Jordan: Highlights of The Country #2

Spring break akan segera berlalu soon! Sebelum kembali bergulat dengan one deadline to another, let’s flashing back to Jordan.

Satu hal yang yang ingin saya rekomendasikan bagi solo traveller adalah bergabung dalam open trip is not bad after all. Terutama kalau ini perjalanan di negara middle east yang menawarkan atraksi tentang sejarah, adanya pemandu yang menerangkan tentang asal-muasal berdirinya negeri sampai sejarah para Nabi. (errr..tapi saya gak bakal bahas sejarahnya disini 😛 baca sendiri di wiki yah! hehehhe)

My Highlights

  1. Petra:
    Pasti daya tarik turis untuk berkunjung ke Jordan adalah salah satunya Petra. Bangunan yang dipahat pada batu raksasa. Terkubur ribuan tahun silam dan ditemukan kembali sebagai bukti kejayaan dan kehidupan masa lampau. Menelusuri cara berpikir, filosofi, dan teknologi yang telah ada pada jaman yang terbayang pun tidak kecuali lewat cerita-cerita komik yang dulu kerap saya baca -ini kalo saya loh yaaa-
    Untuk masuk ke Petra, tiket masuknya cukup mahal. Untuk kunjungan 1 hari, dikenakan biaya 50 JOD atau sekitar 950K IDR. Naah maka itu dengan membeli Jordan Pass sangat mengurangi beban kantong. Dan  beruntung Indonesia termasuk negara yang bisa menggunakan Jordan Pass karena tidak perlu membuat visa sebelum berangkat. Dengan menunjukkan Jordan Pass di custom bandara, kita bisa langsung ngeluyur dan tentu saja menunjukkan alamat yang akan kita tuju di Amman.
    Ok..Petra.. 🙂 begitu memasuki wilayah ini, kita sudah disuguhi dengan banyaknya tomb, semacam gua dari batu yang digunakan untuk mengubur, biasanya berisi satu keluarga. Berdasarkan kompleksitas bagian hiasan atau ukiran menunjukkan keluarga tersebut kaya karena berarti dia membayar seniman untuk memahat ukiran pada tomb tersebut. Semakin masuk ke dalam mulai dengan batu-batu besar yang beberapa terdapat tulisan transkrip dan potongan-potongan relief, juga tampak bekas teknologi pengairan yag digunakan. Tempat-tempat yang menunjukkan tempat persembahan pada berbagai dewa. Bahkan ada tempat untuk menikahkan pasangan.
    Jalan menuju ke dalam kita harus waspada. Saat itu adalah hari bagi sekolah para anak perempuan melakukan filed trip, jadi setiap kali berpapasan dengan gerombolan anak-anak yang kira-kira 30-40an anak dengan 1 guru, kebayang dong riweuhnya! Mereka berlomba menyapa kami, well… lebih tepatnya para teman grup yang selain saya semua berkulit putih dengan rambut blonde dan good looking 😛 beberapa bahkan nekat minta foto bersama hehehe.. Selain itu juga adanya kereta-kereta kuda yang membawa turis-turis yang gak kuat jalan sangat mengganggu karena mereka jalan cukup kencang sementara ada beberapa tempat yang jalanannya menyempit. Yaaa kami harus merapat ke batu kalau mau selamat dan agak terbebas dari bau éék kuda yang ditebar ketika melewati kami! 😛
    Selama 2.5 jam kami bersama pemandu tur yang dengan sangat informatif meneerangkan seluk beluk bentuk pahatan dan artinya, kapan, mengapa, dimana, yang nempel di kepala kira-kira 5-10 menit hehehe… Saya terlalu sibuk takjub dengan benda-benda raksasa di depan saya dan membayangkan kehidupan seperti apa pada masa itu… ITU! What was it like living in that age? Sampai diperbatasan tugas pemandu selesai. Kami diberi pilihan antara melihat Monetary atau Treasury (nama istilah untuk jenis Petra). Kami berpisah dua kelompok. Saya memilih ke Monetary karena trekking berdasarkan peta itu yang lebih pendek, berhubung saya kurang tidur semalam akibat meminum kopi saat makan malam –bad choice– saya merasa kurang fit untuk menambah 2 jam trekking. Kita harus sudah menyelesaikan trekking dan keluar dari area Petra pada jam 5 sore karena area akan ditutup. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 2:30. Kami pun bergegas.
    Meskipun kami menjadi
     dua kelompok, tapi saya terpisah karena saya lebih memilih santai sambil mengambil gambar sepanjang perjalanan naik ke Monetary -sambil mengatur napas juga siiih.. jarak tempuh sekitar 9km tapi karena tanjakan dengan elevasi yang cukup curam dan udara dingin saya kewalahan juga. Hidung rasa tertusuk karena dingin, dan hasilnya mimisan dan tangan membiru -ngasooo… 😛 Oh yaa, yang agak annoying adalah mereka menyewakan keledai untuk membawa turis naik/turun tapiiiii menggunakan trek yang sama dengan kami. Alhasil kalau pas papasan, saya buru-buru merapat atau melipir cari pijakan lain. Bukan kenapa-kenapanya, selain rada takut hehehe…kesian liat mata mereka sedih gitu mukanya -beneran! 😦
    Menurut saya pemandangan menuju naik ke Monetary jauuuh lebih blow my mind than the monetary itself! 


