Misteri Waisai – Raja Ampat, Papua

Kata-kata yang berseliweran di kepala saya belakangan adalah melulu tentang berita pemilu dan capres yang membuat saya gagal GOLPUT tahun ini, sampai-sampai gegap gempita euphoria kegiatan nyeret ransel ke Raja Ampat teredam begitu saja.

Hehehehe…

Buat yang cari berita ada apa di ujung Indonesia timur, negeri Papua, berikut kisah kami… Bersiaplah berimaji….

The Meeting Point

Reuni berperiodik dengan kawan-kawan penyeret ransel kali ini bermuara di Bandara Hasanuddin, Makassar, sebagai meeting point kami. Manggul backpack 35++ (+mijit paska trip!), nenteng fin beserta nylempang tas yang lumayan gendut (yaaa… yang ini udah di komen sbg pengungsi di media chatting..), pasrah bakal dicomelin bibir kisruh mereka, saya celingukan sambil menajamkan telinga mencari modulasi medok jowo diantara kerumunan. Dan memang gak susah nyari mereka! 😉

“Hai! Riri…”

“Hai! Syafrina…”

Saya menyalami a new addition in the group sambil takjub ngliat barang bawaannya yang spekta! (pisssss Sya!) heuheuheu. Carrier di punggung, backpack at the front dan snorkel cs ditenteng.

Syafrina dengan setengah paket barang bawaan ;p

Syafrina dengan setengah paket barang bawaan ;p

So kami ber-6: TJ, Didik SuAndrew, Septy, Ikeu, Syafrina and I dengan penuh keharuan karena kita menapaki gate menyongsong…G A R U D A   I N D O N E S I A… menjelang tanah PAPUA! eeeiits..pasti pada ngira kita bakalan naek pesawat jumbo kaaan (lebay yaa),  yaaa sukur-sukur bukan pesawat baling-baling kayak trip wakatobi. Hehehe.. Tapi pesawatnya emang kecil, dengan hanya 4 seater di tiap row, plus langit-langit yang rendah (jadi berasa tinggi gweh!)

 

Off to SORONG!!! And the Magical moments begin!!!!

Entah siapa yang bawa lucky charm, tapi sepanjang perjalanan there’s always a magical moment, dari kacamata saya at least…

Kejadian Ajaib #1

Seorang teman yang tadinya bakal gabung, tiba-tiba cancel dan luckily ada anak CS (Couch Surfing) yang mau join sehingga jumlah kita gak jadi berkurang. Jumlah anggota trip emang penting ketika kita perlu menggunakan transportasi sewa menyewa karena pengaruhnya pada budget sharing… -meskeeeeen..- hahahaha backpackeeer (mesken bangga!)

So..bergabunglah Sara, pelancong Amrik yang berniat backpacking berkelompok di Raja Ampat.

Pasti pada protes… gitu aja dibilang ajaib…

Baiklah! Abaikan kalo getoo.. :p

 

Kejadian Ajaib #1 sebenarnya – Dapat Teman-teman Baru

Sara yang lagi nunggguin kita di stasiun eh bandara (kayak stasiun sih..) di Sorong ngejogrok sendirian, mengundang iba  seorang putera daerah yang belakangan kita tahu bernama Ryan, demi melihat seorang bule cewek ngesot dengan pasti di lantai bandara yang besarnya kira-kira…mmmm 3×3 gajah dewasa dijejerin (yup math gw payah), menghampiri dan menemani. Kemudian bergabung dengan kami.

Nah! Dari sini…story trip kami pun menjadi plus plus penuh kejutan dengan adanya guide sukarela ini.

Oya, waktu kita lagi nunggu barang di conveyer, Ikeu histeris karena ternyata ada teman lama mereka, Okky, yang dengan manisnya melambai-lambai di jendela kaca. Dengan kebaikan hati Okky, kami dapat anteran menuju pelabuhan Sorong, off to WAISAI!!  Nah jadi, selain Sara dan Ryan, ada juga Okky yang rela menutup awal mata pencahariannya aka toko pada hari itu demi menjemput teman-temannya. aaah…so sweet gak sih!

Sorong menuju Waisai

Sorong menuju Waisai

#2 – Got A Nice Place to Stay

Dari Sorong kami naik kapal ferry menuju Waisai, Ibukota dari Raja Ampat. Somehow Didik tidak bisa menghubungi pihak home stay yang akan kami tinggali karena keterbatasan jaringan telepon disana. (Gunakan kartu telkomsel yang kagak ada matinya di Papua. Provider lain mati suri! Wasalam deh!)

Sampai menjelang merapat ke Waisai, kami masih belum tahu bagaimana cara menghubungi pihak penyedia homestay.

“Teman-teman, bokap sebenernya baru buka resort di Waisai. Kalau mau gw tanyain masih ada kamar gak. Bla..bla..bla..” kira-kira kalimat itu yang meluncur kemudian dari mulut Ryan yang duduk di nun ujung barisan kursi. FYI, arrangement sitting kapalnya adalah 3-5-3. Kami mengisi barisan 3-5. Jadi cara berkomunikasi kami adalah pesan berantai karena Ryan berada di ujung seater 5!

Anyway… akhirnya kami pun menyimak, berembug, menimbang dan memutuskan: Hayyuu dah! 😀

Kami pun melenggang dengan elegan menaiki ‘limousine’ yang menjemput membawa kami ke Pandawa Dive Resort, Waisai!!

Yahoooo!!!

Yahoooo!!!

 

Berfoto dengan the owner, Om Yoppi, At Pandawa Dive Resort

Berfoto dengan the owner, Om Yoppi, At Pandawa Dive Resort

Disana kami disambut ramah oleh pemilik resort yang tak lain adalah orangtua Ryan, teman baru kami.

Entah karena saking senangnya bertemu anak mereka yang sudah cukup lama tak bertemu atau kasihan liat tampang-tampang kucel kami, mereka dengan sukarela memberi super discount harga pada kami. Yaaay!!!

Fasilitas RESORT harga HOMESTAY!! Ajib gak tuh!!

550.000 –> 350.000

Kamar ber-AC, hot water and 3x meals –>The BEST DEAL!!

Nice spot

Nice spot

 

At the jetty

At the jetty

#3 – We Found A Family

Teman-teman semua pasti setuju kalo kita ngerasa very much welcomed dari hari pertama tinggal di Pandawa. They are warm-hearted peeps.

Sore itu kita tanpa komando, satu-satu akhirnya berkumpul di jetty, yang memang inviting banget buat ngobrol atau sekedar menikmati horizon dan ikan-ikan yang berlompatan. Ortu Ryan, Om Yoppi dan Tante Lidya pun ikut nimbrung. We had a good time.

