Direction Of My Traveling

So, Where???!

Skyscanner, tripadvisor, agoda should come along as well as individual airlines -specially cheap ones- 😛

This was my chit chat round the bush conversation with friends now and then. Hey! We are teachers, we need to get out of routine and similar faces to stay in our sanity… Well, but of course you have to tell me first what is considered so called ‘normal’. And actually being with ‘insane’ if not ‘crazy’ people around WILL bring back your sanity! HAhahaaha… So That is IT!

Image

There! I said my direction for my travel. It is not about where to go as the consideration upmost. OK…that tooo.. But being with who and what you wanna do -For ME play an important part. 

As you travel…It’s not merely your physical that should feel the joy but also your mind. I am not only talking about the comfort zone but also challenge. What do you fear of? Go for it!!! But know your limit… You don’t want to end up drop dead, eh??! 😛

I was saying…Take the challenge of what you hesitate to do and feel the content and satisfaction of doing something NEW! So there’s no regret of not doing it…rather knowing that that was a bad idea and won’t do that shit again if it was so! 😀

What??! Do I sound like I’m about to die tomorrow?! Exactly! Think that way, so you got the courage! 

Rintihan tulang yang menjelang rontok..who wants to do lots of things! Hahahaha!! 

On the way you will gain bonus by having lots of friends and if you are lucky….some best friends!! 😉

Image

 

Ada Apa Dengan Asep (AADA)

Dari igauan ketika kita tengah mabuk laut paska Wakatobi, maka bergulirlah rencana trip pada liburan Lebaran tahun ini.

I know… many of my friends also questioned our plan.. Pada gak da kerjaan apa yaaa, kok Lebaran malah pada nge-trip. Simple ajah! Memang kita perlu ‘kerjaan’ setelah ‘cukup’ 2 hari untuk ber-Lebaran.

Dan terjaringlah 5 peserta untuk trip kali ini : Julia,Me, Jo, Agustin and Ikeu. Berikutnya akan disebut sebagai para KUMAN, yaitu kuman bagi para turis lain yang sedang berfoto.

Dengan last minute arrangement, saya pun akhirnya menemukan Tour agent yang bisa melayani kita selama 2 hari 1 malam di Pulau Tidung with a good deal. Harga dengan peserta ber-5, @Rp.375.000 all in tanpa penambahan 10% untuk hari raya. Hemat bukaaan?!! (hasil dari penelusuran di dunia maya, itu adalah termasuk harga murah) Pada tanggal 19/08/12 saya confirmed. Legaaaaa… Nervous juga kalau sampai tidak menemukan agen dan harus go show karena bisa dipastikan orang Jakarta dan masyarakat dari penjuru lain yang tengah berlibur ke Jakarta akan tumplek di pulau-pulau yang tersebar di lautan Kep. Seribu. Apalagi saya hosting teman-teman dari Surabaya. Kasiaan kaaan…

Dari waktu yang disepakati, kami bertemu di sebuah SPBU di Muara Angke pukul 6.00 pagi. Setiba disana, saya dan Julia sudah disambut dengan kemacetan jalan begitu memasuki area pelabuhan, semakin mendekati tempat tujuan kami bertemu semakin padat oleh wajah-wajah orang yang samasekali bukan nelayan ato penjual ikan, melainkan para calon pemadat kapal-kapal yang segera meluncur ke berbagai pulau, termasuk kami ber-5!!

Sekitar pukul 6.30 kami digiring menuju kapal yang akan membawa kami. Diantara deretan kursi merah nan empuk –yup! Dengan kursi, dan AC!- kami memilih deretan tengah. Kami semua dengan noraknya mengagumi keberuntungan kami karena mendapatkan decent kapal, mengingat pengalaman kami dalam trip island hopping yang selalu mendapat kapal-kapal ‘busuk’  😀 Semua wajah tampak sumringah. Ikeu langsung semangat menjelajahi kapal.

