya gak bakal bahas sejarahnya disini 😛 baca sendiri di wiki yah! hehehhe)

My Highlights

  1. Petra:
    Pasti daya tarik turis untuk berkunjung ke Jordan adalah salah satunya Petra. Bangunan yang dipahat pada batu raksasa. Terkubur ribuan tahun silam dan ditemukan kembali sebagai bukti kejayaan dan kehidupan masa lampau. Menelusuri cara berpikir, filosofi, dan teknologi yang telah ada pada jaman yang terbayang pun tidak kecuali lewat cerita-cerita komik yang dulu kerap saya baca -ini kalo saya loh yaaa-
    Untuk masuk ke Petra, tiket masuknya cukup mahal. Untuk kunjungan 1 hari, dikenakan biaya 50 JOD atau sekitar 950K IDR. Naah maka itu dengan membeli Jordan Pass sangat mengurangi beban kantong. Dan  beruntung Indonesia termasuk negara yang bisa menggunakan Jordan Pass karena tidak perlu membuat visa sebelum berangkat. Dengan menunjukkan Jordan Pass di custom bandara, kita bisa langsung ngeluyur dan tentu saja menunjukkan alamat yang akan kita tuju di Amman.
    Ok..Petra.. 🙂 begitu memasuki wilayah ini, kita sudah disuguhi dengan banyaknya tomb, semacam gua dari batu yang digunakan untuk mengubur, biasanya berisi satu keluarga. Berdasarkan kompleksitas bagian hiasan atau ukiran menunjukkan keluarga tersebut kaya karena berarti dia membayar seniman untuk memahat ukiran pada tomb tersebut. Semakin masuk ke dalam mulai dengan batu-batu besar yang beberapa terdapat tulisan transkrip dan potongan-potongan relief, juga tampak bekas teknologi pengairan yag digunakan. Tempat-tempat yang menunjukkan tempat persembahan pada berbagai dewa. Bahkan ada tempat untuk menikahkan pasangan.
    Jalan menuju ke dalam kita harus waspada. Saat itu adalah hari bagi sekolah para anak perempuan melakukan filed trip, jadi setiap kali berpapasan dengan gerombolan anak-anak yang kira-kira 30-40an anak dengan 1 guru, kebayang dong riweuhnya! Mereka berlomba menyapa kami, well… lebih tepatnya para teman grup yang selain saya semua berkulit putih dengan rambut blonde dan good looking 😛 beberapa bahkan nekat minta foto bersama hehehe.. Selain itu juga adanya kereta-kereta kuda yang membawa turis-turis yang gak kuat jalan sangat mengganggu karena mereka jalan cukup kencang sementara ada beberapa tempat yang jalanannya menyempit. Yaaa kami harus merapat ke batu kalau mau selamat dan agak terbebas dari bau éék kuda yang ditebar ketika melewati kami! 😛
    Selama 2.5 jam kami bersama pemandu tur yang dengan sangat informatif meneerangkan seluk beluk bentuk pahatan dan artinya, kapan, mengapa, dimana, yang nempel di kepala kira-kira 5-10 menit hehehe… Saya terlalu sibuk takjub dengan benda-benda raksasa di depan saya dan membayangkan kehidupan seperti apa pada masa itu… ITU! What was it like living in that age? Sampai diperbatasan tugas pemandu selesai. Kami diberi pilihan antara melihat Monetary atau Treasury (nama istilah untuk jenis Petra). Kami berpisah dua kelompok. Saya memilih ke Monetary karena trekking berdasarkan peta itu yang lebih pendek, berhubung saya kurang tidur semalam akibat meminum kopi saat makan malam –bad choice– saya merasa kurang fit untuk menambah 2 jam trekking. Kita harus sudah menyelesaikan trekking dan keluar dari area Petra pada jam 5 sore karena area akan ditutup. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 2:30. Kami pun bergegas.
    Meskipun kami menjadi
     dua kelompok, tapi saya terpisah karena saya lebih memilih santai sambil mengambil gambar sepanjang perjalanan naik ke Monetary -sambil mengatur napas juga siiih.. jarak tempuh sekitar 9km tapi karena tanjakan dengan elevasi yang cukup curam dan udara dingin saya kewalahan juga. Hidung rasa tertusuk karena dingin, dan hasilnya mimisan dan tangan membiru -ngasooo… 😛 Oh yaa, yang agak annoying adalah mereka menyewakan keledai untuk membawa turis naik/turun tapiiiii menggunakan trek yang sama dengan kami. Alhasil kalau pas papasan, saya buru-buru merapat atau melipir cari pijakan lain. Bukan kenapa-kenapanya, selain rada takut hehehe…kesian liat mata mereka sedih gitu mukanya -beneran! 😦
    Menurut saya pemandangan menuju naik ke Monetary jauuuh lebih blow my mind than the monetary itself! 