Sore itu juga kami dicarikan kapal untuk kami ber-hopping island keesokan harinya. Kami deal dengan harga 7jt menuju 5 spot: Painemo, Teluk Kabui, Arborek, Mansuar dan Pasir Timbul (belakangan kami tahu dari penyedia jasa kapal lain bahwa harga segitu hanya untung tipis, lucky us!)

Off for hopping island

Off for hopping island

Pasir Timbul #superJump

Pasir Timbul #superJump

#4 – Tragedi Gagal Misool Membawa Berkah

Kami memutuskan untuk tidak ke Wayag selain jauh +/- 5-6 jam perjalanan dengan speed boat, juga karena mahal. Info yang kami dapat, cost kapal minimal adalah 18 juta! Yikes!!! Hidup kami disana masih 4 hari kedepan! Kami pun harus puas dengan Wayag kecil aka Painemo, yang memang mempunyai kemiripan view dengan Wayag sebenarnya. Berembug, menimbang dan berhitung….kami memutuskan berangkat keesokan paginya kembali ke Sorong untuk kemudian melanjutkan ke Misool. Kendalanya adalah minimnya info tentang keberangkatan kapal menuju Misool. Setiap orang yang kami jumpai, kalau tidak tahu atau memberikan jawaban beragam. Begitu juga info yang Syafrina (satu-satunya yang bisa tetap eksis dengan gadgetnya. –brought to you by telkomsel) cari via online.

Nekat, kami tetap berangkat ke Sorong. Tante Lidya yang sudah berada di Sorong sehari sebelumnya menjemput kami.. eh! Ryan anaknya ding hehehe.. tapi sekali lagi mendengar planning kami yang belum tahu pasti jadwal kapal ke Misool. Beliau ‘mengawal’ pencarian info untuk kami (salut dengan kecekatan beliau ini! Gak salah kalau ternyata beliau mantan anggota DPRD 🙂 ). Setelah di lempar dari satu kantor ke kantor informasi yang lain untuk membeli tiket….akhirnya kami mendapat info bahwa kapal berangkat ke Misool hanya hari SABTU! Padahal kita hanya sampai hari Jumat saja disana.

Kami galau…nanar saling berpandangan… Where to go?!!

Ke pulau sekitar sini aja. Balik ke Makassar aja. Ke Taka Bonerate aja. Ide-ide berseliweran.

Di tengah panas terik kota Sorong yang menemani kegalauan kami, Tante Lidya menawarkan kesejukan untuk beristirahat di rumah mereka. Disana bisa dibicarakan lagi bagaimana selanjutnya. So blessed! Alhamdulillaaah….

Kelompok kami nyaris semburat. Sara memutuskan berangkat ke Makassar lebih awal dan Syafrina sudah tak kuasa mengikuti dinamika backpacking surprises sehingga memutuskan kembali ke Jakarta, sedangkan kami berencana kembali ke Waisai untuk kemudian menuju pulau lain. Tapi kemudian Papua masih menahan mereka, harga penerbangan melambung tinggi yang membuat Sara mengurungkan niatnya, Syafrina mendapat suntikan dana dari ‘oknum’ di Jakarta dan dia memutuskan untuk stay! 😉

Cerita pun berlanjut dengan perkenalan  kami dengan Pak Heyn, penyedia jasa one day trip ‘jurusan’ Wayag. Kami mendapat penawaran 12 juta dengan bergabung dengan 3 tamunya yang lain. It’s still over our budget.

Setiap orang mempunyai goal tersendiri dalam kegiatan traveling yang dijalani selain tempat yang di tuju. Saya pribadi, I’m open to any possibilities. Banyak hal yang bisa dipelajari, terutama dari yang namanya diawali mis- : misinformation, miscalculation, misunderstanding, misTAKE. Mungkin bukan buat kita secara langsung tapi sebagai bahan pelajaran bagi orang lain. (Ok TUA gw kumat! heehe)

Anyway… kami kembali ke Pandawa Resort! hehehehe padahal udah dadah dadah salam perpisahan 😛

Hikmah hari itu, kami mendapat deal dengan Kak Heyn 7 jt untuk trip ke Wayag keesokan harinya! Dan 650 rb/orang untuk diving di Waiwo! Super!

#5 – Berburu Toilet di Teluk Kabui

 Kami bersiap dari pukul 5 WITA (yang berarti pukul 3 WIB!) karena pukul 6 kami akan dijemput menuju Wayag. Setelah sarapan super dini kami berangkat sekitar 6.30 WITA. Setelah menjemput 3 tamu lain perjalanan masih berjalan lancar. Sampai kemudian adalah suara mendesah tertahan sambil memegangi perut, “Ikeu…gw muleeesss!” Syafrina meringis merengek pada Ikeu (sebagai pemeran Ibu pengganti buat Syafrina selama trip heheehe..). Nah Lo! Ditengah laut pengen poop…Apa kabar????! Lucu..tapi kami tak tega ketawa melihat Syafrina terus meringis dan panik! hehehehe..

Kak Heyn menyuruh sabar, kita merapat ke pulau terdekat di Teluk Kabui.

Toilet traditional: nongkrong langsung PLUNG! :D

Toilet traditional: nongkrong langsung PLUNG! 😀

Karena saya juga kebelet pipis, kami bertiga men’darat’ mencari toilet. Kami pun harus berjuang menaiki tangga rapuh tak beraturan. Ikeu hampir jatuh ketika pijakan anak tangga patah. It was so close! Thank God she was saved.

#6 – Celanamu, Celanaku dan Bikini di Wayag

Angin cukup kencang yang menjadikan gelombang pun tinggi, tapi kami dapat dengan selamat mencapai tujuan: WAYAG! Kami harus mencapai puncak untuk dapat menikmati pemandangan Wayag yang fenomenal. Medan pendakian terjal dengan bebatuan tajam. Dan ditambah kami harus bergegas berlomba dengan waktu agar kami tidak kemalaman di jalan karena ombak yang tinggi akan memperlambat. Syafrina yang merasa tidak yakin mampu dapat sampai ke atas, urung ikut dan memilih berenang sambil menunggu kami. Ikeu berkeyakinan lain bahwa Syafrina pasti bisa! Entah bagaimana… pemandangan selanjutnya adalah urutan ke 2 dari belakang ada sosok Sally Marcellina (hihihi tau kan movie star sexy di pilem Warkop! Pissss Sya!) lengkap dengan bikini berusaha menapaki bebatuan dengan booties-nya!

Climbing Wayag

Climbing Wayag

Ngomongin outfit, 2 teman lain mengalami robek celana yang gak tanggung-tanggung! Breeettttt sesobek-sobeknya: Septy dan

Mas Bayu!

Celana saya?? Amaaaan hehehe

 

Puncak Wayag, kami siibuk berpose mengabadikan perjuangan menuju puncak Wayag!

Puncak Wayag, kami siibuk berpose mengabadikan perjuangan menuju puncak Wayag!

