Creating A Path of Your Happiness

This is my first time writing a post with straight away came up with a title. 🙂

I came home today with a very low energy and feel that negativity thoughts are surrounded me after a very long day, and that really worn me out. Problems are stacked up, tasks are piled up, many big rocks so Covey said. I know that to put first thing first won’t be choosing writing a blog as my right choice but the balancing of my well-being needing me to do so.

As my payback for bouncing a negative energy telling those lines above, I will share some positive awareness about our being. -Gosh! I sound like a Yogi 😛  but Yes…I do love listening to Yogis or such talk.

Nothing in this world as coincidence… and as that is believed, you can pull all mosaics in your life and try to connect and take the lessons.

Alright… enough with the random thoughts… 😛

The ‘coincidence’ was I bumped into my earlier post that was liked by a reader and brought me back to it . It’s not really giving me the answer for my problems but she, Lizzy, somehow struck me to the point, reminding me again: I will again quote Covey for this… “You create your own weather”.  Yaa..yaa.. you know the term but what is that exactly feel like? How do you know that you really in control for your own ‘weather’? IGNORANCE? So I found this video connecting to the next ‘coincidence’.

Happiness is in your mind… Yeah we heard a lot about it… state of mind.. Reflecting on her talk, I think what I did was more of ignorance.. Her analog for ‘mind’ as like a balloon in the air that will be easily blown here and there, and that the air is the situation, circumstances surround us. Opinions people say about us, how do we look, how do we talk, how do work, how do we act as we are, what do we eat, what do we bla and bla and bla.. will blow our mind away. When we say I don’t care what they say, but even a tiny glint of negativity remain in our mind will crave away our happiness. I love the way Abria Joseph gave the insight of how removing the negativity in our mind. Watch this!

Also if you want to continue on to finding out about this, you might find this video interesting, too. A Yogi talked about consciousness.

I find myself the benefits of meditating and echoing my positive affirmations, things I didn’t practice lately 😩 There is a saying: “When You Want Something, All the Universe will Conspire in Helping You to Achieve It.” Well…It’s not just a saying.

Have a GOOD Day..!! 🙂 coz I am and I will..!

Advertisements

Animal Abused – What Can WE do??!

Those issues of animal trafficking and poaching, I’m sure it’s not new to anyone who read this, me neither. I know it’s wrong…and that people are doing it because of economic reasons and greediness of course. But I never researched for information about it until a month ago when I was mentoring some 5 graders for their exhibition purposes.

It was a learning journey for myself too, finding out about what PEOPLE/HUMANs have done to the animals they trafficked. And during the Exhibition Day, apart from the thrilled feeling and proud of my students how much they articulated their learnings, I also felt so sad finding more facts about how PEOPLE abuse the animals…and I still do feel sad about it as today a relative shared her son’s new pet, which in my opinion would have been better for it to be let in its own habitat in the wild.  

Theen… it came to my intention to share some facts, which again I am SURE most all of us have already known, but let just have a look as a reminder before we decide to act toward animals…

 Humans: "Oooh..it's soo cute!" image taken from inilah.com

And to be able to give such a show…the monkey had to get through this 

Also check out this page for other protected primate, named slow loris. It’s so cute yet they re now endangered for it’s being poached for its venom or simply having it as a pet.

And many other animals had suffered from HUMANs greediness, namely parrots, kakatua, etc….to be trafficked or poached. Man has power, YES! Power to destroy and power to stop!

Having known the supply and demand theory, there won’t be supplies when there’s no demand, we all can STOP this by simply NOT buying animals that are not domestic animals as a pet and NOT watching monkey show -if there are still any on the street. 

Let’s share the PLANET in harmony…

NO DEMAND – NO SUPPLY! 🙂 

Pulau Seram yang Ramah

DSCN0689 DSCN0753

Jurnal perjalanan ini sudah basi sebenarnya, ibarat nasi mungkin bukan lagi menjadi bubur tapi sudah berubah bentuk jadi nasi aking atau bahkan rengginang!! Tumpukan tugas kuliah dan kerjaan terlalu galak dan otoriter mengatur kiblat ketikan laptop saya :p

Howeva…I somehow can escape from them for awhile today! So here I am…

Tujuan sharing perjalanan disini bukan semata agar saya gak lupa tempat, pengalaman, kejadian-kejadian dari yang gila serunya sampai yang gila menyedihkannya bahkan gila menyebalkannya, tapi juga ingin meramaikan pilihan bacaan ketika seseorang googling tentang Indonesia. Yes! simply because I love Indonesia!! Loves all its curves and all its edges, all its perfects imperfections! 😉