  2. The Dead Sea
    Site ini termasuk yang saya tunggu-tunggu karena saya pengen ngapung! Dan maskeran lumpur seluruh badan 😛 😀
    Nah supaya gak nyesel kayak saya… sebelum pergi inget-inget bawa sepatu yang bisa dpake di air or at least sandals. Kenapa? Karena di pantainya sudah terbentuk kristal garam yang tajam! Meskipun saya wanita berhati kuat, tetep aja telapak kaki gak sekuat hati saya 😛 hehehe… Kalau inget-inget, beruntuuuung saya gak sampe limbung and jatuh, gak kebayang kalau sampai lecet dan kena air laut sana! Sadis perihnya!!
    Air laut pada umumnya mengandung garam sekitar 3.5% sementara air laut mati mengandung garam 32%! The Dead Sea berada di titik terendah di permukaan bumi (400m di bawah permukaan bumi). Jangankan air masuk ke mata, begitu muka saya kena air, evaporasinya bikin perih mata. Dan saya panik! SAKIT! Dan malah kecipratan tambah banyak…:P dan tambah panik karena nginjak ke bawah tajam.. OH nooo! “Heeey are you sinking, Rie? Haahahahha!”  Yaaah…dia kira kita becandaaaa!! Tolongin wooy!
    Anyway… biasa masuk ke Laut Mati 15 JOD termasuk makan siang, Heaven! Saya suka menu makan siang disana! 🙂 Oh ya.. dan biaya ini sudah termasuk di Jordan Pass, so saya tinggal senyum aja.. 😉 untuk masker lumpur kita perlu tambahan 3 JOD dan kita bisa maskeran suka-suka kita! Lumpur ditempatkan di guci besar di pinggiran pantai, lalu kami rame-rame saling bantu maskerin bagian belakang. Saya…muka pun saya maskerin! Gak mau rugi hehehhe.. daripada muka putih-putih garam semua? Iyaa.. begitu kita keluar dari air, puas ngapung-ngapung dan berperih-perih.. badan dan muka kita langsung berkristal, semacam film vampire ganteng ituuh 😛 hahaha
    I had a great time here!
    Sebelum kembali ke Amman, kami singgah ke outlet yang menjual produk-produk dari laut mati dan kerajinan khas Jordan, tempat oleh-oleh lah kalau di Indonesia. Tapi yaaa gitu, very pricey! :p
  3. Wadi Rum
    Jeep Safari…!! Disini tempatnya! Melewati padang sahara dengan batu-batuan dan gunung raksasa di kanan-kiri… Semacam Grand Canyon di Amerika kata teman-teman saya. Yaa saya masih kategori rookie dibanding hasil jelajah mereka-mereka ini. Satu pasangan sudah hampir setahun traveling, satu pasangan lainnya yang sudah senior bahkan sudah hampir 3 tahun traveling, iyaaa 3 tahun! Saya…? Saya cari pasangan dulu yang mau diajak traveling and stranded… 🙂 😛
    Di Wadi Rum kami menginap di tenda-tenda yang sudah jadi. Bentuk tenda kami seperti tempat tinggal para penduduk lokal Wadi Rum.
    Guess what?! Disini kami mendapatkan jaringan internet! Kami sampai di area camping menjelang Maghrib. Bersih-bersih sepatu yang berpasir, juga muka dan rambut kami yang berpasir karena angin sangat kencang saat mendaki beberapa bukit, segera dibasuh di tenda masing-masing. Iyaaa…di dalam tenda ada kamar mandinyaaaa… 🙂 Camping ala ala memang hehehehe…
    Sebelum makan malam kami ditunjukkan cara memasak traditional suku mereka, yaitu makanan dimasukkkan dalam panci lalu dikubur di lubang yang sudah disediakan, lalu membakar bagian atasnya. Kalau di Indonesia seperti cara suku Papua memasak, hanya kalau di Papua, bukan dikubur tapi di timbun dengan batu lalu rumput dan kayu, lalu bakar. 🙂 It was beauiful dishes!! Sweet lamb and vegetables. Of course with Hummus! 🙂
    Selepas makan malam kami duduk-duduk dekat perapian. Tiba-tiba di tengah altar dua laki-laki mengambil posisi sejajar dan musik bergema… Oh My…They’re starting to dance! Folks dance!  

    Dan kami, kelompok kami semua ikut berdansa mengikuti gerak kaki, tangan..berputar, berteriak… Laughing!!! Down Jacket yang saya kenakan pun saya buka karena malam dingin menjadi hangat. 🙂
    O
    n the Jeep Safari


    Taking out our dinner from the hole under the ground

    Penampakan di dalam tenda

    P
    enampakan luar tenda

  4. The Food
    Makluba: Perkenalan dengan menu ini adalah ketika saya memilih untuk mengkuti acara makan malam dengan keluarga lokal di Petra. Costed me 15 JOD to have this attraction. Cara memasak yang unik dengan bumbu rempah, disajikan dalam nampan besar kami duduk di lantai bersama menikmati. Hmmph… Yumm!! Semacam nasi kuning dengan terong, kentang dan ayam dimasak bersamaan.
    Mansaff: Menu ini kami santap di restoran Jerusalem tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Nasi kuning gurih disajikan dengan pilihan lamb or chicken, saya memilih dengan lamb, dan dimakan dengan yoghurt lebih cair dari yoghurt kebanyakan. Agak aneh yaa…tapi..ENAK! 🙂 Saya suka!
    Falafel dan Hummus: dua nama ini sejoli. Biasanya kami makan untuk sarapan dengan roti. Saya sudah mengenal makanan ini di Saudi karena cukup terkenal dan lazim. But still… I like it! 🙂

  5. The History of Humankind
    Menyusur peradaban masa lampau sejarah perkembangan manusia sangat menarik! Jangan tanya saya tentang detail tahun dan nama-nama :p It’s iin the air and hard to catch hahahha… my brain can’t cope with overwhelming information. Tapi..ketika koneksi terkait dengan latarbelakang prior knowledge kita, menjadi make sense. Semisal ketika pemandu bercerita tentang sejarah Suni dan Syi’ah. Saya pernah baca tentang ini, jadi pada saat mengikuuti ‘pelajaran’ pemandu saya rajin mendengarkan. Dan ketika sejarah Ottoman dan masa-masa lainnya tiba-tiba mata rasanya beraaaat banget hahaha… Lesson learnt, find bit of the background history before you go visit a historical place. hehehe… Still interesting to know but it was overwhelming.. 😛

Advertisements

Jordan – The Old City #1


Kesempatan keluar dari KSA kali ini saya membulatkan tekad untuk tidak mengenakan abaya. 😜 Pertimbangannya adalah selain saya melihat beberapa orang tidak mengenakan abaya di airport, juga dengan pertimbangan saya harus membawa carrier yang bakalannya ribet kalau saya mengenakan abaya. So, wearing pants and jacket instead…and it was all good. 😊

Expect The Unexpected 

Dalam perjalanan menuju airport saya baru sadar kalau saya belum melakukan online cek in. Ini sangat mmpersingkat waktu, apalagi dengan antrian bersama jamaah yang ibadah bakalannya lama. But it Solved-Done!

Berikutnya Exchanged currency… Nah ini yang bikin kaget! Udah ngintip siih nilai tukar mata uang JOD, tapiiii tetep nyesek juga 😅😜 Ya sudahlah… Menukar 300 JOD plus ‘membuang’ sisa Dirham dari perjalanan sebelumnya ke UAE. 120 dirham = 22 JOD itu sekitar 400rb-an IDR. I knooow… ksian ya rupiah kita. 

Kelalaian berikutnya adalah lupa arrange pick-up transfer dari airport ke hotel di Amman.😑 Buru-buru ngemail TravelTalk dan berharap it will be solved. It was Sunday, so my chance was tiny along with my situation. 😜 Anyway.. I just gave a go with it.

First time flew with Royal Jordania hmm… on board dengan penumpang orang Jordan. Punteen…mo minjem istilah Tukul.. Katro dan keras kepala para ibu-ibu dan nenek-nenek ini bener-bener.. Dari pas saya naik bus menuju pesawat tiba-tiba passport saya diambil gitu aja dari tangan saya oleh nenek yang duduk depan saya -saya berdiri di depan nenek ini- I was like.. What the…! Saya langsung ambil lagi sambil pasang muka gak suka., dan nenek itu nyengir-nyengir sambil ngomong bahasa alien. Teman di sebelahnya nyodok marahin tuh nenek. 