Sally Marcellina oops Syafrina made it!

Sally Marcellina oops Syafrina made it! Bikini booster? 😛

Puncak Wayag! Yay!!

Puncak Wayag! We Made it! Yay!!

#7 – Wayag – Waisai, Ketika Hati Merapat Pada-Nya yang Kuasa

Perjalanan kembali lebih menguras mental dan kepercayaan kami pada yang Kuasa. Kalau Percy Jackson jadi ikut mungkin bisa bantu kami bicara pada Poseidon untuk membiarkan kami lewat dengan damai 😛

Meskipun saya pernah mengalami badai yang lebih buruk tapi kali ini lebih lama, berjam-jam kami dihempas gelombang tinggi dan terhentak dari tempat duduk kami. Angin kencang yang membawa air membuat kami menggigil kedinginan. Septy mengenakan jas hujan, Didik merapat mencari kehangatan. Di sisi lain Ikeu modus merapat pada Mas Bayu (beuuuu), saya bersembunyi dibalik life jacket mengikuti cara TJ dan tak lupa merapat juga, sedangkan Syafrina entah sudah pil antimo yang keberapa dia minum, memilih mojok duduk dibawah…TIDUR! Hahaha (Anak langka inih!!)

 

Para Koboy berani tepos duduk 13 jam pp waisai-wayag, cengar cengir blom kena badai gelombang! :D

Para Koboy berani tepos duduk 13 jam pp waisai-wayag, cengar cengir blom kena badai gelombang! 😀

Terlalu banyak yang terlewatkan untuk saya bagikan disini. My point is it wasn’t a perfect trip as so called failure of situation and things were every where during the trip. Embrace it and we are just fine. 

Quote of The Blog

Quote of The Blog

 

Pesona Raja Ampat di Ujung Timur Nusantara

Alam Papua terutama Raja Ampat sudah mendunia karena keberadaannya yang masih asli dan menakjubkan. Menuju Raja Ampat, pintu masuknya adalah Waisai sebagai ibukota kepulauan Raja Ampat. Dari Sorong dapat ditempuh dengan kapal ferry sekitar 1,5 – 2 jam dengan tarif 130.000 IDR. Dibandingkan dengan ferry yang pernah saya gunakan, ini cukup bersih, semua penumpang duduk berdasarkan no. kursi dan –yang penting- ON TIME! Pukul 14.00 kapal biasanya sudah berangkat, tapi pada hari-hari tertentu ada tambahan keberangkatan pagi pukul 9.00.

Dari Waisai kita bisa langsung menuju home stay yang ada di pulau-pulau disekitarnya atau cukup tinggal di Waisai untuk kemudian menyewa kapal untuk hopping island. Sedangkan kami memutuskan untuk tinggal di salah satu resort di Waisai. Terletak tidak jauh dari pelabuhan Waisai, sekitar 15 menit, Pandawa Dive Resort menawarkan kenyamanan kamar, pelayanan dan tentu saja pemandangan.

 

Pemiliknya, Bapak dan Ibu Yoppi yang kebetulan juga tinggal di area resort sangat ramah dan banyak membantu kami memberi rekomendasi tentang lokasi-lokasi yang harus kami kunjungi dan jasa kapal yang dapat kami sewa.

Painemo – The Little Wayag

Disebut demikian karena memang mengunjungi Painemo kita akan disuguhi pemandangan ‘seperti’ Wayag. Bahkan semacam simulasi sebelum kita benar-benar menempuh Wayag sesungguhnya. Diperlukan sekitar 3-4 jam menembus lautan dari Waisai menuju Painemo. Dilanjutkan dengan menapaki tangga menuju puncak bukit sekitar 15-20 menit. Puncak Painemo sudah dibangun pagar pembatas sehingga aman bagi pengunjung untuk berfoto dengan latar belakang gugusan pulau-pulau hijau yang bertebaran dengan warna gradasi laut nan indah.

Arborek

Waktunya pasang snorkeling gear! Sebagai kepulauan yang berdasarkan penelitian mempunyai 75% dari seluruh spesies karang di dunia. Tidak ada tempat lain di dunia yang mempunyai jumlah spesies karang sebanyak itu dalam 1 lokasi yang terbilang kecil. Dengan banyaknya spesies karang di Kepulauan Raja Ampat, secara otomatis juga terdapat banyak spesies ikan karang. Arborek merupakan salah satu tempatnya.

Pulau Mansuar

Pulau yang berpenduduk kurang lebih 100an kepala keluarga ini tertata rapi. Selepas ber-snorkeling kami yang beruntung ditemani oleh anak pemilik resort yang juga adalah seorang dokter, mengajak kami berkeliling desa tempat ia dulu pernah mengabdikan diri selama 1 tahun sebagai dokter PTT. Menapaki tanah pantai putih, penduduk yang kami lalui tampak ramah ketika kami sapa. Terdapat 2 sekolah, SD dan SMP dan puskesmas sebagai sarana publik. Sayang tak ada satupun dari kami bertiga yang membawa kamera, karena memang kami tidak merencanakan berjalan jauh masuk ke perkampungan warga. Menyenangkan sekali mendengarkan sapaan dan melihat senyum ramah mereka.

Pasir Timbul

Dinamakan Pasir Timbul karena memang seperti itulah penampakannya, bukan berupa pulau tapi berupa hamparan pasir yang muncul di permukaan air. Kami semburat turun dari kapal menikmati hamparan pasir putih dan halus dikelilingi laut lepas biru dan hijau turquoise yang memantulkan refleksi langit cerah dengan gumpalan-gumpalan awan putihnya. Heaven!

Teluk Kabui

Saya menyebutnya labirin laut! Laju kapal diperlambat ketika menelusuri Teluk Kabui karena harus berkelok diantara pulau-pulau kecil namun menjulang tinggi. Ibarat di jalan daratan, kami sedang menggunakan jalan tikus. Lambatnya laju speed boat memberi kami waktu untuk menikmati pemandangan ‘dunia’ lain kami. Seru dan menegangkan terutama ketika kami harus melewatinya lagi saat malam hari tanpa penerangan kecuali sebuah lampu senter kecil yang diarahkan secara manual diujung depan oleh salah satu awak kapal.

Wayag

Wayag ditempuh +/- 5 jam perjalanan speed boat dari Waisai tergantung keadaan ombak. Seperti ketka menuju wayag kecil, disinipun kita harus diuji untuk mencapai puncak bukit sebelum dapat menikmati pemandangan fenomenal hamparan laut biru kehijauan berhias gugusan pulau. Bedanya adalah, kali ini tanpa tangga dengan bukit berbatu kapur yang tajam dan kemiringan bervariasi sampai hampir 90 derajat! Tapi akan sebanding dengan reward yang akan kita jumpai di atas sana! Jika berencana mendaki Wayag, sandal gunung is a must! Saya bahkan lebih memilih memakai sneakers karena dengan begitu lebih aman dari ancaman batu-batu tajam. Hanya memakan waktu 20-30 menit tergantung kesiapan fisik, kita sudah bisa mencapai puncak. Lebih baik lagi kalau dilanjutkan mendaki puncak tambahan, sedikit lebih berbahaya tapi pemandangan yang ditawarkan pun jauh lebih menakjubkan!!