  2. The Dead Sea
    Site ini termasuk yang saya tunggu-tunggu karena saya pengen ngapung! Dan maskeran lumpur seluruh badan 😛 😀
    Nah supaya gak nyesel kayak saya… sebelum pergi inget-inget bawa sepatu yang bisa dpake di air or at least sandals. Kenapa? Karena di pantainya sudah terbentuk kristal garam yang tajam! Meskipun saya wanita berhati kuat, tetep aja telapak kaki gak sekuat hati saya 😛 hehehe… Kalau inget-inget, beruntuuuung saya gak sampe limbung and jatuh, gak kebayang kalau sampai lecet dan kena air laut sana! Sadis perihnya!!
    Air laut pada umumnya mengandung garam sekitar 3.5% sementara air laut mati mengandung garam 32%! The Dead Sea berada di titik terendah di permukaan bumi (400m di bawah permukaan bumi). Jangankan air masuk ke mata, begitu muka saya kena air, evaporasinya bikin perih mata. Dan saya panik! SAKIT! Dan malah kecipratan tambah banyak…:P dan tambah panik karena nginjak ke bawah tajam.. OH nooo! “Heeey are you sinking, Rie? Haahahahha!”  Yaaah…dia kira kita becandaaaa!! Tolongin wooy!
    Anyway… biasa masuk ke Laut Mati 15 JOD termasuk makan siang, Heaven! Saya suka menu makan siang disana! 🙂 Oh ya.. dan biaya ini sudah termasuk di Jordan Pass, so saya tinggal senyum aja.. 😉 untuk masker lumpur kita perlu tambahan 3 JOD dan kita bisa maskeran suka-suka kita! Lumpur ditempatkan di guci besar di pinggiran pantai, lalu kami rame-rame saling bantu maskerin bagian belakang. Saya…muka pun saya maskerin! Gak mau rugi hehehhe.. daripada muka putih-putih garam semua? Iyaa.. begitu kita keluar dari air, puas ngapung-ngapung dan berperih-perih.. badan dan muka kita langsung berkristal, semacam film vampire ganteng ituuh 😛 hahaha
    I had a great time here!
    Sebelum kembali ke Amman, kami singgah ke outlet yang menjual produk-produk dari laut mati dan kerajinan khas Jordan, tempat oleh-oleh lah kalau di Indonesia. Tapi yaaa gitu, very pricey! :p
  3. Wadi Rum
    Jeep Safari…!! Disini tempatnya! Melewati padang sahara dengan batu-batuan dan gunung raksasa di kanan-kiri… Semacam Grand Canyon di Amerika kata teman-teman saya. Yaa saya masih kategori rookie dibanding hasil jelajah mereka-mereka ini. Satu pasangan sudah hampir setahun traveling, satu pasangan lainnya yang sudah senior bahkan sudah hampir 3 tahun traveling, iyaaa 3 tahun! Saya…? Saya cari pasangan dulu yang mau diajak traveling and stranded… 🙂 😛
    Di Wadi Rum kami menginap di tenda-tenda yang sudah jadi. Bentuk tenda kami seperti tempat tinggal para penduduk lokal Wadi Rum.
    Guess what?! Disini kami mendapatkan jaringan internet! Kami sampai di area camping menjelang Maghrib. Bersih-bersih sepatu yang berpasir, juga muka dan rambut kami yang berpasir karena angin sangat kencang saat mendaki beberapa bukit, segera dibasuh di tenda masing-masing. Iyaaa…di dalam tenda ada kamar mandinyaaaa… 🙂 Camping ala ala memang hehehehe…
    Sebelum makan malam kami ditunjukkan cara memasak traditional suku mereka, yaitu makanan dimasukkkan dalam panci lalu dikubur di lubang yang sudah disediakan, lalu membakar bagian atasnya. Kalau di Indonesia seperti cara suku Papua memasak, hanya kalau di Papua, bukan dikubur tapi di timbun dengan batu lalu rumput dan kayu, lalu bakar. 🙂 It was beauiful dishes!! Sweet lamb and vegetables. Of course with Hummus! 🙂
    Selepas makan malam kami duduk-duduk dekat perapian. Tiba-tiba di tengah altar dua laki-laki mengambil posisi sejajar dan musik bergema… Oh My…They’re starting to dance! Folks dance!  

    Dan kami, kelompok kami semua ikut berdansa mengikuti gerak kaki, tangan..berputar, berteriak… Laughing!!! Down Jacket yang saya kenakan pun saya buka karena malam dingin menjadi hangat. 🙂
    O
    n the Jeep Safari


    Taking out our dinner from the hole under the ground

    Penampakan di dalam tenda

    P
    enampakan luar tenda

  4. The Food
    Makluba: Perkenalan dengan menu ini adalah ketika saya memilih untuk mengkuti acara makan malam dengan keluarga lokal di Petra. Costed me 15 JOD to have this attraction. Cara memasak yang unik dengan bumbu rempah, disajikan dalam nampan besar kami duduk di lantai bersama menikmati. Hmmph… Yumm!! Semacam nasi kuning dengan terong, kentang dan ayam dimasak bersamaan.
    Mansaff: Menu ini kami santap di restoran Jerusalem tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Nasi kuning gurih disajikan dengan pilihan lamb or chicken, saya memilih dengan lamb, dan dimakan dengan yoghurt lebih cair dari yoghurt kebanyakan. Agak aneh yaa…tapi..ENAK! 🙂 Saya suka!
    Falafel dan Hummus: dua nama ini sejoli. Biasanya kami makan untuk sarapan dengan roti. Saya sudah mengenal makanan ini di Saudi karena cukup terkenal dan lazim. But still… I like it! 🙂