Nah! tempat berikut ini adalah salah satu ikon kesempurnaan alam Indonesia! Ambon!! The city of music…tagline itu yang kami jumpai tak jauh dari Bandara Pattimura, terpampang besar pada tembok di bahu jalan dibibir pantai yang kami susuri selama kurang lebih 30 menit menuju pusat kota. Beruntung kami tidak menuruti usulan abang-abang ojek di bandara yang bilang, “Tidak jauh itu di jembatan sana, banyak kendaraan ke kota, hanya 1 km saja.” Normally, 1 km memang tidak jauh, tapi siang yang terik dan beban carrier tentu saja membuat usulan tadi jadi terdengar bagai siksaan. :p Kami pun memutuskan untuk menyewa 1 angkot dengan harga 250K (kalau tidak salah, mungkin nanti kalau dibaca sie bendahara akan dikonfirmasi heehehe). 

Anywaaaay…. Jangan nyari nyari referensi expense perjalanan, di blog ini yah..hehehe 

Ambon Manise

Formasi Trip kali ini: belakang ki-ka: TJ dan Andrew, Tengah ki-ka: Dian, Jo dan Vine Depan ki-ka: Dori, Me dan Keket

They are only TWO main points I want to share. First, Ambon adalah kota yang ramah. Friendly in term of hospitality of the people. Ketika kita mencari informasi bagaimana kita ke suatu tempat berdasarkan referensi yang kita baca, orang setempat yang kita tanyai selalu kemudian menunjukkan arah, lalu menyetop angkot yang harus kita naiki dan sekaligus berpesan pada sopir dimana harus menurunkan kami! Kali lain kami bahkan diseberangkan dengan tatapan khawatir kami mengambil arah yang salah… ini mungkin dipengaruhi pajangan tampang-tampang kucel dan tatapan penuh tanya hahahha!! Keramahan warga Ambon gak ada apa-apanya dengan suguhan kekerabatan yang ditawarkan warga Pulau Seram atau tepatnya di Kampung Sawai. Meskipupn namanya ‘seram’ tapi penduduk disana adalah yang teramah yang pernah saya temui. 

Secondly, Makanan disana enak-enak!!! bahkan makanan pinggir jalan (kan bekpekeeer….makannya juga ngemper ;p) yang cumi sebiji bisa sepiring luber and dimakan bedua tetep gak mampu ngabisin! sampe ikan bakar dimasak entah apa…yang pasti ludes dalam sekejap mate!! HAHA..

Thirdly, the view is freakin’ awesome of course!! Simak nih.. cuplikan hasil jepretan-jepretan ane dkk..

Pattimura Airport, Ambon

As we reached Pattimura Airport, Ambon 😀

Perayaan Maulid Nabi Muhammad di Kampung Sawai, Ambon

Pesta Perayaan Maulid NabiMuhammad SAW. Penduduk Kampung Sawai membuat kolak durian. Kampung Sawai adalah penghasil durian bagi Ambon dan sekitarnya. Kami disambut dan diundang untuk menghadiri acara selamatan malam itu. So sweet….

Pada saat kami kesana kebetulan bertepatan dengan musim durian runtuh. Yup! You read it right! Literally! Biasanya kan cuma dengar kata-kata ini dalam kiasan yaaa… Tapi tidak kali ini, ketika kami diberitahu bahwa durian yang mereka ‘panen’ berasal dari hutan, kami tidak mengira cara me’manen’nya adalah denga menunggu buah itu runtuh! Dan bahwa pohon-pohon itu tumbuh liar di hutan dan merupakan milik bersama warga desa IS interesting. Pemilik buah adalah siapapun yang menemukan atau yang sudah terlebih dahulu ‘ngapelin’ pohon duriannya. Kami beberapa kali sempat hampir terkena runtuhan buah berduri itu (nyaris bonyok kepala kita :P) selama kami trekking di hutan.

Peaceful spot - uphill

Berada di atas bukit, menjelang Maghrib. Bercengkrama sambil mendengarkan ceramah dari kampung di bawah kami yang terdengar sayup-sayup.