Kendala dan Tantangan

Alam indah permukaan dan bawah laut Raja Ampat, atau dalam hal ini wilayah Pulau Waisai dan sekitarnya, memang tak terbantahkan, dunia mengakuinya. Namun demikian tantangan yang harus dihadapi bagi wisatawan yang hendak berkunjung adalah jauhnya letak antar pulau tujuan wisata. Raja Ampat merupakan empat pulau besar: Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool. Dan untuk mencapai pulau-pulau tersebut ditempuh dari Sorong dengan berbagai jenis kapal; private dan publik. Kendala lain adalah minimnya jadwal kapal keberangkatan menuju Pulau Misool yang saat ini masih hanya 1x seminggu, dan itupun kapal barang, kecuali anda dapat mengupayakan budget minimal 28 juta dengan menggunakan private boat. Harga yang (sangat) mahal di Papua ini dikarenakan bahan bakar minyak disana 3x lipat harga normal yang pada akhirnya semua biaya hidup disana relatif lebih mahal dibanding pulau-pulau lain di Indonesia. Jadi, untuk dapat menjelajahi ke-ampat pulau Raja akan membutuhkan waktu berminggu-minggu dan finance support yang tidak sedikit.

Cuaca, keadaan yang tidak bisa ada dalam kendali kita, menjadi sangat penting ketika kita berada di lautan. Angin besar, gelombang besar tak lagi kenal musim, alhasil kita tidak bisa melakukan kegiatan dalam laut, snorkeling ataupun diving. 

Maka tips dari perjalanan ini adalah: Prepare for the worst, Ready for the BEST!

ENJOY INDONESIA!!

PS: berhubung kendala teknis, gambar belum bisa disertakan.

 

‘One of Those Days’ Landed in Tanjung Bira – South Sulawesi

QUOTE of the blog:

Lahir boleh bertempat dimana pun tapi mimpi harus bertempat diatas langit -Anis Baswedan

 

This trip was actually last month’s trip, during our Spring Break. And today my writiing mood somehow was in the air after viewing my photos… this is the feeling….

What if one of those days really meant the happiest day of your life, despite the fact unfortunate events temporarily plague your existence? 

As the fact that I had a last minute offer for a trip -yea..yea..like this is the first time, ha!   Something these folks like to do to me (Semena-mena!) That was really one of those days!! “Rie! are you IN or NOT? Next week for the long weekend TJ offers a trip to Bira. Bla…bla..bla…”

I was like “WHATTtt??!!” definitely that’s one of those days! Beruntung tiket yang gw beli baru CGK-SUB aja dan belum beli tiket balik Jakarta, karena rencana awal cuma mau sowan ortu and bertemu teman-teman lama (yang lebih waras) aja. 😉

DAN terbentuklah crew Tanjung Bira (tanpa HI):

TJ -seksi transport, seksi acara, seksi negosisasi, seksi akomodasi, seksi..sekaleh

Didik suAndrew -Induk semang perwakilan Surabaya

Vine -Bendahara favorite pemilihan pemirsa

Jo – Kristin – Gustin -Me:  Sukarelawan yang siap dengan segala kerendahan hati berpesta pora!

NOTE:

-Kristin- temen baru bonus trip ini dan dia punya panggilan unyu: It’s DUGONG.. :p unyu banget kan…

And yang ini juga penting, terutama buat mereka yang belum pernah menginjakkan kaki di Terminal 1 Bandara Juanda. Jangan sampe kayak orang dongo nyari-nyari petugas custom untuk periksa tiket di pintu masuk Terminal, kayak di terminal-terminal lain di Bandara Indonesia. Nah di Juanda Terminal 1 lo boleh masuk melewati pintu otomatis tanpa penjagaan. Itu lhooo.. pintu yang biasanya lo cuma bisa dadah-dadah aja melambai penuh haru kalo nganterin gebetan lo pulang ke negaranya..-eh!

Sesi berikutnya, setelah lo masuk ke dalem…kayak orang dongo deh lo celingukan nyari penunjuk arah, mana dia Gate cek-in, sambil cengar-cengir biar kliatan rada pinter (red. seperti yang diceritakan kembali oleh korban –>Jo hihihi).

 

Yuk Mariii kita mulai perjalanan kita

Ada Apa Di Tanjung Bira? Ada KAMBING!

Whattttt???!!! 5 Jam dari Makassar demi KAMBING?!!

Reaksi lebay kita kira-kira kayak gitu waktu TJ mulai membacakan susunan acara yang diawali dengan kata-kata sambutan yang berisi janji-janji manis surgawi untuk mencicipi segala kenikmatan surgawi sepanjang perjalanan menuju Bulukumba, mulai dari putu mayang, durian, ikan bakar segar di pinggir jalan sampai karpet permadani untuk oleh-oleh orangtua atau gebetan tersayang (ok yang terakhir agak hoax).

So, we reached Bulukumba around 10ish pm.

Setelah ngobrol-ngobrol gak penting, we agreed to be ready by 8 am tomorrow morning and headed to Kambing Island! Oh yeah we’re all curious. What with this island…why is it named after goat?

Pulau Kambing - Tanjung Bira

Pulau Kambing – Tanjung Bira

So this is it! Gak ada mirip-miripnya kambing kan? Kecuali nengok yang snorkeling yaaaa.. Hahahahha!

Jadi ternyata, kata Si Bapak Pemandu, di pulau itu dulu banyak kambingnya, kambing gunung, trus pengunjung yang merubah nama pulau itu jadi Pulau Kambing. Tapi celinguk punya celinguk gak ada kambing barang se-mbek acan… ngelirik curiga “Beneran Pak? mana kambingnya?! Hoax ya?!” Si Bapak kapal belagak memandang jauh kehamparan horizon biru yang membentang :p halah!

Tanjung Bira

Spot Snorkeling Pulau Kambing

Spot Snorkeling Pulau Kambing

Too bad..Kita gak ada yang bawa kamera underwater…karena gak ada yang punya! 😀 hahahahah

Tapiiiiii…Kristin, mahkluk menyerupai ikan yang notabene jago nyelem kayak bebek -duck dive- spot an abandon camera nun jauh di dasar laut. Dengan bantuan ikan lain yang menyerupai Bapak pengemudi kapal, kamera itu berhasil dijemput! Daaaan….. -drum rollllll- GoPro Hero 3+ !!! Hasil kerjasama dugong dan paus hitam sangat ruar biasah!

