– at Planet Earth

View on Path

Advertisements

Called By Name

Sebagai orang asia, kita mempunyai budaya memanggil orang yang lebih tua atau yang kita hormati dengan menggunakan titel: Pak, Bu, Tante, atau Om. Naah… ketika di Indonesia saya memanggil teman-teman yang usianya jauh lebih tua pun langsung menggunakan nama mereka, karena itu memang membuat kami merasa lebih dekat. Meskipun atasan masih tetap saya panggil dengan sebutan ‘Pak’ atau ‘Mr.”dan ‘Ms.”

Berada disini saya pun menjadi terbiasa memnggil mereka dengan hanya nama, bahkan pada direktur sekolah saya. Yang membedakan adalah cara saya berinteraksi tapi sapaan tetap menggunakan ‘hanya’ nama saja. I can cope with it.

Agak canggung adalah ketika teman serumah saya dikunjungi kedua orangtuanya. Ya! Ketika dikenalkan,, “Rie, this is my Mum,…. and this is my dad, …..” Biasanya kita akan langsung menggunakan kata ‘Tante A dan Om A” :p Lidah saya masih belum bisa diajak berkompromi dan yang keluar adalah: “Nice meeting you….” Setelah beberapa hari barulah saya terbiasa memanggil mereka dengan nama.

Seperti juga di tempat saya membantu pelatihan salah satu olah raga di tempat saya bekerja. Karena mereka bukan siswa saya langsung, tapi anak-anak tingkat atas, koordinator pelatihh memperkenalkan saya dengan ‘hanya’ menyebut nama saya… hmm baiklah.. terasa agak janggal, apalagi ketika salah satu siswa ternyata bisa berbahasa Malaysia dan mulai menyapa saya dengan sebutan ‘Kak’ hehehe

Dari perspektif saya yang lebih muda dan juga ketika saya yang lebih tua dalam kesempatan lain, yang terasa adalah perasaan lebih akrab.. Interesting huh..how the way you are called give the feeling..

 

Akulturasi Budaya

Hmmm…yaa topik ini tentu saja menjadi topik yang paling dominan ketika kita berbagi cerita berada di lingkungan multikultural.

Menjadi menarik bagi saya untuk bercerita saat mencoba mengambil jarak dan menganalisa -hehehe jadi inget mata kuliah filsafat 😛

Budaya courtesy saat mendapat undangan makan bersama yang diberikan melalui email, saat kegiatan makan, dan paska acara makan-makan sangat berbeda. Ketika di Indonesia saya juga mendapat undangan makan-makan dari teman expat tapi tidak menjumpai courtesy disini, yang sepertinya memang lazim. Apakah ituuu?

Awalnya saya sempat agak bingung juga setelah mengundang beberapa teman untuk makan malam housewarming waktu itu, keesokannya bertemu salah satu teman yang datang di jalan (dia naik sepeda motor dan saya sepeda), dia berhenti dan menyapa dengan segenap hati: “It was a beautiful dinner… Thank you, Rie! I’m sorry… I meant to send you guys email but I just haven’t…”

“It was a beautiful dinner… Thank you, Rie! I’m sorry… I meant to send you guys an email but I just haven’t…”

I was like… email? email apaan?? “Thank you for coming, Dianne… Not a problem.”

Dan besokannya ketemu lagi dengan teman lainnya, kurang lebihnya memberikan respon yang sama, menyesal belum mengirim pesan. Hmmm… mungkin mereka kesirep salad Indonesia aka pecel atau mango and sticky rice Thai, atau springroll buatan Lap dari Filipina. yaa sudah lah :p gagal paham sayanyah…

Lalu datanglah giliran saya menerima undangan makan pagi dari seorang teman, dan kami bertiga -teman serumah- semua menerima undangan. It was a very beautiful breakfast!! Karena teman kami ini suaminya adalah kepala sekolah di SMA, dan yang datang tentu saja bukan hanya kami bertiga. Ada sepasang suami istri teman mereka juga yang belakangan ternyata mempunyai ketertarikan riset ilmiah. Dan kebayang topik kita pagi itu… BERAT! Hahaha… Dari kita ngobrol random and light, vegetarian, animal abuse, sampai topik ilmiah tentang DNA dan data.. Menarik tapi berat untuk menemani makan pagi dan kantung mata masih bengkak! 😀

Baiklah melencengnya dah agak kejauhan…hehehe

Kembali pada courtesy… acara makan terasa formal.. hmmm.. atau karena mereka kebanyakan British yang terbiasa dengan ke-formal-annya (mungkin juga sih… baru sadar sekarang hehehe).

Courtesy setelah undangan ternyata adalah menyampaikan kembali rasa terimakasih melalui apapun medianya…email, text, dll… Nah! sadarnya kapan? Siang berikutnya teman serumah saya saling bertanya, “Has anyone sent email to say thank you?” 