DSCN0705

Menyusuri muara sungai… Hunting buaya yang lagi bejemur…

DSCN0719

Berkunjung ke pembuatan sagu di tepi sungai. Sooo goooeeey! :p

DSCN0897

Memasuki Hutan konservasi Manusela

DSCN0910 DSCN0920 DSCN0942 DSCN0982

Saat Berpisah

Paling kiri: bersama Bung Fabio, salah seorang guide yang banyak bercerita tentang kultur dan tradisi penduduk Sawai. Seorang kawan di tanah asing yang menjadikan kami saudara setanah air… I..N..D..O..N..E..S..I..A!

ngasoooo

Para Pendekar katanyaaah… ;p Setelah trekking session naik bukit, masuk gua, turun bukit, keluar hutan, lalu berjalan kurang lebih 20km… kayak gitu deh penampakannya!! HAhaha

IMG_8980

No meal time without durian!!! Ha!

IMG_8860

Durian Party timeeee!!! Nom…nom…nom…

Rie-

SAMPAI JUMPA in the next FRAME!!! Hasta La Vista!!

Pesona Raja Ampat di Ujung Timur Nusantara

Alam Papua terutama Raja Ampat sudah mendunia karena keberadaannya yang masih asli dan menakjubkan. Menuju Raja Ampat, pintu masuknya adalah Waisai sebagai ibukota kepulauan Raja Ampat. Dari Sorong dapat ditempuh dengan kapal ferry sekitar 1,5 – 2 jam dengan tarif 130.000 IDR. Dibandingkan dengan ferry yang pernah saya gunakan, ini cukup bersih, semua penumpang duduk berdasarkan no. kursi dan –yang penting- ON TIME! Pukul 14.00 kapal biasanya sudah berangkat, tapi pada hari-hari tertentu ada tambahan keberangkatan pagi pukul 9.00.

Dari Waisai kita bisa langsung menuju home stay yang ada di pulau-pulau disekitarnya atau cukup tinggal di Waisai untuk kemudian menyewa kapal untuk hopping island. Sedangkan kami memutuskan untuk tinggal di salah satu resort di Waisai. Terletak tidak jauh dari pelabuhan Waisai, sekitar 15 menit, Pandawa Dive Resort menawarkan kenyamanan kamar, pelayanan dan tentu saja pemandangan.

 

Pemiliknya, Bapak dan Ibu Yoppi yang kebetulan juga tinggal di area resort sangat ramah dan banyak membantu kami memberi rekomendasi tentang lokasi-lokasi yang harus kami kunjungi dan jasa kapal yang dapat kami sewa.

Painemo – The Little Wayag

Disebut demikian karena memang mengunjungi Painemo kita akan disuguhi pemandangan ‘seperti’ Wayag. Bahkan semacam simulasi sebelum kita benar-benar menempuh Wayag sesungguhnya. Diperlukan sekitar 3-4 jam menembus lautan dari Waisai menuju Painemo. Dilanjutkan dengan menapaki tangga menuju puncak bukit sekitar 15-20 menit. Puncak Painemo sudah dibangun pagar pembatas sehingga aman bagi pengunjung untuk berfoto dengan latar belakang gugusan pulau-pulau hijau yang bertebaran dengan warna gradasi laut nan indah.

Arborek

Waktunya pasang snorkeling gear! Sebagai kepulauan yang berdasarkan penelitian mempunyai 75% dari seluruh spesies karang di dunia. Tidak ada tempat lain di dunia yang mempunyai jumlah spesies karang sebanyak itu dalam 1 lokasi yang terbilang kecil. Dengan banyaknya spesies karang di Kepulauan Raja Ampat, secara otomatis juga terdapat banyak spesies ikan karang. Arborek merupakan salah satu tempatnya.

Pulau Mansuar

Pulau yang berpenduduk kurang lebih 100an kepala keluarga ini tertata rapi. Selepas ber-snorkeling kami yang beruntung ditemani oleh anak pemilik resort yang juga adalah seorang dokter, mengajak kami berkeliling desa tempat ia dulu pernah mengabdikan diri selama 1 tahun sebagai dokter PTT. Menapaki tanah pantai putih, penduduk yang kami lalui tampak ramah ketika kami sapa. Terdapat 2 sekolah, SD dan SMP dan puskesmas sebagai sarana publik. Sayang tak ada satupun dari kami bertiga yang membawa kamera, karena memang kami tidak merencanakan berjalan jauh masuk ke perkampungan warga. Menyenangkan sekali mendengarkan sapaan dan melihat senyum ramah mereka.