Ke-katro-an berikutnya di pesawat, seat saya ditempati ibu-ibu. Dan waktu saya tunjukkan tiket saya kalau dia duduk di tempat saya, dia bilang ke stewardess nya kalo dia pengen duduk dekat jendela dan saya suruh di tengah aja -dari gesture tangannya kira2 seperti itu maksud dia- Etdah! Situ baeek…! 😝 Tapi sebelum saya komentar, mbak stewardess dengan nada tegas meminta tuh ibu pindah. Dan dia pindah. Selesai…? Nooot quite yet!😜 Begitu saya mau duduk..eeeh doi megang kaki saya or kaos kaki saya! 🙄🙄 Excuse me, what are you doing?! Si ibu nyengir sambil dadah2, kira2 bilang ‘gak papa2’ 

Guess what.. gak lama dia ke belakang,entah kemana dan penumpang depan tenyata seharusnya duduk disamping saya.. so, she’s not supposed to be there at all. 😝

Dapatlah saya ibu-ibu yang lain disamping saya. Kejutan berikutnya… karena saya kurang suka makanan yang disajikan, saya cuma nyomot sedikit dessert nya, too sweet. Haddeh… tuh ibu poking bahu saya sambil nunjuk cake dessert saya. Saya ngangguk dan dia langsung abisin, saya tawarkan makanan lainnya…ya kali dia lapeer.. ternyata yang dilirik dessert doang 😜 yalla!

Dua jam 40 menit, tiba di Amman Jordan! Sepiii… bersih mirip terminal khusus Garuda yang di cengkareng. Entrance nya mirip tapi masih kerenan yang di Jakarta. 😉 Anywaygood that I bought Jordan Pass. I really recommend this pass coz it saves a lot as your visa will be waived if you stayed more than 3 days, which you would most likely stay more than 3 days in Jordan. All was good until I have to look for anyone who picked me up. Dan ternyata memang gak ada yang jemput! 🙄 Setelah coba hubungi hotel dan mereka gak terima arrangement karena last minute, dengan mengucap bismillah…meluncurlah dengan taxi bandara  costed 20 JOD.. 

Meet and greet dengan grup dan intruksi perjalanan dari tour leader, dinner together… and we called it a day 😊


-Sambil nunggu flight- Amman 1:47 April 1st, 2017

Pulau Seram yang Ramah

DSCN0689 DSCN0753

Jurnal perjalanan ini sudah basi sebenarnya, ibarat nasi mungkin bukan lagi menjadi bubur tapi sudah berubah bentuk jadi nasi aking atau bahkan rengginang!! Tumpukan tugas kuliah dan kerjaan terlalu galak dan otoriter mengatur kiblat ketikan laptop saya :p

Howeva…I somehow can escape from them for awhile today! So here I am…

Tujuan sharing perjalanan disini bukan semata agar saya gak lupa tempat, pengalaman, kejadian-kejadian dari yang gila serunya sampai yang gila menyedihkannya bahkan gila menyebalkannya, tapi juga ingin meramaikan pilihan bacaan ketika seseorang googling tentang Indonesia. Yes! simply because I love Indonesia!! Loves all its curves and all its edges, all its perfects imperfections! 😉

Nah! tempat berikut ini adalah salah satu ikon kesempurnaan alam Indonesia! Ambon!! The city of music…tagline itu yang kami jumpai tak jauh dari Bandara Pattimura, terpampang besar pada tembok di bahu jalan dibibir pantai yang kami susuri selama kurang lebih 30 menit menuju pusat kota. Beruntung kami tidak menuruti usulan abang-abang ojek di bandara yang bilang, “Tidak jauh itu di jembatan sana, banyak kendaraan ke kota, hanya 1 km saja.” Normally, 1 km memang tidak jauh, tapi siang yang terik dan beban carrier tentu saja membuat usulan tadi jadi terdengar bagai siksaan. :p Kami pun memutuskan untuk menyewa 1 angkot dengan harga 250K (kalau tidak salah, mungkin nanti kalau dibaca sie bendahara akan dikonfirmasi heehehe). 

Anywaaaay…. Jangan nyari nyari referensi expense perjalanan, di blog ini yah..hehehe 

Ambon Manise

Formasi Trip kali ini: belakang ki-ka: TJ dan Andrew, Tengah ki-ka: Dian, Jo dan Vine Depan ki-ka: Dori, Me dan Keket

They are only TWO main points I want to share. First, Ambon adalah kota yang ramah. Friendly in term of hospitality of the people. Ketika kita mencari informasi bagaimana kita ke suatu tempat berdasarkan referensi yang kita baca, orang setempat yang kita tanyai selalu kemudian menunjukkan arah, lalu menyetop angkot yang harus kita naiki dan sekaligus berpesan pada sopir dimana harus menurunkan kami! Kali lain kami bahkan diseberangkan dengan tatapan khawatir kami mengambil arah yang salah… ini mungkin dipengaruhi pajangan tampang-tampang kucel dan tatapan penuh tanya hahahha!! Keramahan warga Ambon gak ada apa-apanya dengan suguhan kekerabatan yang ditawarkan warga Pulau Seram atau tepatnya di Kampung Sawai. Meskipupn namanya ‘seram’ tapi penduduk disana adalah yang teramah yang pernah saya temui. 

Secondly, Makanan disana enak-enak!!! bahkan makanan pinggir jalan (kan bekpekeeer….makannya juga ngemper ;p) yang cumi sebiji bisa sepiring luber and dimakan bedua tetep gak mampu ngabisin! sampe ikan bakar dimasak entah apa…yang pasti ludes dalam sekejap mate!! HAHA..

Thirdly, the view is freakin’ awesome of course!! Simak nih.. cuplikan hasil jepretan-jepretan ane dkk..

Pattimura Airport, Ambon

As we reached Pattimura Airport, Ambon 😀

Perayaan Maulid Nabi Muhammad di Kampung Sawai, Ambon

Pesta Perayaan Maulid NabiMuhammad SAW. Penduduk Kampung Sawai membuat kolak durian. Kampung Sawai adalah penghasil durian bagi Ambon dan sekitarnya. Kami disambut dan diundang untuk menghadiri acara selamatan malam itu. So sweet….

Pada saat kami kesana kebetulan bertepatan dengan musim durian runtuh. Yup! You read it right! Literally! Biasanya kan cuma dengar kata-kata ini dalam kiasan yaaa… Tapi tidak kali ini, ketika kami diberitahu bahwa durian yang mereka ‘panen’ berasal dari hutan, kami tidak mengira cara me’manen’nya adalah denga menunggu buah itu runtuh! Dan bahwa pohon-pohon itu tumbuh liar di hutan dan merupakan milik bersama warga desa IS interesting. Pemilik buah adalah siapapun yang menemukan atau yang sudah terlebih dahulu ‘ngapelin’ pohon duriannya. Kami beberapa kali sempat hampir terkena runtuhan buah berduri itu (nyaris bonyok kepala kita :P) selama kami trekking di hutan.

Peaceful spot - uphill

Berada di atas bukit, menjelang Maghrib. Bercengkrama sambil mendengarkan ceramah dari kampung di bawah kami yang terdengar sayup-sayup.