  5. The History of Humankind
    Menyusur peradaban masa lampau sejarah perkembangan manusia sangat menarik! Jangan tanya saya tentang detail tahun dan nama-nama :p It’s iin the air and hard to catch hahahha… my brain can’t cope with overwhelming information. Tapi..ketika koneksi terkait dengan latarbelakang prior knowledge kita, menjadi make sense. Semisal ketika pemandu bercerita tentang sejarah Suni dan Syi’ah. Saya pernah baca tentang ini, jadi pada saat mengikuuti ‘pelajaran’ pemandu saya rajin mendengarkan. Dan ketika sejarah Ottoman dan masa-masa lainnya tiba-tiba mata rasanya beraaaat banget hahaha… Lesson learnt, find bit of the background history before you go visit a historical place. hehehe… Still interesting to know but it was overwhelming.. 😛

Advertisements

Jordan – The Old City #1


Kesempatan keluar dari KSA kali ini saya membulatkan tekad untuk tidak mengenakan abaya. 😜 Pertimbangannya adalah selain saya melihat beberapa orang tidak mengenakan abaya di airport, juga dengan pertimbangan saya harus membawa carrier yang bakalannya ribet kalau saya mengenakan abaya. So, wearing pants and jacket instead…and it was all good. 😊

Expect The Unexpected 

Dalam perjalanan menuju airport saya baru sadar kalau saya belum melakukan online cek in. Ini sangat mmpersingkat waktu, apalagi dengan antrian bersama jamaah yang ibadah bakalannya lama. But it Solved-Done!

Berikutnya Exchanged currency… Nah ini yang bikin kaget! Udah ngintip siih nilai tukar mata uang JOD, tapiiii tetep nyesek juga 😅😜 Ya sudahlah… Menukar 300 JOD plus ‘membuang’ sisa Dirham dari perjalanan sebelumnya ke UAE. 120 dirham = 22 JOD itu sekitar 400rb-an IDR. I knooow… ksian ya rupiah kita. 

Kelalaian berikutnya adalah lupa arrange pick-up transfer dari airport ke hotel di Amman.😑 Buru-buru ngemail TravelTalk dan berharap it will be solved. It was Sunday, so my chance was tiny along with my situation. 😜 Anyway.. I just gave a go with it.

First time flew with Royal Jordania hmm… on board dengan penumpang orang Jordan. Punteen…mo minjem istilah Tukul.. Katro dan keras kepala para ibu-ibu dan nenek-nenek ini bener-bener.. Dari pas saya naik bus menuju pesawat tiba-tiba passport saya diambil gitu aja dari tangan saya oleh nenek yang duduk depan saya -saya berdiri di depan nenek ini- I was like.. What the…! Saya langsung ambil lagi sambil pasang muka gak suka., dan nenek itu nyengir-nyengir sambil ngomong bahasa alien. Teman di sebelahnya nyodok marahin tuh nenek. 

Ke-katro-an berikutnya di pesawat, seat saya ditempati ibu-ibu. Dan waktu saya tunjukkan tiket saya kalau dia duduk di tempat saya, dia bilang ke stewardess nya kalo dia pengen duduk dekat jendela dan saya suruh di tengah aja -dari gesture tangannya kira2 seperti itu maksud dia- Etdah! Situ baeek…! 😝 Tapi sebelum saya komentar, mbak stewardess dengan nada tegas meminta tuh ibu pindah. Dan dia pindah. Selesai…? Nooot quite yet!😜 Begitu saya mau duduk..eeeh doi megang kaki saya or kaos kaki saya! 🙄🙄 Excuse me, what are you doing?! Si ibu nyengir sambil dadah2, kira2 bilang ‘gak papa2’ 

Guess what.. gak lama dia ke belakang,entah kemana dan penumpang depan tenyata seharusnya duduk disamping saya.. so, she’s not supposed to be there at all. 😝

Dapatlah saya ibu-ibu yang lain disamping saya. Kejutan berikutnya… karena saya kurang suka makanan yang disajikan, saya cuma nyomot sedikit dessert nya, too sweet. Haddeh… tuh ibu poking bahu saya sambil nunjuk cake dessert saya. Saya ngangguk dan dia langsung abisin, saya tawarkan makanan lainnya…ya kali dia lapeer.. ternyata yang dilirik dessert doang 😜 yalla!