Saya: Hah??! sambil tetap mendengarkan betapa mereka menyesal karena lupa belum mengirim email ucapan terimakasih.

Saya langsung angkat tangan 😀

What, Rie?” sambil ketawa… yah namanya aja anak sekolahan…hahhaha

I don’t know that I have to do that… It’s not in my culture, but doesn’t mean that I don’t appreciate being invited or I don’t like the food.”

Oh..I see. Then what do you usually do?” 

Nothing. I have said it at the house… so we usually said it at that moment and not really expected to do again after. But I’ll email her today..” nyengiiir…

Trus…langsung flashback… Oooh.. makanya dua teman itu kayak merasa bersalah gitu waktu itu.. manggut-manggut.. 😀

I’m Indonesian…so ora po po lah!! Hahahaha

 

What are the key traits of mentally strong people?

What are the key traits of mentally strong people? by William Beteet

Answer by William Beteet:

  1. Rather be Single Than be in a Relationship With Someone They Don’t Want – Mentally strong people don’t need to be in a relationship, and they especially won’t waste time being in a relationship for the sole reason not to be alone.
  2. They Establish Themselves as Their Own Moral Authority – Mentally strong people are able to withstand public humiliation to live up to their own values. They have engineered their own values, and those are the values they try and live up to.
  3. Willing to Walk Away From Someone They Love – Walking away from someone you love is one of the hardest things. In many ways it feels like a contradiction. Someone who is mentally strong can accept that they need to cut someone out of their life, even if they still, and may always, love them.
  4. Willing to Walk Away From an Opportunity They Want – Mentally strong can walk away from an opportunity on principle. They are willing to say no to good deal because they trust that they will be able to get a better one in the future.
  5. They Trust Themselves – This is a video I made on how to acquire baseless confidence by trusting yourself

https://www.youtube.com/watch?v=…

6. Willing to Move if Necessary – They are willing to leave everything they know to achieve their goal.

7. Willing to do What is Necessary – Most people want a lot of things in life but they won’t do what is necessary to achieve those goals. Mentally strong people are able to do the things necessary in order to bring their dreams into fruition.

8. They Give Things 100% of Their Intent but are Free From the Outcome – If you master this you will have mastered the key to being happy. Giving everything you do in life your all, but be unafraid of failure. When you get good at this you enjoy the work, not the reward, which makes it a lot easier to be happy.

9. They can laugh at their Suffering – It takes a strong person to laugh at their misery, but sometimes that’s the only thing you can do to put a smile on your face.

What are the key traits of mentally strong people?

Living in A Golden Cage

It sounds cynical to give analog of where I live now.

As for my previous blog about the compound, after more than six months experience, shifting of perspective indeed occurs. I am grateful for what I have but pluses and minuses also exist.

Indeed, Living in A Golden Cage, I would prefer to say for stating of living in KAUST. We have the facilities what you would dream of living in comfort. We have sports and recreation centers, namely from simply several swimming pools in two recreation centers, fully equipped fitness center, bowling lanes with as cheap as 9 SAR (31.500 IDR) for 1 game, golf course, etc. Marine recreation, from a private beach with inflatable mattresses to slide and climb at the beach, snorkeling with only 75SAR (262.500 IDR) in a lux services to scuba diving (I haven’t tried this one yet). Lots of restaurants are provided, the world famous cafe Starbucks, Coffee Bean, Burger King (I don’t like the menu version of this one here 😛 ), and other international restaurants. We have the privilege of having a cinema (not as fancy but worth to watch for movies) even though the movies will be approx 2 weeks back up-dated from the outside ‘world’ 😛 but I did watched several times. Concerts from inside community who are talented with beautiful music performances from any languages I had never heard the countries before 😛 to concerts or performances that actually invited by the Uni to entertain us. There was Wayang Kulit performance, which was invited from Yogyakarta… What else would you ask for such a facilities?

Not to mention the security wise, the security officers are everywhere on the road and campus area. Speeds are limited to 40 km/h, pedestrians and bikers are prioritized to pass the road, and cctv is in all public area and traffic lights -so don’t you dare to violate 😛 We are spoiled!

Regardless of those facts, stepping out the compound will be leaving all the privileges as there comes boundary of Saudi’s culture and a long commute. So people prefer to step out the country when there are possibilities. Saudi doesn’t have as many local holidays for historical or religious events as there are back home in Indonesia. Therefore, school breaks are time for us to fly away from the cage inhaling outside air. Lunches, Dinners, or any other having meals or tea/coffee together with friends are mini escapes from the workloads.