DSCN0705

Menyusuri muara sungai… Hunting buaya yang lagi bejemur…

DSCN0719

Berkunjung ke pembuatan sagu di tepi sungai. Sooo goooeeey! :p

DSCN0897

Memasuki Hutan konservasi Manusela

DSCN0910 DSCN0920 DSCN0942 DSCN0982

Saat Berpisah

Paling kiri: bersama Bung Fabio, salah seorang guide yang banyak bercerita tentang kultur dan tradisi penduduk Sawai. Seorang kawan di tanah asing yang menjadikan kami saudara setanah air… I..N..D..O..N..E..S..I..A!

ngasoooo

Para Pendekar katanyaaah… ;p Setelah trekking session naik bukit, masuk gua, turun bukit, keluar hutan, lalu berjalan kurang lebih 20km… kayak gitu deh penampakannya!! HAhaha

IMG_8980

No meal time without durian!!! Ha!

IMG_8860

Durian Party timeeee!!! Nom…nom…nom…

Rie-

SAMPAI JUMPA in the next FRAME!!! Hasta La Vista!!

Misteri Waisai – Raja Ampat, Papua

Kata-kata yang berseliweran di kepala saya belakangan adalah melulu tentang berita pemilu dan capres yang membuat saya gagal GOLPUT tahun ini, sampai-sampai gegap gempita euphoria kegiatan nyeret ransel ke Raja Ampat teredam begitu saja.

Hehehehe…

Buat yang cari berita ada apa di ujung Indonesia timur, negeri Papua, berikut kisah kami… Bersiaplah berimaji….

The Meeting Point

Reuni berperiodik dengan kawan-kawan penyeret ransel kali ini bermuara di Bandara Hasanuddin, Makassar, sebagai meeting point kami. Manggul backpack 35++ (+mijit paska trip!), nenteng fin beserta nylempang tas yang lumayan gendut (yaaa… yang ini udah di komen sbg pengungsi di media chatting..), pasrah bakal dicomelin bibir kisruh mereka, saya celingukan sambil menajamkan telinga mencari modulasi medok jowo diantara kerumunan. Dan memang gak susah nyari mereka! 😉

“Hai! Riri…”

“Hai! Syafrina…”

Saya menyalami a new addition in the group sambil takjub ngliat barang bawaannya yang spekta! (pisssss Sya!) heuheuheu. Carrier di punggung, backpack at the front dan snorkel cs ditenteng.

Syafrina dengan setengah paket barang bawaan ;p

Syafrina dengan setengah paket barang bawaan ;p

So kami ber-6: TJ, Didik SuAndrew, Septy, Ikeu, Syafrina and I dengan penuh keharuan karena kita menapaki gate menyongsong…G A R U D A   I N D O N E S I A… menjelang tanah PAPUA! eeeiits..pasti pada ngira kita bakalan naek pesawat jumbo kaaan (lebay yaa),  yaaa sukur-sukur bukan pesawat baling-baling kayak trip wakatobi. Hehehe.. Tapi pesawatnya emang kecil, dengan hanya 4 seater di tiap row, plus langit-langit yang rendah (jadi berasa tinggi gweh!)

 

Off to SORONG!!! And the Magical moments begin!!!!

Entah siapa yang bawa lucky charm, tapi sepanjang perjalanan there’s always a magical moment, dari kacamata saya at least…

Kejadian Ajaib #1

Seorang teman yang tadinya bakal gabung, tiba-tiba cancel dan luckily ada anak CS (Couch Surfing) yang mau join sehingga jumlah kita gak jadi berkurang. Jumlah anggota trip emang penting ketika kita perlu menggunakan transportasi sewa menyewa karena pengaruhnya pada budget sharing… -meskeeeeen..- hahahaha backpackeeer (mesken bangga!)

So..bergabunglah Sara, pelancong Amrik yang berniat backpacking berkelompok di Raja Ampat.

Pasti pada protes… gitu aja dibilang ajaib…

Baiklah! Abaikan kalo getoo.. :p

 

Kejadian Ajaib #1 sebenarnya – Dapat Teman-teman Baru

Sara yang lagi nunggguin kita di stasiun eh bandara (kayak stasiun sih..) di Sorong ngejogrok sendirian, mengundang iba  seorang putera daerah yang belakangan kita tahu bernama Ryan, demi melihat seorang bule cewek ngesot dengan pasti di lantai bandara yang besarnya kira-kira…mmmm 3×3 gajah dewasa dijejerin (yup math gw payah), menghampiri dan menemani. Kemudian bergabung dengan kami.

Nah! Dari sini…story trip kami pun menjadi plus plus penuh kejutan dengan adanya guide sukarela ini.

Oya, waktu kita lagi nunggu barang di conveyer, Ikeu histeris karena ternyata ada teman lama mereka, Okky, yang dengan manisnya melambai-lambai di jendela kaca. Dengan kebaikan hati Okky, kami dapat anteran menuju pelabuhan Sorong, off to WAISAI!!  Nah jadi, selain Sara dan Ryan, ada juga Okky yang rela menutup awal mata pencahariannya aka toko pada hari itu demi menjemput teman-temannya. aaah…so sweet gak sih!

Sorong menuju Waisai

Sorong menuju Waisai

#2 – Got A Nice Place to Stay

Dari Sorong kami naik kapal ferry menuju Waisai, Ibukota dari Raja Ampat. Somehow Didik tidak bisa menghubungi pihak home stay yang akan kami tinggali karena keterbatasan jaringan telepon disana. (Gunakan kartu telkomsel yang kagak ada matinya di Papua. Provider lain mati suri! Wasalam deh!)

Sampai menjelang merapat ke Waisai, kami masih belum tahu bagaimana cara menghubungi pihak penyedia homestay.

“Teman-teman, bokap sebenernya baru buka resort di Waisai. Kalau mau gw tanyain masih ada kamar gak. Bla..bla..bla..” kira-kira kalimat itu yang meluncur kemudian dari mulut Ryan yang duduk di nun ujung barisan kursi. FYI, arrangement sitting kapalnya adalah 3-5-3. Kami mengisi barisan 3-5. Jadi cara berkomunikasi kami adalah pesan berantai karena Ryan berada di ujung seater 5!

Anyway… akhirnya kami pun menyimak, berembug, menimbang dan memutuskan: Hayyuu dah! 😀

Kami pun melenggang dengan elegan menaiki ‘limousine’ yang menjemput membawa kami ke Pandawa Dive Resort, Waisai!!

Yahoooo!!!

Yahoooo!!!

 

Berfoto dengan the owner, Om Yoppi, At Pandawa Dive Resort

Berfoto dengan the owner, Om Yoppi, At Pandawa Dive Resort

Disana kami disambut ramah oleh pemilik resort yang tak lain adalah orangtua Ryan, teman baru kami.

Entah karena saking senangnya bertemu anak mereka yang sudah cukup lama tak bertemu atau kasihan liat tampang-tampang kucel kami, mereka dengan sukarela memberi super discount harga pada kami. Yaaay!!!

Fasilitas RESORT harga HOMESTAY!! Ajib gak tuh!!

550.000 –> 350.000

Kamar ber-AC, hot water and 3x meals –>The BEST DEAL!!

Nice spot

Nice spot

 

At the jetty

At the jetty

#3 – We Found A Family

Teman-teman semua pasti setuju kalo kita ngerasa very much welcomed dari hari pertama tinggal di Pandawa. They are warm-hearted peeps.