Dua jam 40 menit, tiba di Amman Jordan! Sepiii… bersih mirip terminal khusus Garuda yang di cengkareng. Entrance nya mirip tapi masih kerenan yang di Jakarta. 😉 Anywaygood that I bought Jordan Pass. I really recommend this pass coz it saves a lot as your visa will be waived if you stayed more than 3 days, which you would most likely stay more than 3 days in Jordan. All was good until I have to look for anyone who picked me up. Dan ternyata memang gak ada yang jemput! 🙄 Setelah coba hubungi hotel dan mereka gak terima arrangement karena last minute, dengan mengucap bismillah…meluncurlah dengan taxi bandara  costed 20 JOD.. 

Meet and greet dengan grup dan intruksi perjalanan dari tour leader, dinner together… and we called it a day 😊


-Sambil nunggu flight- Amman 1:47 April 1st, 2017

Going Umrah as A Local

Bukan berarti udah pernah umrah pake visa umrah yaaa😜 tapi tau dari cerita orang-orang. 😇

Keberuntungan tinggal di Saudi Arabia dan berada beberapa jam, kurang lebih 1,5 jam, dari kampus tempat saya bekerja menjadi tak terkira sebagai seorang Muslim. Kampus menyediakan transportasi menuju Mekkah setiap minggu pada haari Jumat dan Sabtu. Berangkat KAUST – Mekkah pukul 8:00 dan Mekkah – KAUST pukul 17:30, cukup padat untuk melakukan ibadah pada Hari Jumat. Saya dalam dua kesempatan selalu memilih Hari Jumat supaya masih ada satu hari istirahat pada Hari Sabtu dan tidak terlalu capek kembali bekerja pada Hari Minggu.

img_3008

On the way to Mecca

img_2999

Bus kampus mengantar kami sampai di Masjid Aisha. Disini banyak rombongan yang menggunakan bus mengantarkan jamaah disini karena memiliki area parkir yang luas dan memungkinkan untuk parkir dan menunggu. Dari sini, kita bisa menggunakan bus Saptco. Abang penjual tiketnya duduk dekat bus paling depan dari deretan bus yang berjejer. Daaan…yang buat kaget adalah harga karcis bus… 2 Sar!! Saya sampai berulang kali memastikan pada teman saya yang mengangsurkan 4 lembaran 1 riyal, “Two for one?!! So you paid four for both??!” Teman saya mengangguk-angguk sambil senyum. Ini semacam bus Trans Jakarta gitu… tapi sayangnya waktu kami naik, semua kursi sudah terisi dan kami harus berdiri. Waktu muka saya terlihat agak bingung karena banyak yang berdiri, teman saya bertanya: “Haven’t you been standing on the bus, before?” Hehehhe… “More than you can imagine, mate!” 😛 Tapi kemudian ada dua orang gentlemen yang duduk di barisan paling depan mempersilahkan tempat duduknya untuk dua orangtua suami istri dibelakang kami. Si suami mempersilahkan salah satu dari kami, dan saya menyuruh teman saya untuk duduk. I’m impressed that it came from Saudian. Bukan rasis tapi berdasarkan apa yang saya ketahui so far.

Kesempatan lain kami tidak menemukan bus beroperasi, waktu itu saat selepas musim haji. Jadi kami menggunakan ‘taxi’. Kami pikir waktu itu mobil dengan logo taxi yaa seperti taxi umumnya, ternyata it was shared taxi. Maksud hati supaya langsung cuuss.. yaa sudahlah, itu bagian dari perjuangan dan cobaan.. 😛 Ternyata oh ternyata…untuk mendapatkan penumpang jadi PR juga karena yang duduk bersebelahan harus sesama jenis. Analogi di otak saya yang bermain adalah ibarat main tetris..harus sesuai baru bisa fit inAnywaaay… lanjuuut.

Saptco Bus, Mecca


img_2968

In the bus

Naah kalo ada yang udah nonton film ‘A Hologram of The King‘ ini sepertinya sekitaran momen waktu Tom Hanks takut karena ada polisi yang melakukan random check.

Sekitar 15-20 menit kami sampai di Masjidil Haram. Hari Jumat, pukul 10 kami sampai disana dan pintu depan tempat Ka’bah sudah ditutup agar jamaah tidak menumpuk di lantai satu dan kami diarahkan ke lantai 3, yang artinya putaran Thawaf tentu saja menjadi bertambah untuk tiap putarannya. Dinikmati saja… 🙂

img_2971

Kami hanya dapat melakukan 2 putaran Thawaf dan memutuskan untuk mencari tempat untuk menjalankan Shalat Jumat karena jalanan berthawaf mulai menyempit dan berdesakan. It was pretty warm day and people got sweaty. You don’t want to be packed in this case.. 😛

It is a place for your practice to hold your negative thougths adn reverse to positivity karena balasannya instant!