Pulau Liukang

Di pulau ini kita ngaso…makan dulu…poseee…

Lunch Break at Liukang Island

Lunch Break at Liukang Island

Pulaunya kecil dan gak rame. Makanannya enaaaak…apalagi kalo bukan ikan bakar ditemani young coconut fresh langsung bacok! 😀

Pantai Bara

Nih pantai paling sepi nih! penduduk cuma seliweran bisa diitung jari -kalo lebih dari 20 minjem jari temen sebelah yee

Ngapain coba di pantai sepi kayak gini?

Pantai Bara

Pantai Bara

Dengan adanya orang-orang ini….

Jreng..Jreng!

Jreng..Jreng!

Apaa lagiiiiii…..

Berusaha meyakinkan semua orang bahwa dia bukan dugong tapi ikan pari terbang!

Berusaha meyakinkan semua orang bahwa dia bukan dugong tapi ikan pari terbang!

membuat jingkrakan kecil yang manis

cukup membuat jingkrakan kecil yang manis.. uhuk..ehm

Berusaha ngapung ala pesawat UFO

Berusaha ngapung ala pesawat UFO

Suketi Bersemedi cari wangsit sambil ngunyah bunga melati

Suketi Bersemedi cari wangsit sambil ngunyah bunga melati

Jejingkrakan!

Jejingkrakan!

Daaan….

P. O. S. E.

P. O. S. E.

And Again...

And Again…

Love the clear sky and the hanging clouds that really meant to be there just for us to capture their beauty nature. Yes..you may ignore those faces and concentrate on the background 😀

Soooo… angkat backpack! Can’t wait for my next ONE OF THOSE DAYS! will land in RAJA AMPAT, Papua!

 

Gerakan Jari untuk Bangsa!!

Yuk kita bicara sedikit sehubungan dengan pesta politik. Election Day! Kali ini saya memutuskan untuk ikut VOTE. Menggunakan hak suara sebagai warga negara. Kenapa? Memang awalnya keinginan itu tergerak oleh adanya salah satu capres yang menurut saya berani membuat perubahan pada bangsa Indonesia. Saya punya harapan.
Dan semakin banyak generasi baru yang berani bersuara bahwa tradisi buruk moral yang sudah berakar di birokrasi pemerintah itu salah! Mereka berani mengobrak-abrik comfort zone kaum pemanfaat birokrasi untuk mengais keuntungan, entah itu korupsi waktu ataupun materi. Siapa mereka harapan bangsa ini? Ada JOKOWI, Ahok, Anis Baswedan, Dahlan Iskan, Risma dan banyak lagi di tingkat daerah. Ketika mereka-mereka ini mau mengorbankan hidup mereka untuk berpolitik Dan berjuang membuat Indonesia lebih baik. Ketika mereka tidak mengatakan: Aah politik itu kotor, susah untuk merubah kultur yang sudah mendarah daging -korupsi dalam birokrasi dalam berbagai bentuk-
Mereka berani membuat breakthrough!!
Dan SAYA bersikap, saya tidak mau apatis untuk bangsa yang saya cintai!

20140409-184350.jpg

Fenomena baru dari sosial media juga menunjukkan banyak kaum Muda ikut tergerak untuk tidak golput!

Ingat pepatah lama: Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh! 😃
Satu suara tidak akan signifikan tapi berpuluh juta suara, kita akan membuat perubahan.

Sampai jumpa tanggal 9 Juli untuk pemilihan Presiden Indonesia!!
#antiGolput

Inspiring Letter

I read this letter in one of my Filipino friends’ posts. Apart from to whom this letter was intended, I found this letter made its points about being a citizen of a country.

Learning from the falling of Korea….
Looking at the similarity the way Filipinos and Indonesians respond or rather react to the government…

MY SHORT ESSAY ABOUT THE PHILIPPINES by Jaeyoun Kim

Filipinos always complain about the corruption in the Philippines . Do you really think the corruption is the problem of the Philippines ? I do not think so. I strongly believe that the problem is the lack of love for the Philippines.

Let me first talk about my country, Korea . It might help you understand my point. After the Korean War, South Korea was one of the poorest countries in the world. Koreans had to start from scratch because entire country was destroyed after the Korean War, and we had no natural resources.

Koreans used to talk about the Philippines , for Filipinos were very rich in Asia . We envy Filipinos. Koreans really wanted to be well off like Filipinos. Many Koreans died of famine. My father & brother also died because of famine. Korean government was very corrupt and is still very corrupt beyond your imagination, but Korea was able to develop dramatically because Koreans really did their best for the common good with their heart burning with patriotism…

Koreans did not work just for themselves but also for their neighborhood and country. Education inspired young men with the spirit of patriotism.

40 years ago, President Park took over the government to reform Korea . He tried to borrow money from other countries, but it was not possible to get a loan and attract a foreign investment because the economic situation of South Korea was so bad. Korea had only three factories. So, President Park sent many mine workers and nurses to Germany so that they could send money to Korea to build a factory. They had to go through horrible experience.

In 1964, President Park visited Germany to borrow money. Hundred of Koreans in Germany came to the airport to welcome him and cried there as they saw the President Park . They asked to him, “President, when can we be well off?” That was the only question everyone asked to him. President Park cried with them and promised them that Korea would be well off if everyone works hard for Korea , and the President of Germany got the strong impression on them and lent money to Korea . So, President Park was able to build many factories in Korea . He always asked Koreans to love their country from their heart.

Many Korean scientists and engineers in the USA came back to Korea to help developing country because they wanted their country to be well off. Though they received very small salary, they did their best for Korea . They always hoped that their children would live in well off country.

My parents always brought me to the places where poor and physically handicapped people live. They wanted me to understand their life and help them. I also worked for Catholic Church when I was in the army. The only thing I learned from Catholic Church was that we have to love our neighborhood. And, I have loved my neighborhood.

Have you cried for the Philippines ? I have cried for my country several times. I also cried for the Philippines because of so many poor people.. I have been to the New Bilibid prison. What made me sad in the prison were the prisoners who do not have any love for their country. They go to mass and work for Church. They pray everyday. However, they do not love the Philippines . I talked to two prisoners at the maximum-security compound, and both of them said that they would leave the Philippines right after they are released from the prison. They said that they would start a new life in other countries and never come back to the Philippines.

Many Koreans have a great love for Korea so that we were able to share our wealth with our neighborhood. The owners of factory and company were distributed their profit to their employees fairly so that employees could buy what they needed and saved money for the future and their children.

When I was in Korea , I had a very strong faith and wanted to be a priest. However, when I came to the Philippines , I completely lost my faith. I was very confused when I saw many unbelievable situations in the Philippines. Street kids always make me sad, and I see them everyday. The Philippines is the only Catholic country in Asia , but there are too many poor people here. People go to church every Sunday to pray, but nothing has been changed.