Sore itu kita tanpa komando, satu-satu akhirnya berkumpul di jetty, yang memang inviting banget buat ngobrol atau sekedar menikmati horizon dan ikan-ikan yang berlompatan. Ortu Ryan, Om Yoppi dan Tante Lidya pun ikut nimbrung. We had a good time.

Sore itu juga kami dicarikan kapal untuk kami ber-hopping island keesokan harinya. Kami deal dengan harga 7jt menuju 5 spot: Painemo, Teluk Kabui, Arborek, Mansuar dan Pasir Timbul (belakangan kami tahu dari penyedia jasa kapal lain bahwa harga segitu hanya untung tipis, lucky us!)

Off for hopping island

Off for hopping island

Pasir Timbul #superJump

Pasir Timbul #superJump

#4 – Tragedi Gagal Misool Membawa Berkah

Kami memutuskan untuk tidak ke Wayag selain jauh +/- 5-6 jam perjalanan dengan speed boat, juga karena mahal. Info yang kami dapat, cost kapal minimal adalah 18 juta! Yikes!!! Hidup kami disana masih 4 hari kedepan! Kami pun harus puas dengan Wayag kecil aka Painemo, yang memang mempunyai kemiripan view dengan Wayag sebenarnya. Berembug, menimbang dan berhitung….kami memutuskan berangkat keesokan paginya kembali ke Sorong untuk kemudian melanjutkan ke Misool. Kendalanya adalah minimnya info tentang keberangkatan kapal menuju Misool. Setiap orang yang kami jumpai, kalau tidak tahu atau memberikan jawaban beragam. Begitu juga info yang Syafrina (satu-satunya yang bisa tetap eksis dengan gadgetnya. –brought to you by telkomsel) cari via online.

Nekat, kami tetap berangkat ke Sorong. Tante Lidya yang sudah berada di Sorong sehari sebelumnya menjemput kami.. eh! Ryan anaknya ding hehehe.. tapi sekali lagi mendengar planning kami yang belum tahu pasti jadwal kapal ke Misool. Beliau ‘mengawal’ pencarian info untuk kami (salut dengan kecekatan beliau ini! Gak salah kalau ternyata beliau mantan anggota DPRD 🙂 ). Setelah di lempar dari satu kantor ke kantor informasi yang lain untuk membeli tiket….akhirnya kami mendapat info bahwa kapal berangkat ke Misool hanya hari SABTU! Padahal kita hanya sampai hari Jumat saja disana.

Kami galau…nanar saling berpandangan… Where to go?!!

Ke pulau sekitar sini aja. Balik ke Makassar aja. Ke Taka Bonerate aja. Ide-ide berseliweran.

Di tengah panas terik kota Sorong yang menemani kegalauan kami, Tante Lidya menawarkan kesejukan untuk beristirahat di rumah mereka. Disana bisa dibicarakan lagi bagaimana selanjutnya. So blessed! Alhamdulillaaah….

Kelompok kami nyaris semburat. Sara memutuskan berangkat ke Makassar lebih awal dan Syafrina sudah tak kuasa mengikuti dinamika backpacking surprises sehingga memutuskan kembali ke Jakarta, sedangkan kami berencana kembali ke Waisai untuk kemudian menuju pulau lain. Tapi kemudian Papua masih menahan mereka, harga penerbangan melambung tinggi yang membuat Sara mengurungkan niatnya, Syafrina mendapat suntikan dana dari ‘oknum’ di Jakarta dan dia memutuskan untuk stay! 😉

Cerita pun berlanjut dengan perkenalan  kami dengan Pak Heyn, penyedia jasa one day trip ‘jurusan’ Wayag. Kami mendapat penawaran 12 juta dengan bergabung dengan 3 tamunya yang lain. It’s still over our budget.

Setiap orang mempunyai goal tersendiri dalam kegiatan traveling yang dijalani selain tempat yang di tuju. Saya pribadi, I’m open to any possibilities. Banyak hal yang bisa dipelajari, terutama dari yang namanya diawali mis- : misinformation, miscalculation, misunderstanding, misTAKE. Mungkin bukan buat kita secara langsung tapi sebagai bahan pelajaran bagi orang lain. (Ok TUA gw kumat! heehe)

Anyway… kami kembali ke Pandawa Resort! hehehehe padahal udah dadah dadah salam perpisahan 😛

Hikmah hari itu, kami mendapat deal dengan Kak Heyn 7 jt untuk trip ke Wayag keesokan harinya! Dan 650 rb/orang untuk diving di Waiwo! Super!

#5 – Berburu Toilet di Teluk Kabui

 Kami bersiap dari pukul 5 WITA (yang berarti pukul 3 WIB!) karena pukul 6 kami akan dijemput menuju Wayag. Setelah sarapan super dini kami berangkat sekitar 6.30 WITA. Setelah menjemput 3 tamu lain perjalanan masih berjalan lancar. Sampai kemudian adalah suara mendesah tertahan sambil memegangi perut, “Ikeu…gw muleeesss!” Syafrina meringis merengek pada Ikeu (sebagai pemeran Ibu pengganti buat Syafrina selama trip heheehe..). Nah Lo! Ditengah laut pengen poop…Apa kabar????! Lucu..tapi kami tak tega ketawa melihat Syafrina terus meringis dan panik! hehehehe..

Kak Heyn menyuruh sabar, kita merapat ke pulau terdekat di Teluk Kabui.

Toilet traditional: nongkrong langsung PLUNG! :D

Toilet traditional: nongkrong langsung PLUNG! 😀

Karena saya juga kebelet pipis, kami bertiga men’darat’ mencari toilet. Kami pun harus berjuang menaiki tangga rapuh tak beraturan. Ikeu hampir jatuh ketika pijakan anak tangga patah. It was so close! Thank God she was saved.

#6 – Celanamu, Celanaku dan Bikini di Wayag

Angin cukup kencang yang menjadikan gelombang pun tinggi, tapi kami dapat dengan selamat mencapai tujuan: WAYAG! Kami harus mencapai puncak untuk dapat menikmati pemandangan Wayag yang fenomenal. Medan pendakian terjal dengan bebatuan tajam. Dan ditambah kami harus bergegas berlomba dengan waktu agar kami tidak kemalaman di jalan karena ombak yang tinggi akan memperlambat. Syafrina yang merasa tidak yakin mampu dapat sampai ke atas, urung ikut dan memilih berenang sambil menunggu kami. Ikeu berkeyakinan lain bahwa Syafrina pasti bisa! Entah bagaimana… pemandangan selanjutnya adalah urutan ke 2 dari belakang ada sosok Sally Marcellina (hihihi tau kan movie star sexy di pilem Warkop! Pissss Sya!) lengkap dengan bikini berusaha menapaki bebatuan dengan booties-nya!

Climbing Wayag

Climbing Wayag

Ngomongin outfit, 2 teman lain mengalami robek celana yang gak tanggung-tanggung! Breeettttt sesobek-sobeknya: Septy dan

Mas Bayu!

Celana saya?? Amaaaan hehehe

 

Puncak Wayag, kami siibuk berpose mengabadikan perjuangan menuju puncak Wayag!

Puncak Wayag, kami siibuk berpose mengabadikan perjuangan menuju puncak Wayag!