NAMUN… Tiba-tiba…!! “Maaf mbak… kita salah kapal. Ini kapal eksekutif…” suara Mas Anto –agen Jkt- memberitahu kami dengan suara perlahan dan tercekat demi melihat reaksi kami. Kabar itu bagaikan petir menggelegar! Oh no! mengapa dunia begitu tidak adil pada kita! Satu kali…satu kali ini sajaaaa.. Ah.. (sorry lagi pengen lebay). Kita pun menyeret tak rela langkah kita untuk meninggalkan kapal yang mulai sejuk oleh dinginnya AC.. Selamat tinggal kenyamanan.. sambil berbalik kebelakang untuk terakhir kali sebelum kemudian kami melompat turun.(Sorry masih lebay).

Daan… kami pun menyusuri kapal-kapal yang merapat di sepanjang pelabuhan Muara Angke. Hingga sampailah kami pada satu kapal unyu yang sudah penuh sesak. Sehubungan harga kita adalah harga duduk ngesot yang saling tumpuk di kapal yang kapasitas angkutnya berkwadrat dari seharusnya, kami pun pasrah ikut menjejalkan pantat dalam kesesakkan. But life is too short and beautiful to complain such thing like that  😛 Why bother? No pain no gain, hey?! Bahkan setelah dihentikan oleh polisi air di tengah perairan.

Kami tiba di Pulau Tidung 2,5 jam berikutnya disambut oleh coordinator kami Mas Cipto, yang kemudian dilanjutkan pada personal guide kami yaitu Mas Asep. Dan nama ini adalah pemeran utama pengantar kunci KESENANGAN kami selama 2 hari 1 malam di pulau.

Mendapati penginapan kami tepat di pinggir laut dengan cubic hut yang menjorok sedikit ke laut, membuat Jo dan Ikeu kumat noraknya memuji-muji tiada henti. Semua penat hilang tergantikan oleh gejolak narsis yang membuncah untuk mengabadikan tampang-tampang keren kami. HAhaahaha

Kami pun rehat.. dan tak berapa lama ada kiriman makan siang datang… makan… rehat… rehat… rehat… ngantuk…

SMS: me: Mas kapan kita bergerak nih? Udah pada ngantuk semua.

Asep: jam 1 mba

(Pengalaman di perjalanan di Pulau Pramuka, kita hanya rehat sekita 2jam kemudian langsung ke pulau-pulau dalam agenda trip.)

Hmmm… baiklah! Tepat pukul 1.05 Asep datang membawa life jacket dan snorkel. Tanpa ba bi bu. Dengan informasi 1-2-3 kata dari guide kami pun berjalan membuntuti. Pada kesempatan ini, kami masih merasa belum ada masalah dengan minimnya kata-kata yang keluar dari guide kami.

Kami pun turun ke laut setelah menempuh sekita 45 menit perjalanan. Benar saja… sepanjang tempat snorkeling itu dipenuhi kapal dengan grup masing-masing. Kami melaut tidak sampai 1 jam, kapal pun berangkat lagi. Tanpa ba bi bu… kami meluncur ke satu pulau, yang ternyata adalah Pulau Payung. Hmmm… saya pun berpikir, berarti berikutnya adalah Pulau air dan Karang Beras.

Dan sesampainya di daratan, bak anak ayam kehilangan induknya saya mencari-cari Asep untuk mencari tahu apa agenda kita berada di P. Payung, dan ternyata adalah acara bebas. Bebas mo ngapain aja! Kami mulai merasa ada yang tak beres dengan organizer kami. Tapi sudahlah! Kami pecinta kebebasan… jadi mari kita BEBAS! 😀 😛

Setelah cukup lama ‘bebas’ dan mulai bosan, saya bertanya pada Asep selanjutnya kita akan menuju kemana? “Setelah ini kita ke Jembatan cinta, mbak.” (dengan nada datar).

“Lho itu kan di P.Tidung mas? Ke Pulau air dan Karang beras-nya setelah itu atau kapan?”

“Oh… dah kesorean mbak, tadi kan istirahatnya lama, kita baru berangkat jam 1.” (tetap dengan nada datar)

Dengan mulut nganga saya takjub akan kepolosan tanpa dosa dari kata-kata yang meluncur dari makhluk ter-PAripurna di depan saya! Sedangkan Julia ketawa…mentertawakan ketololan keadaan kita! Sementara 3 kuman yang lain entah raib dimana. Dan saya…masih TERNGANGA…Nga…Nga..!