Setelah mendapat spot untuk shalat -ini lumayan sulit- Alhamdulillah kami menemukan tempat untuk kami berdua. Bukan rasis tapi tipikal etnis tertentu, mereka suka sradak sruduk dan gak sabaran. 😦

Sambil menunggu waktu shalat Jumat kami membaca doa, snacking…, membaca Qur’an, snacking… 😉 Pukul 1 Shalat Jumat selesai dan kami meneruskan 5 putaran yang tersisa -tersisa kok 5..hehehe.. separuh lebih jamaah sudah meninggalkan Masjid jadi tiap putaran menjadi lebih cepat karena jalanan lebih lengang.

Pukul 2:30 kami memulai Sa’i, cukup padat tapi tidak berdesakan. Alhamdulillah kaki kanan saya –am crippled– dapat bekerja sama sampai perjalanan terakhir Safa – Marwa. 🙂

Sebelum kembali, kami menyempatkan diri mendekati Ka’bah dan shalat Ashar sebelum mengejar waktu kembali ke Masjid Aisha tempat bus kampus menunggu kami.

img_2980

Tapiiii…kami lapar! Naah lihat gedung yang menjulang dibalik Ka’bah itu? Pukul 3:45 berarti kami punya waktu 45 menit mencapai gedung itu, dimana kami bisa menggunakan toilet –I need to goooo..- dan membeli makanan.. Yep! That building is a Mall, Al-Baraj.


Daan disini seperti juga di Al-Balad, Jeddah, para penjual langsung menyapa saya dengan Bahasa Indonesia yang lumayan fasih! Bahkan di Masjid Aisya banyak signage yang menggunakan Bahasa Indonesia. Seringkali kalau ada yang bertanya, dan tahu saya orang Indonesia, mereka akan memuji “Subhanallaah…sister!” Kalo di Al-Balad langsung saya sambut…”Diskon yak!” 😜hehehe

Anyway.. setelah membeli makanan kami bergegas mencari taxi, real one, tapi harus pakai tawar menawar. Luckily, saya berangkat dengan seorang teman yang beasal dari India, yang sangat membantu karena kebanyakan pengemudi taxi disini adalah orang India. Kali ini dengan tarif 30 Sar, dia mau mengantar kami dengan catatan sebelum pukul 17:30 kami sudah sampai di Masjid Aisha 😜

My Take Away

Life outside of the campus is so different. I can feel Saudi Arabia as what I thought I will see and find. The money value wise, it’s a huge different! Especially when I saw the bus driver collected 2-sar for each time passanger hopped in. Apart of free bus we have, taxi is expensive to go outside of  the campus. Indeed, I have two different ‘world’ to live in.

Still… I am blessed.. 😇🙏🏼💙

#DoItYourself3 Visa Saudi? Siapa Takut…

Hehehe… Sebenarnya saya sih yang takut..

Meskipun perjalanan untuk sampai pada tahap: ‘Congratulation! Please find our official offer attached’ cukup melelahkan mental…but it’s worth it the effort.

…dan setelah itu mulailah memasuki battle selanjutnya… Obtaining VISA! Jeng..jeng!

Setelah cukup lama melakukan research mengumpulkan data melalui unca google, menelusuri pengalaman-pengalaman para pendahulu yang melakukannya sendiri dan juga mereka yang menggunakan jasa agen. Kenyataan yang terlukis membuat saya maju mundur hendak menjalani permohonan visa sendiri. Kenyataan bahwa Saudi identik dengan TKI buruh dan birokrasi yang harus dilalui kurang bersahabat, membuat alternatif menggunakan jasa menjadi opsi pertama saya.

Tapiii… setelah saya mencari info biaya untuk membuat semua persyaratan yang harus dipenuhi sampai menuju ‘pintu’ kedutaan jumlahnya amazing…7.5 juta! Dengan break down: Ijasah (translated plus legalisir lengkap: kampus, dikti, humham, dan deplu) 2jt, cek medis 1.8jt, Enjaz online dan stamp kedutaan 3.7jt. Total of 7.5 mill!! Saya pikir gila! Apa ini makanya biaya naik haji mahal di Indonesia? Padahal setelah saya cari tahu, harga membuat visa single entry ‘hanya’ 1.3jt!!

Dan..saya pun membulatkan tekad to test my limit on this! 🙂 And you guys can do it, too!

Baiklah! Untuk mengajukan visa kerja kita harus melakukan hal yang diatas tersebut, benar! Tapiii… Subhanallah.. Allah Maha Baik! Saya mendapat banyak kemudahan. SO.. be positive.. 🙂

#1 Medical Check Up

Pertama kamu harus daftar dulu ke kantor GAMCA (Gulf Approved Medical centers Association) yaitu asosiasi yang menangani tes kesehatan bagi ekspat yang akan masuk ke wilayah negara-negara Arab. Kamu perlu menyiapkan: fotokopi paspor dan uang pendaftaran sebesar 200rb.

Alamat GAMCA: Jl. Kalibata Raya (lampu merah jambul) Gedung Binawan jakarta. Terletak di Gedung Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan, masuk dari Lobby 2. Kantor ada di lantai 2.