Sally Marcellina oops Syafrina made it!

Sally Marcellina oops Syafrina made it! Bikini booster? 😛

Puncak Wayag! Yay!!

Puncak Wayag! We Made it! Yay!!

#7 – Wayag – Waisai, Ketika Hati Merapat Pada-Nya yang Kuasa

Perjalanan kembali lebih menguras mental dan kepercayaan kami pada yang Kuasa. Kalau Percy Jackson jadi ikut mungkin bisa bantu kami bicara pada Poseidon untuk membiarkan kami lewat dengan damai 😛

Meskipun saya pernah mengalami badai yang lebih buruk tapi kali ini lebih lama, berjam-jam kami dihempas gelombang tinggi dan terhentak dari tempat duduk kami. Angin kencang yang membawa air membuat kami menggigil kedinginan. Septy mengenakan jas hujan, Didik merapat mencari kehangatan. Di sisi lain Ikeu modus merapat pada Mas Bayu (beuuuu), saya bersembunyi dibalik life jacket mengikuti cara TJ dan tak lupa merapat juga, sedangkan Syafrina entah sudah pil antimo yang keberapa dia minum, memilih mojok duduk dibawah…TIDUR! Hahaha (Anak langka inih!!)

 

Para Koboy berani tepos duduk 13 jam pp waisai-wayag, cengar cengir blom kena badai gelombang! :D

Para Koboy berani tepos duduk 13 jam pp waisai-wayag, cengar cengir blom kena badai gelombang! 😀

Terlalu banyak yang terlewatkan untuk saya bagikan disini. My point is it wasn’t a perfect trip as so called failure of situation and things were every where during the trip. Embrace it and we are just fine. 

Quote of The Blog

Quote of The Blog

 

Pesona Raja Ampat di Ujung Timur Nusantara

Alam Papua terutama Raja Ampat sudah mendunia karena keberadaannya yang masih asli dan menakjubkan. Menuju Raja Ampat, pintu masuknya adalah Waisai sebagai ibukota kepulauan Raja Ampat. Dari Sorong dapat ditempuh dengan kapal ferry sekitar 1,5 – 2 jam dengan tarif 130.000 IDR. Dibandingkan dengan ferry yang pernah saya gunakan, ini cukup bersih, semua penumpang duduk berdasarkan no. kursi dan –yang penting- ON TIME! Pukul 14.00 kapal biasanya sudah berangkat, tapi pada hari-hari tertentu ada tambahan keberangkatan pagi pukul 9.00.

Dari Waisai kita bisa langsung menuju home stay yang ada di pulau-pulau disekitarnya atau cukup tinggal di Waisai untuk kemudian menyewa kapal untuk hopping island. Sedangkan kami memutuskan untuk tinggal di salah satu resort di Waisai. Terletak tidak jauh dari pelabuhan Waisai, sekitar 15 menit, Pandawa Dive Resort menawarkan kenyamanan kamar, pelayanan dan tentu saja pemandangan.

 

Pemiliknya, Bapak dan Ibu Yoppi yang kebetulan juga tinggal di area resort sangat ramah dan banyak membantu kami memberi rekomendasi tentang lokasi-lokasi yang harus kami kunjungi dan jasa kapal yang dapat kami sewa.

Painemo – The Little Wayag

Disebut demikian karena memang mengunjungi Painemo kita akan disuguhi pemandangan ‘seperti’ Wayag. Bahkan semacam simulasi sebelum kita benar-benar menempuh Wayag sesungguhnya. Diperlukan sekitar 3-4 jam menembus lautan dari Waisai menuju Painemo. Dilanjutkan dengan menapaki tangga menuju puncak bukit sekitar 15-20 menit. Puncak Painemo sudah dibangun pagar pembatas sehingga aman bagi pengunjung untuk berfoto dengan latar belakang gugusan pulau-pulau hijau yang bertebaran dengan warna gradasi laut nan indah.

Arborek

Waktunya pasang snorkeling gear! Sebagai kepulauan yang berdasarkan penelitian mempunyai 75% dari seluruh spesies karang di dunia. Tidak ada tempat lain di dunia yang mempunyai jumlah spesies karang sebanyak itu dalam 1 lokasi yang terbilang kecil. Dengan banyaknya spesies karang di Kepulauan Raja Ampat, secara otomatis juga terdapat banyak spesies ikan karang. Arborek merupakan salah satu tempatnya.

Pulau Mansuar

Pulau yang berpenduduk kurang lebih 100an kepala keluarga ini tertata rapi. Selepas ber-snorkeling kami yang beruntung ditemani oleh anak pemilik resort yang juga adalah seorang dokter, mengajak kami berkeliling desa tempat ia dulu pernah mengabdikan diri selama 1 tahun sebagai dokter PTT. Menapaki tanah pantai putih, penduduk yang kami lalui tampak ramah ketika kami sapa. Terdapat 2 sekolah, SD dan SMP dan puskesmas sebagai sarana publik. Sayang tak ada satupun dari kami bertiga yang membawa kamera, karena memang kami tidak merencanakan berjalan jauh masuk ke perkampungan warga. Menyenangkan sekali mendengarkan sapaan dan melihat senyum ramah mereka.

Pasir Timbul

Dinamakan Pasir Timbul karena memang seperti itulah penampakannya, bukan berupa pulau tapi berupa hamparan pasir yang muncul di permukaan air. Kami semburat turun dari kapal menikmati hamparan pasir putih dan halus dikelilingi laut lepas biru dan hijau turquoise yang memantulkan refleksi langit cerah dengan gumpalan-gumpalan awan putihnya. Heaven!

Teluk Kabui

Saya menyebutnya labirin laut! Laju kapal diperlambat ketika menelusuri Teluk Kabui karena harus berkelok diantara pulau-pulau kecil namun menjulang tinggi. Ibarat di jalan daratan, kami sedang menggunakan jalan tikus. Lambatnya laju speed boat memberi kami waktu untuk menikmati pemandangan ‘dunia’ lain kami. Seru dan menegangkan terutama ketika kami harus melewatinya lagi saat malam hari tanpa penerangan kecuali sebuah lampu senter kecil yang diarahkan secara manual diujung depan oleh salah satu awak kapal.

Wayag

Wayag ditempuh +/- 5 jam perjalanan speed boat dari Waisai tergantung keadaan ombak. Seperti ketka menuju wayag kecil, disinipun kita harus diuji untuk mencapai puncak bukit sebelum dapat menikmati pemandangan fenomenal hamparan laut biru kehijauan berhias gugusan pulau. Bedanya adalah, kali ini tanpa tangga dengan bukit berbatu kapur yang tajam dan kemiringan bervariasi sampai hampir 90 derajat! Tapi akan sebanding dengan reward yang akan kita jumpai di atas sana! Jika berencana mendaki Wayag, sandal gunung is a must! Saya bahkan lebih memilih memakai sneakers karena dengan begitu lebih aman dari ancaman batu-batu tajam. Hanya memakan waktu 20-30 menit tergantung kesiapan fisik, kita sudah bisa mencapai puncak. Lebih baik lagi kalau dilanjutkan mendaki puncak tambahan, sedikit lebih berbahaya tapi pemandangan yang ditawarkan pun jauh lebih menakjubkan!!