Demi meredam kejengkelan, Julia memutuskan untuk mencoba bunuh diri dengan melarung diri di laut. Saya terhibur dan bersiap dengan kamera hendak mengabadikan percobaan Julia. Jika berhasil, saya pikir bisa saya praktekan pada Asep 😀

Tapi…akan tetapi sowdara-sowdara!… dengan segala ke-cemen-annya, Julia berbalik arah hanya karena takut dengan bulu babi. C’mon!! It’s just bulu babi gitu lho! Lo injek aja kan beres! Tapi gak janji nasib yang nginjek yaa 😛 Dan hinanya, isu itu dihembuskan oleh 2 kakek-kakek yang ikut kecibang-kecibung mencoba menarik perhatian Julia. Huh! Kakek-kakek dipercaya! (Tokoh dan tempat adalah sebenarnya, cerita dan motif hanya fiktif belaka) 😛

Baiklah… Selanjutnya!

Jembatan Cinta

Setiba di P.Tidung, kami menuju Jembatan Cinta yang berada diujung pulau.

Dalam ketidak tahuan, saya bertanya…

“Mas kita naek sepeda ya?”

“Iya nanti, mbak.”

“Sepedanya dimana, Mas?” karena di basecamp saya melihat ada berjejer sepeda-sepeda sewaan.

“Nanti mbak, disana.”

Baiklah… kami pun berjalan sambil berceloteh gak penting tapi yang pasti bikin ketawa gak karuan dan membuat hari itu tak sia-sia untuk memikirkan ada apa gerangan dengan MAS ASEP??? Mungkin tadi malam dia mimpi buruk ketemu Suketi? Jadi dia meragukan dunia nyata dan mimpi demi melihat Agustin.. hihihihihihi….

DAN… ketika kita melewati gang sempit ke arah penginapan kita dan mas Asep hendak berbelok. Kita pun serempak menolak kembali ke penginapan karena kita pikir sekalian kotorlah jadi gak perlu bersih-bersih. Maka… perjalanan pun dilanjutkan…

Setelah beberapa meter…

“Mas, kita naek sepedanya dimana ya?”

“Wah telat mbak…harusnya bilang dari tadi?”

JRENG..JRENG!! Ini sudah tindakan dzalim! Meskipun tetap dituturkan dalam nada datar. Hih!

Saya pun mengambil nada alto untuk mengimbangi ke-datar-an nada Mas Asep.

“Mas Asep…kita dari tadi kan sama-sama semenjak kita nanya tentang sepeda. Di bagian mana dari semenjak kita jalan tadi yang dianggap TELAT…”

“Sepedanya dekat penginapan.”

“OMG. Is this a joke?!”

“Mas, tadi ke pulau juga kita gak di info kalo kita gak ke pulau air dan karang beras. Ngomong dong maaas…” Dan Asep diam dan tetap berjalan… Oh Ada Apa gerangan Dengan Asep?

Dan selanjutnya para mulut yang bersekolah di Akademi Sarkastik pun mulai berkicau dengan tema SEPEDA VS TELAT, dan saya cukup mengipasi… :p

Baiklah…Bicara tentang Jembatan Cinta sendiri, cukup menyenangkan! Sungguh Beruntung Julia membawa kamera yang kemudian menjadi satu-satunya alat perekam kenarsisan kami yang lumayan norak. Namun tiada senorak Gustin yang selalu berusaha menjadi kuman setiap kali ada kelompok yang hendak mengambil gambar.

Akhirnya Sepeda Datang Juga

Keesokan harinya pagi-pagi sekali, pukul 6.30 kami bersepeda berkeliling pulau, mulai dari daerah padat turis hingga masuk ke kampong dan bagian pulau yang masih sepi. Disini kami terpisah: Jo dan Julia mendahului kami, sedangkan kami bertiga –Kuman foto – terpenggal oleh keasikan kami berfoto dengan latar belakang keajaiban warna alam yang kami temui. Kami juga mencapai bagian pulau dengan pantai yang banyak ditumbuhi bakau atau mangrove.