As for me, Jordan will be where I am heading for the next Spring break… 🙂 and look forward to more of other adventuring places in the gulf countries and around. What else I can ask for more? I am blessed… BUT I miss you… Iyaaa kamuuu… -Hahahahaha ketularan Dodit 😛

Heading ‘HOME’

Home can be associated with any forms: physically, emotionally, or philosophically. And that you would miss your ‘home’ when you kinda apart from it, which sometimes you need to be apart from it to recognise that the ‘form’ is your namely ‘home’.

I had taken a journey of wonder to feed my curiosity and to test myself.

and finding that…

….my physical home is adjustable

…my emotional being has built in stronger foundation that I can count on

…my life philosophy

“Do not try to satisfy your vanity by teaching a great many things. Awaken people’s curiosity. It is enough to open minds, do not overload them. Put there just a spark. If there is some good inflammable stuff, it will catch fire.”

Anatole France

Leaving Your Comfort Zone

Berada lebih dari satu bulan di luar zona nyaman saya di negeri orang, Arab, memberi saya sarat pengalaman. Meskipun beberapa hal telah saya prediksi akan memberi tantangan, tetapi tetap saja mengejutkan bagi emosi dan fisik seorang Indonesia dengan spesies seperti saya ini… 😛

Keluar dari kenyamanan kultur yang telah membesarkan sepanjang hidup itu memberi nilai lain dalam memberi persepsi tentang hidup dan bersosial. Meskipun hidup di Indonesia dengan budaya yang sangat beragam dan beberapa kali berpindah tempat beradaptasi dengan budaya dan lingkungan baru menjadi semacam ‘pemanasan’ untuk beradaptasi dengan perbedaan multikultural yang lebih besar dari berbagai negara.

Semua indera saya harus beradaptasi untuk hal itu:

  • Mata dan Telinga harus terbiasa dengan berbagai macam warna kulit dan bahasa. Meskipun bahasa pengantar dimana-mana adalah Bahasa Inggris tapi penghuni yang ada di tempat saya ini (KAUST) berasal dari berbagai penjuru dunia sehingga aksen yang terdengarpun sangat beragam (yaaa..seperti itu pula ketika mereka mendengar aksen saya hahha) Pemandangan di jalanan yang sepanjang hari sepi sangat kontras dengan pemandangan Jakarta yang teramat padat dan riuh.
  • Mulut, hidung dan perasa harus membiasakan diri dengan makanan barat, India, dan Arab yang merupakan mayoritas makanan yang disajikan di restoran-restoran di wilayah kampus. Sedangkan bahan makanan di supermarket, selain yang berasal dari negara yang saya sebutkan diatas, China dan Korea termasuk yang cukup beruntung beberapa bahan olahan makanan dapat dijumpai di supermarket kampus. Indonesia bagaimana? Kami (ada 2 orang termasuk saya staff pengajar disini, lainnya ada sekitar 10 mahasiswa PhD beserta keluarga yang ada disini) harus ke Al-Balad (saya sendiri belum pernah kesini), semacam Mangga Dua kalau di Jakarta, untuk membeli keperluan bumbu Indonesia. Dan untuk menuju kesana kami harus menggunakan bis kampus yang disediakan beberapa hari dalam seminggu, dengan jarak tempuh 1.5 jam. Selain mulut sebagai perasa, mulut sebagai pengucap kata menyampaikan informasi pun harus beradaptasi dengan menggunakan Bahasa Inggris setiap hari dan setiap saat. Minggu 1-2 saya selalu menonton streaming beberapa TV Indonesia. Otak saya kram rasanya… 😛
  • Kulit harus sering-sering diolesi mentega…alias pelembab agar supaya tidak kering karena sepanjang hari di ruangan berAC dengan temperature 20-23 deg. Sementara diluar ruangan, temperature berada di 37-39 deg.

 

  • Emosional, harus sangat menata apa yang harus kita ungkapkan karena budaya yang sangat beragam. Normatif yang global menjadi pilihan banyak orang meskipun itupun terkadang ada benturan antara barat dan timur. Dan saat itulah kompromi emosi dalam menetralkan benturan menjadi syarat mutlak dengan memberi dosis lebih dari biasanya.
  • Fisik menjadi terbiasakan dengan keaktifan dan adanya fasilitas menjaga stamina fisik.
  • Brain…harus selalu dipacu baik untuk kreatifitas maupun peningkatan pengetahuan dan kemampuan.

Sounds very exhausted and tiring… It does! But somehow I don’t mind.. karena saya menemukan banyak pengalaman. And one most important thing is I feel more of acknowledgement for me as a person and professional…

 

Menyaksikan dan merasakan tenggang rasa, saling tolong menolong, compassion yang menjadi sajian dalam keseharian…small conditioned world yet amazing I must say…

Saya berpikir jika dunia dapat direprentasikan, maka harmonisasi seperti inilah yang seharusnya terjadi…

#SalamRansel(yangmasihteronggokdipojokkamar)