Waktu itu saya berencana daftar saja karena biasanya birokrasi kan lamaaa.. dan saya membayangkan akan mengantri lama. Karena saya tidak mau bolos kerja, saya ijin setelah saya selesai mengajar. Pukul 3 saya sudah sampai di kantor GAMCA dan beruntung tidak ada antrian sama sekali. Saya langsung masuk di bagian pendaftaran. Menyerahkan fotokopi paspor, foto, ambil sidik jari, menyebutkan negara tujuan, lalu membayar uang pendaftaran 200rb, dan… surat pengantar untuk medical check up pun dikeluarkan. 10 mins, done! 🙂 Dan mbak-mbaknya ramah kok… Gak seperti yang digambarkan blog-blog yang saya baca. Alhamdulillaaah…. 🙂

Dan ternyata mbak bagian pendaftaran itu menyarankan saya langsung medical test karena katanya hanya sebentar kok. Hmm.. saya pun meluncur mengikuti anjuran mbak bag pendaftaran ke Azzahra Medical Centredi jalan Dewi Sartika. Oya.. kantor GAMCA ini meskipun tugas yang diemban terdengar sangat penting, tapi kantornya ini, maaf, lebih mirip kayak tempat pendaftaran puskesmas. Too bad…

Ditemani aplikasi Waze yang setia mengantar saya kemanapun di seantero Jakarta Raya dan 99% tepat, saya sampai di Azzahra pukul 4 pm. Tempatnya dari luar tampak seperti rumah dengan palang Azzahra Medical Centre yang agak menjorok ke dalam sehingga saya harus bertanya pada toko fotokopi yang berada 2 rumah sebelumnya karena Om Waze sudah berkode: You’ve reached your destination tapi tak ada tanda-tanda ada klinik 😛

Sampai di dalam saya langsung menyerahkan surat rujukan dari kantor pendaftaran, menyerahkan fotokopi paspor, foto 4×6  berwarna, dan membayar 800rb. Setekah menunggu selama 5 menit, saya dipanggil untuk foto dan sidik jari. Lalu saya diminta ke lantai dua untuk mulai menjalani tes kesehatan.

Nah yang bagian ini rada kacau nih! Saya akan diambil darah dari lipatan lengan seperti biasa kalau kita diambil darah. Normal…. Tapi setelah saya meletakkan lengan saya di meja penyangga, eeh..si Mbak pengambil darah (hehehe pemberian nama sesuai tugas ya..) dengan jarum terhunus udah langsung mau jleb aja..! Saya langsung tutup bagian yang akan ditusuk. “Mbak, kok lengan saya gak di strap dulu?” saya langsung tegang. Dengan enteng si Mbak pengambil darah menimpali, “Gak usah, Mbak…Bisa kok biasanya. Tar kalo gak bisa, baru pake strap..”

“Ini serius, Mbak? Saya gak dipakein itu dulu?” tanya saya sambil menunjuk strap biru disamping saya. Si Mbak mengangguk dengan muka datar.

Hari itu saya bertekad untuk menjadi orang paling sabar… Bismillaah…Ammitabha… Saya pun pasrah. Dalam hati berdoa semoga manusia berjilbab di depan saya yang sedang ngulik-ngulik jarum nyedot darah saya ini diberi hidayah, tambahan hati… karena hatinya udah mati separo! 😦 Alhamdulillah gak sakit sih… 🙂 “Gak pernah cek darah ya, Mbak?” “Sering..” more than you can imagine dalam hati saya. I hate needle!

Selanjutnya menampung urin alias pipis. Lancar ini mah… 🙂

Berikutya, tes fisik! “Masuk, Mbak. Tasnya di taro. Telanjang di sana.”

I was like… Hah??!! Ternyata saya bertemu orang lain yang perlu mendapat hidayah karenan yang ini hatinya udah hambar, mati. Saya kembali membulatkan tekad…Create my own weather…I’m not influenced by her. Don’t be reactive. “Selamat sore..Baik dok.. Di sini?” (Yes she’s a doctor, judged by her jacket.) Saya tersenyum, dengan pesan: anda tidak bisa mengintimidasi saya!

Dan tes fisik ini pun seperti dagelan formalitas saja. Di mulai dari bagian dada, perut, kaki, mulut, telinga yang cuma dilongok-longok. Lalu menimbang badan, tinggi, dan selesai! Pakai baju. Sambil berlalu ke wastafel untuk cuci tangan, si dokter bertanya, “Tinggi badannya berapa? kacamatanya minus berapa?”

Again…What the..??!! Jadi tadi ngapain aja Bu Dokteeer….? (Whatever lah…)

Yang terakhir ke ruang X-Ray. Di sini petugasnya bukan Mbak-Mbak tapi Mas-Mas.. very simple and easy. Ganti baju khusus untuk X-Ray, berdiri di alat X-Ray. 1 min, done! Just as you normally do.. 🙂

4:30 pm selesai! Fee: 1 mill total

Keesokan harinya sudah selesai dan hasilnya FIT. Hanya karena saya pakai kacamata, saya harus menyertakan offer letter alias kontrak kerja saya bahwa perusahaan yang hire saya sudah mengetahui ‘impairement‘ saya and that they are fine with it.