Kendala dan Tantangan

Alam indah permukaan dan bawah laut Raja Ampat, atau dalam hal ini wilayah Pulau Waisai dan sekitarnya, memang tak terbantahkan, dunia mengakuinya. Namun demikian tantangan yang harus dihadapi bagi wisatawan yang hendak berkunjung adalah jauhnya letak antar pulau tujuan wisata. Raja Ampat merupakan empat pulau besar: Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool. Dan untuk mencapai pulau-pulau tersebut ditempuh dari Sorong dengan berbagai jenis kapal; private dan publik. Kendala lain adalah minimnya jadwal kapal keberangkatan menuju Pulau Misool yang saat ini masih hanya 1x seminggu, dan itupun kapal barang, kecuali anda dapat mengupayakan budget minimal 28 juta dengan menggunakan private boat. Harga yang (sangat) mahal di Papua ini dikarenakan bahan bakar minyak disana 3x lipat harga normal yang pada akhirnya semua biaya hidup disana relatif lebih mahal dibanding pulau-pulau lain di Indonesia. Jadi, untuk dapat menjelajahi ke-ampat pulau Raja akan membutuhkan waktu berminggu-minggu dan finance support yang tidak sedikit.

Cuaca, keadaan yang tidak bisa ada dalam kendali kita, menjadi sangat penting ketika kita berada di lautan. Angin besar, gelombang besar tak lagi kenal musim, alhasil kita tidak bisa melakukan kegiatan dalam laut, snorkeling ataupun diving. 

Maka tips dari perjalanan ini adalah: Prepare for the worst, Ready for the BEST!

ENJOY INDONESIA!!

PS: berhubung kendala teknis, gambar belum bisa disertakan.

 

‘One of Those Days’ Landed in Tanjung Bira – South Sulawesi

QUOTE of the blog:

Lahir boleh bertempat dimana pun tapi mimpi harus bertempat diatas langit -Anis Baswedan

 

This trip was actually last month’s trip, during our Spring Break. And today my writiing mood somehow was in the air after viewing my photos… this is the feeling….

What if one of those days really meant the happiest day of your life, despite the fact unfortunate events temporarily plague your existence? 

As the fact that I had a last minute offer for a trip -yea..yea..like this is the first time, ha!   Something these folks like to do to me (Semena-mena!) That was really one of those days!! “Rie! are you IN or NOT? Next week for the long weekend TJ offers a trip to Bira. Bla…bla..bla…”

I was like “WHATTtt??!!” definitely that’s one of those days! Beruntung tiket yang gw beli baru CGK-SUB aja dan belum beli tiket balik Jakarta, karena rencana awal cuma mau sowan ortu and bertemu teman-teman lama (yang lebih waras) aja. 😉

DAN terbentuklah crew Tanjung Bira (tanpa HI):

TJ -seksi transport, seksi acara, seksi negosisasi, seksi akomodasi, seksi..sekaleh

Didik suAndrew -Induk semang perwakilan Surabaya

Vine -Bendahara favorite pemilihan pemirsa

Jo – Kristin – Gustin -Me:  Sukarelawan yang siap dengan segala kerendahan hati berpesta pora!

NOTE:

-Kristin- temen baru bonus trip ini dan dia punya panggilan unyu: It’s DUGONG.. :p unyu banget kan…

And yang ini juga penting, terutama buat mereka yang belum pernah menginjakkan kaki di Terminal 1 Bandara Juanda. Jangan sampe kayak orang dongo nyari-nyari petugas custom untuk periksa tiket di pintu masuk Terminal, kayak di terminal-terminal lain di Bandara Indonesia. Nah di Juanda Terminal 1 lo boleh masuk melewati pintu otomatis tanpa penjagaan. Itu lhooo.. pintu yang biasanya lo cuma bisa dadah-dadah aja melambai penuh haru kalo nganterin gebetan lo pulang ke negaranya..-eh!

Sesi berikutnya, setelah lo masuk ke dalem…kayak orang dongo deh lo celingukan nyari penunjuk arah, mana dia Gate cek-in, sambil cengar-cengir biar kliatan rada pinter (red. seperti yang diceritakan kembali oleh korban –>Jo hihihi).

 

Yuk Mariii kita mulai perjalanan kita

Ada Apa Di Tanjung Bira? Ada KAMBING!

Whattttt???!!! 5 Jam dari Makassar demi KAMBING?!!

Reaksi lebay kita kira-kira kayak gitu waktu TJ mulai membacakan susunan acara yang diawali dengan kata-kata sambutan yang berisi janji-janji manis surgawi untuk mencicipi segala kenikmatan surgawi sepanjang perjalanan menuju Bulukumba, mulai dari putu mayang, durian, ikan bakar segar di pinggir jalan sampai karpet permadani untuk oleh-oleh orangtua atau gebetan tersayang (ok yang terakhir agak hoax).

So, we reached Bulukumba around 10ish pm.

Setelah ngobrol-ngobrol gak penting, we agreed to be ready by 8 am tomorrow morning and headed to Kambing Island! Oh yeah we’re all curious. What with this island…why is it named after goat?

Pulau Kambing - Tanjung Bira

Pulau Kambing – Tanjung Bira

So this is it! Gak ada mirip-miripnya kambing kan? Kecuali nengok yang snorkeling yaaaa.. Hahahahha!

Jadi ternyata, kata Si Bapak Pemandu, di pulau itu dulu banyak kambingnya, kambing gunung, trus pengunjung yang merubah nama pulau itu jadi Pulau Kambing. Tapi celinguk punya celinguk gak ada kambing barang se-mbek acan… ngelirik curiga “Beneran Pak? mana kambingnya?! Hoax ya?!” Si Bapak kapal belagak memandang jauh kehamparan horizon biru yang membentang :p halah!

Tanjung Bira

Spot Snorkeling Pulau Kambing

Spot Snorkeling Pulau Kambing

Too bad..Kita gak ada yang bawa kamera underwater…karena gak ada yang punya! 😀 hahahahah

Tapiiiiii…Kristin, mahkluk menyerupai ikan yang notabene jago nyelem kayak bebek -duck dive- spot an abandon camera nun jauh di dasar laut. Dengan bantuan ikan lain yang menyerupai Bapak pengemudi kapal, kamera itu berhasil dijemput! Daaaan….. -drum rollllll- GoPro Hero 3+ !!! Hasil kerjasama dugong dan paus hitam sangat ruar biasah!

Pulau Liukang

Di pulau ini kita ngaso…makan dulu…poseee…

Lunch Break at Liukang Island

Lunch Break at Liukang Island

Pulaunya kecil dan gak rame. Makanannya enaaaak…apalagi kalo bukan ikan bakar ditemani young coconut fresh langsung bacok! 😀

Pantai Bara

Nih pantai paling sepi nih! penduduk cuma seliweran bisa diitung jari -kalo lebih dari 20 minjem jari temen sebelah yee

Ngapain coba di pantai sepi kayak gini?

Pantai Bara

Pantai Bara

Dengan adanya orang-orang ini….