My parents came to the Philippines last week and saw this situation. They told me that Korea was much poorer than the present Philippines when they were young. They are so sorry that there are so many beggars and street kids. When we went to Pasangjan, I forced my parents to take a boat because it would fun.. However, they were not happy after taking a boat. They said that they would not take the boat again because they were sympathized the boatmen, for the boatmen were very poor and had a small frame.. Most of people just took a boat and enjoyed it. But, my parents did not enjoy it because of love for them.

My mother who has been working for Catholic Church since I was very young told me that if we just go to mass without changing ourselves, we are not Catholic indeed. Faith should come with action. She added that I have to love Filipinos and do good things for them because all of us are same and have received a great love from God. I want Filipinos to love their neighborhood and country as much as they love God so that the Philippines will be well off.. I am sure that love is the keyword, which Filipinos should remember. We cannot change the sinful structure at once. It should start from person. Love must start in everybody, in a small scale and have to grow. A lot of things happen if we open up to love.

Let’s put away our prejudices and look at our worries with our new eyes. I discover that every person is worthy to be loved. Trust in love, because it makes changes possible. Love changes you and me. It changes people, contexts and relationships. It changes the world. Please love your neighborhood and country. Jesus Christ said that whatever we do to others we do to Him. In the Philippines , there is God for people who are abused and abandoned. There is God who is crying for love. If you have a child, teach them how to love the Philippines . Teach them why they have to love their neighborhood and country. You already know that God also will be very happy if you love others.

That’s all I really want to ask you Filipinos.
I sincerely hope that this essay inspire us all and show LOVE for our homeland.

Daaan…. Pertanyaan yang sama harus kita ajukan pada masing-masing kita…

Posted using Tinydesk blog app

Rainy Days Trip

After having quite a drama meeting to decide where we will spend the long weekend, we finally came to Bogor. Staying in a villa in Mountain Bunder. That is as far as we can go during rainy days. The weather that is almost raining everyday and whole day is a big consideration to make the decision.

Anyway…. So there were 8 of us going:

Agnes = Mama Bear, in charge of food and ‘bawel/nagging’ business (yep! granny thingy 😛 )

Yogi = Security guy, in charge of securing Mama Bear from others whose got crazy to Agnes.

Julie = Loser 2, the newborn member of the trip ‘gank’ 😉 (psssst… she is in probation) in charge of games.

Briony and Nanta = the new couple in the house 😛

Lenny = Miss Ciseeng, nominated as the most Katro girl.

Myself = The most normal person in the group! (I don’t have to say that, do I? who doesn’t know! 😉 )

Anwar = The Yogi in the house, in charge of our wellness and the pose director who is addicted to camera (he has never got enough)

Pose gak penting! 😀

Nanta had been very kind to take the role behind wheel, driving. To motivate his concentration and boost his spirit, Briony accompanied him in the front seat. In the middle seats: Julie – Yogi – Agnes tried to find the road signs which way to go. The back seats: Miss Ciseeng, Anwar and myself tried to make sense of the world! Hahahaha….

On the way we made a stop in a shops area where one of them was a gym called, Macho Gym. This place then become Anwar’s inspiration (he is the man of creative saying and poses. you name it and he could come up with SPECTA and ‘CTAAAR’ results!). We were then came up with this song chunk for Mama Bear: Heeeeey!!! Macho Laaaadyyy..!   Woof! Woof! Woof!

Hahahaha Hilarious! 😀

Villa Rasamala

We got to the Villa at around 2pm. It’s right when the fog came down and cover the area. It was beautiful. The rain made the weather even more dramatic. (lebay yah?! 😛 )

Everyone was right away doing each nature calls. Julie craved for adventure, so she was then explore the surrounding. Agnes and Yogi, romantically (Hehehe) helped each other done the food. The couple found spots to remember by taking pictures. Anwar, Lenny and myself (bukan Trio kwek kwek loh yaaa!) also in search to spots for experimenting poses 😛

The Dayak Villa

With Miss Ciseeng

Nanta and Briony, The newborn couple 😉

The Jump of the day!

The Games

The rain was falling almost all day, so we hardly went anywhere as we got there. It was then the games time…..(drum roooollllls)!!

After a session of yoga exercise challenge from Anwar (note with pride: I could ALMOST do the poses! Yiippiiie!), we were then do some games. The most popular game in our trip: KONSENTRASI game. This time Anwar made it more challenge! And I hate him for that coz I loooose! Blah!

Julie also came with a MAFIA game. Yeessss! It included murder and intrigue! 😛 It was more fun if only we play with more people which means more conflict and argument involved.

In the morning at the garden after our nice and fresh fruit breakfast provided by Mama Bear, we played Ah-So-Wa game. It was easier, still need concentration and fun! We even got  a chance to ask some local kids to play with us.

Ah-So-Wa Game Poses

The Hot Spring

The last thing we did before we went back home, we decide to go to the hot spring.

Damn cold river!

Bloody Hot!!

It was another great time I had with these awesome people!

Baduy – The Go Show Trip!

The Entrance to Baduy Luar Village

The Story Went to Different Direction!

Planning: Eddo, Julia dan saya akan Mendaki Gn. Cikuray, Garut. Kejadian nyata: Julia dan saya Trekking menuju pedalaman suku Baduy. Penyimpangan terjadi karena bergulirnya gejala-gejala yang mengarah pada pembatalan sesi mendaki perdana saya. Yang paling gencar adalah ketidak-yakinan  sebagian teman-teman akan kesanggupan saya! Ow ralat! bukan hanya sebagian tapi sebagian BESAR (silahkan dikaitkan dengan orang-orang yang berbadan besar! 😀 ). Bahkan ada yang dengan kejam dan gak pentingnya, disela-sela jam kerjanya (yaitu: MENGAJAR!) mengirimkan pesan chatting seperti ini:

“Riiiiiii! Lo mo mendaki?!! Hahahahaha!” (sembilu!)

Meskipun kemudian salah satu teman saya tidak jadi berangkat karena istrinya sakit, Julia dan saya memutuskan tetap berangkat. Dan dukungan teman saya yang lain tidak kalah ‘membangun’ semangat saya.

“Ingat yaaa… besok gue di rumah mandi dengan air segaaar, selonjoran….!”

Kejaaaam!!! Tapi semangat tetap membara… Sampai kemudiaan..

Si KOMPOR! Jangankan mleduk (kata Bang Ben), nyala aja ogah dia..! 😦 sementara waktu sudah mendekati jam kita harus meluncur ke Kampung Rambutan.

(Lama yaa cerita prolognya???! Hehehehe abis seru juga sih cerita behind the scene :p )

Singkat cerita, Julia sudah gak mood untuk berangkat climbing (padahal dia kapan sih kelihatan moodnya! Hahahaha… Panek!) dan kepalang sudah packing, saya pun menawarkan untuk ke Baduy. If we go right away, we can reach Rangkas Bitung about 8-9. 