#2 Enjaz Online

Next step, hasil fitness dari medical dikirim ke Saudi untuk mengeluarkan surat permohonan aplikasi visa (dalam bahasa Arab).

Setelah mendapat surat permohonan aplikasi visa atau istilah agent enjaz adalah calling visaNah istilah ini bisa bikin bingung kalau kita tidak familiar dengan istilah-istilah yang mereka pakai. Anyway, setelah itu print dan bawa calling visa dan hasil medical dari klinik ke kantor agent yang melakukan enjaz online, bernama BIJAC (benar, pakai ‘C’ bukan K).

Kantor Bijac terletak di Wisma Kodel di Rasuna Said No.4, di Lt.1.

No. telp 021-215222291  email: bijac_bijac@yahoo.com

Enjaz online adalah peng-input-an secara online hasil tes medis yang kita lakukan. This one took about 15 minutes. Peng-input-an ini berarti kita melakukan aplikaksi visa, yang berarti waktunya kita membayar. Fee: 1.3 jt untuk single entry.

Setelah keluar hasil input, saya harus menyerahkan kembali ke klinik tempat saya tes medis, yang berarti saya harus ke Dewi Sartika lagi untuk meminta hasil medis lengkap  yang sebenarnya (yang sebelumnya hanya sementara).

Petugas bagian pembuatan surat di klinik Azzahra sangat baik dan membantu dengan sabar menjawab semua pertanyaan saya kenapa birokrasi pembuatan yang sudah berjudul online tapi segitu ribetnya, apalagi dengan jarak dan macetnya Jakarta yang tiada tara. Ya sudahlah… Saya bersyukur para petugas yang saya jumpai ramah, jadi efek kemacetan Jakarta menjadi mereda karena urusan semuanya lancar dan cepat. Hanya sekitar 15 menit buat mas petugas mempersiapkan surat kesehatan saya.

Meluncuuuur kembali ke daerah Kuningan….! Whoooot….

#3 Aplikasi Visa 

Menyerahkan:

  • paspor asli
  • hasil cek medis asli
  • aplikasi visa
  • kontrak kerja (printed)
  • fotokopi Ijazah + yang asli

persyaratan yang terakhir, yaitu ijazah, tadinya tidak diminta oleh si Mbak agent-nya tapi saya bilang menurut agent yang tidak jadi saya pakai jasanya, saya harus melampirkan ijazah yang diterjemahkan dan dilegalisasi di beberapa departemen pemerintahan dan kampus saya. Saya sudah melakukan prosedur itu sementara menungggu calling visa saya, dan sudah selesai half way. Saat itu masih ada di Deplu.

Dan ternyata benar, aplikasi saya dikembalikan karena kurang lengkap. Saya diminta melampirkan ijazah. Tapi karena ijazah translated belum ada, si Mbak agent menyarankan pakai ijazah asli saja karena disitu tidak mencantumkan harus translated. Saya pun menyerahkan ijazah asli. Harap-harap cemas keesokan harinya…

Daan.. Sore hari setelah menunggu mas agent yang lagi ngambil visa dari kedutaan sekitar 1 jam, Tadaaaa…!!! Got STAMPED!! Done!

Sum Up of Cost and Time

  1. Medical Check-Up: pendaftaran 200rb + med test 800rb = 1 juta. Lebih baik sore hari jadi tidak perlu antri. Kantor pendaftaran dan klinik tutup sampai jam 5. Ini ada beberapa no telp. kantor Gamca, saya lupa no. mana yang bisa. So, coba aja yah: 021-8295397, 80879463, 28820073, 28820081, 80879458.
  2. Enjaz online: 1.3 juta untuk single entry, 2.4 juta untuk multiple entry. Waktu 1 hari: 15 menit untuk daftar online lalu harus balik ke klinik, kemudian sebisa mungkin kembali lagi ke tempat enjaz online dan menyerahkan semua kelengkapan syarat mengajukan visa agar bisa dimasukkan ke kedutaan esok harinya.
  3. Proses stamping visa hanya 1 hari. Pagi dimasukkan, sore hasilnya sudah bisa diketahui, di approve atau ada kekurangan.

Soo.. sebenarnya mudah kalau kita mau berusaha yaa.. 🙂

I have saved 5.2 mill!! 😀 Eeeh…tapi karena keburu bikin ijazah yang diterjemahkan dan gak kepake hehehe, yaa lumayan.. It costed me 700IDR dengan jasa stamping ke DepHumHam dan Deplu plus Embassy. Ya, waktu itu sekalian oleh penerjemahnya ketika dia menawarkan jasa stamp lengkap (minus Dikti). Saya serahkan pengurusan ijazah ke jasa agent karena saya perlu bagi tugas supaya cepat selesai, meskipun ternyata tidak diperlukan. Tapiiii…There’s no such a waste experienceI’ve learnt my lesson 🙂

Tapi bagi yang akan melanjutkan studi, sepertinya HARUS dilakukan. Berikut link untuk cara legalisir dikti, atau baca link ini juga. Sedangkan untuk legalisir ke DepHumHam dan Deplu, bisa baca di sini dan di sini.