Pasir Timbul

Dinamakan Pasir Timbul karena memang seperti itulah penampakannya, bukan berupa pulau tapi berupa hamparan pasir yang muncul di permukaan air. Kami semburat turun dari kapal menikmati hamparan pasir putih dan halus dikelilingi laut lepas biru dan hijau turquoise yang memantulkan refleksi langit cerah dengan gumpalan-gumpalan awan putihnya. Heaven!

Teluk Kabui

Saya menyebutnya labirin laut! Laju kapal diperlambat ketika menelusuri Teluk Kabui karena harus berkelok diantara pulau-pulau kecil namun menjulang tinggi. Ibarat di jalan daratan, kami sedang menggunakan jalan tikus. Lambatnya laju speed boat memberi kami waktu untuk menikmati pemandangan ‘dunia’ lain kami. Seru dan menegangkan terutama ketika kami harus melewatinya lagi saat malam hari tanpa penerangan kecuali sebuah lampu senter kecil yang diarahkan secara manual diujung depan oleh salah satu awak kapal.

Wayag

Wayag ditempuh +/- 5 jam perjalanan speed boat dari Waisai tergantung keadaan ombak. Seperti ketka menuju wayag kecil, disinipun kita harus diuji untuk mencapai puncak bukit sebelum dapat menikmati pemandangan fenomenal hamparan laut biru kehijauan berhias gugusan pulau. Bedanya adalah, kali ini tanpa tangga dengan bukit berbatu kapur yang tajam dan kemiringan bervariasi sampai hampir 90 derajat! Tapi akan sebanding dengan reward yang akan kita jumpai di atas sana! Jika berencana mendaki Wayag, sandal gunung is a must! Saya bahkan lebih memilih memakai sneakers karena dengan begitu lebih aman dari ancaman batu-batu tajam. Hanya memakan waktu 20-30 menit tergantung kesiapan fisik, kita sudah bisa mencapai puncak. Lebih baik lagi kalau dilanjutkan mendaki puncak tambahan, sedikit lebih berbahaya tapi pemandangan yang ditawarkan pun jauh lebih menakjubkan!!

Kendala dan Tantangan

Alam indah permukaan dan bawah laut Raja Ampat, atau dalam hal ini wilayah Pulau Waisai dan sekitarnya, memang tak terbantahkan, dunia mengakuinya. Namun demikian tantangan yang harus dihadapi bagi wisatawan yang hendak berkunjung adalah jauhnya letak antar pulau tujuan wisata. Raja Ampat merupakan empat pulau besar: Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool. Dan untuk mencapai pulau-pulau tersebut ditempuh dari Sorong dengan berbagai jenis kapal; private dan publik. Kendala lain adalah minimnya jadwal kapal keberangkatan menuju Pulau Misool yang saat ini masih hanya 1x seminggu, dan itupun kapal barang, kecuali anda dapat mengupayakan budget minimal 28 juta dengan menggunakan private boat. Harga yang (sangat) mahal di Papua ini dikarenakan bahan bakar minyak disana 3x lipat harga normal yang pada akhirnya semua biaya hidup disana relatif lebih mahal dibanding pulau-pulau lain di Indonesia. Jadi, untuk dapat menjelajahi ke-ampat pulau Raja akan membutuhkan waktu berminggu-minggu dan finance support yang tidak sedikit.

Cuaca, keadaan yang tidak bisa ada dalam kendali kita, menjadi sangat penting ketika kita berada di lautan. Angin besar, gelombang besar tak lagi kenal musim, alhasil kita tidak bisa melakukan kegiatan dalam laut, snorkeling ataupun diving. 

Maka tips dari perjalanan ini adalah: Prepare for the worst, Ready for the BEST!

ENJOY INDONESIA!!

PS: berhubung kendala teknis, gambar belum bisa disertakan.

 

‘One of Those Days’ Landed in Tanjung Bira – South Sulawesi

QUOTE of the blog:

Lahir boleh bertempat dimana pun tapi mimpi harus bertempat diatas langit -Anis Baswedan

 

This trip was actually last month’s trip, during our Spring Break. And today my writiing mood somehow was in the air after viewing my photos… this is the feeling….

What if one of those days really meant the happiest day of your life, despite the fact unfortunate events temporarily plague your existence? 