Dengan sedikit bujukan bahwa saya akan mencari tahu apa saja yang kita perlukan dan siapkan, Julia setuju. 😀

Dengan bantuan informasi dari Johanes, kawan saya yang pernah melakukan perjalanan ini sebelumnya, saya pun menghubungi guide yang ‘manusiawi’ alias tanpa tipu-tipu dan genah, Kang Diyat. (BERUNTUNG!)

Off We GO!

Kami berangkat menuju stasiun Serpong yang hanya kami tempuh dengan menggunakan angkot tak lebih dari 10 menit dari tempat kami bekerja. Sesampainya disana, kereta menuju Rangkas Bitung yang akan berangkat adalah pukul 19.00. Waktu menunjukkan pukul 18.45! (BERUNTUNG!)

Dan kejutan berikutnya, awalnya saya tidak menganggapnya suatu keberuntungan demi melihat gerbong kereta yang kami naiki penuh sesak! Yesss! Literally it was very crowded! kami bertemu dengan ibu-ibu yang menerangkan segala seluk beluk kehidupan kereta ekonomi. Dan si ibu juga bertindak sebagai ‘kondektur’ yang memberitahu kami stasiun apa saja setiap kereta berhenti, juga dengan berbaik hati menghitung berapa stasiun yang akan kami lewati untuk sampai di Rangkas Bitung. Saya melimpahkan tugas mulia pada kuping Julia untuk ‘mendengarkan’ si ibu (hehehehe..), meskipun bukan berarti dia menyimak yaaaa… (huh!)

Sneaking picture-taking in the crowd

Gambar di atas sudah jauuuuh berkurang kepadatannya dan yaaa…kami duduk ngesot dibawah dengan beralaskan koran. Setelah kurang lebih selama 2,5 jam megap-megap bernapas dalam gerbong, kami akhirnya terbebas dari kepengapan akibat asap rokok yang menyerbu dari berbagai arah karena hampir seluruh penumpang gerbong itu adalah laki-laki.

Pukul 8.30, badan kami ingin segera mencari penginapan tapi perut pun tak kalah keras berdemo untuk meinta perhatian. And….makaaaan 😉 setelah bertanya-tanya pada penjual di warung tempat kami makan, kami naik becak menuju penginapan terdekat yang ditunjukkan yaitu Hotel Wijaya, tak jauh dari stasiun. Rate termurah adalah Rp.165.000 kamar mandi di luar. We took that. We just need to sleep.

Pagi-pagi pukul 7 kami berangkat ke terminal Aweh yang ternyata hanya perlu waktu sekitar 15 menit dari tempat kami. Dari hasil wawancara kilat abang-abang disekitar tempat ngetem, ternyata angkutan transportasi yang akan membawa kami ke Ciboleger berikutnya adalah pukul 9.00 dan yang sebelumnya adalah pukul 6.30. Baiklah! Kami pun… Sarapaaaaan! Trus sempat nebeng ke toilet di toko penduduk setempat, ngobrol sok akrab dengan siempunya dan… foto-foto! 😀

Ciboleger

Terminal Ciboleger menjadi tempat meeting point kami dengan Kang Diyat. Dalam penantian menuju tujuan, saya memilih tidur 😉 diiringi obrolan para penumpang lain yang sedang bergosip dan curhat satu sama lain (jadi serasa nebeng mobil orang instead of being in angkot). Atmosfer yang membuat saya membuka kembali kamus bahasa Sunda yang sudah terbenam jauh di otak terdalam :p (matak lieur!)

Dua setengah jam kemudian… Eng ing eng! Kang Diyat…here we are! Kami pun saling berpelukan mengingat usaha yang harus dilakukan untuk menemuinya! (Bo’ong diiing!) Sambil makan siang, kami bertanya-tanya tentang rute, akomodasi, hal lain yang perlu kita persiapan untuk mulai trekking dan tak lupa hobi, cita-cita, warna dan makanan favorit untuk lebih akrab (hehehe coret yang tidak perlu 😉 )

Kang Diyat menawarkan untuk istirahat di rumahnya sebelum kita mulai menapaki jalanan yang menurut perkiraannya akan memakan waktu 3-4 jam untuk mencapai Baduy Dalam bagi mereka dengan stamina baik (tidak banyak berhenti). Dengan perhitungan itu kami memutuskan untuk langsung melakukan perjalanan. Karena kami akan menginap di Baduy Luar berarti kami akan melakukan perjalanan pulang pergi dan akan menempuh +/- 7 (tergantung di desa mana kami akan menginap).

Baduy Luar

Excited!! Sekitar pukul 11 kami memasuki perbatasan kawasan suku Baduy. Sebelum kami memasuki perkampungan Baduy Luar kami wajib membaca peraturan bagi pengunjung.

Suku Baduy Luar, seperti namanya, mereka ada di bagian lebih luar dari perkampungan Baduy, ini membuat mereka lebih terbuka pada modernisasi. Mereka boleh menggunakan produk-produk dari ‘dunia luar’ seperti shampo, pasta gigi, sabun dll. kecuali alat yang berhubungan dengan listrik masih dilarang. Ada cerita menarik dari Kang Diyat tentang larangan alat elektronik pada suku Baduy. Karena suku Baduy Luar lebih dekat dan lebih intens berinteraksi dengan dunia luar, mereka tergoda juga menggunakan telpon genggam, dan mereka pun memakainya, dengan sembunyi-sembunyi tentunya. Nah! Sang kepala suku kerap melakukan ‘razia’ dengan waktu random dan mengambil telpon mereka untuk kemudian dimusnahkan. Untuk melakukan itu, sang kepala suku memberi ramuan ‘ajaib’ pada sang perazia sehingga dia hanya fokus pada satu misi dan tak pandang bulu! (Hebat ya?! Jangan-jangan film Total Recall terinspirasi dari tradisi Baduy!) Mungkin Pak SBY perlu minta minuman ‘ajaib’ itu buat para aparat pemberantas korupsi!