Kesimpulannya, tergantung petugas kedutaannya sepertinya 😛 karena dari yang saya baca di blog, mereka diminta. Bahkan pihak HRD Saudi menyarankan saya mengurus terjemahan itu dahulu sambil menunggu surat keterangan lainnya dalam proses, atau.. pertolongan Allah tiba disaat yang tak disangka-sangka 🙂

Alhamdulillaaaah…:)

Visa

 

 

 

‘Til Death Do Us Apart

….sounds like a wed vow… but not this one..

Recently… seems like life gave me a recall of the END of it. My former teacher in HS had passed away suffering from cancer. I read a book of which in it contained of something that worth to think about: What do you want to be remembered when you’re gone, dead, vanished, done with your business in this world. *sigh…

You see, when you happened to be in fortunate and you witnessed people in your opposite state and then you heard other would say… Thank God, we are okay. I know what they meant was to be grateful of what they’ve got, but to me it sounds mean to be grateful of being fortunate at the moment of seeing unfortunate things right before your eyes. Dunno…deep..deep down inside I don’t feel like such a comment is ethically said it out loud over such condition.

Anyway…I was saying… every second of our lives had passed… For what??!

As today, visiting a house for children suffering for cancer even for just 4 hours with them, seeing their conditions, talking….playing…sharing… A conscious hit me! I know…it sounds cliché, but I guess if you were at my place you would’ve being in what so called a cliché moment.

A conscious, not of being grateful of being as healthy I am now, but rather  how dare I complained of things I faced while it had nothing to do with death, with time that will be stopping you for not being able to continue what you wish for your life! How dare I complained!! I felt ashamed…

I talked to a child, a 14-year-old girl, who suffers for leukaemia for 8 years and been in the care house more than half of her lifetime. She full of smiles when I asked “do you go to school?” She said it lightly that she had some teachers there and studied together with other children. She said she also did exam like others in normal school, only her time wasn’t limited as others did because she had to go back and forth for treatment in the hospital. All I could do was just hugged her tight and asked her to hang in there…. God loves an angel like you. 

‘Til Death Do Us Apart…. until then..which we don’t know when…as

The Mystery of WHEN..

So you’ve passed many sunsets with ease

as Time had let you..

You scolded things you don’t like ‘coz you think you have tomorrow to act differently

You chose to ignore apologies

to hold apologises ‘coz you think you would wait until later

as Time allowed you..

BUT

Time has its mystery of WHEN…

to STOP you 

to SHUT you

to CLOSE your chapter

to END you

why..? simply just because!

No cancer to warn you

No heart attack to alert you

JUST BECAUSE!

….So when the Time really fetch you…and do us apart.. How do you want to be remembered? How do I want to be remembered?

#DemiMasa #Al-Asr

In Memorial to My Dearest Grandma

My grandma from my mother side.. She passed away last week on Friday, 19th Sept 2014. I got the news on Saturday when I woke early in the morning getting ready for my class. Shocked but was anticipated that her time would come. She’d been sick for very long time as she got old. I didn’t have time to mourn as time wouldn’t stop for me for  just letting me contemplate and ‘seeing’ my granny in my ‘head’ before it becomes blur and gone. Until late at night when time allowed me to slow down and took me back years and years back then. Mbah Uti was a kind-hearted yet strong woman. So much to tell from the short time I had with her in my childhood. We moved far away from the town she lived that made it hard to visit. When I missed her I would find a radio channel that aired in Javanese. That would bring me back the memory being at my grandparents’ house. I felt like I can smell the air in the village, her voice talking to neighbor. Most of the time, I would left behind and stay longer in my grandparents’ house while my family went back home. I never got enough to be around my grandma. Until then we’re all grew up and had our own, so called, life. I am busy making my own life colors that my visits become once a year or even once in 2-3 years. However, she always waited with patience every time we told her we would visit her. She would then give her smile, hugs and kisses and started with reminding me how I always didn’t want my grandma to go back to her house every time she visited us when we were kids. Yes! that was like thousand years ago but it so sweet that she remembered me that way. -sobbing She would be ready with her special dish to welcome us, duck dishes, her specialty! I LOVE it…aaah I miss it.. I remember she would sit in her verandah waited for us and would spread her hands widely with sparkly eyes and big and sweet smile when we came… back then. She would talk to me using Javanese kromo inggil  just so I could speak the language. I tried to reply her as I could even though then she laughed and waved her hand to the air telling me that I said it wrong. She would give me a hug and taught me as far as I could go, but most of the time I would give up and whining asked her to speak in Indonesian instead. It is now becoming my goal that I will take seriously to learn kromo inggil that makes part of her stays with me. Rest in Peace Mbah Uti… Matur sembah nuwun sampun maringi the best of your life for us…

Mbah Uti with her smile :x

Mbah Uti with her smile, lots of love…