As the fact that I had a last minute offer for a trip -yea..yea..like this is the first time, ha!   Something these folks like to do to me (Semena-mena!) That was really one of those days!! “Rie! are you IN or NOT? Next week for the long weekend TJ offers a trip to Bira. Bla…bla..bla…”

I was like “WHATTtt??!!” definitely that’s one of those days! Beruntung tiket yang gw beli baru CGK-SUB aja dan belum beli tiket balik Jakarta, karena rencana awal cuma mau sowan ortu and bertemu teman-teman lama (yang lebih waras) aja. 😉

DAN terbentuklah crew Tanjung Bira (tanpa HI):

TJ -seksi transport, seksi acara, seksi negosisasi, seksi akomodasi, seksi..sekaleh

Didik suAndrew -Induk semang perwakilan Surabaya

Vine -Bendahara favorite pemilihan pemirsa

Jo – Kristin – Gustin -Me:  Sukarelawan yang siap dengan segala kerendahan hati berpesta pora!

NOTE:

-Kristin- temen baru bonus trip ini dan dia punya panggilan unyu: It’s DUGONG.. :p unyu banget kan…

And yang ini juga penting, terutama buat mereka yang belum pernah menginjakkan kaki di Terminal 1 Bandara Juanda. Jangan sampe kayak orang dongo nyari-nyari petugas custom untuk periksa tiket di pintu masuk Terminal, kayak di terminal-terminal lain di Bandara Indonesia. Nah di Juanda Terminal 1 lo boleh masuk melewati pintu otomatis tanpa penjagaan. Itu lhooo.. pintu yang biasanya lo cuma bisa dadah-dadah aja melambai penuh haru kalo nganterin gebetan lo pulang ke negaranya..-eh!

Sesi berikutnya, setelah lo masuk ke dalem…kayak orang dongo deh lo celingukan nyari penunjuk arah, mana dia Gate cek-in, sambil cengar-cengir biar kliatan rada pinter (red. seperti yang diceritakan kembali oleh korban –>Jo hihihi).

 

Yuk Mariii kita mulai perjalanan kita

Ada Apa Di Tanjung Bira? Ada KAMBING!

Whattttt???!!! 5 Jam dari Makassar demi KAMBING?!!

Reaksi lebay kita kira-kira kayak gitu waktu TJ mulai membacakan susunan acara yang diawali dengan kata-kata sambutan yang berisi janji-janji manis surgawi untuk mencicipi segala kenikmatan surgawi sepanjang perjalanan menuju Bulukumba, mulai dari putu mayang, durian, ikan bakar segar di pinggir jalan sampai karpet permadani untuk oleh-oleh orangtua atau gebetan tersayang (ok yang terakhir agak hoax).

So, we reached Bulukumba around 10ish pm.

Setelah ngobrol-ngobrol gak penting, we agreed to be ready by 8 am tomorrow morning and headed to Kambing Island! Oh yeah we’re all curious. What with this island…why is it named after goat?

Pulau Kambing - Tanjung Bira

Pulau Kambing – Tanjung Bira

So this is it! Gak ada mirip-miripnya kambing kan? Kecuali nengok yang snorkeling yaaaa.. Hahahahha!

Jadi ternyata, kata Si Bapak Pemandu, di pulau itu dulu banyak kambingnya, kambing gunung, trus pengunjung yang merubah nama pulau itu jadi Pulau Kambing. Tapi celinguk punya celinguk gak ada kambing barang se-mbek acan… ngelirik curiga “Beneran Pak? mana kambingnya?! Hoax ya?!” Si Bapak kapal belagak memandang jauh kehamparan horizon biru yang membentang :p halah!

Tanjung Bira

Spot Snorkeling Pulau Kambing

Spot Snorkeling Pulau Kambing

Too bad..Kita gak ada yang bawa kamera underwater…karena gak ada yang punya! 😀 hahahahah

Tapiiiiii…Kristin, mahkluk menyerupai ikan yang notabene jago nyelem kayak bebek -duck dive- spot an abandon camera nun jauh di dasar laut. Dengan bantuan ikan lain yang menyerupai Bapak pengemudi kapal, kamera itu berhasil dijemput! Daaaan….. -drum rollllll- GoPro Hero 3+ !!! Hasil kerjasama dugong dan paus hitam sangat ruar biasah!