Jreng..Jreng!

Jreng..Jreng!

Apaa lagiiiiii…..

Berusaha meyakinkan semua orang bahwa dia bukan dugong tapi ikan pari terbang!

Berusaha meyakinkan semua orang bahwa dia bukan dugong tapi ikan pari terbang!

membuat jingkrakan kecil yang manis

cukup membuat jingkrakan kecil yang manis.. uhuk..ehm

Berusaha ngapung ala pesawat UFO

Berusaha ngapung ala pesawat UFO

Suketi Bersemedi cari wangsit sambil ngunyah bunga melati

Suketi Bersemedi cari wangsit sambil ngunyah bunga melati

Jejingkrakan!

Jejingkrakan!

Daaan….

P. O. S. E.

P. O. S. E.

And Again...

And Again…

Love the clear sky and the hanging clouds that really meant to be there just for us to capture their beauty nature. Yes..you may ignore those faces and concentrate on the background 😀

Soooo… angkat backpack! Can’t wait for my next ONE OF THOSE DAYS! will land in RAJA AMPAT, Papua!

 

Once Upon a Time in Togian with Surprises

Felt so excited when I was asked to join in the trip!! Kompas kami -aka TJ mengarahkan perjalanan kami tetap berada di kisaran Sulawesi Tengah.

Karena perjalanan ke Togian sudah berlalu sebulan yang lalu, euphoria yang terasa agak sedikit memudar. Untuk mengingatkan dan bercerita saya tuangkan lewat foto yang berhasil saya kumpulan dari teman-teman seperjalanan saya kali ini saja yaaa..

Tapi…mungkin saya perkenalken dulu para jawara ransel kali ini. Yaaaa meskipun gak ada perbedaan dari tiap trip pelosok yang saya lakukan.

Peserta wajib tentu saja: TJ dan Andrew pasangan yang berkolaborasi sebagai penentu tujuan berdasarkan keksotisan tempat plus akomodasi terjangkau (alias MURAH) 😉 mereka juga yang merancang itinerary. Dan ditanggung hasil rembukan mereka tak mengecewakan.

Anak-anak mereka: Dori dan Vine. Nama yang pertama, konon punya ilmu mengecilkan barang bawaan karena dia selalu membawa backpack versi minimalis EVER! (Pengen juga berguru ke doi dalam rangka meringkaskan ukuran paha gw 😛 Doriiiiiii…!!! gimme the damn spell..!!) Nama berikutnya adalah treasurer kita yang juga punya ilmu tersembunyi yang masih misterius dan jadi incaran kami-kami si kulit berminyak. Nah gimana enggak? Di kala kita semua sudah menunjukkan wajah nan licin (NOT like what you think yaaa) karna minyak yang alhasil tampil kumus-kumus bak anak alay, Vine tetap tampil dengan wajah cihuy-nya. Apalagi coba kalau gak pake ilmu ‘Wajah tak berminyak’ 😀

Berikutnya adalah Suketi dan Sule, mengapa nama mereka saya sandingkan? karena mereka berdua selalu tampil elegan (INI dengan arti sesungguhnya lhooo..). Hanya sajaaaa Suketi adalah ‘kutu’ kamera! Dari 100 foto, 99,99% pasti dia ada! Hahaha. Sedangkan Sule, she is a new addition to my trip… I’m adjusting 😉

Yang terakhir adalah Jo, mengaku sebagai bulldog/herder kelompok kami.. Ya kan Jo??! Hahaaha

Daaaan….berikut adalah satu lagi pengalaman kami menelusuri daerah terpencil di timur Indonesia.

Kita mendapatkan paket Surprise dari Ulfa aka Upa. Wajah-wajah sumringah yang sudah tak sabar menerjang ombak menguak misteri gugusan Togian islands. Cuuuuus..!!

Kita mendapatkan paket Surprise dari Ulfa aka Upa. Wajah-wajah sumringah yang sudah tak sabar menerjang ombak menguak misteri gugusan Togian islands. Cuuuuus..!!

Kita menikmati makan malam ter-spekta sepanjang sejarah backpacking kita hahahaha!! Lobsters for dinner! Yummm

Kita menikmati makan malam ter-spekta sepanjang sejarah backpacking kita hahahaha!! Lobsters for dinner! Yummm!!

Note: Sebagai herder kelompok, Jo dengan tegas menolak berbagi dengan turis lain yang memandang penuh gairah dan sirik pada hidangan di meja kita! Bahkan mereka hanya rela berfoto dengan cangkang sampah kita…Hahaha..!

Leyeh-leyeh dulu.... Cheers! :P

Leyeh-leyeh dulu…. Cheers! 😛

So this is it..! Pose mati gaya kami on the way ke pulau: Ada yang gaya ngegoler, nge-headset music, ato nelungkup aja kayak sayah! 😉

Gaya lenje kita di menit-menit awal mengarungi laut. :D

Gaya lenje kita di menit-menit awal mengarungi laut. 😀

Katupat Island - Ngaso2 setelah 4 jam berperahu dari Pulau Bomba. Disuguhi young coconut as the welcome drink.

Katupat Island – Ngaso2 setelah 4 jam berperahu dari Pulau Bomba. Disuguhi young coconut as the welcome drink.

Dan sesi berikutnyaaa.. Apalagi kalo bukan potoh2 sebelum nyemplung! Klik!

Dan sesi berikutnyaaa.. Apalagi kalo bukan potoh2 sebelum nyemplung! Klik!

Morning Tea by the beach... Cheers!!

Morning Tea by the beach… Cheers!!

Setelah dati pulau- pulau di Togian, salah satu dari kami, TJ harus berjuang mengais berlian di ladang BOSOWA di Makassar, jadi kami pun sepakat mengakhiri kebersamaan kami. (Gak rame kalo gak da lo TJ 😛 )

Kami pun berpisah menjadi 2 grup: Jo, Andrew, Dori, Vine dan Sule mengarah ke Poso untuk keesokan harinya berlanjut ke Makassar dan kemudian Surabaya. Sedangkan TJ, Suketi dan Saya mengarah ke Palu untuk keesokan harinya dilanjutkan ke Balikpapan. Ini artinya kami harus menempuh perjalanan 10 jam via darat dari Ampana ke Palu. All good until sometimes before midnight we were stopped by a troop of police officers (Yes troop) because they are many of them with fully armed. Poso seperti kita tahu adalah wilayah rawan sebagai tempat persembunyian teroris. Alhasil mobil travel yang kami tumpangi pun diperiksa. TJ mendapat kehormatan diperiksa lebih detail dibanding dengan penumpang lainnya hihihihi….

Kejadian spekta lainnya adalah sesampainya kami di Palu, kami kesulitan mencari penginapan dari kelas bintang kecil sampai bintang kejora… susah bro! Kami pun akhirnya dapat penginapan seadanya at 2 pm! setelah berjam2 keleleran…untung gak dilalerin 😀 😛

The next day in Balikpapan!

trekking di Bukit Bingkarai

trekking di Bukit Bingkarai

 

View of the top

View of the top

IMG_2993

 

Can’t wait for the next destination..!!!