Fokuuus….! :p

Baiklah! Setelah sekitar 1 jam berjalan dengan medan naik turun dan berliku (seperti perjalanan hidup saya… 😀 Curcool!) melewati 2 Perkampungan: Kampung Balimbing dan Marengo, kami sampai di Kampung Gajeboh. Demi melihat ada seorang ibu yang sedang sibuk menenun, tanpa sadar (lebih tepatnya tanpa permisi) saya langsung ngedeprok di balai-balai rumah, berpose untuk difoto. Julia pun sigap merespon aroma narsis saya (hehehehe). Si ibu menoleh tampak tidak suka (menurut saya sih…tapi tidak, menurut Kang Diyat itu biasa, bukan berarti dia tidak suka. What?!) namun tanpa kata-kata kembali menenun, bahkan setelah saya mengeluarkan greeting chunk pamungkas saya: “Punten, Buuu…” 😦 Si Ibu tetap tak bergeming seolah tak mengerti bahasa saya (Atau memang tidak? :p)

A 4 year-old girl learnt how to do hand-weaving

Di sudut lain, saya terkesima dengan regenerasi mereka untuk melestarikan keterampilan menenun. Anak sang ibu yang baru berusia sekitar 4 tahun sudah di beri alat tenun mini untuk belajar. Amazing! Homeschooling ála pedalaman 🙂

Kang Diyat menawarkan pada kami untuk menginap di rumah si ibu ‘ramah’ dengan meyakinkan bahwa roman yang tadi beliau sajikan bukan berarti marah. Mereka hanya tidak terbiasa berinteraksi dengan orang ‘luar’ dan tentu saja karena kendala bahasa (tapi bahasa sunda gue gak dimengerti hwaaaa! 😦 ). Alasan lain agar kita memilih menginap disitu adalah mereka mempunyai kamar mandi. Jawaban kami: setuju!!! 🙂

Paket yang ditawarkan adalah Rp. 100.000/malam, kami menyediakan bahan makanan (beras, mie instan, sarden atau apapun) dan tuan rumah akan memasakkan. (DEAL!)

Kami pun membongkar barang bawaan kami dan meninggalkan barang-barang yang tidak kami perlukan. Membawa hanya 1 ransel yang akan dibawa oleh Kang Diyat akan sangat memperlancar trekking kami.

Pukul 1.00 siang, teriknya matahari benar-benar menjadi cobaan terberat, terutama bagi saya karena ini merupakan pengalaman pertama saya trekking. Berkali-kali saya harus mengguyur kepala saya dengan air segar untuk menyejukkan kepala yang rasanya sudah sepanas pantat wajan penggorengan (Lebaaay!) It was damn hot! Ditambah lagi hutan dan bukit yang kami lalui sebagian besar digunduli karena saat ini adalah musim tanam. Dengan kemiringan sekitar 30-60 derajat, pijakan semakin terasa berat. Kombinasi latihan sempurna sebelum menuju Gunung Gede menurut Julia! (Right! phiuh). Bahkan Julia (si Pendekar Gunung) merasa medan yang kami tempuh berat karena teriknya matahari.

Nauzubillah panasnyaaa…!

Baduy Dalam

Baduy Dalam dibatasi oleh Jembatan kedua yang kami lalui.

tetep foto dulu! 😉

Setelah melewati jembatan, sesuai peraturan adat, kami dilarang mengambil foto. 😦 Dua jam kami melewati medan yang terus naik turun dan panas sangat, dan sampailah kami di desa tempat Kepala Suku bermukim. Kami tidak diperbolehkan mendekat bahkan ada palang yang menandai larangan masuk bagi pendatang. Namun demikian kami disambut hangat oleh Ibu Lurah setempat. Kami bertandang dan disuguhi buah asam kering yang merupakan ‘snack’ jamuan bagi tamu. Saya kurang suka dengan rasanya yang menurut saya aneh, tapi Julia dan Kang Dayat suka sekali. Dan rupanya buah asam kering ini merupakan salah satu komoditi ekspor suku Baduy ke ‘dunia luar’ selain buah durian. Yaa…meskipun mereka hidup terpisah dari komunitas luar tapi mereka tetap melakukan hubungan bisnis. Hal unik lain yang kami temukan adalah suku Baduy Dalam tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan untuk melakukan perjalanan kemana pun mereka pergi. Yup! Mereka berjalan kaki sajah!

Hal lain lagi adalah pengunjung boleh menginap di perkampungan Baduy Dalam tapi tidak boleh lebih dari 2 malam. Hal ini dimungkinkan agar tidak terjadi interaksi intens dengan pengunjung yang kemudian akan membawa pengaruh (buruk) bagi penduduk asli.

She Finally SMILED! 🙂

Pada hari kami pamit, kami meminta ijin pada sang Ibu tempat kami menginap untuk bersedia berfoto dengan kami saat beliau sedang menenun. Hmmm…sangat tidak sopan sekali kami karena tidak ada inisiatif untuk bertanya siapa nama sang Ibu lewat Kang Diyat (Udah keder dengan respon dingin wajah si Ibu siih..).

Kami masih mempunyai persediaan coklat yang ternyata bisa menjadi ‘penghubung’ silahturahmi kami dengan memberikannya pada anak-anak yg kami datangi. Begitu juga dengan anak sang Ibu yang tersenyum malu-malu menerima pemberian coklat dari Julia (yang akhirnya dengan rela ia berikan dengan bujukan: di Ciboleger ada alfa mart, Juuul!). Si anak tersenyum…eeh..Si Ibu pun tersenyum!! Kami pun berebut mengucapkan greeting chunks berikutnya yang saya punya:

“Hatur nuhun Ibuuu…! Mangga…!”

Tapi kembali wajah tanpa ekspresi yang disuguhkan. 😦 Tak apalah! Kang Diyat tak henti-hentinya mengatakan: “Dia gak marah kok, Mbak! Memang seperti itu..” Baiklah Kang… 🙂

Succeed!

Seperti keberuntungan-keberuntungan ketika kami berangkat, perjalanan pulang kami pun mulus tanpa adanya penantian. Cap Cuss, cyiiin!!!

Kesuksesan yang lain adalah kami (atauu saya lebih tepatnya) berhasil mengelabui teman kami yang berada satu ruangan dengan saya di tempat kerja bahwa kami tetap melakukan PENDAKIAN CIKURAY! Until this post is published…. 🙂 😀 hehehehehe

PEACE Mama B.E.A.R!!!!!  

Summary of trans and expenses:

Stasiun Serpong – Rangkas Bitung     Rp. 1500 (yaa! seribu lima ratus)

Hotel di Rangkas Bitung Rp. 165.000 + BF (menuju Hotel Wijaya, keluar dari stasiun lurus saja sekitar 10 menit)

Angkot no. 07 ke terminal Aweh Rp. 2.000

Angkot Elf  dari Aweh – Ciboleger Rp. 15.000 (Jadwal paling pagi jam 6.30, berikutnya jam 9.00)

Kereta dari Stasiun Rangkas – Serpong Rp. 4.000 (ekonomi yang lebih manusiawi)

Guide: tergantung tawar menawar. Harga Rp. 200.000 – 300.000

Porter Tas: tergantung tawar-menawar. Harga Rp. 40.000 – 50.000/tas

Dan selebihnya pengeluaran sesuai dengan kapasitas perut dan keperluan minum selama trekking.

Kang Diyat phone: 085-890-436-149

Selamat Berpetualang! 😉

SALAM!