Pulau Liukang

Di pulau ini kita ngaso…makan dulu…poseee…

Lunch Break at Liukang Island

Lunch Break at Liukang Island

Pulaunya kecil dan gak rame. Makanannya enaaaak…apalagi kalo bukan ikan bakar ditemani young coconut fresh langsung bacok! 😀

Pantai Bara

Nih pantai paling sepi nih! penduduk cuma seliweran bisa diitung jari -kalo lebih dari 20 minjem jari temen sebelah yee

Ngapain coba di pantai sepi kayak gini?

Pantai Bara

Pantai Bara

Dengan adanya orang-orang ini….

Jreng..Jreng!

Jreng..Jreng!

Apaa lagiiiiii…..

Berusaha meyakinkan semua orang bahwa dia bukan dugong tapi ikan pari terbang!

Berusaha meyakinkan semua orang bahwa dia bukan dugong tapi ikan pari terbang!

membuat jingkrakan kecil yang manis

cukup membuat jingkrakan kecil yang manis.. uhuk..ehm

Berusaha ngapung ala pesawat UFO

Berusaha ngapung ala pesawat UFO

Suketi Bersemedi cari wangsit sambil ngunyah bunga melati

Suketi Bersemedi cari wangsit sambil ngunyah bunga melati

Jejingkrakan!

Jejingkrakan!

Daaan….

P. O. S. E.

P. O. S. E.

And Again...

And Again…

Love the clear sky and the hanging clouds that really meant to be there just for us to capture their beauty nature. Yes..you may ignore those faces and concentrate on the background 😀

Soooo… angkat backpack! Can’t wait for my next ONE OF THOSE DAYS! will land in RAJA AMPAT, Papua!

 

Once Upon a Time in Togian with Surprises

Felt so excited when I was asked to join in the trip!! Kompas kami -aka TJ mengarahkan perjalanan kami tetap berada di kisaran Sulawesi Tengah.

Karena perjalanan ke Togian sudah berlalu sebulan yang lalu, euphoria yang terasa agak sedikit memudar. Untuk mengingatkan dan bercerita saya tuangkan lewat foto yang berhasil saya kumpulan dari teman-teman seperjalanan saya kali ini saja yaaa..

Tapi…mungkin saya perkenalken dulu para jawara ransel kali ini. Yaaaa meskipun gak ada perbedaan dari tiap trip pelosok yang saya lakukan.

Peserta wajib tentu saja: TJ dan Andrew pasangan yang berkolaborasi sebagai penentu tujuan berdasarkan keksotisan tempat plus akomodasi terjangkau (alias MURAH) 😉 mereka juga yang merancang itinerary. Dan ditanggung hasil rembukan mereka tak mengecewakan.

Anak-anak mereka: Dori dan Vine. Nama yang pertama, konon punya ilmu mengecilkan barang bawaan karena dia selalu membawa backpack versi minimalis EVER! (Pengen juga berguru ke doi dalam rangka meringkaskan ukuran paha gw 😛 Doriiiiiii…!!! gimme the damn spell..!!) Nama berikutnya adalah treasurer kita yang juga punya ilmu tersembunyi yang masih misterius dan jadi incaran kami-kami si kulit berminyak. Nah gimana enggak? Di kala kita semua sudah menunjukkan wajah nan licin (NOT like what you think yaaa) karna minyak yang alhasil tampil kumus-kumus bak anak alay, Vine tetap tampil dengan wajah cihuy-nya. Apalagi coba kalau gak pake ilmu ‘Wajah tak berminyak’ 😀

Berikutnya adalah Suketi dan Sule, mengapa nama mereka saya sandingkan? karena mereka berdua selalu tampil elegan (INI dengan arti sesungguhnya lhooo..). Hanya sajaaaa Suketi adalah ‘kutu’ kamera! Dari 100 foto, 99,99% pasti dia ada! Hahaha. Sedangkan Sule, she is a new addition to my trip… I’m adjusting 😉

Yang terakhir adalah Jo, mengaku sebagai bulldog/herder kelompok kami.. Ya kan Jo??! Hahaaha

Daaaan….berikut adalah satu lagi pengalaman kami menelusuri daerah terpencil di timur Indonesia.

Kita mendapatkan paket Surprise dari Ulfa aka Upa. Wajah-wajah sumringah yang sudah tak sabar menerjang ombak menguak misteri gugusan Togian islands. Cuuuuus..!!

Kita mendapatkan paket Surprise dari Ulfa aka Upa. Wajah-wajah sumringah yang sudah tak sabar menerjang ombak menguak misteri gugusan Togian islands. Cuuuuus..!!