Disana kami juga menemui sekelompok orang yang  berkemah dipinggir pantai, terlihat menyenangkan sekali!

Namun, kayuhan sepeda kami percepat ketika kami mendapati area dimana sampah-sampah berserakan. Prediksi sok tahu saya mengatakan tak sampai 10 tahun ke depan jika pemerintah setempat tidak melakukan apapun untuk mengelola dan mentertibkan pembuangan sampah maka seantero Kepulauan Seribu akan tertimbun sampah!!

Episode Asep

SMS masuk: Mbak sekarang persiapan untuk pulang yaa

SMS keluar: What??! Kami masih di jalan mas. Knapa gak bilang tadi pagi sih?

SMS masuk: Sekarang plg ke penginapan aja mb

SMS keluar: Emang kapal jam berapa mas?

Apakah ada balasan? TIDAK ADA SMS MASUK!

Kami pun berpisah hari itu tanpa tahu ADA APA DENGAN ASEP… Itu tetap menjadi misteri. Jika kalian suatu saat berkesempatan untuk berlibur di P. Tidung dan bertemu Asep, mungkin di tangan kalian misteri itu akan terpecahkan.. SEMOGA!

PS:

Apart from that, agent yang di Jakarta keep in touch lho dari semenjak berangkat menanyakan bagaimana perjalanan dan keadaan pulau selama disana. Pun bertanya ketika kami hendak pulang dan bahkan setelah pulang… Nah kalo yang ini kebablasan! Hahahaha

Dan tour agent yang kita pakai adalah www. marotravel.com

Feedback dari saya: secara harga cukup murah, penginapan OK, bersih dan nyaman. Kami hanya kurang beruntung mendapat guide yang kurang informative.

The quite beach we found in our bike riding… Beautiful!

Yet… as you see the beach is getting dirty… 😦

Super dooper kemriyek kayak ikan teri kena jaring!!!

   Tokoh Utama kita… ASEP 🙂

I Fell in Love

It feels like there’s no things can stop me to embrace.

My first encounter was introduced by my cousin, EKO or I usually call him KOKO (@ekoadiprabowo), years ago. As like others who’s in love, why not back then earlier 😉 My cousin, who loves traveling asked me to join his trip to thousand island for snorkeling. He convinced me that it will be a great experience. Yes that was love at the first sight to the underwater world! I thank him for introducing me with the beautiful world down there.

The sensation when you see amazing colors under you and can only hear your breathing was like…entering your very own world!

My LOVE at the first sight!!

Ever since, my bucket list is mostly about underwater world but of course the ones that I can afford. 😛 then I start loving the rest of the mother nature.

Now embracing the nature becomes my need and I’m lucky that I live in a country which has the most beautiful nature -Yes! It’s me claim that 😛 I never stop open my mouth of astonishment whenever I see its beauty -alive or on TV

Is that make me an adventurous person then? Some friends call me by that title. Naaah..that is too fancy! 😉 However, the trips had changed me. I care more to my health than I did before so that I can have my fittest shape whenever I’m in a trip. I know more about the wealth of my country apart from the corruption..and corruption! And knowing it, has made me so proud to be grew up here in INDONESIA! I learn the simplicity of life from the locals, the sincerity, the smiles and many more… Bad things also came across in the way but somehow now I can see them from the bright side! I become more..

POSITIVE upon unfortunate circumstances 😉

One time when I said I’m proud to be an Indonesian because I’m in love with its beauty, a friend replied me that it’s not time yet for Indonesia to be proud of as a country. He saw it from different perspective. He compared it with other countries. He said it is a misplaced of patriotism. I smiled… He just didn’t listen. I said, I’m in love. In that way….I’m eligible to not consider its bad things. Anyway, I think it’s just different way of seeing. I see it with my heart 😉

That is the love of my life… apart from the almighty GOD, the creator!

20120812-072319 PM.jpg