Kita menikmati makan malam ter-spekta sepanjang sejarah backpacking kita hahahaha!! Lobsters for dinner! Yummm

Kita menikmati makan malam ter-spekta sepanjang sejarah backpacking kita hahahaha!! Lobsters for dinner! Yummm!!

Note: Sebagai herder kelompok, Jo dengan tegas menolak berbagi dengan turis lain yang memandang penuh gairah dan sirik pada hidangan di meja kita! Bahkan mereka hanya rela berfoto dengan cangkang sampah kita…Hahaha..!

Leyeh-leyeh dulu.... Cheers! :P

Leyeh-leyeh dulu…. Cheers! 😛

So this is it..! Pose mati gaya kami on the way ke pulau: Ada yang gaya ngegoler, nge-headset music, ato nelungkup aja kayak sayah! 😉

Gaya lenje kita di menit-menit awal mengarungi laut. :D

Gaya lenje kita di menit-menit awal mengarungi laut. 😀

Katupat Island - Ngaso2 setelah 4 jam berperahu dari Pulau Bomba. Disuguhi young coconut as the welcome drink.

Katupat Island – Ngaso2 setelah 4 jam berperahu dari Pulau Bomba. Disuguhi young coconut as the welcome drink.

Dan sesi berikutnyaaa.. Apalagi kalo bukan potoh2 sebelum nyemplung! Klik!

Dan sesi berikutnyaaa.. Apalagi kalo bukan potoh2 sebelum nyemplung! Klik!

Morning Tea by the beach... Cheers!!

Morning Tea by the beach… Cheers!!

Setelah dati pulau- pulau di Togian, salah satu dari kami, TJ harus berjuang mengais berlian di ladang BOSOWA di Makassar, jadi kami pun sepakat mengakhiri kebersamaan kami. (Gak rame kalo gak da lo TJ 😛 )

Kami pun berpisah menjadi 2 grup: Jo, Andrew, Dori, Vine dan Sule mengarah ke Poso untuk keesokan harinya berlanjut ke Makassar dan kemudian Surabaya. Sedangkan TJ, Suketi dan Saya mengarah ke Palu untuk keesokan harinya dilanjutkan ke Balikpapan. Ini artinya kami harus menempuh perjalanan 10 jam via darat dari Ampana ke Palu. All good until sometimes before midnight we were stopped by a troop of police officers (Yes troop) because they are many of them with fully armed. Poso seperti kita tahu adalah wilayah rawan sebagai tempat persembunyian teroris. Alhasil mobil travel yang kami tumpangi pun diperiksa. TJ mendapat kehormatan diperiksa lebih detail dibanding dengan penumpang lainnya hihihihi….

Kejadian spekta lainnya adalah sesampainya kami di Palu, kami kesulitan mencari penginapan dari kelas bintang kecil sampai bintang kejora… susah bro! Kami pun akhirnya dapat penginapan seadanya at 2 pm! setelah berjam2 keleleran…untung gak dilalerin 😀 😛

The next day in Balikpapan!

trekking di Bukit Bingkarai

trekking di Bukit Bingkarai

 

View of the top

View of the top

IMG_2993

 

Can’t wait for the next destination..!!!

Jakarta in The Lens

Sightseeing the same place but with different companions will always show you different angles, as this time…captured in my lens.

Museum Bank Mandiri:

The typewriter timeline.

The typewriter timeline.

Batavia Café

An old house that is changed function into a cafe. Very cozy but also pricey.

An old house that is changed function into a cafe. Very cozy but also pricey.

Pelabuhan Sunda Kelapa

The Sunda Kelapa Harbor  -Rie The Sunda Kelapa Harbor -Rie

Indeed...This is part of Jakarta

Indeed…This is part of Jakarta

Life is so joyful....

Life is so joyful….

DSC_0189

Jumping...! -Rie

DSC_0195

 

Kampung Nelayan Sunda Kelapa

They live on the water houses.

They live on the water houses.

Kampoong Sunda Kelapa -Rie Kampoong Sunda Kelapa -Rie DSC_0178 DSC_0176

 

As the sun setting, their energy went down as well :P

As the sun setting, their energy went down as well 😛

DSC_0285

 

Monas at Night

Monas at Night

 

The companions who had made this happened. Left-right: Anwar, Julie, Agnes, and Adrien.

The companions who had made this happened.
Left-right: Anwar, Julie, Agnes, and Adrien.